Papilio Jelajah Tangkahan (2): Bersenang-Senang dengan Gajah Tangkahan

Tangkahan adalah kawasan hutan bak surga yang tersembunyi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kami, dari keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling  (HS) di Medan, mengadakan fieldtrip ke sana.

Kami mengunjungi satu ikon Tangkahan, yaitu tempat penangkaran gajah Sumatra. Penangkaran adalah tanah luas yang dikelilingi pagar listrik. Kami masuk ke penangkaran dan mengamati gajah-gajah itu.

papilio-jelajah-tangkahan-naik-gajah-indonesia-mendidik

Gajah di Tangkahan difungsikan untuk turut membantu usaha konservasi alam di kawasan TNGL. Mereka digunakan untuk berpatroli mengamankan hutan dari pembalak liar serta pemburu. Gajah mampu membelah sungai dengan kaki-kakinya yang tegap saat berpatroli. Terkadang gajah juga dapat mengantar turis yang ingin menjelajah Tangkahan.

papilio-jelajah-tangkahan-suasana-penangkaran-gajah-indonesia-mendidik
Suasana Penangkaran Gajah di Tangkahan

Saat waktu mandi gajah tiba, gajah-gajah berbaris rapi. Para mahout (pelatih gajah) memberi aba-aba saat menggiring mereka menuju sungai Batang Serangan untuk mandi. Kami sungguh takjub dapat berbaur dan berjalan beriringan disamping hewan besar ciptaan Tuhan ini. Sungguh momen yang jarang terjadi.

Ketika gajah-gajah itu mandi, anak-anak sibuk mengambil sikat yang dibagikan dari abang-abang senior mahout. Mereka ikut memandikan gajah. Ada anak yang takut-takut. Ada yang langsung menyentuh gajah. Ada yang langsung saja menyikat gajah, bahkan duduk diatas perut gajah sambil menyikat. Hahaha. 😀

“Ihh…kulitnya kasar ya, Bun, tebal lagi,” kata salah seorang anak.

Selesai mandi, sebagian gajah pulang ke kandangnya dan yang lain tetap tinggal. Gajah-gajah yang kembali ke kandang adalah induk gajah yang mempunyai baby (anak gajah). Saya ingin sekali menyentuh dan bermain bersama anak gajah yang mungil dan menggemaskan itu. Tapi, menurut para mahout kita harus berhati-hati terhadap anak gajah.

“Lho, kenapa Pak?” tanya saya kepada salah satu mahout.

“Anak gajah suka bermain. Kalau tak sengaja terdorong, dia akan membalas mendorong. Kadang ia menyeruduk pula,” demikian penjelasan pak mahout.

Setelah selesai memandikan gajah, giliran kami yang dimandikan gajah. Para gajah menyemprotkan air dari belalainya beberapa kali. Anak-anak tertawa dan menjerit senang.

Selain memandikan gajah, anak-anak diberi kesempatan memberi makan gajah. Gajah makan buah-buahan dan pelepah sawit. Pelepah-pelepah sawit diperoleh dari sekitar penangkaran dan diangkut ke kandang oleh gajah-gajah itu juga. Sungguh gajah hewan yang rajin dan cerdas, mampu mengangkut kebutuhan makannya sendiri ke kandang.

Kami mengakhiri acara memandikan gajah dengan berfoto bersama gajah. Hal yang tak kalah luar biasa adalah gajah-gajah itu pandai berterima kasih. Mereka memberikan salam penghormatan dengan gaya yang keren sekali, sebagai tanda terima kasih. Kami sungguh senang.

Kesenangan kami berlanjut. Setelah kembali ke atas menuju penginapan, kami melihat atraksi gajah yang lain. Anak-anak sangat riuh dan bersemangat ingin naik gajah. Saya pun ikut naik gajah. Naik gajah seperti naik perahu yang terombang-ambing. Sensasinya menyenangkan. Selesai naik gajah, rombongan kami pun kembali ke penginapan.

papilio-jelajah-tangkahan-gajah-membelah-sungai-indonesia-mendidik
Gajah Membelah Sungai

Dari gajah, kami belajar banyak hal. Kami belajar tentang pentingnya berterima kasih, tentang memanfaatkan kekuatan untuk tujuan memelihara alam, tentang bersahabat, tentang bersenang-senang dengan cara yang baik.

Perjalanan kami berlanjut esok harinya, yaitu jelajah Tangkahan melalui kegiatan tracking dan tubing. Tracking dan tubing tak kalah serunya dengan aktivitas bersama gajah. Yuk, ikuti kami! []

Kontributor: Wilda Syafrianty

Papilio Jelajah Tangkahan (1): The Hidden Paradise

Dunia adalah sebuah buku, dan saya senang membacanya.

Sebaik-baik buku adalah memuat bacaan yang menginspirasi dan kita menikmatinya. Dunia ini adalah sumber bacaan, yang meskipun tidak tertulis, tapi sungguh adalah buku terbaik.

Kami, Keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling (HS) di Medan, membaca dan menikmati kawasan Tangkahan melalui kegiatan fieldtrip, Papilio jelajah Tangkahan. Apa yang menarik dari Tangkahan? Bagaimana anak-anak HS Papilio ini belajar? Apa saja yang dapat dipelajari di Tangkahan? Ayo, menjelajah Tangkahan bersama kami.

keluarga-papilio
Keluarga Papilio

Tangkahan terletak di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, diapit oleh dua desa dan dua sungai. Dua desa itu adalah Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang. Sedangkan dua sungainya yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan.

Tentang Sungai Batang Serangan, air sungai sebenarnya jernih kehijau-hijauan. Warna hijaunya merefleksikan warna-warni pohon di hutan Tangkahan. Tetapi saat kami datang, sungai berwarna coklat. Hal itu karena hujan yang terus menerus turun dalam beberapa hari. Air hujan membawa tanah yang coklat dan mengalir ke sungai.

alam-asri-tangkahan
Air sungai berwarna coklat karena hujan yang turun terus menerus membawa tanah ke aliran sungai.

Tangkahan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuseur (TNGL). TNGL tadinya adalah tempat terjadinya illegal logging, penebangan kayu liar. Di sini, kami belajar kalau illegal logging dapat merusak ekosistem. Dengan usaha dan kerja keras masyarakat lokal, illegal logging akhirnya hilang.

Perjalanan dari Medan ke Tangkahan memakan waktu 3-4 jam naik mobil. Sepanjang perjalanan, kami melewati perkebunan sawit. Kondisi jalanan berbatu dan tanah merah. Sesekali hujan turun. Hal ini membuat akses jalan menuju ke Tangkahan menjadi becek dan licin. Kami harus ekstra hati-hati mengendarai mobil. Anak-anak merasa kelelahan dan tidak sabar untuk segera sampai di lokasi.

Pertama kali tiba di Tangkahan, kami disuguhi pemandangan indah kupu-kupu yang beragam, bak berada di surga kupu-kupu. Kami belajar kalau kupu-kupu selain indah, juga merupakan indikator bahwa alam Tangkahan masih terjaga kelestariannya, ekosistemnya seimbang, dan udaranya sehat.

kupu-kupu
Surga kupu-kupu.

Panorama hutan Tangkahan sangat luar biasa. Selain surga kupu-kupu, kami menikmati pemandangan pohon-pohon hijau berjajar, sungai-sungai membentang, air terjun, goa, lembah, bukit, dan tumbuhan hutan tropis. Inilah anugerah ciptaan Tuhan. Kami belajar bersyukur dengan cara menjaga kelestariannya.

air-terjun-tangkahan1
Air terjun Tangkahan.

Hal yang tak kalah menarik adalah adanya penangkaran gajah. Di tempat penangkaran gajah ini, kami memandikan gajah, menunggang gajah melintasi sungai, dan belajar banyak hal tentang gajah. Kegiatan ini tidak ditemui di tempat lain. Jadilah gajah menjadi ikon Tangkahan.

kegiatan-memandikan-gajah
Kegiatan memandikan gajah.

Puas belajar tentang gajah, kami menjelajah Tangkahan dengan berkegiatan tracking dan tubing. Tracking adalah kegiatan menjelajah alam dengan berjalan kaki, sedangkan tubing adalah menjelajah alam dengan kendaraan unik, yaitu ban dalam truk yang dipompa.

treking
Tracking
tubing-tangkahan
Tubing

Alam yang masih asri dan indah, keanekaragaman flora dan fauna, dipadu dengan udara segar, Tangkahan layak diberi julukan “The Hidden Paradise”, surga tersembunyi, karena dengan keunikan alamnya ini, hanya sedikit yang mengetahuinya. Tak terasa segala lelah menempuh perjalanan menuju Tangkahan. Sungguh Tangkahan adalah surga yang nyata.[]

Kontributor: Wilda Syafrianty