Papilio Jelajah Tangkahan (2): Bersenang-Senang dengan Gajah Tangkahan

Tangkahan adalah kawasan hutan bak surga yang tersembunyi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kami, dari keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling  (HS) di Medan, mengadakan fieldtrip ke sana.

Kami mengunjungi satu ikon Tangkahan, yaitu tempat penangkaran gajah Sumatra. Penangkaran adalah tanah luas yang dikelilingi pagar listrik. Kami masuk ke penangkaran dan mengamati gajah-gajah itu.

papilio-jelajah-tangkahan-naik-gajah-indonesia-mendidik

Gajah di Tangkahan difungsikan untuk turut membantu usaha konservasi alam di kawasan TNGL. Mereka digunakan untuk berpatroli mengamankan hutan dari pembalak liar serta pemburu. Gajah mampu membelah sungai dengan kaki-kakinya yang tegap saat berpatroli. Terkadang gajah juga dapat mengantar turis yang ingin menjelajah Tangkahan.

papilio-jelajah-tangkahan-suasana-penangkaran-gajah-indonesia-mendidik
Suasana Penangkaran Gajah di Tangkahan

Saat waktu mandi gajah tiba, gajah-gajah berbaris rapi. Para mahout (pelatih gajah) memberi aba-aba saat menggiring mereka menuju sungai Batang Serangan untuk mandi. Kami sungguh takjub dapat berbaur dan berjalan beriringan disamping hewan besar ciptaan Tuhan ini. Sungguh momen yang jarang terjadi.

Ketika gajah-gajah itu mandi, anak-anak sibuk mengambil sikat yang dibagikan dari abang-abang senior mahout. Mereka ikut memandikan gajah. Ada anak yang takut-takut. Ada yang langsung menyentuh gajah. Ada yang langsung saja menyikat gajah, bahkan duduk diatas perut gajah sambil menyikat. Hahaha. 😀

“Ihh…kulitnya kasar ya, Bun, tebal lagi,” kata salah seorang anak.

Selesai mandi, sebagian gajah pulang ke kandangnya dan yang lain tetap tinggal. Gajah-gajah yang kembali ke kandang adalah induk gajah yang mempunyai baby (anak gajah). Saya ingin sekali menyentuh dan bermain bersama anak gajah yang mungil dan menggemaskan itu. Tapi, menurut para mahout kita harus berhati-hati terhadap anak gajah.

“Lho, kenapa Pak?” tanya saya kepada salah satu mahout.

“Anak gajah suka bermain. Kalau tak sengaja terdorong, dia akan membalas mendorong. Kadang ia menyeruduk pula,” demikian penjelasan pak mahout.

Setelah selesai memandikan gajah, giliran kami yang dimandikan gajah. Para gajah menyemprotkan air dari belalainya beberapa kali. Anak-anak tertawa dan menjerit senang.

Selain memandikan gajah, anak-anak diberi kesempatan memberi makan gajah. Gajah makan buah-buahan dan pelepah sawit. Pelepah-pelepah sawit diperoleh dari sekitar penangkaran dan diangkut ke kandang oleh gajah-gajah itu juga. Sungguh gajah hewan yang rajin dan cerdas, mampu mengangkut kebutuhan makannya sendiri ke kandang.

Kami mengakhiri acara memandikan gajah dengan berfoto bersama gajah. Hal yang tak kalah luar biasa adalah gajah-gajah itu pandai berterima kasih. Mereka memberikan salam penghormatan dengan gaya yang keren sekali, sebagai tanda terima kasih. Kami sungguh senang.

Kesenangan kami berlanjut. Setelah kembali ke atas menuju penginapan, kami melihat atraksi gajah yang lain. Anak-anak sangat riuh dan bersemangat ingin naik gajah. Saya pun ikut naik gajah. Naik gajah seperti naik perahu yang terombang-ambing. Sensasinya menyenangkan. Selesai naik gajah, rombongan kami pun kembali ke penginapan.

papilio-jelajah-tangkahan-gajah-membelah-sungai-indonesia-mendidik
Gajah Membelah Sungai

Dari gajah, kami belajar banyak hal. Kami belajar tentang pentingnya berterima kasih, tentang memanfaatkan kekuatan untuk tujuan memelihara alam, tentang bersahabat, tentang bersenang-senang dengan cara yang baik.

Perjalanan kami berlanjut esok harinya, yaitu jelajah Tangkahan melalui kegiatan tracking dan tubing. Tracking dan tubing tak kalah serunya dengan aktivitas bersama gajah. Yuk, ikuti kami! []

Kontributor: Wilda Syafrianty

Papilio Jelajah Tangkahan (1): The Hidden Paradise

Dunia adalah sebuah buku, dan saya senang membacanya.

Sebaik-baik buku adalah memuat bacaan yang menginspirasi dan kita menikmatinya. Dunia ini adalah sumber bacaan, yang meskipun tidak tertulis, tapi sungguh adalah buku terbaik.

Kami, Keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling (HS) di Medan, membaca dan menikmati kawasan Tangkahan melalui kegiatan fieldtrip, Papilio jelajah Tangkahan. Apa yang menarik dari Tangkahan? Bagaimana anak-anak HS Papilio ini belajar? Apa saja yang dapat dipelajari di Tangkahan? Ayo, menjelajah Tangkahan bersama kami.

keluarga-papilio
Keluarga Papilio

Tangkahan terletak di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, diapit oleh dua desa dan dua sungai. Dua desa itu adalah Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang. Sedangkan dua sungainya yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan.

Tentang Sungai Batang Serangan, air sungai sebenarnya jernih kehijau-hijauan. Warna hijaunya merefleksikan warna-warni pohon di hutan Tangkahan. Tetapi saat kami datang, sungai berwarna coklat. Hal itu karena hujan yang terus menerus turun dalam beberapa hari. Air hujan membawa tanah yang coklat dan mengalir ke sungai.

alam-asri-tangkahan
Air sungai berwarna coklat karena hujan yang turun terus menerus membawa tanah ke aliran sungai.

Tangkahan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuseur (TNGL). TNGL tadinya adalah tempat terjadinya illegal logging, penebangan kayu liar. Di sini, kami belajar kalau illegal logging dapat merusak ekosistem. Dengan usaha dan kerja keras masyarakat lokal, illegal logging akhirnya hilang.

Perjalanan dari Medan ke Tangkahan memakan waktu 3-4 jam naik mobil. Sepanjang perjalanan, kami melewati perkebunan sawit. Kondisi jalanan berbatu dan tanah merah. Sesekali hujan turun. Hal ini membuat akses jalan menuju ke Tangkahan menjadi becek dan licin. Kami harus ekstra hati-hati mengendarai mobil. Anak-anak merasa kelelahan dan tidak sabar untuk segera sampai di lokasi.

Pertama kali tiba di Tangkahan, kami disuguhi pemandangan indah kupu-kupu yang beragam, bak berada di surga kupu-kupu. Kami belajar kalau kupu-kupu selain indah, juga merupakan indikator bahwa alam Tangkahan masih terjaga kelestariannya, ekosistemnya seimbang, dan udaranya sehat.

kupu-kupu
Surga kupu-kupu.

Panorama hutan Tangkahan sangat luar biasa. Selain surga kupu-kupu, kami menikmati pemandangan pohon-pohon hijau berjajar, sungai-sungai membentang, air terjun, goa, lembah, bukit, dan tumbuhan hutan tropis. Inilah anugerah ciptaan Tuhan. Kami belajar bersyukur dengan cara menjaga kelestariannya.

air-terjun-tangkahan1
Air terjun Tangkahan.

Hal yang tak kalah menarik adalah adanya penangkaran gajah. Di tempat penangkaran gajah ini, kami memandikan gajah, menunggang gajah melintasi sungai, dan belajar banyak hal tentang gajah. Kegiatan ini tidak ditemui di tempat lain. Jadilah gajah menjadi ikon Tangkahan.

kegiatan-memandikan-gajah
Kegiatan memandikan gajah.

Puas belajar tentang gajah, kami menjelajah Tangkahan dengan berkegiatan tracking dan tubing. Tracking adalah kegiatan menjelajah alam dengan berjalan kaki, sedangkan tubing adalah menjelajah alam dengan kendaraan unik, yaitu ban dalam truk yang dipompa.

treking
Tracking
tubing-tangkahan
Tubing

Alam yang masih asri dan indah, keanekaragaman flora dan fauna, dipadu dengan udara segar, Tangkahan layak diberi julukan “The Hidden Paradise”, surga tersembunyi, karena dengan keunikan alamnya ini, hanya sedikit yang mengetahuinya. Tak terasa segala lelah menempuh perjalanan menuju Tangkahan. Sungguh Tangkahan adalah surga yang nyata.[]

Kontributor: Wilda Syafrianty

Gerhana Matahari Total

Hari ini kami belajar Gerhana Matahari Total (GMT). Gerhana matahari total adalah fenomena tertutupinya seluruh piringan matahari oleh piringan bulan, peristiwa itu menyebabkan cahaya matahari terhalang untuk sampai ke bumi, sehingga di wilayah yang dilintasi oleh gerhana matahari total akan mendapati yang seharusnya siang hari terang benderang menjadi gelap, seperti ketika malam hari.

Menjelang Gerhana Matahari Total (GMT) tanggal 9 maret 2016, saya dan anak-anak belajar bagaimana proses terjadinya GMT dan bagaimana posisi matahari, bulan dan bumi ketika proses itu terjadi. Setidaknya memahami letak posisinya adalah gambaran awal agar anak-anak mudah memahaminya dan mampu memvisualisasikannya.
gerhana-matahari
Kami memulainya dengan menggambar, saya meminta anak-anak menggambar gerhana matahari total, dan kami juga ingin membandingkannya dengan fenomena gerhana bulan. Oh..iya, sebelumnya kami juga sudah dua kali menyaksikan gerhana bulan, gerhana bulan yang terakhir kami saksikan ketika berada di Sabang. Radho dan Raffa saya minta untuk menggambarkan gerhana bulan lebih dulu, dan meminta mereka membandingkan dengan fenomena gerhana bulan yang sebenarnya, meminta mereka membayangkan kembali ketika melihat gerhana bulan yang dulu pernah mereka lihat di Sabang.

Saya juga menjelaskan bahwa ketika GMT, sejumlah benda langit akan terlihat, akan ada empat planet yang bisa kita saksikan dengan mata telanjang yaitu Merkurius, Venus, Saturnus, dan Mars. Kami juga memperhatikan posisi ke-4 planet itu melalui gambar.
planet
Merkurius berada di langit timur, posisinya paling dekat dengan matahari. Jika kita menghadap timur, maka akan terlihat merkurius berada di atas matahari. Merkurius akan tampak seperti bintang putih terang, (magnitudo 0,2). Venus juga akan terlihat di langit timur, berada di atas matahari dan merkurius dan terlihat sebagai bintang yang paling terang (magnitudo -3,9) sehingga venus akan terlihat sesaat dan sesudah GMT.

Saturnus berada di langit barat. Jika kita menghadap barat akan terlihat saturnus berada paling tinggi hampir tepat di atas kepala, sedikit lebih redup dari merkurius (magnitudo 0,45).

Mars berada di langit barat, berada di bawah saturnus. Mars akan terlihat sebagai bintang merah terang hampir sama terang dengan merkurius (magnitudo 0,1).

Sebelum melihat Gerhana Matahari Total, setidaknya kami punya bekal atau bayangan akan seperti apa Gerhana Matahari total pada 9 maret 2016. Semoga kami beruntung bisa menyaksikannya, paling tidak ini fenomena langka yang ingin sekali kami saksikan. Kalau ingin menyaksikan lagi, gerhana matahari total akan terjadi 33 tahun kemudian, lama banget kan? Syukur-syukur lagi kalau bisa ketemu astronom di Palembang.

Rahmaida “bua” Simbolon

Radho, Raffa dan Ikan Cupangnya

Mungkin karena emaknya “pelit” memberi sesuatu, duo bocah itu jadi berusaha lebih keras. Saya tak memberi uang jajan secara cuma-cuma, mereka harus bekerja, kadang-kadang mereka merasa uang jajan yang diberikan emaknya terlalu sedikit, haha! Maklum anak gak sekolah, jadi gak perlulah jajan banyak-banyak.

Belakangan duo bocah itu sibuk dengan ikan cupangya, beberapa kali  tertangkap basah sedang “browsing”  ikan cupang

“ikan cupanggg.. aja yang dilihat” kata emaknya menggerutu.

“gapapalah bua, abang mau tau yang mana yang jantan dan yang mana betina”  katanya menjelaskan

“bua.. ini lambang apa sih? Sambil menunjukkan simbol jantan dan betina

“tanda positif ini menunjukkan jenis kelamin betina, tanda panah ini menunjukkan tanda jantan” itu simbol-simbol pelajaran biologi bang” jawab saya sedikit menjelaskan.

“oh.. gitu” katanya sambil mengangguk

“emang kenapa bang? Tanya emaknya menyelidik

“mau abang lihat dulu ikan-ikan abang, yang mana yang jantan yang mana yang betina, biar abang kasih nama, trus nanti mau abang kawinkan” lumayan kalau bisa bertelur banyak, jadi anaknya banyak, bisa abang jual sama si Rasyad dan orang-orang luar kompleks, katanya bersemangat.

Hingga detik ini Radho-Raffa masih antusias merawat ikan-ikannya, mulai dari menangkap jentik-jentik dan mencari cacing merah di selokan, mengganti airnya, sesekali mereka juga menjemur ikannya di luar. Beberapa kali saya lihat mereka sedang mencampurkan ikan jantan dan betinanya di dalam satu toples, katanya sedang mengawinkan. Mereka juga betah berlama-lama memperhatikan perilaku ikan-ikannya, sesekali mereka berteriak.
ikan-cupang-radho-raffa-indonesia-mendidik-2
“bua..bua, yang jantan sudah membuat gelembung-gelembung untuk telornya, tinggal nunggu kawinnya ini” kata Radho bersemangat. Bayangan dolar mungkin sudah berputar-putar di kepalanya, wajahnya terlihat sumringah.

“bua.. bua.. kalau kayak gini, lagi kawin gak? Tanya Radho lagi.

“ya..gimana ikan cupang kawin?

“ya.. nanti jantannya menjepit betinanya, trus betinanya nanti lemas, trus keluar telur-telurnya, trus yang jantan menangkap telurnya, untuk diletakkan di gelembung-gelembung itu”

“ya udah gitu gak abang lihat kelakuannya?

“masih mau gitu, tapi gak jadi”

“dek..bayangkan, kalau ikan kita telurnya menetas 600, ada 600 dek yang bisa kita jual, kali Rp10.000,- dek, buuanyaakk kali itu dek” mata menerawang membayangkan dollar.

“ihh.. iya ya bang, buanyak kali, bisalah kita beli kucing persia bang”

“iyalah.. bisa..

Hanya dengan memelihara ikan cupang saja mereka bisa belajar biologi ( simbol jantan dan betina, proses kawin, ciri-ciri jantan-betina) memanfaatkan teknologi (browsing) ekonomi (berbisnis) karakter (ketekunan) dan bermimpi bagaimana mewujudkan cita-cita dengan proses, bukan dengan cara-cara yang instant.

Rahmaida “bua” Simbolon

Keseimbangan : Eksperimen Lilin Jungkat-Jungkit.

Eksperimen ini sangat mudah, hanya butuh dua gelas, sebuah lilin, sebuah korek api  dan  jarum.

Caranya : masukkan jarum persis ditengah bagian lilin. Setelah masuk letakkan jarum di atas mulut gelas. Mulut gelas sebagai penyangga jarum. Nyalakan salah satu ujung lilin, posisi lilin akan menjadi vertikal. Kemudian nyalakan ujung lilin lainya, sehingga kedua ujung lilin menyala.

Fakta :  lilin mulai bergerak-gerak berkali-kali, kemudian berputar putar, hingga perlahan mencapai titik keseimbangan.

Tampak anak-anak antusias memperhatikan, seperti biasa, emaknya mulai menggali rasa ingin tahu duo bocah itu.

“Kok bisa seimbang bang? Dek?”

“gak tau abang..” katanya sambil memperhatikan lilinya, dan sesekali memainkan cairan panas dari  lilin itu.

“coba dipikir lagi, kenapa kira-kira jadi seimbang”?

“mungkin karna lilinnya terbakarnya sama-sama, jadi beratnya sama, yang sebelah sini sama yang sebelah sini” sambil menujuk ujung-ujung lilin”

“tadi kan satu ujungnya aja di bakar”? kenapa malah lilinyanya jadi vertikal? Tanya saya.

“ya karna ujung sini masih lebih berat, jadi yang berat masih di bawah” sambil menunjuk ujung lilin yang belum terbakar.

“terus kenapa kalau dibakar kedua ujungnya malah bisa seimbang? Bukannya harusnya yang duluan terbakar lebih ringan?” harusnya posisinya tetap vertikal?

“iya sih harusnya, gak taulah abang bua..”

“iya, gitulah bua, sama beratnya ini, dua-duanya” sahut raffa sambil menunjuk kedua ujung lilin.

Emaknya sedikit menjelaskan tentang gaya dan energi, kira-kira seperti di bawah ini, dengan penjelasan yang sangat sederhana, yang sesuai dengan anak-anak.

eksperimen-lilin-jungkat-jungkit

Penjelasan :
Gerak jungkat-jungkit pada lilin, dipengaruhi oleh  berat beban, berat kuasa, jarak beban ke titik tumpu, jarak kuasa ke titik tumpu. Kondisi akan seimbang jika gaya pada kedua sisi sama besar. Dalam eksperimen kami kali ini, saya menjelaskan gaya dan energi, dimana gaya adalah tarikan atau dorongan yang dapat mempengaruhi keadaan suatu benda, gaya juga dapat menimbulkan perubahan gerak. Dalam eksperimen ini terdapat hubungan gaya dan energi. Energi sendiri adalah kemampuan suatu benda dalam melakukan kerja, semua benda yang bergerak memiliki energi, nah.. energi dalam ekperimen ini adalah energi panas, maka energi panas inilah yang membuat  lilin bergerak-gerak alias jungkat-jungkit.

Rahmaida “bua” Simbolon

Otoritas Orangtua dan Ketaatan Anak Dalam Metode Charlotte Mason – Kulwap Bersama Ellen Kristi

Pada tanggal 28 Januari 2016, grup kami “Home Education” menghadirkan mba’ Ellen Kristi, penulis buku “Cinta yang Berpikir”. Ellen Kristi ibu dari 3 anak yang menjalankan homesschooling dengan metode Charlotte Mason. Ellen Kristi juga mengelola website www.cmindonesia.com untuk memperkenalkan filosofi pendidikan Charlotte Mason.  Tahun 2012, Ellen Kristi menerbitkan sebuah buku: Cinta Yang Berpikir, yang memuat prinsip-prinsip Charlotte Mason dan panduan penerapannya sehari-hari.

Tentu bakal mudah sekali jadi orangtua seandainya anak-anak selalu dengan sukarela dan sukacita mengerjakan apa pun yang kita perintahkan kepada mereka. Sayangnya, realita sehari-hari tidak seperti itu

Charlotte Mason (disingkat CM) dalam volume 1 menulis, ketika lahir, bayi pasrah diapakan saja oleh orangtuanya, tetapi makin bertambah usia, kepribadiannya akan makin nampak jelas. Dengan kata lain, ego anak menguat dari waktu ke waktu. Dan seperti dalam relasi mana pun, ketika ego bertemu ego, selalu ada kemungkinan benturan ego. Orangtua punya ego, anak pun punya ego, maka konflik dan perselisihan selalu mungkin, atau malah sering, terjadi.

Namun, coba kita renungkan lagi, bukankah sebetulnya sangat indah dan menakjubkan bahwa anak-anak kita mengembangkan keunikan pribadi mereka sendiri? Mereka jadi bisa berpikir, memutuskan, dan bertindak bagi diri mereka sendiri. Apa senangnya kita jika anak selamanya jadi bayi? Apa bagusnya kalau anak kita seperti robot yang selalu menurut, tak berkepribadian? Jadi, kita patut bersyukur kalau anak kita bisa menyatakan apa yang mereka mau, apa yang mereka pikir dan rasa, sekalipun itu berbeda dari yang kita mau, pikir, dan rasa.

Masalah utamanya dengan demikian bukan meratapi kenapa anak suka membantah, enggan menurut, semaunya sendiri. Tetapi masalahnya adalah bagaimana menjalin relasi yang sebegitu rupa, sehingga kepribadian anak bisa berkembang matang, bijak, dewasa, dalam situasi damai? Bagaimana kita bisa mendampingi mereka menjalani pertumbuhan itu namun rumah tidak ribut penuh perselisihan, kata-kata marah, ancaman, dsb?

Dalam filosofi CM, untuk itu, ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab. Siapakah pemimpin di rumah? Siapakah pemegang otoritas tertinggi?

Seperti yang saya tulis di buku Cinta yang Berpikir, ada dua haluan besar. Pertama, parent-centered, orangtua sebagai pemegang otoritas tertinggi. Kedua, child-centered, anaklah yang dijadikan penentu kebijakan. CM bukan keduanya. Bagi CM, pemegang otoritas tertinggi adalah TUHAN. Baik orangtua maupun anak berkewajiban untuk menaati otoritas-Nya, aturan-aturan-Nya.

Aturan TUHAN menjadi kompas dalam perilaku. Ada dua macam aturan TUHAN, yang pertama adalah hukum-hukum alam, yang kedua adalah hukum moral. Itu sebabnya dalam metode CM, sains dan agama harus sama-sama dipelajari untuk mengetahui apa itu Kebenaran.

Nah, menurut CM, sudah aturan dari TUHAN bahwa orangtua menjadi perwakilan-Nya dalam mengasuh anak. Sebagai perwakilan TUHAN, orangtua mengemban amanah untuk menjalankan otoritas titipan TUHAN. Ayah dan ibu menjadi perwakilan TUHAN untuk membimbing anak di jalan-Nya.

Itu berarti, saat menjalankan otoritas titipan TUHAN, orangtua harus selalu mencari tahu apa maunya TUHAN bagi anak-anak mereka. Seperti sifat TUHAN, otoritas harus dibarengi dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Jadi, tidak boleh orangtua semaunya sendiri memerintah anak, itu namanya penyalahgunaan kekuasaan, abuse of authority.

Selain penyalahgunaan kekuasaan, menurut CM problem lain orangtua saat menjalankan otoritas titipan TUHAN adalah kurangnya kepercayaan diri, lack of confidence. Mereka takut-takut saat menyuruh anak melakukan sesuatu. Mereka mengkeret dan mundur ketika anak membantah atau menolak. Seperti seorang jenderal yang takut pada kopralnya yang suka melawan.

Bisa kokoh dalam prinsip, tapi penuh kasih. Bisa lembut, tapi tetap tegas. Begitulah idealnya cara orangtua menjalankan otoritas.

CM yakin, setiap anak terlahir dengan kemauan untuk diarahkan oleh otoritas, oleh orangtua. Asal orangtua percaya diri bahwa mereka memang mendapat titipan otoritas itu dari TUHAN, anak akan mematuhinya.

Tetapi memang perkaranya tidak sesimpel mengeluarkan perintah ini-itu lalu mereka langsung menurut. Ingat, anak bukan robot, maka jangan paksa mereka jadi robot. Ada syaratnya agar mereka mau taat pada otoritas.
Syarat pertama adalah faktor keteladanan, apakah orangtua menunjukkan bahwa mereka pun taat pada prinsip-prinsip dan aturan? CM mengistilahkannya “atmosfir”. Nilai-nilai apa yang anak serap dari perilaku nyata kita sebagai orangtua. Mungkinkah kita tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan? Itu akan menentukan seberapa respek anak terhadap otoritas kita.

Syarat kedua adalah faktor pengetahuan, apakah kita melengkapi diri kita dengan ilmu tentang mendidik anak? CM mengistilahkannya “cinta yang berpikir”. Agar berhasil mendidik anak, kata CM minimal kita harus punya bekal pengetahuan fisiologi & psikologi. Makin kaya ilmu, makin baik kemampuan kita dalam membesarkan anak. Artinya, otoritas harus dilengkapi dengan semangat belajar terus-menerus.

Pada prinsipnya, CM menolak gaya parenting diktator, tapi juga menolak gaya parenting child-centered.

Mengapa anak tidak bisa dijadikan “pemimpin” dalam proses mendidik? CM melihat bahwa sekalipun anak itu makhluk luar biasa, penuh semangat, rasa ingin tahu, dan potensi, tetaplah anak belum punya kematangan moral dan kekayaan pengalaman hidup.

Anak belum bisa mengendalikan hasrat-hasrat dalam diri mereka. Kapasitas berpikir anak belum berkembang sepenuhnya. Begitu pula kemampuan mereka memilah benar-salah, baik-buruk.
Tidaklah bertanggung jawab jika orangtua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka belum siap untuk itu.

Tugas orangtualah menginspirasi dan melatih anak agar memiliki self-control, self-knowledge, dan self-reverence. Di sini pentingnya tiga pilar: atmosfir, pelatihan kebiasaan baik, dan suplai ide-ide luhur untuk anak.

Pendekatan kita kepada anak adalah sebagai “asisten”. Assist, artinya membantu. Kita ingin membantu mereka bertumbuh. Kalau mereka belum bisa mengerjakan sesuatu, kita harus mencari cara supaya akhirnya mereka bisa.

Itu sebabnya, menurut CM, seharusnya tidak perlu hukuman, apalagi marah-marah atau pukulan.

Education is the science of relations, kata CM. Coba bina relasi yang penuh kasih dan respek dengan anak, bangun pemahamannya tentang dirinya sendiri dan kehendak TUHAN baginya, pelajari teknik berkomunikasi yang efektif, tunjukkan keteladanan positif, dan tegakkan aturan secara konsisten. Maka tidak akan sulit memenangkan respek dan ketaatan anak.

Demikian pokok-pokok pemikiran metode CM tentang otoritas orangtua & ketaatan anak.

Tanya Jawab

1. Pertanyaan dari Mb An

Mohon penjelasan untuk kalimat ini, “tidaklah bertanggung jawab jika orang tua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka blum siap untuk itu”

Anak saya 4 thn, punya 2 teman perempuan di lingkungan, dan selalu inginnya main dengan mereka, dan memang tidak ada anak kecil lain. Kedua anak itu adalah anak yang saya bilang tidak ada orang tua, orang tuanya ada tapi sibuk sendiri, dan ga peduli sama anaknya.

Anak yang satu hidup dalam 1 rumah dengan 5 keluarga di dalamnya. Bayangkan satu rumah kecil hidup 5 keluarga yang beranak pinak. Semua anak dari yang lulus sma sampai bayi, laki atau perempuan, tidak punya kamar.

Anak 1nya lagi malah sempat melakukan tindih2an buka celana dengan anak cowok.

Intinya dua anak ini saya nilai berbahaya buat anak saya. Saya melarang mereka bermain dengan anak saya, dan anak saya selalu frustasi kalau dilarang main dan nangis

Saya bilang ke anak saya, ga boleh main sama mereka karena ujung2nya berantem

Apa itu termasuk saya memaksa anak menentukan sikap moralnya sendiri, padahal belum siap?

Jawaban : Tidak, dalam kasus ini justru mb An sudah membantu anak menetapkan sikap moral dalam bergaul.
Membiarkan anak menentukan sikap moral sendiri itu misalnya, mempersilakan anak untuk memilih mau terus nonton TV atau tidak, padahal dia belum punya kemampuan untuk menghentikan dirinya sendiri menonton TV; membiarkan anak untuk memilih agamanya sendiri, padahal dia belum punya kemampuan untuk membedakan secara prinsipiil perbedaan agama satu dengan yang lain; dsb.
Dari sekilas cerita Mbak An, memang perlu memberi rambu-rambu kepada anak saat bergaul dengan kedua teman perempuan itu. Kalau kedua teman itu yang bermain ke rumah, Mbak An juga bisa memberitahu mereka, apa aturan yang harus mereka ikuti saat bermain dengan anak Mbak.

2. Pertanyaan dari mb Am.

Saat anak usia egosentris antara 3-5 thn, bgmn cr ortu mendampingi dan mengarahkan anak2 untuk mencoba mengatur atau mengatasi emosi mereka yang terkadang suka meledak-ledak, spt saat tantrum, krn mgkn dengan penjelasan saja pada saat spt itu mrk tidak bisa lgsg terima.

Jawaban : Tentunya kita pelajari dulu tantrumnya karena apa. Ada rumus HALT: hungry, angry, lonely, tired. Apakah anak meledak karena salah satu dari faktor itu? Kita tangani sesuai kasusnya.
Langkah yang terbaik adalah pencegahan. Jadi kalau bisa, kita upayakan supaya tidak terlanjur jadi tantrum. Misalnya, anak cenderung tantrum kalau dia kecapekan, berarti sebelum dia capek sekali, kita ajak dia beristirahat. Dan sejenisnya.

Ada satu teknik yang saya rasa sangat bermanfaat sekali untuk mengajarkan anak mengendalikan dirinya. Namanya Baby Brain-Adult Brain, atau saya terjemahkan Si Bayi dan Si Bijak. Ini bukan spesifik teknik CM, tapi sangat sesuai dengan konsepnya tentang pengenalan diri, juga dengan neurosains/psikologi. Teknik ini bisa mulai diajarkan saat anak kurang lebih berusia tiga tahun.
Jadi setiap kali anak mengalami naik-turun emosional, baik marah ataupun sedih, kita bilang padanya sambil menepuk-nepuk kepala kita di bagian belakang: “Di sini ada si Bayi. Si Bayi ingin kamu menjerit-jerit.” Lalu kita tepuk-tepuk kepala kita bagian depan: “Di sini ada si Bijak. Kita harus jadikan si Bijak sebagai pemimpin. Si Bayi harus menurut pada si Bijak.”

Contoh kasusnya biar gampang memahaminya. Seorang anak suka sekali makanan manis. Lalu saya ajari dia membedakan si Bayi dan si Bijak. “Kamu ditawari permen. Lalu si Bayi ingin kamu makan permen itu?” Dia mengiyakan. “Tapi si Bijak tahu tidak bahwa permen itu banyak gulanya, merugikan tubuhmu? Bisakah si Bayi menurut pada si Bijak?” Dan ketika anak tersebut berpikir-pikir lalu batal makan permen, saya memuji dia dan katakan: “Itu hebat sekali. Kalau kamu bantu si Bijak menang, dia makin lama makin kuat.”
Pemahaman ini kalau dilatihkan terus-menerus akan membuat kita lebih mudah menangani anak saat tantrum atau situasi emosional lainnya. “Mama paham, kamu melihat mainan yang bagus, si Bayi ingin sekali mendapatkan mainan itu sekarang juga, apa kata si Bijak?”

Cukup panjang bahasan tentang teknik ini. Tapi kurang lebih intinya adalah membantu anak mengenali perasaan-perasaan dan keinginan-keinginannya, menerima mereka tanpa harus menuruti mereka.

3. Pertanyaan dari  mb In.
Mau tanya perihal anak tengah saya, sifatnya selalu merebut barang n menguasai ini itu tdk hny milik saudaranya bahkan milik org lain, sy sbg ibu kalo tegas bilang itu milik si anu dia nangis kejer, kalo saya diemin jg lah ya takutnya nanti ngelunjak, bgmn sebaiknya sikap saya? Terimakasih

Jawaban : Anak Mbak In umur berapa ya? Kalau sudah bisa diajak komunikasi, langkah pertama adalah pencegahan. Kalau bermain ke tempat saudara, sebelumnya kita diskusi dulu dengannya, nanti kita main ke sana, mungkin ada barang/mainan yang Kakak mau ambil, janji ya, sebelum ambil harus minta izin dulu pada yang punya. Bicara baik-baik, kalau ternyata tidak dipinjami, tidak apa-apa ya.

Langkah kedua, bisa sebelumnya latihan di rumah. Mbak In pura-pura jadi pemilik barang, si Kakak latihan meminjam. Cara ngomongnya bagaimana? Kalau ditolak, harus bersikap bagaimana?

Langkah ketiga, kalau sudah tiba di lokasi dan ternyata tetap terjadi konflik. Gendong Kakak menjauh dari lokasi dengan tenang. Lalu, kalau saya, saya terapkan teknik si Bayi dan si Bijak tadi. “Kakak lihat ada mainan bagus. Kakak suka. Kakak sudah bagus, mau pinjam baik-baik. Tapi dia nggak kasih pinjam. Lalu si Bayi teriak-teriak, harus boleh, harus boleh, rebut saja, rebut saja. Iya ya? Namanya juga si Bayi, tidak sabaran. Tapi si Bijak bilang lain kan? Bagaimana, kakak bisa bantu si Bijak supaya menang?”
Jangan lupa puji anak kalau dia berhasil memutuskan untuk mengendalikan dirinya.

4. Pertanyaan dari mba E.

Dalam materi disampaikan bahwa tugas ortu adalah asisst atau asisten yg artinya membantu anak dalam proses tumbuh kembangnya..nah jika dlm proses tsb ternyata anak jadi tergantung atau sering meminta bantuan terus..bagaimana cara menyikapinya? Atau terkadang anak jika tidak ditemani ma ortunya malah mogok.

Jawaban : Membantu di sini bukan dalam arti teknis, tapi konsep. Jadi, orangtua jangan memposisikan diri sebagai tukang tes, sengaja membiarkan anak melakukan kesalahan, untuk kemudian menyalahkan/menghukum.
Misalnya, memberi aturan bahwa siapa yang meninggalkan barang di lantai, maka barang itu akan dibuang. lalu dengan sengaja membiarkan anak meninggalkan barang di lantai, kemudian membuang barangnya, supaya anak “dapat pelajaran”. Itu bukan pendekatan yang dianjurkan CM.

Alih-alih, sebaiknya orangtua mencari cara terbaik, bagaimana supaya anak termotivasi dan terlatih untuk selalu meletakkan barang di tempatnya setelah selesai menggunakan. Lalu secara konsisten melatih terus kebiasaan itu sampai menjadi watak permanen anak. Itulah yang CM maksud kita “membantu” anak untuk bertumbuh.

Kemandirian juga salah satu watak positif yang harus kita latihkan. Dalam hal apa anak harus mandiri, sesuai umurnya? Itu harus kita tentukan dulu. Setelah itu, bagaimana membantu dia agar bisa mandiri? Latihan seperti apa yang akan mengkondisikan anak untuk menjadi mandiri?

Jadi pertanyaan Mbak E justru intinya adalah bagaimana membantu anak agar bisa menjadi mandiri ya?

5. Pertanyaan dari mba D.

Adakah batas atau patokan kapan kita harus memaksa atau menunda sesuatu yg orangtua ingin agar anak mengikuti mereka?

Jawaban : Dalam CM kuat sekali konsep “amanah” atau “kewajiban”. Tiap orang punya kewajiban, yang mesti dia kerjakan entah suka atau tidak suka.
Kalau soal kewajiban, anak tentu harus melakukannya. Tetapi kalau perintah yang terkait dengan keinginan personal orangtua, tentu anak boleh menolak atau menawar.
Memang kadang tipis bedanya, atau sulit dipilah. Rasanya yang kita perintahkan ke anak selalu “prinsipiil” (menurut kita). Di situlah kita sebagai orangtua juga perlu banyak refleksi, supaya kita tidak jadi diktator.
Contoh: di rumah saja, ada kewajiban bagi anak untuk makan apa pun hidangan sehat yang tersedia. Kadang ada bahan makanan yang anak menolak, bilang kalau itu tidak enak, maka saya akan tegaskan kepadanya, “makan itu kewajiban kita terhadap tubuh, kita makan karena sehat atau tidak sehat, bukan enak atau tidak enak, dan ini sehat karena mengandung bla-bla-bla yang berguna untuk bla-bla-bla”. Dan anak saya tetap memakannya.

Sedangkan untuk kasus seperti anak  yang tidak mau sholat, atau tidak mau mencium tangan nenek kakek atau orang yg lebih tua. Sebagai orang tua  adakah saat2 kita hrs memaksa anak melakukan hal yg ortu inginkan? Lalu sekiranya ada, menurut pengalaman mbak Ellen kapankan kita harus memaksa anak, kapankah kita harus berhenti meminta anak melakukan hal yang orang tua inginkan?

Jawaban : Kalau soal hormat pada orangtua, bagi saya pribadi itu hal prinsipiil, jadi anak punya kewajiban melakukannya. Kepada mereka, disaat-saat yang nyaman saya sampaikan pentingnya belajar menghormati orangtua, bahwa Tuhan memerintahkan begitu, dsb.

Pada momennya, kalau memang ada sopan santun yang harus mereka lakukan, saya bilang dengan nada tegas saja, ayo salam dulu, ayo tawari makan Opa-Oma, dsb.
Karena memang anak-anak tahu bahwa kalau Mama sudah menyuruh dengan nada begitu, berarti kewajiban, ya mereka melakukan.

Saya akan beri pujian kalau mereka melakukannya sebelum saya menyuruh.

Asah intuisi saja, Mbak D. Kapan kita harus melonggarkan diri. Makin dekat kita dengan anak kita, makin kita bisa paham gejala-gejala perilakunya.

6. Pertanyaan dari mb Wl.

Bgmn cara nya menghadapi anak yg suka nego (banyak nawarnya😝) kalau kita suruh atau minta melakukan sesuatu. Memang saya selalu menang, tp kdg kala sy terima nego nya kalau masuk akal. Trus, apakah itu merupakan sesuatu yg positif, dlm arti suatu keunikan atau kelebihan dlm diri si anak yg tukang nego?

Jawaban : Di balik semua yang terkesan negatif, sebetulnya ada sesuatu yang positif. Dalam hal ini, anak mbak Wi punya kemampuan negosiasi yang baik, perlu dihargai 😊

Tapi akan kelewatan kalau lalu segala sesuatu dinego. Anak juga perlu paham bahwa ada hal-hal yang tak bisa ditawar. Respek anak kepada orangtua juga bisa berkurang jika dia tahu bahwa apa saja bisa ditawar. Maka sebaiknya sebelum memberi perintah ke anak, kita pikir dulu baik-baik apakah perintah kita itu sudah tepat. Kalau misalnya kita lihat anak kita sedang asyik bermain, lalu kita memerintahkannya untuk mandi sekarang juga, kemungkinan besar anak akan menawar. Maka sebaiknya perintah itu kita sampaikan dalam bentuk pertanyaan: “kamu mau mandi berapa menit lagi?” Jadi memang sejak awal sudah kita suratkan bahwa ini negotiable. Tapi kalau kita memutuskan untuk menyampaikan perintah yang harus dikerjakan sekarang juga, pastikan bahwa perintah itu memang anak kerjakan saat itu juga.

Oh ya, tambahan, menurut kajian psikologis, prefrontal cortex anak akan berkembang jika kita menanyainya. Jadi alih-alih memerintah dengan tanda seru, cobalah rumuskan perintah itu dalam kalimat tanya.

Contohnya  “Setelah bermain, sebaiknya apa?” (beres-beres)
“Lantai kamarmu penuh dengan barang, bisa kamu bereskan dalam berapa menit?” dan sejenisnya.

7. Pertanyaan dari mb C

1. Bagaimana menanamkan nilai-nilai ketuhanan sehingga anak bisa paham dan mau menurut ketika diberi perintah. Kalaupun kita sudah mencontohkan, ada kalanya anak tidak mendengarkan

2. Selain nilai ketuhanan, bagaimana dengan rasionalitas dlm sebuah tindakan? Karena anak kadang juga mempertanyakan suatu perintah dan butuh penjelasan rasionalnya

Jawaban : Dalam metode CM, selalu tiga pilar yaitu atmosfir keteladanan, latihan kebiasaan baik, dan suplai ide inspiratif.

Keteladanan saja tidak cukup. Harus ada disiplin berupa latihan kebiasaan baik. Juga harus dibantu dengan banyak disuplai kisah/cerita yang menggugah dia untuk melakukan yang baik.

Mempertanyakan kalau memang niatnya diskusi, jelaskanlah. Tapi kalau niatnya untuk membantah, maka CM menyarankan agar tidak melayani.

8. Pertanyaan dari mb M

Bagaimana membagi waktu kegiatan sehari2 mba Ellen dgn mengurus anak pdhal ada baby. Bagaimana menghadapi jadwal anak pertama apakah  pendampingan anak pertama berkurang? Bgmn mengatasi mslh membagi waktu anak pertama dan anak lainnya? Pekerjaan yg banyak, ada baby, misal tdk ada pembantu, mengurus RT bisa menguras tenaga n emosi semuanya itu mempengaruhi dlm mendidik anak. Makasih.

Jawaban : Wah, ini sudah bukan soal otoritas ya? Baiklah. Soal manajemen waktu, saya berusaha membuat target yang realistis saja, yang bisa tercapai. Kalau memang butuh bantuan dari luar, ya cari bantuan. Saat ini, saya dibantu oleh teman untuk menjadi pendamping anak pertama saya belajar matematika. Materi dan cara belajar saya yang menentukan, tapi anak belajar dengan orang lain. Saya juga minta bantuan tenaga panggilan untuk menemani si kecil, supaya saya bisa mendampingi kakak-kakaknya kelas.

9. Pertanyaan dari mba Af

Anak pertama saya punya kesulitan dan ketakutan yang berlebihan thdp sayur dan buah..di usianya yg menjelang 9 tahun dia hanya mau mncoba satu sampai dua jenis sayur dan buah..itupun TDK setiap hari dia mau..lbh bnyak TDK maunya.
Mngkn saya yg pnya kesalahan di wktu bayi ada perlakuan saya yg mmbuat anak saya jd trauma terhadap sayur dan buah.
Padahal dia sdh tau fakta pntingnya mkn sayur dan buah pada saat dia BAB berdarah..saya dampingi dia mncari tau sebabnya serta kaitannya dgn konsumsi sayur Dan buah.
Nah sbgai ortu sejauh mana  intervensi yg hrsnya saya lakukan ntuk meluruskan pandgnnya trhdp sayur Dan buah. Mksh Mbak

Jawaban : Kalau saya sarankan, coba pakai teknik si Bayi dan si Bijak itu, Mbak Af.
Salah seorang anak saya juga semula tidak suka makan pepaya. Tapi kemudian dia suatu hari berkata, “Ma, aku mau makan pepaya! Aku menang ya, Ma?” (maksudnya si Bijak dia menang terhadap si Bayi). Memang prosesnya tidak instan.
Kadang harus ‘mlipir’ dulu. Catat semua kemenangan si Bijaknya dalam berbagai hal, katakan betapa bangganya kita karena si Bijaknya terus menguat. Lambat laun, prefrontal cortex anak juga akan menguat dalam berbagai perkara lain.

10. Pertanyaan dari mba As

Mohon penjelasan untuk kalimat ini, “tidaklah bertanggung jawab jika orang tua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka blum siap untuk itu.”

Pertanyaan
Utk memberi pengertian dan membiasakan anak utk berjilbab..
Dan berkaitan dengan peraturan sekolah yg menerapkan hal ini jd peraturan..

Bagaimanakah jika menentukan pilihan sekolah utk anak..
Anaknya dipersilahkan memilih dg bbrp pilihan ortu nya
Yg ternyata pilihan ortunya adalah yg menerapkan peraturan memakai kerudung.
Dan ini blm siap dilaksanakan oleh sang anak.

Jawaban : Saya tidak paham maksudnya anak belum siap melaksanakan. Tapi saya coba refleksikan dengan pengalaman saya sendiri ya.

Terhadap salah satu anak saya, saya sudah sosialisasikan sejak lama bahwa di usia 6 tahun, dia mesti belajar berenang. Jadi umur 5, belajar sepeda. Umur 6, belajar berenang. Umur 7, kelas (belajar terstruktur) seperti kakaknya.

Masuk usia 6, saya bawa ke kolam renang. Ternyata dia menolak diajari berenang. Sampai nangis-nangis kejer. Nah, di sini, kita mesti amati lebih dalam, apakah ini penolakan karena dia berniat melawan kita, atau karena dia memang takut atau punya perasaan tertentu yang membuatnya menolak.

Dalam kasus anak saya, saya sadari bahwa tidak ada gunanya memaksa dia, semakin dipaksa malah semakin trauma nanti. Akhirnya, saya minta dia berjanji untuk berlatih sendiri dengan papanya, memasukkan kepala ke dalam air, dan kalau sudah bisa, nanti coba les renang lagi.

Ya begitulah, akhirnya dia berlatih sendiri suka-suka dia, sambil dibombong (encourage) terus. Akhirnya mau sedikit-sedikit memasukkan kepala ke air. Dipuji terus. Kadang dikasih reward yang lain juga. Kurang lebih setengah tahun kemudian, baru mulai coba lagi les renang, dan ternyata sudah mau.

Selesai sudah sesi diskusi dengan mba Ellen Kristi. Semoga di lain kesempatan, kita bisa berdiskusi kembali dengan tema lainnya.

Terima kasih banyak mba Ellen untuk ilmu dan waktunya. 🙏🏻

Pesan mb Ellen :
Dititipi otoritas sebagai orangtua memang bukan perkara mudah. Makin jarang kita harus memaksa anak melakukan sesuatu, berarti makin berhasil kita. Makin anak bisa dilepas karena kita percaya dia akan tetap berperilaku baik, makin berhasil kita

Madu Palsu!

Tadinya kami hanya bereksperimen membuktikan gaya kohesi, dengan menggunakan madu, air berwarna, dan minyak. Hasil eksperimen terlihat pada gelas yang paling bawah adalah madu, di tengah adalah air yang diberi pewarna hijau, dan yang paling atas adalah minyak goreng. Ketiga zat cair itu tidak dapat menyatu, disebabkan oleh gaya kohesi, yaitu sebuah gaya tarik menarik antara partikel partikel yang sejenis. Kohesi dipengaruhi oleh kepadatan dan jarak antar partikel dalam zat. Dengan demikian, gaya kohesi mengakibatkan ketiga zat tersebut bila dicampurkan tidak akan saling melekat.

Namun dalam eksperimen kami, madu dan air bercampur menjadi satu, sehingga terjadi perubahan warna, dari hijau menjadi kecoklatan.

“Bercampur bua, madu dan air hijaunya bercampur”  kata anak-anak, emaknya terdiam, sebab paham, seharusnya madu itu tak tercampur dengan air, sambil berkerut-kerut mikir..

“kok bisa bercampur ya bang? Apa madunya palsu?

“bisa jadi bua, kalau palsu bercampur, kalau asli gak bercampur” katanya sambil ikut berpikir.

“tapi kenapa tadi waktu diawal madunya gak tercampur bang?

“hmm.. kenapa ya? Jawab duo bocah itu serentak.

“ohh.. bua tau, mungkin karna kepekatan gulanya bang, madu palsu itu kan mengandung banyak sekali gula, jadi pekat, nah.. kalau air pewarna kan tanpa gula,  jadi belum tercampur ketika belum diaduk,  kan kita pernah tuh eksperiemen kepekatan gula ya? Tapi agak gagal waktu itu bang”

“Ohh.. iya mungkin bua”

“tapi malah bagus tuh bang, kita malah tau, madu kita palsu! Emaknya cenggengesan sambil kesel karna sudah tertipu.

Kesimpulan kami adalah; eksperiemn kami bisa dijadikan acuan, untuk membuktikan bahwa madu yang anda beli palsu apa asli, madu palsu akan bercampur dengan air ketika diaduk, karna madu palsu mengandung banyak air, sedangkan madu asli tidak akan bercampur dengan air, disebabkan oleh kepadatan antar kedua partikel berbeda, begitulah, ketika eksperimen gagal sekalipun, ilmu itu selalu ada.

Rahmaida “bua” Simbolon
#experimen#curiosity#funLearning#

Anak dan Buku

Tiga hari yang lalu saya pulang kerja sambil membawa pesanan Umar anak saya, buku berjudul “Winnetou”. Itu adalah buku kedua karya Karl May yang kami beli. 24 jam kemudian buku setebal 346 halaman tersebut selesai dibaca Umar.Sejak menajdi orang tua kami punya keinginan kuat agar anak-anak kelak senang membaca. Kebanyakan orang tua punya impian yang serupa.

Saya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi membaca. Bapak sangat senang membaca dan mengkoleksi banyak sekali buku – kebanyakan buku bertema agama.

Ketika pulang dari tugas luar kota seringkali bapak membawa segepok majalah bekas yang didapatkan dari temannya yang berlangganan untuk anaknya. Dan kami anak-anaknya menyambut dengan gembira oleh-oleh tersebut. Tanpa kami sadari bapak sedang menanamkan kegemaran membaca. Jika ada uang lebih kami sering menyempatkan membeli buku dari majalah Bobo bekas hingga novel Trio Detektif.

Tradisi membaca tersebut kami teruskan pada anak-anak kami. Sejak Umar kecil kami sering mengajaknya ke Gramedia atau toko buku lainnya. Kalau kantong sedang kempes cukup dengan membaca gratis di tempat kemudian pulang. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan dan ternyata begitu mebekas bagi Umar sehingga setelah bisa membaca maka buku menajdi barang wajib yang harus kami beli dengan rutin.

Sebagaimana anak lainnya, komik menjadi salah satu kegemarannya. Dari Donal, Smurf, Tin-tin, juga beragam komik sains seperti Why dan Super Science. Akhir-akhir ini Umar lebih menikmati bacaan yang lebih berat, novel. Awalnya kami menjadikan buku “Lord of The Ring” sebagai bacaan dan narasi wajib mengikuti saran dari buku “Cinta yang Berpikir” oleh Elen Kristi. Kemudian novel-novel lainnya pun mulai dibacanya.

Selain harus rutin membeli buku, kami juga harus menghilangkan gangguan paling buruk, “TV”. Sudah lama sekali kami tidak lagi memiliki TV. Acara-acara di TV nasional yang menurut saya kurang mendidik dan tidak layak ditonton adalah salah satu alasannya. Selain itu kami ingin mengisi waktu senggang kami dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca.

Tahap selanjutnya kami sedang berpikir agar Umar berminat untuk menulis.

Nasir Nooruddin

Sumber : http://griyasinau.com/anak-dan-buku.html

Kejutan di Bulan Desember – Pengalaman Pramembaca Anak

Kupu-Kupu

Ini kupu-kupu
Kupu-kupu suka madu
Nina suka kupu-kupu
Nina cari kupu-kupu
Kupu-kupu lari tepi kayu

15 Desember 2015, ia melafalkan bacaan kupu-kupu, di saat bundanya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga.

Kaget, karena tidak ada kegiatan belajar membaca rutin di rumah. Ia hanya bermain mengenal nama setiap anggota keluarga.

Kaget, karena pada saat itu ia belum hafal semua abjad A-Z.

Yang sering ia lakukan setiap hari adalah membaca buku.

Ia mengenal buku sebelum usianya 1 tahun.

Ketika bayi, ia belajar membaca buku dengan cara memukul-mukulkan ke lantai, membanting, menggigit dan bahkan merobek lembaran buku.

Ia yang setiap malam mengambil buku bacaan dan meminta bundanya untuk membacakannya.

Ia yang sering duduk di samping bundanya ketika bundanya sedang membaca dan bertanya, ‘Buku apa, bund? Ceritanya bagaimana, bund? Bacain dong, bund.’ Padahal saat itu bundanya sedang asyik membaca buku-buku tak bergambar.

Ia adalah pembeli tercilik di Toko Buku Atqiya yg sering bertanya, ‘Buku ini bagus. Harganya berapa, bund?’

Ia yang sering membeli buku dengan uang hasil pemberian ayah atau kakek neneknya.

Dan ia sekarang tahu bahwa hobinya adalah membaca buku.

******

Ah, rupanya teori itu terbukti. Sebelum menikah, saya membaca buku tulisan pak Fauzil Adhim yg berjudul ‘Membuat Anak Gila Membaca’.

Inti dari buku tersebut adalah hal terpenting yang perlu kita tumbuhkan pada diri anak adalah minat membaca anak bukan kemampuan membaca.

Kita mengenalkan satu atau lebih bagian membaca kepada anak sehingga timbul ketertarikan yang kuat untuk ‘membaca’. Anak bersemangat melihat buku atau sumber bacaan lain. Ini merupakan bekal yang sangat berharga bagi proses pembelajaran membaca pada anak.

Jim Trelease berpendapat bahwa pengalaman pramembaca bisa kita berikan sejak anak lahir. Cara anak belajar membaca sama seperti anak belajar berbicara. Kita mulai mengajak anak berbicara sejak ia lahir, begitu juga kegiatan membaca. Kita membiasakan anak membaca, mengenal huruf dan angka serta memahami isi bacaan sebagaimana kita mengajarinya membaca. Kita kenalkan anak dengan bacaan sejak ia kecil.

Menurut Paul C.Burns, dengan memberikan pengalaman pramembaca (prereading experience) maka dapat merangsang kesiapan membaca pada anak.

Kesiapan membaca (reading readiness) adalah tingkat kematangan seorang anak, yang memungkinkannya belajar membaca tanpa suatu akibat negatif. Kematangan yang dimaksud disini meliputi kematangan fisik, mental, linguistik (bahasa), sosial.

Berdasarkan teori, umumnya anak memiliki kesiapan membaca pada usia 6 tahun. (Ada yg berpendapat 6 tahun, 6 tahun 5 bulan atau 6 tahun 6 bulan). Akan tetapi untuk anak yg mendapatkan pengalaman pramembaca sejak usia dua tahun maka di usia TK kemungkinan anak sudah mencapai reading readiness (kesiapan membaca).

Larangan mengajarkan membaca secara formal sampai anak berusia tujuh tahun merupakan kebijakan yang sangat tepat, terutama ketika banyak guru dan orangtua belum memahami bagaimana memberikan pengalaman pramembaca kepada anak.

Berikut ini adalah cara memberikan pengalaman pramembaca :

  1. Tanamkan kebiasaan membaca buku sejak dini sehingga membentuk pola membaca (reading pattern) pada anak dan menumbuhkan minat membaca yg kuat pada anak.
  2. Bacakan buku dengan suara dikeraskan (reading aloud), bacakan buku dgn suara yg berubah-ubah sehingga berirama. Selain mendorong anak untuk menyukai membaca, dapat bermanfaat sebagai rangsangan komunikasi yg baik dan kemampuan & kapasitas otak anak berkembang.
  3. Berikan buku yg sesuai dengan usianya.
    Untuk bayi, pilihkan buku yg terbuat dari bahan kertas tebal seperti karton (board book), atau soft book. Sehingga tidak mudah sobek, kaya warna & tidak banyak tulisan. Idealnya satu buku memuat tidak lebih dari 300 kata.
  4. Ajak anak membaca buku bersama. Kondisikan anak agar merasa nyaman ketika sedang membaca buku.
  5. Pilihlah bacaan yang bergizi bagi jiwa, hati & pikiran anak. Buku yang memiliki struktur penceritaan yang kuat akan memberi pengaruh yang luar biasa besar pada kemampuan & cara berpikir anak.
  6. Menciptakan lingkungan yang akrab dengan buku. Orangtua perlu menunjukkan betapa membaca sangat penting & sekaligus menarik. Melalui pengalaman melihat orangtua membaca, anak akan mengembangkan kebiasaan & sikap yang baik terhadap kegiatan membaca, dan muncul motivasi intrinsik untuk membaca.

***

Catatan bunda : 1 bulan setelah ia mampu membaca, kemampuan menulisnya pun meningkat. Saya jadi teringat perkataan mba Nuni, ‘Jangan paksa anak untuk mempelajari sesuatu, when they are ready, you’ll be surprise with the speed.’

-Bunda Wafa-

Anak belajar emosi : “terima kasih yaa sudah meminjamkan mainannya”

Usia 4 tahun umumnya merupakan usia dimana anak mengembangkan kemampuan sosial-pertemanan. Anak belajar mengenai konsep dan norma dalam relasi sosial, dan mulai dituntut untuk melakukannya.

Seperti misalnya tempo hari ada kejadian yang kuat kuingat . Seperti biasanya si sulung mengaji di masjid sore hari, disana. Ia berkumpul dengan banyak temannya yang usianya sebaya. Hari itu, seorang temannya membawa mainan super keren yaitu pesawat yang bisa dilipat-lipat (oh, entahlah namanya apa).

Betul-betul mainan adalah barangnya anak-anak. Sejak si X ini membawa mainan itu, pamornya di kalangan kawan-kawan lain meningkat pesat. Tiba-tiba hampir semua anak laki-laki seumuran dia, berkumpul mengitari si mainan, melihat si empunya mainan memainkan pesawat itu, dan menunggu gilirannya meminjam si pesawat.

Beberapa kawan X bergantian rebutan mainan X, lalu mulai membicarakan cara memainkannya, tipe-tipe mainan lain, dan mulai mengatur siapa yang boleh dan nggak boleh meminjam. Mainan itu mulai dibawa berlari kesana dan kesini.

Lucu ya, sebagai ibu, saya melihat si sulung ikut dalam kehebohan itu. Diawali dengan intip-lihat si mainan, lalu ikut nimbrung dalam “arisan anak laki-laki” sambil menunggu giliran, mendengarkan dengan takjub isi cerita, menanti dengan antusias, sampai akhirnya marah karena terkena imbas rebut-rebutan: ia nggak dapat giliran meminjam (lagi).

Sebagai catatan, saat itu si sulung belum kenal anak X yg membawa mainan. Jadi seluruh proses di atas, betul-betul dalam kelompok baru yang tidak familiar baginya.

Okelah, lalu tiba giliran si sulung marah karena nggak mendapat giliran kedua untuk meminjam mainan. Datang dan tetiba duduk di pangkuanku dengan menghentak, mulut manyun alis mata berkerut luar biasa. “Aku gak dipinjemin mainannya!!” Katanya.

“Ooh” ujarku. Lalu aku diam saja sejenak. Membiarkan si sulung mengalami perasaannya yang sedang menggejolak itu (ya, karena perasaan perlu dirasakan). Lalu, masih dalam sikap diam, aku berkata “yaa, nggak dipinjemin juga gak papa kok..”lalu diam, sejenak lalu aku merasakan emosinya turun sebentar, lalu si sulung: “tapi aku mau mainannya!! Mau pinjam, mau pinjam mau mainannya!!” Mulai sedikit merengek.

Aku, lagi-lagi diam. Mengambil jeda, lalu: “yaa.. itu kan mainannya dia, mau dia dia pinjamkan alhamdulillah, boleeh .. gak dipinjamkan juga nggak papa, kan punya dia”. Tidak aku peluk si sulung, pun tidak kuelus punggungnya. Aku masih dalam posisi: membiarkan ia berkeluh dalam pangkuanku, dan aku menopangkan tangan ke belakang.

Instingku kuat menyuruh aku membiarkan si sulung “mengalami” gejolak emosinya. Ini kali pertama ia begitu ingin meminjam mainan temannya (yang tidak ia kenal), dan tidak ia dapatkan. Dan karena ini kali pertama, maka penanganannya pun baru kali pertama. Kami sama-sama belajar.

Lalu ada 3 kejadian:

  1. Si guru datang, melihat si.sulung, dan penuh simpati berkata “ooh, mainan ya? Nggak papa .. nanti yaa, nanti.kalau ujiannya bagus sama mama akan… (disini aku menggeleng kuat-kuat. Sangat kuat dan berulang kali *hehe* memberi.isyarat bahwa aku TIDAK akan membelikan mainan itu hanya atas dasar kejadian ini, atau sebagai iming-iming)…

    Akhirnya si guru ngeles dan melanjutkan kalimat dengan kata-kata lain.

  2. Seorang ibu temanku, yang kebetulan anaknya sedang dapat giliran meminjam mainan, menyuruh anaknya meminjamkan mainan itu ke si sulung sebentar, walaupun anaknya –agak– nggak rela, tetap dikasih. Sehingga si.sulung main sebentar.
  3. Saat sudah waktunya pulang, si sulung menolak mengembalikan mainan dan berkata “aku mau bawa pulang mainannya!! Aku mau mainannya!!” Dan menolak bilang terima kasih walau aku suruh.

Disitulah aku mulai ber- “O-oww ” artinya: masalah nih. So, si sulung memulai episode marah-marahnya: jalan jauh-jauh dariku dan merengut. Aku? Memulai episode penanganan favorit: konsisten.

So, jadilah episode kejar-kejaran: memanggil namanya, suruh datang, negosiasi, panggil ulang, dan saat nggak berhasil: aku pegang tangannya dan aku tarik sampai akhirnya kami membuntuti si anak pemilik mainan X. Dialognya begini:

Si sulung: “aku gak mau bilang terima kasih!!! Pokoknya gak mau SE LA MA NYA!!”
Aku (ibunya): “pergi bilang terima kasih!! Tadi maksa-maksa pengen pinjam, habis dipinjemin kok nggak bilang terima kasih. Kalau begitu besok-besok ibu gak kasih ijin kamu pinjam mainan apapun sama siapapun!!”

Akhirnya, setelah hampir 100 meter membuntuti, rombongan si.empunya mainan terkejar. Aku memberi kode agar si sulung segera bilang terima kasih.

Berikutnya adalah luar biasa:

Sulung berusaha sekuat tenaga mengucapkan kata-kata ini: “makasih yaa udah dipijemin mainannya” (Si teman gak denger), lalu lagi setengah berteriak: “makasih yaa udah dipijemin mainannya!!” Lalu tiba-tiba meledak tangisnya.

(Episode ini agak lama, karena si sulung saat ngomong tidak menunggu / mencolek temannya, yg saat itu sedang ngobrol dengan teman lain, jadi setelah pecah tangisnya sy harus mencolek si anak *dan ibunya* supaya mereka dengar apa yang sulung mau bilang. Sulung mengulanginya lagi, lalu salaman, dan lanjut menangis minta gendong).

Lalu akhirnya anakku sulung itu dalam gendonganku, juga adiknya. Kududukkan ia di kursi terdekat, kutatap matanya, kuelus punggungnya, dan kukatakan dengan yakin dan lembut: “alhamdulillah, kamu sudah bilang terima kasih ya, begitulah caranya kita berteman. Saat dipinjamkan, kita bilang terima kasih, saat tidak dipinjamkan, kita tidak memaksa. Ibu lihat kamu sudah berusaha untuk bilang terima kasih, walaupun tadinya nggak mau, tapi kamu berusaha. Ibu bangga melihatnya, terima kasih ya soleh. I love you, ibu sayaang sekali sama kamu, kamu tau kan? ” lalu kupeluk erat dia.

Luar biasa, betul-betul momen yang tidak terbayar. Aku melihat dengan kepalaku sendiri, bagaimana anakku dengan sekuat tenaga mencoba menuruti ucapan ibunya, hingga hilang pertahanannya dan menangis. Dan mengangguk2 sambil menangis saat kunasehati. Luar biasa anakku.

Sampai sekian kali aku ceritakan dan tulis ini, air mata masih turun. Menyesal? Tidak, sedih juga tidak. Mungkin lebih ke haru.

Mungkin caraku -agak- keras, dan tentu nggak akan cocok dengan semua anak. Tapi ini anakku, dan begitulah kami ibu dan anak menghadapi masalah-masalah kami. Diantara prinsip-prinsipku yang utama adalah konsisten. Sederhana sih, kalau mau pinjam, ya harus mau bilang terima kasih.

Well, episode panjang itu diakhiri dengan aku membelikannya es krim kesukaannya, dan ia makan lahap tanpa intervensi. Setelah hari itu, hingga sekarang, ia tidak ada masalah dengan bilang “terus kasih”, ia berteman dengan baik-baik saja.

Disinilah aku bersyukur atas jalan yg aku pilih. Karena saat masalah muncul, aku bisa menangani masalah secara langsung, dengan caraku, dan dengan nilai-nilai kami.

Dianda azani.