Menumbuhkan Literasi Kritis Anak

Kulwap Grup Home Education

Tema : Menumbuhkan Literasi Kritis Pada Anak
Waktu : Senin, 20 Maret 2017 pukul 19.00 – 21.00
Narasumber : Ibu Lestia Primayanti, Kepala Sekolah Dasar Kembang (www.sekolahkembang.sch.id)
Moderator : Nareswawi Putri
Notulis : Majedah Ulfa

Profil Narasumber:

  • Bu Lestia memiliki pengalaman mengajar selama 10 tahun dan 3 tahun sebagai Kepala Sekolah
  • Beliau juga ikut mengembangkan sekolah untuk jadi sekolah yang ramah anak dan mengajak komunitas sekolah menjadi komunitas belajar.
  • Minat utama beliau pada pendidikan literasi, berpikir kritis dan anak berbakat/cerdas istimewa.

Prolog

Akhir-akhir ini, saya, mungkin juga Anda, merasa gelisah dengan begitu mudah dan cepatnya berita-berita hoax tersebar. Meski saya sadar bahwa banyak faktor yang mempengaruhi pembuatan dan penyebaran hoax, sebagai konsumen informasi, saya merasa bahwa kemampuan saya untuk menjadi jeli dan peka pada sebuah informasi yang saya baca menjadi salah satu hal yang penting.

Kemampuan ini tak serta merta muncul karena kita banyak membaca buku. Bisa jadi, kita termasuk orang yang rajin membaca, tapi orang yang rajin membaca belum tentu memiliki kemampuan literasi kritis.

Apa Itu Literasi kritis?
Literasi kritis adalah kemampuan untuk membaca sebuah teks secara aktif dan reflektif sehingga kita memiliki pemahaman yang mendapat tentang konsep-konsep yang dibentuk secara sosial seperti: kekuasaan, ketidaksetaraan, ketidakadilan dalam relasi antar manusia.

Literasi kritis mendorong seseorang untuk memahami dan mempertanyakan sikap, nilai, belief yang terkandung dalam sebuah teks. Teks yang saya maksud bisa beragam seperti : artikel, buku, iklan, pidato, wawancara, film, lagu, dan sebagainya. Bentuk “teks” di sini bisa berupa tulisan, visual, audio visual, maupun audio.

Orang yang sudah menguasai ketrampilan literasi kritis berarti sudah menguasai kemampuan membaca, menganalisa, mengkritisi dan mempertanyakan “pesan” di dalam teks yang ia baca.

Kepedulian, gerakan, yang terkait pada berbagai isu kemanusiaan, isu lingkungan, politik, ekonomi, dan sebagainya seringkali bermula dari kritis terhadap teks.

Adakah contoh yang terpikirkan oleh Anda?

Mengapa kini membicarakan literasi kritis menjadi penting?

Dunia kita berubah dalam kecepatan yang mencengangkan. Kini kita tinggal di dunia yang dengan cepat bergerak makin beragam, makin global, makin kompleks, dan “media saturated”. Kehadiran internet membuat siapa saja di seluruh dunia bisa berkomunikasi dan berbagi informasi.

Dunia yang terus berubah ini terutama adalah Dunia anak-anak kita di abad 21. Mereka harus bisa menjadi orang-orang yang literate. Media literate, environment literate, multiculture literate, financial literate, … masih banyak lagi.
Anak-anak kita akan menghadapi berbagai isu seperti pemanasan global, kelaparan, kemiskinan, masalah kesehatan, ledakan populasi, dan berbagai masalah lingkungan dan sosial lainnya. Semua permasalahan ini akan membutuhkan orang-orang yang cakap berkomunikasi, sehingga dapat menghadirkan perubahan baik perubahan pribadi, perubahan sosial, perubahan ekonomi atau perubahan politik di skala lokal sampai global.

Anak-anak kita perlu mampu berpikir kritis dan menggunakan pengetahuan serta informasi untuk mengambil keputusan. Perkembangan internet membuat literasi kritis menjadi amat penting di dalam komunitas yang semakin global.

Internet di abad 21 ini juga memungkinkan kolaborasi terjadi. Anak-anak bisa berkolaborasi dengan siapa saja di seluruh dunia untuk melakukan hal-hal yang bermakna dan menghasilkan perubahan. Mereka akan belajar bahwa kolaborasi, bukan kompetisi, yang bisa mengubah dunia. Mereka akan menggunakan beragam teknologi, juga akan mendiskusikan berbagai hal dengan kritis.

Empat ketrampilan di atas yaitu Komunikasi, Berpikir Kritis, Kolaborasi dan Kreativitas akrab kita pahami sebagai 21st century learning skills. Semuanya berkaitan erat dengan literasi kritis.

Literasi kritis berkembang melalui diskusi. Untuk dapat berdiskusi, semua pihak perlu setara dan terlibat. Keterlibatan adalah salah satu faktor kunci ketika belajar tentang literasi kritis. Anak perlu terlibat secara aktif dan memaknai pengalamannya.

Anak yang terlibat aktif akan tampak:

  • Ingin mengerti
  • Berinteraksi dengan teks karena dorongan dari dalam dirinya
  • Melihat membaca sebagai proses berpikir
  • Berbagi pengetahuan melalui diskusi dengan orangtua dan teman sebaya
  • Membaca untuk tujuan yang beragam (misalnya untuk mencari informasi, untuk bersenang-senang)
  • Menggunakan pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk memaknai teks secara sosial.

Sebagai orang tua dan guru kita dapat mendorong keterlibatan anak dengan :

  • Mendorong anak untuk membaca karena perlu memenuhi kebutuhannya.
  • Memancing diskusi tentang hubungan teks dengan keseharian anak atau pribadi anak.
  • Fokus pada memahami bacaan.
  • Respond in meaningful ways.

Agar anak termotivasi, orang tua dan guru dapat :

  • Menjadi teladan dalam membaca
  • Menciptakan lingkungan yang kaya dengan buku
  • Memberi kesempatan untuk memilih
  • Mendorong anak terbiasa dengan buku dari berbagai genre

Anak-anak yang sangat termotivasi untuk membaca berbagai buku biasanya membaca untuk beragam alasan termasuk karena ingin tahu, ingin terlibat, kepuasan emosional, dll.

Ada banyak cara dan kondisi yang bisa kita lakukan/ciptakan untuk memotivasi anak membaca. Mungkin kita sudah menggunakannya, namun bisa jadi berikut ini adalah beberapa strategi baru, misalnya :

  • Membuat kegiatan berbahasa (bicara, mendengar, membaca, menulis, menonton) adalah kegiatan yang menyenangkan
  • Memberi waktu yang memadai untuk kegiatan-kegiatan tersebut.
  • Membuat perpustakaan di rumah, maupun bersama komunitas dengan buku dari beragam genre.
  • Menyediakan waktu sehingga anak bisa merespon teks dengan aktif dan kreatif baik melalui diskusi, maupun bentuk-bentuk lain seperti menulis, menggambar, dramatisasi, dan sebagainya.
  • Mendorong dan menghargai kemampuan anak berpikir mandiri selagi mereka membaca, menulsi, bicara, mendengar, dan menonton.
  • Daftar ini bisa panjang sekali, dan saya yakin teman-teman di group ini bisa brainstorming ide bersama-sama.

Bagaimana memilih teks untuk mendukung anak belajar literasi kritis?

  • Buku yang mengganggu kebiasaan dan menyediakan beragam sudut pandang. Buku-buku seperti ini akan membuat pembaca melihat situasi yang umum/biasa dari sudut pandang yang amat berbeda, membuat kita mempertanyakan kembali sterotype dan asumsi yang sering otomatis muncul. Contohnya : The Day The Crayon Quit by Drew Daywalt, Buku-buku “Plih Sendiri Petualanganmu”
  • Buku yang fokus pada aksi atau kepedulian tentang keadilan sosial. Banyak buku biografi bercerita tentang hal ini. Membaca buku-buku ini dapat memunculkan diskusi menarik yang kritis tentang bagaimana orang bisa menjadi amat berpengaruh.
  • Buku yang fokus pada isu sosial atau politik antara individu atau dalam masyarakat. Buku-buku seperti ini memberi konteks yang kaya untuk diskusi tentang literasi kritis. Misalnya buku tentang holocoust. Terakhir saya membaca Tru and Nelle bersama kelas 6.

Pengalaman dari Sekolah Kembang
Saya ingin berbagi sedikit cerita dari Sekolah Kembang. Meski kami tidak nyata-nyata menggunakan istilah literasi kritis, namun kami mencoba melakukan beberapa hal sepanjang tahun ini.

Salah satunya di TK dan SD kelas 1-2, tema pelajaran dibangun dari buku cerita anak.

Buku-buku yang banyak kami gunakan tahun ini adalah buku terbitan Litara, misalnya Aku Suka Caramu, Cap Go Meh, Rumah Untuk Ge, Jangan Sedih, Bujang!, Srinti, Rotan Pun Jadi, dan masih banyak lagi.

Buku lain yang juga kami gunakan adalah Twinkle and The Peculiar World.

Tak hanya membahas hal-hal sebatas kemampuan baca tulis anak usia mereka, buku-buku ini merupakan pancingan diskusi yang ternyata sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari anak.

Ketika membaca teks, guru akan memandu diskusi yang lebih jauh dari memahami unsur-unsur cerita seperti penokohan, alur, latar, dan pesan dalam cerita. Kami mencoba mengajak anak-anak berefleksi, menempatkan diri sebagai tokoh cerita, memahami latar cerita lebih jauh, membahas pro dan kontra yang mungkin terjadi dalam isu yang diangkat, dan sebagainya.

Kepedulian mulai muncul dalam karya-karya mereka setiap hari seperti jurnal, gambar, komentar, dan lebih jauh lagi muncul sebagai ide-ide memecahkan masalah. “Sepertinya kita butuh bahan baru untuk membuat kertas supaya tidak merusak pohon. “ atau “Seharusnya semua orang, bisa melihat atau tidak bisa melihat, gampang pergi ke mana-mana ya.”

Di kelas yang lebih besar, kami menggunakan berbagai novel anak. Tahun ini saya menggunakan buku Wonder (R.J Palacio) untuk membahas tentang bullying dan anak berkebutuhan khusus selain bahasa indonesia sesuai kurikulum, juga Tru & Nelle (G. Neri) untuk membahas tentang diskriminasi, toleransi, dan buku SYahrir; Peran Besar Bung Kecil untuk belajar sejarah.

Dari banyak kegiatan, saya mengambil benang merah bahwa critical literacy ini muncul ketika guru dan murid saling percaya bahwa semua bisa berpartisipasi dalam kegiatan belajar.

Kemudian kami berusaha tak hanya fokus di penguasaan materi, tetapi menghargai waktu-waktu diskusi dan bertukar pikiran diantara pembahasan buku. Guru sebagai fasilitator belajar juga perlu kritis dan peka terhadap berbagai permasalahan di sekitar kita, maupun yang ditampilkan dalam buku.

Buku-buku yang kami bawa sebagai konteks, membuat anak-anak berkenalan dengan dunia membaca dan dunia sesungguhnya, yang memang harus dipahami dengan kritis dan terbuka.

Sesi Tanya Jawab

1.T : Bagaimana membiasakan diri untuk tetap membaca, walau dihadapkan dengan media sosial.

J : Bagaimana untuk membiasakan diri tetap membaca, saya kira kita bisa membuat komitmen ya. Lebih baik lagi jika komitmen bersama seluruh anggota keluarga. Misalnya 30 menit setelah makan malam, semua akan membaca bersama-sama.

Di kelas, ada metode Drop Everything And Read, ini cukup efektif untuk memulai kebiasaan membaca. Bisa kita lakukan serupa itu di rumah. Ini bisa menjadi langkah pertama.

Selanjutnya agar komitmen tetap terjaga, bisa dengan membuat jurnal dari apa yang kita baca, atau membuat klub dengan beberapa teman untuk berbagi bacaan. Namun untuk membuat kebiasaan baru, mulai dengan langkah-langkah kecil saja dulu.

T : Jurnal yg dimaksud contohnya seperti apa ya?
J : Jurnal yang saya maksud seperti buku catatan saja Bu Sari Yahya. Contohnya kita buat refleksi dari hal-hal yang sudah kita baca.

2. T : Assalamu’alaikum.. bu Lestia saat ini anak saya HS usia prasekolah, saya di rumah sering kali tiap selesai membacakan buku untuk anak, saya memintanya untuk menceritakan kembali apa yg telah kami baca tadi dengan menggunakan bahasa yang ia pahami. Lalu apa langkah selanjutnya yang dapat saya berikan pada anak saya agar bisa mengembangkan kualitas literasinya menjadi lebih baik?  Terimakasih.

J : Saya rasa itu kebiasaan yang baik Bu Risza Agustina. Menceritakan kembali bisa dilakukan dengan banyak cara selain tanya jawab lisan atau menceritakan ulang secara lisan. Ibu bisa meminta anak menggambar bagian yang paling ia sukai, bisa bermain peran bersama anak untuk menuturkan kembali cerita dari buku kesukaannya, …. bisa amat banyak variasinya.

Sebagai panduan, ibu bisa mereka kegiatan berdasarkan 8 kecerdasan di kecerdasan majemuk, ibu juga bisa mencari berbagai kegiatan reading comprehension melalui mesin pencari yang kira-kira sesuai dengan usia pra sekolah.

Jika merujuk pada literasi kritis, ibu juga bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing anak berpikir lebih lanjut mengenai isu-isu yang ia temui dalam buku yang ia baca. “Isu-sunya bisa disesuaikan dengan pengalaman dan minat ananda.

3. T : Kalau membacakan buku untuk anak kita dengan menunjuk kata-katanya atau baca saja langsung tanpa menunjuk seperti kita sedang membaca sendiri?

J : Kalau anak ikut membaca di samping kita, ada baiknya kita menunjuk kata-kata yang sedang dibaca. Tujuannya supaya anak sadar bahwa kata yang diucapkan sesuai dengan kata yang dibaca. Dalam kemampuan pramembaca, memahami bahwa tulisan itu melambangkan kata yang dibaca adalah satu keterampilan juga.

Namun ada kalanya anak yang sedang dibacakan buku cerita lebih suka lari-lari, lompat-lompat, masuk kolong meja, dan seterusnya… itu tidak apa-apa juga. Barangkali ia menikmati bagaimana suara kita membaca. Anak tetap bisa menikmati ceritanya, orang tua juga bisa “mengajarkan” aspek lain dalam membaca, yaitu intonasi saat membaca.

4. T : Apakah yang harus disampaikan ke anak-anak yang bertanya mengenai berita yang mereka baca, namun sifat beritanya negatif, belum sesuai usianya, dll. Apakah harus disampaikan yang sebenarnya atau bagaimana?

J : Saya perlu sedikit klarifikasi, misalnya berita seperti apa dan untuk anak usia berapa?

Prinsip dasarnya bagi saya adalah berkata jujur. Kita apresiasi rasa ingin tahu dan kepedulian anak dengan jawaban yang jujur. Tentunya tetap disesuaikan dengan usia anak. Boleh saja kita menunda menjawab karena ingin mencari jawaban yang tepat, jujur saja kepada anak dengan kalimat. “Sebentar ya, ibu perlu waktu untuk mencari tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan padamu. Boleh kita bahas lagi besok malam?”

Pertanyaan anak adalah teachable moments, saat-saat yang dinanti dan bisa digunakan untuk belajar banyak hal. Kita manfaatkan saja dengan bijaksana. Semoga jawaban ini tidak terlalu “mengawang” ya Bu. Nanti bisa dikonfirmasi lagi.

T : Selamat malam Bu Tia, maaf baru sempat menyimak lagi. Maksud saya berita negatif adalah seperti yang terjadi akhir-akhir ini (pedofil, penculikan dll), apakah perlu kita jelaskan panjang lebar, atau secukupnya supaya mereka lebih berhati-hati saja.

J : adalah baik untuk membuat anak-anak tidak khawatir ya. Jadikan pertanyaan mereka sebuah kesempatan untuk belajar tahu hal-hal yang penting untuk keselamatan dan keamanan mereka, seperti aturan ber-sosial media, menggunakan internet, bertegur sapa dengan orang yang belum dikenal, menjaga daerah pribadi, dan seterusnya.

5. T : Apakah menarasikan sebuah buku termasuk dalam menganalisi atau mengkritisi suatu bacaan?

J : Menarasikan (menceritakan kembali) saja belum termasuk literasi kritis. Literasi kritis adalah membaca secara aktif dan reflektif. Bila setelah membaca kita memaknainya, misalnya menghubungkan dengan pengalaman kita sebelumnya, maka bisa dikatakan mulai dan menyentuh literasi kritis itu. Saya rasa literasi kritis itu lebih jauh dan lebih dalam dari sekedar makna tersurat (yang biasanya lebih banyak muncul saat menceritakan kembali).

Jadi literasi kritis bukan bisa menceritakan kembali, tapi lebih kepada memaknai apa yang dibaca. Sebagai contoh, kita membaca buku Jack and The Beanstalk. Setelah selesai membaca, kita bisa meminta anak menceritakan kembali kisahnya dari awal sampai akhir. Untuk masuk kepada literasi kritis, kita bisa bertanya padanya; apa pendapatmu masuk ke rumah orang tanpa izin? Bolehkah mengambil barang orang lain tanpa izin? Bagaimana kalau barang itu milik orang jahat? Apakah menurutmu semua raksasa pasti jahat? Apakah kamu akan merasa bahagia kalau kamu memiliki barang yang bukan milikmu seperti harpa dan ayam raksasa yang dimiliki Jack?

Dalam diskusi ini kita bisa bicara soal sterotyping, benarkah raksasa pasti jahat? Bagaimana dengan BFG? Bisa juga kita bicara tentang apa itu adil. Siapa yang berhak diperlakukan adil? Adakah syaratnya?

Nah saya rasa diskusi semacam ini lebih bisa disebut sebagai literasi kritis.

6. T : Diskusi seperti apa yang dilakukan guru dengan anak TK dan SD kelas 1 dan 2 terkait buku bacaan yang mereka baca?

J : Karena referensi saya apa yang terjadi di Sekolah Kembang, saya sharing saja ya apa yang kami lakukan.

Biasanya, setelah membacakan buku, guru akan mulai dengan bertanya hal-hal faktual seputar buku, agar tahu anak-anak benar-benar paham atau tidak isi ceritanya.

Kemudian, guru juga akan mendengarkan pertanyaan anak-anak dan mengajak anak-anak turut menjawab pertanyaan teman-temannya.

Sesuai dengan keadaan kelas, guru juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam seperti yang saya contohkan tadi dengan cerita Jack and The Beanstalk.

Kami berusaha sekali tidak meremehkan anak-anak, jadi cenderung ingin tahu dan berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna. Kami juga sering kaget lho, kok anak-anak tahu jawabannya. Kami ikuti saja minat mereka.

Selain itu, tema di TK, dan SD kelas 1 dan 2 memang dibangun berdasarkan satu buku. Literature based, begitu. Jadi setelah diskusi buku pasti banyak kegiatan lainnya. Sebagai contoh, di TKA kemarin kami membahas lingkungan hidup dengan buku Twinkle and The Peculiar World.

Sebenarnya ini buku untuk anak usia 9+, jadi guru agak akrobat menceritakan kembali isi buku dengan bahasa anak-anak TK.

Ceritanya Twinkle adalah anak yang sangat ingin tahu tentang sekitarnya, terutama lingkungan hidup. Setelah membaca buku, anak-anak keluar kelas dan berpura-pura menjadi Twinkle yang mengamati apa yang aneh di sekitarnya, lalu menggambarnya.

Jadi mereka menghayati sekali cerita si Twinkle itu… Begitu contohnya
Nggak habis-habis nanti kalau saya cerita bagian ini.

7. T : Bagaimana cara melatih Respond in Meaningful way untuk para orangtua?

J : Biasakan mendengarkan anak, mencoba melihat dari sudut pandang mereka, menjelaskan dengan kata-kata, contoh yang relevan dengan dunia anak-anak.

Kita harus paham juga tahap perkembangan mereka sampai mana, baik secara umum (milestones sesuai usia, misalnya), juga yang unik dari anak kita.

8. T : Selamat malam Bu Lestia, akhirnya saya paham literasi kritis. Apa boleh saya tanya apa itu BFG?

J : BFG = Big Friendly Giant, buku karya Roald Dahl yang baru saja difilmkan. Menambahkan sedikit ya, ini juga bisa jadi salah satu cara untuk memahami buku. Cari buku-buku dengan tema/tokoh serupa untuk dibandingkan kesamaan dan perbedaannya. Pasti menarik sekali.

9. T : Boleh minta daftar judul buku yg dibaca dibacakan di TK usia 5 – 7 tahun?

J : Daftarnya panjang juga ya bu Dianda. Tapi yang sedang jadi favorit adalah buku-buku terbitan Litara. Seperti Aku Suka Caramu, Cap Go Meh, Rumah untuk Ge, Jangan Sedih, Bujang, dst.

Boleh dicari. Buku lain,… macam-macam. Benar-benar tergantung ketemu buku apa. Buku-buku Clara Ng juga dipakai, buku-buku seri Franklin juga favorit.

10. T : Bu Tia, menarik sekali kegiatan literasi di Sekolah Kembang. Apa yang menjadi acuan dalam memilih sebuah buku bacaan untuk anak-anak? Seperti contoh anak TKA membaca buku Twinkle & The Peculiar World.

J : Kebetulan Twinkle adalah ujicoba kami untuk menyusun buku penunjang berupa Buku Referensi Guru untuk menyusun kegiatan pendamping buku. Yang lain, kami lihat kesesuaian dengan coverage kurikulum, minat anak, keterbacaan untuk anak, dan kemungkinan buku itu dikembangkan ke dalam banyak kegiatan.

Kami juga usahakan hanya menggunakan buku berbahasa Indonesia, atau berbahasa Inggris, tapi tidak yang bilingual.

T: Kenapa tidak memilih bilingual bu? Alasannya apa? Soalnya sekarang banyak buku berembel-embel bilingual.
J : Jarang menemukan buku bilingual yang sama-sama bagus bahasanya, Bu. Jadi kami pilih tidak. Kalau ada yang bagus, sebenarnya silakan saja dipakai. Ini hanya preferensi sepertinya, ya?

11. T : Barusan saya ngintip kegiatan di Fanspage sekolah kembang, keren. Maaf oot kalau boleh tahu kurikulum sekolah kembang mengikuti diknas atau memiliki kurikulum tersendiri.

J: Kurikulum diknas bu… memang metode belajarnya yang kami rancang agar lebih ramah anak dan lebih melibatkan anak-anak.

Tahun ini kami mencoba mengembangkan tema pembelajaran berdasarkan buku untuk anak-anak Kelompok Bermain, TK dan SD Kelas 1-2. SD Kelas 3-6 sudah membaca novel sebagai dasar pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap Semester kami baca 2 novel.

12. T : Bu lestia, kebanyakan buku bilingual terjemahannya kacau. Kira-kira kenapa ya bu?

J : Saya kurang paham juga kenapa, Bu. Tapi menurut saya bahasa bukan hanya soal kosakata yang diterjemahkan mentah-mentah. Setiap bahasa punya cara bertutur dan struktur sendiri-sendiri, kadang-kadang memang tak bisa diterjemahkan begitu saja. Mungkin seperti itu ya. Apakah teman-teman punya pengalaman serupa/berbeda?

13.T : Wow, anak kelas 3 SD sudah membaca novel.

J : Sudah, meski banyak yang terkaget-kaget. Tapi biasanya mereka jadi lebih suka membaca setelah berkenalan dengan chapter book alias novel.

14. T : Novelnya seperti apa untuk anak 3SD? Bayangan saya novel kan lumayan tebal.

J : Novel-novel Roald Dahl seperti Charlie and The Chocolate Factory, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Taman Rahasia.

15. T : Kalo novel filsafat jostein gaarder yang Perpustakaan Bibbi bokken, Gadis Jeruk, cocoknya mulai usia brp ya bu?

J : dilihat saja anaknya kira-kira sudah siap atau belum. Saya pernah baca tuh, tapi lupa lupa ingat.

16. T : Mungkinkah novel seperti Heidi, Tom Sawyer dimasukkan?

J : Murid saya ada yang baca Dunia Sophie di kelas 2 SD, ada juga yang sudah mau lulus.
Bisa Bu… Pertimbangan kami dalam memilih novel adalah kemampuan membaca dan minat kelasnya. Kadang ada kelas yang advance, kami berani pakai buku yang agak sulit

17. T : Bagaimana menentukan kelas tersebut advance atau belum? Bagaimana menilai kemampuan mencerna bacaan tiap anak?

J: Berdasarkan penilaian guru tahun sebelumnya dan pendapat guru yang sedang mengajar bu Nareswari. Kadang-kadang salah juga, tapi tak apa, buku berikutnya disesuaikan lagi.

Tahun ini saya mengajar kelas 6, memulai dengan buku Wonder, karena temanya tentang bullying.
Saya kira akan mudah, ternyata buku dengan sudut pandang berbeda-beda begitu agak susah. Buku kedua, kami pakai Tru and Nelle, lebih baik… anak-anak senang karena kebetulan mereka suka sejarah.

18. T : Bu Tia, bagaimana jika anaknya tidak suka novel? Apakah tetap harus diarahkan agar suka novel? Anak saya usia 6 tahun dari kecil ini tidak suka buku-buku seperti dongeng, novel. Jadi dia lebih suka buku-buku non fiksi mungkin ya istilahnya. Seperti buku sejarah. Buku geografi, buku-buku teknis. Apakah ada pengaruhnya Bu Tia terhadap perkembangan literasi anaknya kedepan. Terima kasih.

J : Sebenarnya, saya cenderung mengikuti minat anak-anak membaca. keuntungan membaca novel atau non fiksi adalah kemampuan mereka membaca makna tersirat akan lebih terlatih. Tapi ikuti saja dulu, karena anak masih umur 6 tahun. Tawari saja buku-buku fiksi dengan latar belakang tema yang ia sukai.

19. T : Untuk membuat anak gemar membaca & memiliki kemampuan literasi kritis, pasti diperlukan kolaborasi antara pihak sekolah dan orangtua di rumah. Kalau bentuk kolaborasi di Kembang seperti apa bu Tia?

J : Kolaborasi ortu dan sekolah memang susah-susah gampang. Kadang guru memberi jurnal membaca untuk diisi bersama, atau di TK anak-anak pinjam buku perpus tapi yang diminta membacakan ortu-nya.

Ada sesi-sesi ngobrol sama ortu untuk berbagi tentang literasi.

Untuk ortu yang kita utamakan adalah edukasi bahwa bisa baca usia dini itu belum tentu hebat. Anak-anak perlu disiapkan dulu untuk bisa baca tulis sebelum akhirnya belajar baca tulis.

20. T : Adakah anak di Sekolah Kembang yang tidak suka baca buku? Bagaimana meresponnya?

J : Laaah… anak saya contohnya. Hehehe. Masih belum berminat membaca meski sudah kelas 1 SD. Kalau dipaksa makin nggak suka, kadang-kadang saya bacakan saja buku untuk adiknya, lama-lama dia nimbrung.

Selalu ada saja, Bu. Anak-anak ini kita tetap saja paparkan pada buku-buku melalui perpustakaan, program DEAR (drop everything and read), jurnal membaca, … dst. Pokoknya kita coba-coba saja semua cara. Barangkali ada yang nyangkut. Ini namanya stimulasi. Anak saya ekstrem kemampuan auditorinya, jadi dia memang lebih suka mendengarkan.

21. T: Kalo baca komik, nalar anak-anak mulai berkembang urutan bacanya itu mulai kapankah?

J : Saya rasa dicoba saja. Kalau belum siap, simpan lagi. Begitu kenal cara membacanya, mereka akan menikmati.

T: Kita beri tahu dulukah urutanya baca dari mana ke mana?

J :Boleh saja, memberi petunjuk cara bacanya.

22. T : Audio book bisa jadi solusi ya? Walaupun saya gak bisa membayangkan aplikasinya di ruang kelas.

J: Audio book bisa jadi pilihan, kalau kelasnya memungkinkan. Saling membacakan buku bergantian dengan teman juga bisa jadi pilihan sederhana

Closing

Terima kasih, senang sekali bisa ngobrol dengan teman-teman Home Education malam ini. Membaca adalah salah satu cara kita mendapatkan informasi dan untuk bisa membaca dengan baik, kita perlu melatih ketrampilan-ketrampilan dasar membaca. Lebih dari itu, kita punya tantangan lain. Saat ini membaca tak hanya terbatas pada membaca teks tertulis. Ada teks dalam berbagai bentuk yang kita baca. Tantangan lain adalah kebiasaan patuh pada teks yang tersaji sehingga kita mengira semua informasi yang kita dapatkan adalah benar, padahal belum tentu. Literasi Kritis mengajak kita menjadi kritis dan menanggapi teks dengan aktif; mempertanyakan, membandingkan, menelusuri sumber, mengenal tujuan, dan sebagainya. Sebagai orang tua, saya harap kita tak hanya mengejar anak agar senang membaca, tapi memanfaatkan kemampuan membaca itu untuk ikut mengubah dunia jadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *