otoritas-orang-tua-ketaatan-anak

Otoritas Orangtua dan Ketaatan Anak Dalam Metode Charlotte Mason – Kulwap Bersama Ellen Kristi

Pada tanggal 28 Januari 2016, grup kami “Home Education” menghadirkan mba’ Ellen Kristi, penulis buku “Cinta yang Berpikir”. Ellen Kristi ibu dari 3 anak yang menjalankan homesschooling dengan metode Charlotte Mason. Ellen Kristi juga mengelola website www.cmindonesia.com untuk memperkenalkan filosofi pendidikan Charlotte Mason.  Tahun 2012, Ellen Kristi menerbitkan sebuah buku: Cinta Yang Berpikir, yang memuat prinsip-prinsip Charlotte Mason dan panduan penerapannya sehari-hari.

Tentu bakal mudah sekali jadi orangtua seandainya anak-anak selalu dengan sukarela dan sukacita mengerjakan apa pun yang kita perintahkan kepada mereka. Sayangnya, realita sehari-hari tidak seperti itu

Charlotte Mason (disingkat CM) dalam volume 1 menulis, ketika lahir, bayi pasrah diapakan saja oleh orangtuanya, tetapi makin bertambah usia, kepribadiannya akan makin nampak jelas. Dengan kata lain, ego anak menguat dari waktu ke waktu. Dan seperti dalam relasi mana pun, ketika ego bertemu ego, selalu ada kemungkinan benturan ego. Orangtua punya ego, anak pun punya ego, maka konflik dan perselisihan selalu mungkin, atau malah sering, terjadi.

Namun, coba kita renungkan lagi, bukankah sebetulnya sangat indah dan menakjubkan bahwa anak-anak kita mengembangkan keunikan pribadi mereka sendiri? Mereka jadi bisa berpikir, memutuskan, dan bertindak bagi diri mereka sendiri. Apa senangnya kita jika anak selamanya jadi bayi? Apa bagusnya kalau anak kita seperti robot yang selalu menurut, tak berkepribadian? Jadi, kita patut bersyukur kalau anak kita bisa menyatakan apa yang mereka mau, apa yang mereka pikir dan rasa, sekalipun itu berbeda dari yang kita mau, pikir, dan rasa.

Masalah utamanya dengan demikian bukan meratapi kenapa anak suka membantah, enggan menurut, semaunya sendiri. Tetapi masalahnya adalah bagaimana menjalin relasi yang sebegitu rupa, sehingga kepribadian anak bisa berkembang matang, bijak, dewasa, dalam situasi damai? Bagaimana kita bisa mendampingi mereka menjalani pertumbuhan itu namun rumah tidak ribut penuh perselisihan, kata-kata marah, ancaman, dsb?

Dalam filosofi CM, untuk itu, ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab. Siapakah pemimpin di rumah? Siapakah pemegang otoritas tertinggi?

Seperti yang saya tulis di buku Cinta yang Berpikir, ada dua haluan besar. Pertama, parent-centered, orangtua sebagai pemegang otoritas tertinggi. Kedua, child-centered, anaklah yang dijadikan penentu kebijakan. CM bukan keduanya. Bagi CM, pemegang otoritas tertinggi adalah TUHAN. Baik orangtua maupun anak berkewajiban untuk menaati otoritas-Nya, aturan-aturan-Nya.

Aturan TUHAN menjadi kompas dalam perilaku. Ada dua macam aturan TUHAN, yang pertama adalah hukum-hukum alam, yang kedua adalah hukum moral. Itu sebabnya dalam metode CM, sains dan agama harus sama-sama dipelajari untuk mengetahui apa itu Kebenaran.

Nah, menurut CM, sudah aturan dari TUHAN bahwa orangtua menjadi perwakilan-Nya dalam mengasuh anak. Sebagai perwakilan TUHAN, orangtua mengemban amanah untuk menjalankan otoritas titipan TUHAN. Ayah dan ibu menjadi perwakilan TUHAN untuk membimbing anak di jalan-Nya.

Itu berarti, saat menjalankan otoritas titipan TUHAN, orangtua harus selalu mencari tahu apa maunya TUHAN bagi anak-anak mereka. Seperti sifat TUHAN, otoritas harus dibarengi dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Jadi, tidak boleh orangtua semaunya sendiri memerintah anak, itu namanya penyalahgunaan kekuasaan, abuse of authority.

Selain penyalahgunaan kekuasaan, menurut CM problem lain orangtua saat menjalankan otoritas titipan TUHAN adalah kurangnya kepercayaan diri, lack of confidence. Mereka takut-takut saat menyuruh anak melakukan sesuatu. Mereka mengkeret dan mundur ketika anak membantah atau menolak. Seperti seorang jenderal yang takut pada kopralnya yang suka melawan.

Bisa kokoh dalam prinsip, tapi penuh kasih. Bisa lembut, tapi tetap tegas. Begitulah idealnya cara orangtua menjalankan otoritas.

CM yakin, setiap anak terlahir dengan kemauan untuk diarahkan oleh otoritas, oleh orangtua. Asal orangtua percaya diri bahwa mereka memang mendapat titipan otoritas itu dari TUHAN, anak akan mematuhinya.

Tetapi memang perkaranya tidak sesimpel mengeluarkan perintah ini-itu lalu mereka langsung menurut. Ingat, anak bukan robot, maka jangan paksa mereka jadi robot. Ada syaratnya agar mereka mau taat pada otoritas.
Syarat pertama adalah faktor keteladanan, apakah orangtua menunjukkan bahwa mereka pun taat pada prinsip-prinsip dan aturan? CM mengistilahkannya “atmosfir”. Nilai-nilai apa yang anak serap dari perilaku nyata kita sebagai orangtua. Mungkinkah kita tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan? Itu akan menentukan seberapa respek anak terhadap otoritas kita.

Syarat kedua adalah faktor pengetahuan, apakah kita melengkapi diri kita dengan ilmu tentang mendidik anak? CM mengistilahkannya “cinta yang berpikir”. Agar berhasil mendidik anak, kata CM minimal kita harus punya bekal pengetahuan fisiologi & psikologi. Makin kaya ilmu, makin baik kemampuan kita dalam membesarkan anak. Artinya, otoritas harus dilengkapi dengan semangat belajar terus-menerus.

Pada prinsipnya, CM menolak gaya parenting diktator, tapi juga menolak gaya parenting child-centered.

Mengapa anak tidak bisa dijadikan “pemimpin” dalam proses mendidik? CM melihat bahwa sekalipun anak itu makhluk luar biasa, penuh semangat, rasa ingin tahu, dan potensi, tetaplah anak belum punya kematangan moral dan kekayaan pengalaman hidup.

Anak belum bisa mengendalikan hasrat-hasrat dalam diri mereka. Kapasitas berpikir anak belum berkembang sepenuhnya. Begitu pula kemampuan mereka memilah benar-salah, baik-buruk.
Tidaklah bertanggung jawab jika orangtua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka belum siap untuk itu.

Tugas orangtualah menginspirasi dan melatih anak agar memiliki self-control, self-knowledge, dan self-reverence. Di sini pentingnya tiga pilar: atmosfir, pelatihan kebiasaan baik, dan suplai ide-ide luhur untuk anak.

Pendekatan kita kepada anak adalah sebagai “asisten”. Assist, artinya membantu. Kita ingin membantu mereka bertumbuh. Kalau mereka belum bisa mengerjakan sesuatu, kita harus mencari cara supaya akhirnya mereka bisa.

Itu sebabnya, menurut CM, seharusnya tidak perlu hukuman, apalagi marah-marah atau pukulan.

Education is the science of relations, kata CM. Coba bina relasi yang penuh kasih dan respek dengan anak, bangun pemahamannya tentang dirinya sendiri dan kehendak TUHAN baginya, pelajari teknik berkomunikasi yang efektif, tunjukkan keteladanan positif, dan tegakkan aturan secara konsisten. Maka tidak akan sulit memenangkan respek dan ketaatan anak.

Demikian pokok-pokok pemikiran metode CM tentang otoritas orangtua & ketaatan anak.

Tanya Jawab

1. Pertanyaan dari Mb An

Mohon penjelasan untuk kalimat ini, “tidaklah bertanggung jawab jika orang tua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka blum siap untuk itu”

Anak saya 4 thn, punya 2 teman perempuan di lingkungan, dan selalu inginnya main dengan mereka, dan memang tidak ada anak kecil lain. Kedua anak itu adalah anak yang saya bilang tidak ada orang tua, orang tuanya ada tapi sibuk sendiri, dan ga peduli sama anaknya.

Anak yang satu hidup dalam 1 rumah dengan 5 keluarga di dalamnya. Bayangkan satu rumah kecil hidup 5 keluarga yang beranak pinak. Semua anak dari yang lulus sma sampai bayi, laki atau perempuan, tidak punya kamar.

Anak 1nya lagi malah sempat melakukan tindih2an buka celana dengan anak cowok.

Intinya dua anak ini saya nilai berbahaya buat anak saya. Saya melarang mereka bermain dengan anak saya, dan anak saya selalu frustasi kalau dilarang main dan nangis

Saya bilang ke anak saya, ga boleh main sama mereka karena ujung2nya berantem

Apa itu termasuk saya memaksa anak menentukan sikap moralnya sendiri, padahal belum siap?

Jawaban : Tidak, dalam kasus ini justru mb An sudah membantu anak menetapkan sikap moral dalam bergaul.
Membiarkan anak menentukan sikap moral sendiri itu misalnya, mempersilakan anak untuk memilih mau terus nonton TV atau tidak, padahal dia belum punya kemampuan untuk menghentikan dirinya sendiri menonton TV; membiarkan anak untuk memilih agamanya sendiri, padahal dia belum punya kemampuan untuk membedakan secara prinsipiil perbedaan agama satu dengan yang lain; dsb.
Dari sekilas cerita Mbak An, memang perlu memberi rambu-rambu kepada anak saat bergaul dengan kedua teman perempuan itu. Kalau kedua teman itu yang bermain ke rumah, Mbak An juga bisa memberitahu mereka, apa aturan yang harus mereka ikuti saat bermain dengan anak Mbak.

2. Pertanyaan dari mb Am.

Saat anak usia egosentris antara 3-5 thn, bgmn cr ortu mendampingi dan mengarahkan anak2 untuk mencoba mengatur atau mengatasi emosi mereka yang terkadang suka meledak-ledak, spt saat tantrum, krn mgkn dengan penjelasan saja pada saat spt itu mrk tidak bisa lgsg terima.

Jawaban : Tentunya kita pelajari dulu tantrumnya karena apa. Ada rumus HALT: hungry, angry, lonely, tired. Apakah anak meledak karena salah satu dari faktor itu? Kita tangani sesuai kasusnya.
Langkah yang terbaik adalah pencegahan. Jadi kalau bisa, kita upayakan supaya tidak terlanjur jadi tantrum. Misalnya, anak cenderung tantrum kalau dia kecapekan, berarti sebelum dia capek sekali, kita ajak dia beristirahat. Dan sejenisnya.

Ada satu teknik yang saya rasa sangat bermanfaat sekali untuk mengajarkan anak mengendalikan dirinya. Namanya Baby Brain-Adult Brain, atau saya terjemahkan Si Bayi dan Si Bijak. Ini bukan spesifik teknik CM, tapi sangat sesuai dengan konsepnya tentang pengenalan diri, juga dengan neurosains/psikologi. Teknik ini bisa mulai diajarkan saat anak kurang lebih berusia tiga tahun.
Jadi setiap kali anak mengalami naik-turun emosional, baik marah ataupun sedih, kita bilang padanya sambil menepuk-nepuk kepala kita di bagian belakang: “Di sini ada si Bayi. Si Bayi ingin kamu menjerit-jerit.” Lalu kita tepuk-tepuk kepala kita bagian depan: “Di sini ada si Bijak. Kita harus jadikan si Bijak sebagai pemimpin. Si Bayi harus menurut pada si Bijak.”

Contoh kasusnya biar gampang memahaminya. Seorang anak suka sekali makanan manis. Lalu saya ajari dia membedakan si Bayi dan si Bijak. “Kamu ditawari permen. Lalu si Bayi ingin kamu makan permen itu?” Dia mengiyakan. “Tapi si Bijak tahu tidak bahwa permen itu banyak gulanya, merugikan tubuhmu? Bisakah si Bayi menurut pada si Bijak?” Dan ketika anak tersebut berpikir-pikir lalu batal makan permen, saya memuji dia dan katakan: “Itu hebat sekali. Kalau kamu bantu si Bijak menang, dia makin lama makin kuat.”
Pemahaman ini kalau dilatihkan terus-menerus akan membuat kita lebih mudah menangani anak saat tantrum atau situasi emosional lainnya. “Mama paham, kamu melihat mainan yang bagus, si Bayi ingin sekali mendapatkan mainan itu sekarang juga, apa kata si Bijak?”

Cukup panjang bahasan tentang teknik ini. Tapi kurang lebih intinya adalah membantu anak mengenali perasaan-perasaan dan keinginan-keinginannya, menerima mereka tanpa harus menuruti mereka.

3. Pertanyaan dari  mb In.
Mau tanya perihal anak tengah saya, sifatnya selalu merebut barang n menguasai ini itu tdk hny milik saudaranya bahkan milik org lain, sy sbg ibu kalo tegas bilang itu milik si anu dia nangis kejer, kalo saya diemin jg lah ya takutnya nanti ngelunjak, bgmn sebaiknya sikap saya? Terimakasih

Jawaban : Anak Mbak In umur berapa ya? Kalau sudah bisa diajak komunikasi, langkah pertama adalah pencegahan. Kalau bermain ke tempat saudara, sebelumnya kita diskusi dulu dengannya, nanti kita main ke sana, mungkin ada barang/mainan yang Kakak mau ambil, janji ya, sebelum ambil harus minta izin dulu pada yang punya. Bicara baik-baik, kalau ternyata tidak dipinjami, tidak apa-apa ya.

Langkah kedua, bisa sebelumnya latihan di rumah. Mbak In pura-pura jadi pemilik barang, si Kakak latihan meminjam. Cara ngomongnya bagaimana? Kalau ditolak, harus bersikap bagaimana?

Langkah ketiga, kalau sudah tiba di lokasi dan ternyata tetap terjadi konflik. Gendong Kakak menjauh dari lokasi dengan tenang. Lalu, kalau saya, saya terapkan teknik si Bayi dan si Bijak tadi. “Kakak lihat ada mainan bagus. Kakak suka. Kakak sudah bagus, mau pinjam baik-baik. Tapi dia nggak kasih pinjam. Lalu si Bayi teriak-teriak, harus boleh, harus boleh, rebut saja, rebut saja. Iya ya? Namanya juga si Bayi, tidak sabaran. Tapi si Bijak bilang lain kan? Bagaimana, kakak bisa bantu si Bijak supaya menang?”
Jangan lupa puji anak kalau dia berhasil memutuskan untuk mengendalikan dirinya.

4. Pertanyaan dari mba E.

Dalam materi disampaikan bahwa tugas ortu adalah asisst atau asisten yg artinya membantu anak dalam proses tumbuh kembangnya..nah jika dlm proses tsb ternyata anak jadi tergantung atau sering meminta bantuan terus..bagaimana cara menyikapinya? Atau terkadang anak jika tidak ditemani ma ortunya malah mogok.

Jawaban : Membantu di sini bukan dalam arti teknis, tapi konsep. Jadi, orangtua jangan memposisikan diri sebagai tukang tes, sengaja membiarkan anak melakukan kesalahan, untuk kemudian menyalahkan/menghukum.
Misalnya, memberi aturan bahwa siapa yang meninggalkan barang di lantai, maka barang itu akan dibuang. lalu dengan sengaja membiarkan anak meninggalkan barang di lantai, kemudian membuang barangnya, supaya anak “dapat pelajaran”. Itu bukan pendekatan yang dianjurkan CM.

Alih-alih, sebaiknya orangtua mencari cara terbaik, bagaimana supaya anak termotivasi dan terlatih untuk selalu meletakkan barang di tempatnya setelah selesai menggunakan. Lalu secara konsisten melatih terus kebiasaan itu sampai menjadi watak permanen anak. Itulah yang CM maksud kita “membantu” anak untuk bertumbuh.

Kemandirian juga salah satu watak positif yang harus kita latihkan. Dalam hal apa anak harus mandiri, sesuai umurnya? Itu harus kita tentukan dulu. Setelah itu, bagaimana membantu dia agar bisa mandiri? Latihan seperti apa yang akan mengkondisikan anak untuk menjadi mandiri?

Jadi pertanyaan Mbak E justru intinya adalah bagaimana membantu anak agar bisa menjadi mandiri ya?

5. Pertanyaan dari mba D.

Adakah batas atau patokan kapan kita harus memaksa atau menunda sesuatu yg orangtua ingin agar anak mengikuti mereka?

Jawaban : Dalam CM kuat sekali konsep “amanah” atau “kewajiban”. Tiap orang punya kewajiban, yang mesti dia kerjakan entah suka atau tidak suka.
Kalau soal kewajiban, anak tentu harus melakukannya. Tetapi kalau perintah yang terkait dengan keinginan personal orangtua, tentu anak boleh menolak atau menawar.
Memang kadang tipis bedanya, atau sulit dipilah. Rasanya yang kita perintahkan ke anak selalu “prinsipiil” (menurut kita). Di situlah kita sebagai orangtua juga perlu banyak refleksi, supaya kita tidak jadi diktator.
Contoh: di rumah saja, ada kewajiban bagi anak untuk makan apa pun hidangan sehat yang tersedia. Kadang ada bahan makanan yang anak menolak, bilang kalau itu tidak enak, maka saya akan tegaskan kepadanya, “makan itu kewajiban kita terhadap tubuh, kita makan karena sehat atau tidak sehat, bukan enak atau tidak enak, dan ini sehat karena mengandung bla-bla-bla yang berguna untuk bla-bla-bla”. Dan anak saya tetap memakannya.

Sedangkan untuk kasus seperti anak  yang tidak mau sholat, atau tidak mau mencium tangan nenek kakek atau orang yg lebih tua. Sebagai orang tua  adakah saat2 kita hrs memaksa anak melakukan hal yg ortu inginkan? Lalu sekiranya ada, menurut pengalaman mbak Ellen kapankan kita harus memaksa anak, kapankah kita harus berhenti meminta anak melakukan hal yang orang tua inginkan?

Jawaban : Kalau soal hormat pada orangtua, bagi saya pribadi itu hal prinsipiil, jadi anak punya kewajiban melakukannya. Kepada mereka, disaat-saat yang nyaman saya sampaikan pentingnya belajar menghormati orangtua, bahwa Tuhan memerintahkan begitu, dsb.

Pada momennya, kalau memang ada sopan santun yang harus mereka lakukan, saya bilang dengan nada tegas saja, ayo salam dulu, ayo tawari makan Opa-Oma, dsb.
Karena memang anak-anak tahu bahwa kalau Mama sudah menyuruh dengan nada begitu, berarti kewajiban, ya mereka melakukan.

Saya akan beri pujian kalau mereka melakukannya sebelum saya menyuruh.

Asah intuisi saja, Mbak D. Kapan kita harus melonggarkan diri. Makin dekat kita dengan anak kita, makin kita bisa paham gejala-gejala perilakunya.

6. Pertanyaan dari mb Wl.

Bgmn cara nya menghadapi anak yg suka nego (banyak nawarnya😝) kalau kita suruh atau minta melakukan sesuatu. Memang saya selalu menang, tp kdg kala sy terima nego nya kalau masuk akal. Trus, apakah itu merupakan sesuatu yg positif, dlm arti suatu keunikan atau kelebihan dlm diri si anak yg tukang nego?

Jawaban : Di balik semua yang terkesan negatif, sebetulnya ada sesuatu yang positif. Dalam hal ini, anak mbak Wi punya kemampuan negosiasi yang baik, perlu dihargai 😊

Tapi akan kelewatan kalau lalu segala sesuatu dinego. Anak juga perlu paham bahwa ada hal-hal yang tak bisa ditawar. Respek anak kepada orangtua juga bisa berkurang jika dia tahu bahwa apa saja bisa ditawar. Maka sebaiknya sebelum memberi perintah ke anak, kita pikir dulu baik-baik apakah perintah kita itu sudah tepat. Kalau misalnya kita lihat anak kita sedang asyik bermain, lalu kita memerintahkannya untuk mandi sekarang juga, kemungkinan besar anak akan menawar. Maka sebaiknya perintah itu kita sampaikan dalam bentuk pertanyaan: “kamu mau mandi berapa menit lagi?” Jadi memang sejak awal sudah kita suratkan bahwa ini negotiable. Tapi kalau kita memutuskan untuk menyampaikan perintah yang harus dikerjakan sekarang juga, pastikan bahwa perintah itu memang anak kerjakan saat itu juga.

Oh ya, tambahan, menurut kajian psikologis, prefrontal cortex anak akan berkembang jika kita menanyainya. Jadi alih-alih memerintah dengan tanda seru, cobalah rumuskan perintah itu dalam kalimat tanya.

Contohnya  “Setelah bermain, sebaiknya apa?” (beres-beres)
“Lantai kamarmu penuh dengan barang, bisa kamu bereskan dalam berapa menit?” dan sejenisnya.

7. Pertanyaan dari mb C

1. Bagaimana menanamkan nilai-nilai ketuhanan sehingga anak bisa paham dan mau menurut ketika diberi perintah. Kalaupun kita sudah mencontohkan, ada kalanya anak tidak mendengarkan

2. Selain nilai ketuhanan, bagaimana dengan rasionalitas dlm sebuah tindakan? Karena anak kadang juga mempertanyakan suatu perintah dan butuh penjelasan rasionalnya

Jawaban : Dalam metode CM, selalu tiga pilar yaitu atmosfir keteladanan, latihan kebiasaan baik, dan suplai ide inspiratif.

Keteladanan saja tidak cukup. Harus ada disiplin berupa latihan kebiasaan baik. Juga harus dibantu dengan banyak disuplai kisah/cerita yang menggugah dia untuk melakukan yang baik.

Mempertanyakan kalau memang niatnya diskusi, jelaskanlah. Tapi kalau niatnya untuk membantah, maka CM menyarankan agar tidak melayani.

8. Pertanyaan dari mb M

Bagaimana membagi waktu kegiatan sehari2 mba Ellen dgn mengurus anak pdhal ada baby. Bagaimana menghadapi jadwal anak pertama apakah  pendampingan anak pertama berkurang? Bgmn mengatasi mslh membagi waktu anak pertama dan anak lainnya? Pekerjaan yg banyak, ada baby, misal tdk ada pembantu, mengurus RT bisa menguras tenaga n emosi semuanya itu mempengaruhi dlm mendidik anak. Makasih.

Jawaban : Wah, ini sudah bukan soal otoritas ya? Baiklah. Soal manajemen waktu, saya berusaha membuat target yang realistis saja, yang bisa tercapai. Kalau memang butuh bantuan dari luar, ya cari bantuan. Saat ini, saya dibantu oleh teman untuk menjadi pendamping anak pertama saya belajar matematika. Materi dan cara belajar saya yang menentukan, tapi anak belajar dengan orang lain. Saya juga minta bantuan tenaga panggilan untuk menemani si kecil, supaya saya bisa mendampingi kakak-kakaknya kelas.

9. Pertanyaan dari mba Af

Anak pertama saya punya kesulitan dan ketakutan yang berlebihan thdp sayur dan buah..di usianya yg menjelang 9 tahun dia hanya mau mncoba satu sampai dua jenis sayur dan buah..itupun TDK setiap hari dia mau..lbh bnyak TDK maunya.
Mngkn saya yg pnya kesalahan di wktu bayi ada perlakuan saya yg mmbuat anak saya jd trauma terhadap sayur dan buah.
Padahal dia sdh tau fakta pntingnya mkn sayur dan buah pada saat dia BAB berdarah..saya dampingi dia mncari tau sebabnya serta kaitannya dgn konsumsi sayur Dan buah.
Nah sbgai ortu sejauh mana  intervensi yg hrsnya saya lakukan ntuk meluruskan pandgnnya trhdp sayur Dan buah. Mksh Mbak

Jawaban : Kalau saya sarankan, coba pakai teknik si Bayi dan si Bijak itu, Mbak Af.
Salah seorang anak saya juga semula tidak suka makan pepaya. Tapi kemudian dia suatu hari berkata, “Ma, aku mau makan pepaya! Aku menang ya, Ma?” (maksudnya si Bijak dia menang terhadap si Bayi). Memang prosesnya tidak instan.
Kadang harus ‘mlipir’ dulu. Catat semua kemenangan si Bijaknya dalam berbagai hal, katakan betapa bangganya kita karena si Bijaknya terus menguat. Lambat laun, prefrontal cortex anak juga akan menguat dalam berbagai perkara lain.

10. Pertanyaan dari mba As

Mohon penjelasan untuk kalimat ini, “tidaklah bertanggung jawab jika orang tua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka blum siap untuk itu.”

Pertanyaan
Utk memberi pengertian dan membiasakan anak utk berjilbab..
Dan berkaitan dengan peraturan sekolah yg menerapkan hal ini jd peraturan..

Bagaimanakah jika menentukan pilihan sekolah utk anak..
Anaknya dipersilahkan memilih dg bbrp pilihan ortu nya
Yg ternyata pilihan ortunya adalah yg menerapkan peraturan memakai kerudung.
Dan ini blm siap dilaksanakan oleh sang anak.

Jawaban : Saya tidak paham maksudnya anak belum siap melaksanakan. Tapi saya coba refleksikan dengan pengalaman saya sendiri ya.

Terhadap salah satu anak saya, saya sudah sosialisasikan sejak lama bahwa di usia 6 tahun, dia mesti belajar berenang. Jadi umur 5, belajar sepeda. Umur 6, belajar berenang. Umur 7, kelas (belajar terstruktur) seperti kakaknya.

Masuk usia 6, saya bawa ke kolam renang. Ternyata dia menolak diajari berenang. Sampai nangis-nangis kejer. Nah, di sini, kita mesti amati lebih dalam, apakah ini penolakan karena dia berniat melawan kita, atau karena dia memang takut atau punya perasaan tertentu yang membuatnya menolak.

Dalam kasus anak saya, saya sadari bahwa tidak ada gunanya memaksa dia, semakin dipaksa malah semakin trauma nanti. Akhirnya, saya minta dia berjanji untuk berlatih sendiri dengan papanya, memasukkan kepala ke dalam air, dan kalau sudah bisa, nanti coba les renang lagi.

Ya begitulah, akhirnya dia berlatih sendiri suka-suka dia, sambil dibombong (encourage) terus. Akhirnya mau sedikit-sedikit memasukkan kepala ke air. Dipuji terus. Kadang dikasih reward yang lain juga. Kurang lebih setengah tahun kemudian, baru mulai coba lagi les renang, dan ternyata sudah mau.

Selesai sudah sesi diskusi dengan mba Ellen Kristi. Semoga di lain kesempatan, kita bisa berdiskusi kembali dengan tema lainnya.

Terima kasih banyak mba Ellen untuk ilmu dan waktunya. 🙏🏻

Pesan mb Ellen :
Dititipi otoritas sebagai orangtua memang bukan perkara mudah. Makin jarang kita harus memaksa anak melakukan sesuatu, berarti makin berhasil kita. Makin anak bisa dilepas karena kita percaya dia akan tetap berperilaku baik, makin berhasil kita

Satu pemikiran pada “Otoritas Orangtua dan Ketaatan Anak Dalam Metode Charlotte Mason – Kulwap Bersama Ellen Kristi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *