Kejutan di Bulan Desember – Pengalaman Pramembaca Anak

Kupu-Kupu

Ini kupu-kupu
Kupu-kupu suka madu
Nina suka kupu-kupu
Nina cari kupu-kupu
Kupu-kupu lari tepi kayu

15 Desember 2015, ia melafalkan bacaan kupu-kupu, di saat bundanya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga.

Kaget, karena tidak ada kegiatan belajar membaca rutin di rumah. Ia hanya bermain mengenal nama setiap anggota keluarga.

Kaget, karena pada saat itu ia belum hafal semua abjad A-Z.

Yang sering ia lakukan setiap hari adalah membaca buku.

Ia mengenal buku sebelum usianya 1 tahun.

Ketika bayi, ia belajar membaca buku dengan cara memukul-mukulkan ke lantai, membanting, menggigit dan bahkan merobek lembaran buku.

Ia yang setiap malam mengambil buku bacaan dan meminta bundanya untuk membacakannya.

Ia yang sering duduk di samping bundanya ketika bundanya sedang membaca dan bertanya, ‘Buku apa, bund? Ceritanya bagaimana, bund? Bacain dong, bund.’ Padahal saat itu bundanya sedang asyik membaca buku-buku tak bergambar.

Ia adalah pembeli tercilik di Toko Buku Atqiya yg sering bertanya, ‘Buku ini bagus. Harganya berapa, bund?’

Ia yang sering membeli buku dengan uang hasil pemberian ayah atau kakek neneknya.

Dan ia sekarang tahu bahwa hobinya adalah membaca buku.

******

Ah, rupanya teori itu terbukti. Sebelum menikah, saya membaca buku tulisan pak Fauzil Adhim yg berjudul ‘Membuat Anak Gila Membaca’.

Inti dari buku tersebut adalah hal terpenting yang perlu kita tumbuhkan pada diri anak adalah minat membaca anak bukan kemampuan membaca.

Kita mengenalkan satu atau lebih bagian membaca kepada anak sehingga timbul ketertarikan yang kuat untuk ‘membaca’. Anak bersemangat melihat buku atau sumber bacaan lain. Ini merupakan bekal yang sangat berharga bagi proses pembelajaran membaca pada anak.

Jim Trelease berpendapat bahwa pengalaman pramembaca bisa kita berikan sejak anak lahir. Cara anak belajar membaca sama seperti anak belajar berbicara. Kita mulai mengajak anak berbicara sejak ia lahir, begitu juga kegiatan membaca. Kita membiasakan anak membaca, mengenal huruf dan angka serta memahami isi bacaan sebagaimana kita mengajarinya membaca. Kita kenalkan anak dengan bacaan sejak ia kecil.

Menurut Paul C.Burns, dengan memberikan pengalaman pramembaca (prereading experience) maka dapat merangsang kesiapan membaca pada anak.

Kesiapan membaca (reading readiness) adalah tingkat kematangan seorang anak, yang memungkinkannya belajar membaca tanpa suatu akibat negatif. Kematangan yang dimaksud disini meliputi kematangan fisik, mental, linguistik (bahasa), sosial.

Berdasarkan teori, umumnya anak memiliki kesiapan membaca pada usia 6 tahun. (Ada yg berpendapat 6 tahun, 6 tahun 5 bulan atau 6 tahun 6 bulan). Akan tetapi untuk anak yg mendapatkan pengalaman pramembaca sejak usia dua tahun maka di usia TK kemungkinan anak sudah mencapai reading readiness (kesiapan membaca).

Larangan mengajarkan membaca secara formal sampai anak berusia tujuh tahun merupakan kebijakan yang sangat tepat, terutama ketika banyak guru dan orangtua belum memahami bagaimana memberikan pengalaman pramembaca kepada anak.

Berikut ini adalah cara memberikan pengalaman pramembaca :

  1. Tanamkan kebiasaan membaca buku sejak dini sehingga membentuk pola membaca (reading pattern) pada anak dan menumbuhkan minat membaca yg kuat pada anak.
  2. Bacakan buku dengan suara dikeraskan (reading aloud), bacakan buku dgn suara yg berubah-ubah sehingga berirama. Selain mendorong anak untuk menyukai membaca, dapat bermanfaat sebagai rangsangan komunikasi yg baik dan kemampuan & kapasitas otak anak berkembang.
  3. Berikan buku yg sesuai dengan usianya.
    Untuk bayi, pilihkan buku yg terbuat dari bahan kertas tebal seperti karton (board book), atau soft book. Sehingga tidak mudah sobek, kaya warna & tidak banyak tulisan. Idealnya satu buku memuat tidak lebih dari 300 kata.
  4. Ajak anak membaca buku bersama. Kondisikan anak agar merasa nyaman ketika sedang membaca buku.
  5. Pilihlah bacaan yang bergizi bagi jiwa, hati & pikiran anak. Buku yang memiliki struktur penceritaan yang kuat akan memberi pengaruh yang luar biasa besar pada kemampuan & cara berpikir anak.
  6. Menciptakan lingkungan yang akrab dengan buku. Orangtua perlu menunjukkan betapa membaca sangat penting & sekaligus menarik. Melalui pengalaman melihat orangtua membaca, anak akan mengembangkan kebiasaan & sikap yang baik terhadap kegiatan membaca, dan muncul motivasi intrinsik untuk membaca.

***

Catatan bunda : 1 bulan setelah ia mampu membaca, kemampuan menulisnya pun meningkat. Saya jadi teringat perkataan mba Nuni, ‘Jangan paksa anak untuk mempelajari sesuatu, when they are ready, you’ll be surprise with the speed.’

-Bunda Wafa-