Review Film : The Beginning of Life

The Beginning of Life (2016)


Review Film The Beginning of Life
Oleh : Nurbaiti Pohan

*
Kelahiran bayi selalu merupakan keajaiban. Dimulainya satu kehidupan baru. Walaupun tidak menafikan ada saja kehadiran bayi-bayi yang tidak diharapkan, namun sesungguhnya kehadiran mereka membawa kebahagiaan.

Banyak yang beranggapan bahwa bayi bahkan sampai anak-anak tidak bisa memperhatikan, padahal sebenarnya adalah mereka tidak bisa tidak memperhatikan sesuatu. Mereka merupakan pembelajar hebat. Dengan kondisi fisik yang masih sangat perlu untuk berkembang, mereka melihat, mendengar, menggapai-gapai, menendang-nendang, berceloteh sebisanya sebagai upaya mereka menyerap informasi dari lingkungan untuk diproses di otak dan menterjemahkan kepada mereka bagaimana lingkungan itu.

Sebagai contoh, bayi yang menjatuhkan sendok berulang kali padahal ibunya melarangnya, hal ini bukan karena mereka tidak memperhatikan atau mereka hanya sekedar pembuat onar, tapi kejadian itu mereka tangkap sebagai “informasi mengenai ibu”, dan mereka mengulang-ulang hal tersebut untuk menguatkan informasi tadi.

Kehadiran orangtua/pengasuh utama sangat penting dalam hidup bayi hingga anak-anak sebagai pendukung utama dalam proses belajar mereka. Ibu memberikan kenyamanan dan keamanan, mengenalkan mereka akan diri mereka sendiri. Sementara ayah membuat mereka berani menjelajah dunia luar, berani mengambil resiko. Pengasuhan anak pun harus dipahami sebagai tanggung jawab kedua orang tua, bukan hanya oleh ibu dengan dukungan ayah. Ayah bukanlah orang kedua dalam pengasuhan.

Quotes yang sangat berkesan yang disampaikan oleh salah satu ibu di film itu adalah “Saya tidak dipersiapkan menghadapi perasaan sedalam ini. Saya bahkan lebih menyayanginya ketimbang kedua orang tua saya”, ucapnya sambil menangis.

Anak-anak itu juga selalu menjaga image positif mengenai orang tua mereka. Seorang anak mengatakan bahwa monster menelan ibunya dan mengambil suaranya ibunya pada saat marah, ia dimarahi monster yang berwujud ibunya.
Sementara cerita seorang ayah adalah:
Ayah : Aku ayah yang buruk
Anak : Tidak
Ayah : Ya, aku ayah yang buruk karena aku meneriakimu.
Anak : Kau hanya meneriakiku saat aku nakal.
Ayah : Ya memang, tapi seharusnya itu tidak menjadi alasan untuk meneriakimu.
Anak : Kau tidak menjadi ayah yang buruk hanya karena meneriakiku
Dari cerita tersebut bisa diambil kesan bahwa anak-anak tetap mempercayai kedua orangtuanya walaupun saat-saat buruk kerap datang.

Terkadang, seiring dengan semakin paham ia tentang dirinya, anak-anak membangun otonomi dengan pemberontakan-pemberontakan pada lingkungannya, baik orang tua maupun saudara kandung. Pemberontakan-pemberontakan ini sekaligus melatih pola hubungan kompetitif, disamping hubungan kolaboratif yang juga dikembangkan. Kehadiran kakek dan nenek atau lingkungan (dekat) yang lebih luas lagi merupakan sebuah keuntungan untuk anak-anak, mereka bisa jadi sumber kasih sayang tak berbatas lainnya yang dapat mendukung pertumbuhan anak-anak.

Tak peduli dari latar belakang mana anak itu berasal -baik dari orang tua tunggal, hasil hubungan di luar nikah, anak dari pasangan homoseks, anak adopsi, anak dengan orangtua yang mengalami ketergantungan obat, anak-anak dari lingkungan yang sangat miskin, anak yang orangtua nya bercerai sehingga harus tinggal dengan orang dewasa lain yang merupakan pasangan baru orang tua mereka- kebutuhan mereka adalah sama.

Untuk mendukung anak-anak, maka yang harus dibantu adalah orang-orang dewasa yang mengasuh mereka. Maka diperlukan suatu komunitas yang dapat saling membangun dan mendukung orang dewasa agar dapat memberikan pengasuhan optimal kepada anak-anak mereka.

*