keluarga-papilio

Papilio Jelajah Tangkahan (1): The Hidden Paradise

Dunia adalah sebuah buku, dan saya senang membacanya.

Sebaik-baik buku adalah memuat bacaan yang menginspirasi dan kita menikmatinya. Dunia ini adalah sumber bacaan, yang meskipun tidak tertulis, tapi sungguh adalah buku terbaik.

Kami, Keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling (HS) di Medan, membaca dan menikmati kawasan Tangkahan melalui kegiatan fieldtrip, Papilio jelajah Tangkahan. Apa yang menarik dari Tangkahan? Bagaimana anak-anak HS Papilio ini belajar? Apa saja yang dapat dipelajari di Tangkahan? Ayo, menjelajah Tangkahan bersama kami.

keluarga-papilio
Keluarga Papilio

Tangkahan terletak di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, diapit oleh dua desa dan dua sungai. Dua desa itu adalah Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang. Sedangkan dua sungainya yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan.

Tentang Sungai Batang Serangan, air sungai sebenarnya jernih kehijau-hijauan. Warna hijaunya merefleksikan warna-warni pohon di hutan Tangkahan. Tetapi saat kami datang, sungai berwarna coklat. Hal itu karena hujan yang terus menerus turun dalam beberapa hari. Air hujan membawa tanah yang coklat dan mengalir ke sungai.

alam-asri-tangkahan
Air sungai berwarna coklat karena hujan yang turun terus menerus membawa tanah ke aliran sungai.

Tangkahan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuseur (TNGL). TNGL tadinya adalah tempat terjadinya illegal logging, penebangan kayu liar. Di sini, kami belajar kalau illegal logging dapat merusak ekosistem. Dengan usaha dan kerja keras masyarakat lokal, illegal logging akhirnya hilang.

Perjalanan dari Medan ke Tangkahan memakan waktu 3-4 jam naik mobil. Sepanjang perjalanan, kami melewati perkebunan sawit. Kondisi jalanan berbatu dan tanah merah. Sesekali hujan turun. Hal ini membuat akses jalan menuju ke Tangkahan menjadi becek dan licin. Kami harus ekstra hati-hati mengendarai mobil. Anak-anak merasa kelelahan dan tidak sabar untuk segera sampai di lokasi.

Pertama kali tiba di Tangkahan, kami disuguhi pemandangan indah kupu-kupu yang beragam, bak berada di surga kupu-kupu. Kami belajar kalau kupu-kupu selain indah, juga merupakan indikator bahwa alam Tangkahan masih terjaga kelestariannya, ekosistemnya seimbang, dan udaranya sehat.

kupu-kupu
Surga kupu-kupu.

Panorama hutan Tangkahan sangat luar biasa. Selain surga kupu-kupu, kami menikmati pemandangan pohon-pohon hijau berjajar, sungai-sungai membentang, air terjun, goa, lembah, bukit, dan tumbuhan hutan tropis. Inilah anugerah ciptaan Tuhan. Kami belajar bersyukur dengan cara menjaga kelestariannya.

air-terjun-tangkahan1
Air terjun Tangkahan.

Hal yang tak kalah menarik adalah adanya penangkaran gajah. Di tempat penangkaran gajah ini, kami memandikan gajah, menunggang gajah melintasi sungai, dan belajar banyak hal tentang gajah. Kegiatan ini tidak ditemui di tempat lain. Jadilah gajah menjadi ikon Tangkahan.

kegiatan-memandikan-gajah
Kegiatan memandikan gajah.

Puas belajar tentang gajah, kami menjelajah Tangkahan dengan berkegiatan tracking dan tubing. Tracking adalah kegiatan menjelajah alam dengan berjalan kaki, sedangkan tubing adalah menjelajah alam dengan kendaraan unik, yaitu ban dalam truk yang dipompa.

treking
Tracking
tubing-tangkahan
Tubing

Alam yang masih asri dan indah, keanekaragaman flora dan fauna, dipadu dengan udara segar, Tangkahan layak diberi julukan “The Hidden Paradise”, surga tersembunyi, karena dengan keunikan alamnya ini, hanya sedikit yang mengetahuinya. Tak terasa segala lelah menempuh perjalanan menuju Tangkahan. Sungguh Tangkahan adalah surga yang nyata.[]

Kontributor: Wilda Syafrianty

2 pemikiran pada “Papilio Jelajah Tangkahan (1): The Hidden Paradise”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *