no-tanpa-televisi

Hari-Hari Tanpa Televisi

Sudah sejak lama, saya memimpikan hidup tanpa televisi. Buat saya yang pikirannya simpel (mungkin ke arah tradisional konservatif), hidup dengan cara “kembali ke awal” adalah pilihan terbaik untuk menanamkan fondasi hidup. Maksud saya “kembali ke awal” adalah hidup dengan cara “mundur” sampai ke jaman sebelum modernitas terlalu menjalar dan berkembang kuat. Hidup dengan lebih sedikit hiburan dari gawai dan lebih banyak hiburan dengan pengalaman fisik riil merupakan salah satu contohnya.

Kenapa saya menganggap ini ideal? Selain dari -tentunya- isi konten televisi yang masih jauh lebih banyak jeleknya ketimbang bagusnya, hal-hal lain efek dari kehadiran televisi itu sendiri saya nilai tidak baik. Televisi itu menyita waktu, perhatian dan energi. Setiap kali televisi menyala, banyak energi kita akan tersedot “hanya” karena ia ada. Suaranya yang bising dan tampilannya yang melelahkan mata, akhirnya juga mengganggu kemampuan atensi konsentrasi saat itu.

Bayangkan jika ini terjadi terus-menerus. Apakah anda pernah merasakan lebih lama berpikir saat tv menyala? Atau, salah mengambil keputusan? Atau salah mengingat sesuatu? Sering pusing tiba-tiba? Atau.. anak anda tiba-tiba adaaa saja ulahnya (yang kebetulan selalu terjadi saat televisi menyala). Yah, itulah yang saya rasakan. Selain itu, efek lain buat diri saya adalah: saya jadi kecanduan. Selalu mencari tontonan demi tontonan yang memuaskan hati (walaupun nihil manfaatnya).

Kebetulan saat ini saya sudah punya 2 putera, yang besar usia 4 tahun, dan si.kecil 1,5 tahun. Buat saya, efek televisi terlihat sekali pada diri si abang. Untuk catatan, waktu menonton (saya biasakan dari gawai) saya berikan padanya hanya 1 jam/hari, 30 menit pagi setelah mandi makan pagi dan 30 menit malam setelah mandi makan sore. Sisanya televisi selalu mati kecuali saat saya atau anggota keluarga lain sedang menonton.

Buat si abang, efeknya terlihat (banget) saat ia mendapat kesempatan menonton lebih banyak dari jatah yang seharusnya: ia jadi.penuntut, pemarah, perebut barang, dan perilaku agresif lain muncul bertubi-tubi seperti memukul, berteriak, dan lain-lain. Suatu hari bahkan ia mengancam akan melempar (wajah saya) dengan mainan balok kayu kalau tidak memberinya tontonan. Wah, hati keibuan saya terguncang saat itu (curcol dikit). Saya marah sekali. Bayangkan, balok kayu ukuran 15×5 cm dengan tebal 5cm mau diamprok ke muka saya! Langsung saya stop tontonan buatnya selama sebulan penuh. Hehehe..

Apakah Asyraf nakal? Tidak tidak. Dia tidak nakal, untuk anak seusia dia, tidak ada kata “nakal” dalam kamus saya. Sebagai anak laki-laki usia 4 tahun yang memang belum bisa mengelola, mengatur dan menguasai diri (fisik dan emosional), perilaku itu wajar saja. Apalagi efek stimulasi visualnya langsung menggugah. Makanya, penting bagi anak-anak di usia ini untuk diberi stimulasi lingkungan yang sesuai dan “dikondisikan”.

O iya, perlu dicatat.. definisi “tontonan” yang saya kasih ke dia adalah semua jenis kartun. Dan kartun yang saya perbolehlan untuk dia tonton adalah yang mendidik, seperti upin dan ipin, dodo syamil, kisah zaman dahulu, dst. Saya tidak memberi tontonan bahasa inggris dan kisah-kisah superhero kecuali sebagai hiburan, sekali-sekaliii saja.

Apakah saya anti tayangan visual? Yah, sebetulnya tidak. Tapi saya selalu mengecek sejauh mana efeknya pada diri saya dan anak-anak. Ternyata efeknya besar. Buat si abang, efek itu lebih kuat pada sisi “ketagihan” nya, dan sedikit perilaku meniru. Jadi mungkin ada baiknya untuk menyetop dulu kegiatan tonton-menonton itu, dan meregulasinya dari awal: sedikit demi sedikit, konten demi konten. Sambil memantau sejauh mana kesiapan dan kemampuan pengendalian diri anak-anak.

Alhamdulillah saat ini kami sudah hidup tanpa televisi. (Yeayy!!) Dan no helper, note keras. Hehe. Anak-anak terbiasa melihat ibu dan ayahnya bekerja, dan menjadi terbiasa bekerja. Komunikasi juga lancar tanpa efek bising televisi. Alhamdulillah juga, banyak peningkatan yg saya lihat. Si abang jadi lebih ringan tangan membantu, lebih mandiri, lebih teratur, lebih menurut, perilaku marah-marah atau tantrum turuuunn *lega.

Waktu berkualitas keluarga juga meningkat, seperti memasak bersama, merapikan ruangan bersama, dan yang paling saya syukuri: waktu berkualitas dengan ayah sepulang kerja makin baik.. mulai dari bermain logico, bercerita, menghafal surat-surat.. (serius loh efek ayah keren banget). Untuk kegiatan bebenah, dia paling suka menyapu dan mengepel, dan mulai suka mengelap. Dan makin kesini, keterampilan ini makin membaik, juga “standar kesempurnaan kerja” meningkat. Dia gak akan berhenti mengepel sebelum bersih cling *ibunyagirang. Hehe..

Yah itulah sekilas tentang kami dan televisi. Oiya, sekedar pesan-pesan saja. Sering saya jumpai saudara atau teman yang menatap iba (kasiaan) pada anak saya karena saya larang nonton tv. Please don’t. Mereka sama bahagianya dengan anak-anak lainnya. Nggak ada hal berharga yang hilang dari masa kecil mereka hanya karena mereka “dibatasi” dalam interaksi dengan televisi. Yg penting kita selalu sediakan kegiatan bermanfaat yang sesuai usianya, agar dorongan mereka untuk belajar tersalurkan, pada hal-hal riil. So far saya kasih dia kegiatan berenang, bola, mengaji, playdates dengan teman-teman dan preschool minat. 🙂

Baiklah segitu saja share saya hari ini, semoga bermanfaat bagi saya dan kawan-kawan semua. Keep the good parenting 🙂

Dianda Azani

6 pemikiran pada “Hari-Hari Tanpa Televisi”

  1. Setuju Mbak dianda..sebelum anak2 ful HS saya sebenernya sdh sangat ingin hidup tanpa TV dirumah..tp suami Dan anak pertama saya msh blm bisa..skrg pakai asisten jatah deh..sehari maksimal 2jam dibagi dua waktu.
    Saya berharap kedepan saya kami bisa hidup tanpa TV..)-

  2. Salut Bunda… Dulu kamj merasakan hal yang sama. Sekarang tv dirumah sudah tidak pernah dinyalakan, dan secara emosional kami semua jadi lebih baik. Bukan berarti anti, tapi kita bisa lebih selektif dalam memilih tayangan yang baik …

  3. Saya perlakukan itu pada anak saya stlh 3 thn pengalaman di depan tv terus akibatnya perlakuan sangat aktif dan telat bicara. Skrg tidak ada tv juga gadget hanya 1 minggu sekali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *