mencari-surga-tersembunyi-negeri-suah-sibolangit-indonesia-mendidik

Mencari Surga yang Tersembunyi, Negeri Suah Sibolangit

Hujan seharian membuat keputusan untuk mencari “surga yang tersembunyi” di daerah Sibolangit menjadi dilema, meski pada akhirnya kami berangkat juga menuju surga itu, namun posisi matahari sudah hampir tegak lurus dengan kepala, mungkin Negeri Suah tak jauh, pikirku..

Beberapa kali berhenti sekedar hanya untuk bertanya pada warga, jalan menuju Negeri Suah, jalanan berkelok, penuh lubang, beberapa tebing bahkan sudah longsor, kiri dan kanan lembah curam, sesekali jantung terasa berdenyut, merasa gentar ketika mobil seperti menukik, hujan bahkan menambah denyut nadi semakin kencang, licin..

Di jalanan, terlihat gerombolan pemuda pemudi berjalan beriringan, seperti baru pulang kemah, merasa yakin tujuan semakin mendekat, di ujung jalan ada juga puluhan muda-mudi yang sedang istirahat, ah.. kami sudah sampai! kami berhenti sejenak di warung kopi, sekedar menghangatkan tubuh dan mengisi energi, perjalanan belum usai, kami masih harus menempuh perjalanan melalui persawahan yang tak kalah licinnya dengan jalanan sebelumnya. Rintik hujan masih setia menemani perjalanan kami, bisa kau bayangkan tanah merah ketika hujan? ya..licin, sangat licin! Terkadang terasa badan tak seimbang ketika menelusuri jalan itu, tak ketinggalan pria berkacamata itu pun seperti kewalahan menghadapi arena petualangan, bahkan ia sempat jatuh.. haha! Aku tau ia ingin mengeluh, namun hal itu tak kan pernah dilakukannya..”i know him so much”

Beruntung karena empat anak kecil tak perlu dituntun, kecuali keponakan, yang memang belum terbiasa berpetualan. Negeri Suah.. ah.. kau sudah di depan mata, tampak sungai itu mengalir deras, di kejauhan terlihat kepulan asap sebagai penanda bahwa sungai itu sebagai sumber air panas, dari jauh kau akan mencium bau belerang yang menyengat, kami bahkan melalui sungai kecil yang airnya terasa hangat. Melihat perlahan-lahan, aku mulai menduga, sungai ini baru saja banjir bandang, beberapa kayu besar tersangkut, dan beberapa gundukan kayu kecil-kecil, jelas di tepi sungai bekas erosi tanah akibat derasnya air, bahkan terlihat di tengah seperti pulau, aku yakin sungai itu dulunya tak seluas ini.

Ketika kuinjakkan kaki, air terasa deras, hangat dan beraroma belerang, rerumputan yang tumbuh di pinggir sungai sudah memutih. Tampak belerang itu menempel di setiap benda yang dilaluinya. Anak-anak hanya bermain di tepi, meski bawa pelampung, kondisi sungai tak kondusif untuk dijelajahi, airnya yang deras mengurungkan niat kami untuk berpetualang lebih jauh, pun waktu yang sempit, kami harus sudah kembali sebelum matahari berangkat menuju ufuk barat, rintik hujan menambah bumi Negeri Suah semakin gelap!

mencari-surga-tersembunyi-negeri-suah-sibolangit-sumatera-utara-indonesia-mendidik-1

Tak lama kami berada di sana, sekedar menghilangkan lelah dan menikmati sejenak hangatnya air belerang. Bumi yang gelap, kabut, tanah longsor, jalanan licin serta mata pak supir yang minus lima, membuat kami harus segera bergegas. Dalam perjalanan apapun, keselamatanlah hal yang utama, jangan menjadi konyol ketika kemewahan surga membius hati, lena dengan sensasi alam.

Anak-anak membawa bongkahan batu kecil, mereka ingin menelitinya, batu itu tampak cantik, mengkilat, berwarna putih keabu-abuan, sepintas mirip dengan stalagtit di dalam gua. Di tengah jalan, saya memetik dua bunga kecombrang, yang tumbuh liar di seluruh Negeri Suah. Berhektar-hektar tanah ditumbuhi tanaman ini, mungkin karena banyaknya bunga-bunga itu sebagian layu dan sebagiannya berbuah. Terlihat tanaman ini tidak dimanfaatkan oleh penduduk setempat, mungkin juga karena penduduk Negri Suah yang hanya enam belas kepala keluarga itu kelebihan bunga kecombrang. Bayangkan saja enam belas kepala keluarga dengan tanaman kecombrang berpuluh-puluh hektar atau mungkin ratusan hektar.

Pada perjalanan pulang, mobil tak bisa naik dikarenakan jalanan yang licin, mendaki, dan tikungan tajam. Terpaksa kami para penumpang, turun dan membantu agar mobil bisa melewati tikungan tajam dan mendaki itu. Setelah mobil dapat bergerak naik, kamipun berlari-lari mengejar mobil di bawah rintik hujan, ketika kondisi mobil dalam keadaan aman, barulah kami naik lagi, pfiuuhh.. lumayan jauh.. tapi.. seru!

Tak berapa lama berjalan, kami disuguhi pemandangan yang cantik,bentangan sawah di pebukitan, dengan bedeng yang bertingkat, hijauuu.. di depannya terpampang iringan pebukitan… puas dengan hamparan sawah dan pebukitan. Kemudian kami disuguhi lagi pemandangan ladang biji-bijian yang lua. Penasaran dengan tanaman ini, tanaman ini pasti ditanam, bukan tumbuh liar, terlihat dari rapinya tanaman itu, dan hampir tak terlihat gulma di ladang itu, saya memetiknya dan ingin mencari tau jenis tanaman itu? Ternyata tanaman itu tanaman jali, mirip sekali dengan “buah kalung” yang sejak kecil biasa saya ronce untuk membuat gelang dan kalung. Tanaman itu secara fisik sedikit berbeda dengan “buah kalung”. Daun “buah kalung” lebih lebar dengan batang yang lebih pendek, sementara pohon jali yang saya lihat, batang yang lebih tinggi, hampir setinggi pohon jagung, dengan daun yang lebih sempit, bisa saja tanaman itu sebenarnya sama, Cuma habitat menjadikan tanaman itu sedikit berbeda. Tanaman di daerah sejuk tampaknya mengecilkan daunnya, bukankah tanaman di daerah dingin cenderung lebih sempit atau bahkan seperti jarum? Seperti daun cemara misalnya? Lebih tinggi bisa jadi karna mencari matahari?? Bijinya lebih keras di daerah panas ketimbang daerah sejuk. Setelah membaca beberapa artikel, saya yakin tanaman ini sama, yaitu buah jali.

mencari-surga-tersembunyi-negeri-suah-sibolangit-sumatera-utara-indonesia-mendidik-2

mencari-surga-tersembunyi-negeri-suah-sibolangit-sumatera-utara-indonesia-mendidik-4

Buah jali bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan yang mengandung karbohidrat, serat dan protein. Bisa dijadikan sebagai pengganti beras, ternyata buah jali juga ada di daratan China, hanya saja buah jali asal indonesia lebih baik kualitasnya, dan buah jali asal Medan lebih baik kualitasnya dari buah jali daerah lain di Indonesia. Ya.. itu sedikit saja kisah kami ketika mencari “Negeri Suah”..

Rahmaida “Bua” Simbolon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *