dimensi

Dimensi

PERJALANAN selama enam jam menuju kampung, melewati hutan dan lembah telah membuat Re meracau tak tahan dengan jalanan penuh batuan, badan terhempas-hempas, mual setengah mati,

“Kapan kita sampai Buk?” tanyanya dengan wajah bercucuran keringat, wajah yang tampak kotor dan lusuh.

“Sepuluh menit lagi kita sampai” Jawab Mia sambil menoleh ke badan jalan.

Re, anak semata wayangnya itu segera bangkit, bersemangat ingin melihat kampung yang sering disebut-sebut ibunya menjelang tidur. Semua energinya terkuras beberapa minggu ini hanya karena ingin merambah hutan, lembah dan pantai di kampung seperti yang pernah diceritakan ibunya.

“Dari tahun ke tahun, kampung ini tak banyak berubah Re, masih seperti dulu. Ibu heran, kenapa tak sedikitpun ada kemajuan ya, jalan masih rusak dan jembatan berlobang-lobang. Kalau jalannya mulus, pasti kita sudah sampai Re..”

“Meski begitu, Ibu selalu kangen kampung ini Re, kangen kakek nenekmu..” lanjut Mia dengan mata mengawang, di sudut matanya ada setetes air yang hendak jatuh. Napak tilas perjalanan hidupnya menghadirkan haru. Segera saja bis kecil itu berhenti setelah Mia mengetok pintu bis.

“Ayo..kita turun Re, kita sudah sampai!”

Cepat-cepat Re menaikkan ranselnya ke bahu, dan berjalan mengikuti Mia menuju rumah tua

“Dulu ibu dan bapakmu bercita-cita membangun desa ini Re, ahhh..sudahlah, Ibu suka sedih mengingat Bapakmu.. Yuk!.. kita masuk ke dalam!..”

Mia mengalihkan pandangannya menuju pintu bangunan tua, rumah tempatnya menghabiskan masa kecil. Bunyi pintu kayu berderet saat perlahan Mia melangkah memasuki rumah itu. Nampak di setiap sudut tergantung jaring laba-laba, penanda rumah itu sudah lama tak dihuni. Mia mulai membersihkan rumah, melebarkan kasur kapuk yang tergulung, mengkibas-kibaskannya dengan kain sarung berkali-kali. Semakin malam, bunyi jangkrik dan katak pohon seolah menjadi terapi untuk tubuh yang kelelahan.

“Buk, Re kangen Bapak, Re ingin mencari Bapak” celetuk Re seketika kepada Mia dan masih mengusap-usap matanya sehabis bangun pagi. Mia memperhatikan wajah Re.

“Kamu menggigau lagi Re?”

Re menggeleng. Mia menghela nafas panjang, memandang dalam-dalam ke arah mata Re, merasakan apa yang dirasakan Re.

“Re, Ibu tidak mungkin akan menahanmu kalau kau mau mencari Bapak, tapi Ibu pun tidak tahu apa Bapakmu masih hidup. Kau tahu kan apa yang sudah kita lakukan selama ini untuk mencari Bapak, tapi hasilnya?” Mia mengangat kedua tangannya diiringi bahu yang mengangat, menahan nafas..

“Ibu sudah pasrah Re, sudahlah, Kau mandi dulu sana, Ibu akan menyiapkan nasi goreng kampung kesukaanmu..”

Sore itu, Re berjalan-jalan menuju pantai, turun naik melewati lembah di sekitar hutan kampung, ia melihat sebuah pondok kayu di pinggir tebing, lengkap dengan berbagai koleksi tanaman. Re berhenti menyandarkan sepedanya, mengamati berbagai jamur, raflesia arnoldi, bunga bangkai, nephentes dan berbagai tanaman aneh lain yang tidak bisa diidentifikasikannya.

“Sedang apa Nak?” tanya seorang lelaki berjanggut dengan kulit kuning langsat serta sorot mata tajam. Suara yang membuat Re kaget, Re yang sedang berupaya mengindentifikasi berbagai jenis tanaman menjadi salah tingkah.

“Ahh.. Saya lagi melihat koleksi tanaman, kebun ini milik Bapak?”
Tersenyum lelaki paruh baya itu mengangguk

“Mau mampir? Bapak buatkan minuman segar untukmu..”

“Iya, mau Pak, mau!” spontan Re menjawab.

Semakin lama lelaki paruh baya ini semakin menyenangkan. Sinar mata tajam itu bersahabat, mengingatkan Re pada Bapak.

“Mari masuk” lelaki itu mempersilahkan Re untuk masuk. Ragu-ragu Re melangkah..

“Silahkan duduk, santai saja, eh..iya, kita belum kenalan, siapa namamu?”

“Re Pak,  Refa Tanuwijaya, tapi panggil saja saya Re..”

“Nama yang bagus, Oh ya, kenalkan, Saya Tanu Wijaya, panggil saja Pak Taya..” sambil menjulurkan tangganya dihadapan Re.

“Wah, nama kita sama, kebetulan yang aneh ya Pak!” coloteh Re. Pak Taya tersenyum.

“Kamu percaya dengan kekebetulan?” tanya Pak Taya sambil menaikkan kedua alisnya,

“Ahh..sudahlah, baru pindah ke desa ini?” tanya Pak Taya lagi sambil melirik Re yang masih memandang lekat-lekat Pak Taya.

“Iya Pak, baru seminggu Re pindah bersama ibu. Masih belum banyak orang yang Re kenal di kampung ini” jelas Re.

Pak Taya sibuk di dapur menyiapkan teh hijau, teh yang dipetik langsung dari kebun teh miliknya, dimasak dengan sumber air dari dalam perut bumi, dengan gula batu dan sedikit taburan jamur.

“Silahkan diminum, teh ini khusus Bapak buatkan untukmu, Bapak punya firasat akan kedatangan tamu istimewa” senyum Pak Taya mengembang memandang Re. Re pun tak sabar ingin segera mencicipi teh hijau jamur yang disuguhkan untuknya. Mencium aromanya saja sudah sangat menyegarkan, apalagi meminumnya. Re terlihat semakin bersemangat menyeruput teh hijau jamur itu,

“Tehnya enak pak..” Re berkomentar tanpa bermaksud memuji.

“Iya dong, teh istimewa untuk seseorang yang istimewa..”

“Mau kemana tadi Nak?” Pak Taya mengalihkan pembicaraan.

“Mau ke pantai Pak” jawab Re singkat,

“Sudah lihat pantainya? “

“Belum Pak, belum sampai ke sana, Re malah  mampir ke pondok Bapak. Dari kejauhan pondok Bapak kelihatan menarik sekali, jadi Re putuskan untuk mampir sebentar. Re penasaran ada jamur di kebun Bapak yang bisa berpendar, apakah itu jamur conocybe, jamur mematikanyang asalnya dari Amerika? Bentuknya mirip sekali dengan jamur psilocybe..”

“Ya, betul sekali,  kamu cerdas Re, bisa mengidentifikasi jenis jamur itu, padahal jamur itu sedang berkamuflase..”

“Bapak sudah lama tinggal di sini?“

“Ya, sudah cukup lama juga. Re boleh sering-sering ke sini kalau suka dengan koleksi tanaman Bapak, mungkin ada yang bisa Re pelajari”..
Nyatanya setiap orang yang mengenali Re akan menawari sesuatu, entah itu kudapan, minuman ataupun undangan berkunjung ke tempat mereka kapanpun Re mau, termasuk lelaki paruh baya yang seolah mahluk genius yang keluar dari perut bumi.

“Kelas berapa kamu sekarang Re?”

“Harusnya Re kelas satu SMP sekarang Pak, tapi Re  tidak pergi ke sekolah, kata ibu, yang penting Re tetep belajar dan mengerjakan yang Re suka. Sehari-hari Ibu yang mengenalkan Re pada sains. Kata Ibu, bapak Re orang hebat dan Re mewarisi kecerdasan Bapak, Re sendiri tidak merasa genius, memang ibu suka berlebihan” Jawab Re malu-malu.

Lama mereka mengobrol, berbicara tentang temuan-temuan sains moderen, kehidupan orang-orang hebat zaman dahulu, seperti Aljabar, Ibnu Sina, Ibnu Rusyid dan masih banyak lagi hingga tak terasa matahari sudah menuju ufuk barat..

“Sudah sore, Kamu tidak pulang?”

“Oh..iya.. Pak, sudah sore ya?” Re melihat langit dari jendela rumah Pak Taya.

”Re pamit pulang Pak, boleh Re ke sini lagi besok?”

“Boleh, sesering yang Kamu mau Nak“ Pak Taya mengelus kepala Re seperti bapak yang mengelus kepala anak lelakinya. Re segera menggoes sepede buntutnya, membelah hutan gelap dengan sinar bulan pucat  yang masih bertengger di langit, menembus pohon dan dedaunan, menciptkan siluet abstrak keperakan.

“Assalamu’alaikum”

“Waalakum salam, dari mana saja Re, kok lama sekali pulangnya..”

“Iya Buk, tadi seru, Re bertemu Pak Taya, baik sekali orangnya Buk, Pak Taya menawarkan Re melakukan penelitian di rumahnya. Ibu tau gak, Pak Taya punya koleksi tanaman jamur banyak sekali, bentuknya lucu-lucu. Yang paling aneh, ada jamur yang berpendar Bu, keren kan! Re belum pernah baca ada jamur yang begitu keren, dan kayaknya jamur itu hasil eksperimen Pak Taya..”

“Oh.. ya?” Mia menggernyitkan dahinya,

“Iya Bu.. benar!..” Re menjelaskan dengan semangat yang berapi-api.

“Pak Taya itu orang yang genius Buk!” mata Re menerawang mengingat percakapannya dengan Pak Taya.  Re dan Mia terbaring di dipan tua, memandangi langit-langit rumah yang sudah mulai lapuk,  ngobrol kesana kemari hingga akhirnya tertidur pulas.

Pagi sekali Re sudah sibuk membantu Mia, rencananya ingin sesegera mungkin menemui Pak Taya. Ada perasaan yang membuatnya selalu ingin ke tempat itu, rumah Pak Taya. Ngobrol dengan Pak Taya membuat Re nyaman, Re bahkan membayangkan jika saja Pak Taya itu adalah bapaknya, nama belakangnya sama. Mungkinkah Pak Taya itu bapak? Apakah memang ada yang kebetulan? Jangan-jangan ini jalan Re menemukan bapak!

“Bu.. Re pergi dulu ya!..” sambil berlari kecil, Re menaiki sepedanya dan melaju meninggalkan rumah.

“Hati-hati Re, pulangnya jangan kemalaman” teriak Mia melepas anaknya yang semakin menjauh.

Re mengetuk rumah Pak Taya, agak lama terdengar suara dari dalam,
“Masuk Re!..”

Re memasuki rumah itu, tapi Pak Taya tampaknya akan segera pergi. Pak Taya menyiapkan bohlam-bohlam pijaar yang diberi pengikat, dan mulai menentengnya ke luar,

“Bapak mau kemana?”

“Mau  turun gunung, mau ikut?”

“Ikut Pak” jawab Re kegirangan. Pak taya memandang Re,

“Yakin? Bapak sampai malam lho di pantai, nanti ibumu khawatir?”

”Gak apa-apa Pak, Re mau  ikut!“ Re setengah memaksa

“Haha, kamu keras kepala juga rupanya!” Pak Taya mengalah.

Berdua mereka menuruni jalan terjal, curam dan dalam..
“Wah, ada air terjunnya ya Pak, bagus sekali, lebar dan besar, Re suka alam” sepanjang jalan Re mengoceh.

Senja sudah menuju ufuk barat, matahari tampak merah, perlahan langit tampak gelap, disusul bintang-bintang yang mulai terlihat. Pak Taya masih menyisir pantai, seolah-olah mencari sesuatu, kemudian memasukkan air laut ke dalam lampu pijar tanpa sumbu, dan ditutup rapat

“Ayo kita pulang”

“Cuma ambil air laut saja pak” tanya Re..

“iya”

“Ahh.. kirain Bapak mau ngapain ke sini, ternyata hanya mengisi bohlam-bohlam itu dengan air laut” Re tampak kecewa, Pak Taya hanya tersenyum..

“Kamu mau di sini apa mau pulang?” Re tak menjawab, hanya mengikuti Pak Taya dari belakang, jalanan mulai mendaki, terdengar suara riak air terjun, gelap. Tiba-tiba Re melihat ada yang berwarna-warni, seperti malam yang berpelangi
“Wah, apa itu Pak?”

Setiap bohlam yang berisi air laut itu memiliki warna yang berbeda, Re takjub.
“Itu plankton, phytoplankton berjenis biolumenesence, bagaimana menurutmu?”

“Wah.. keren sekali Pak, Re suka!..“

“Nih untukmu!”  Pak Taya menyodorkan tiga bohlam untuk Re. Dengan mata berbinar, Re memandang planton-plakton itu. Tak disangkanya air yang diisi dengan air laut tiba-tiba berubah menjadi lampu yang berpendar-pendar.

Di depan rumah Pak Taya masih terparkir sepeda Re. Re pamit pulang dan membawa lampu-lampu pijar yang berisi plankton itu dengan hati-hati. Ibu yang sedari tadi menunggu Re sudah tertidur di kursi malas peninggalan nenek.

Pelan-pelan re membuka pintu, takut ibu terbagun, seperti pencuri yang mengendap-endap.

“Re, dari mana saja Kau jam segini baru pulang?” tanya Mia tiba-tiba. Re kaget dan gugup namun terus masuk ke dalam kamar, menyimpan bohlam-bohlam cantiknya itu, menggantungkannya di belakang pintu kamarnya,

“Hmmm.. dari rumah  Pak Taya, Bu!” Re menjawab pertanyaan Mia dari balik pintu,

“Re..Ibu mau bicara, duduklah di samping Ibu!” lalu Re pun mendekat

“Re.. Ibu khawatir kamu pergi lama sekali, pengalaman kehilangan bapakmu masih terasa mengganjal di hati ibu. Kau milik ibu satu-satunya sekarang, ibu tidak ingin kehilanganmu nak!”

Re terdiam, tertunduk, tak mampu menatap mata Mia. Re tak tega menemukan kesedihan di mata Mia, namun keinginannya untuk bertemu Pak Taya jauh lebih mendesaknya, bagai manusia yang kecanduan heroin, ingin lagi dan lagi.

Diam-diam Re mengatur rencana akan menemui Pak Taya siang ini, kebetulan Ibu akan pergi lama. Dada Re sesak karena rindu, sudah tak tahan ingin bertemu Pak Taya. Re segera menaiki sadel sepedanya dan bergegas laju. Di depan rumah Pak Taya, Re selalu saja disambut jamur-jamur yang berpendar. Masuk ke rumah Pak Taya seperti masuk ke rumah sendiri.

“Re..Bapak ingin menunjukkan sesuatu padamu, ayo ikut Bapak!” Pak Taya menggeser batu yang tersembunyi di ujung bawah lemari buku, membukalah batu besar dan terlihat anak tangga menuju ke semacam ruang rahasia bawah tanah.
“Ayo  ikut Bapak!”

Ragu-ragu Re mengikuti Pak Taya. Mereka menuruni tangga, gelap, basah dan dingin.  Di sudut ruangan terletak beberapa kotak kaca yang berisi binatang berlampu meletup-letup, namun tumbuh terus menerus, sejenis kunang-kunang yang melewati proses rekayasa genetik. Re menatap takjub  benda-benda itu, plakton-planton yang kemarin dimasukkan ke dalam bohlam-bohlam mampu berpendar berganti-ganti warna.

“Stop!.. jangan sentuh itu sebelum Bapak menyiapkan penawarnya, itu jenis jamur, yang mampu membuatmu berhalusinasi, dalam kondisi yang parah, jamur itu mampu membuat jantungmu berhenti dalam hitungan sepuluh detik!”

Pak taya mengeser batu kecil seperti sebuah kunci, perlahan-lahan batu besar membelah, dan memperlihatkan air terjun yang dilihatnya kemarin saat menuruni lembah curam menuju pantai. Re masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, semua keajaiban ini serasa mustahil. Pak Taya menaiki kembali tangga-tangga yang tadi digunakan untuk turun.

“Ayo Re.. udara di sini tidak baik untukmu jika malam telah tiba, semua energimu akan terserap habis!” cepat-cepat Re menyusul Pak Taya.

Menjelang malam baru Re kembali ke rumah disambut kecemasan Mia.

“Pak Sholeh tadi pagi datang ke rumah, katanya Kau sering ke tebing di bawah pohon raja. Pak Sholeh sendiri tidak tahu apa yang sedang Kau lakukan disana, katanya Kau berbicara sendiri, benar begitu Re?”

“Tidak Buk, Re bersama Pak Taya seharian, Pak Taya bahkan menunjukkan Re tempat yang sangat bagus, Ibu tidak perlu percaya dengan Pak Sholeh. Ibu masih percaya pada Re kan?” selidik Re mendesak Mia. Mencari tahu ketidakpercayaan Mia.

Setelah itu mereka menghabiskan malam panjang dengan suasana yang terasa semakin tidak nyaman. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Re yang merasa Mia tidak mempercayainya dan Mia yang khawatir akan kehilangan anak semata wayangnya.

Pagi sekali, Mia bermaksud membuktikan kesalahan cerita Pak Sholeh. Cerita Pak Sholeh cukup membuat dadanya panas dengan segala kerisauannya. Mia berjalan tergesa-gesa menuju jalan setapak, ingin segera mendapatkan daerah yang diucapkan Pak Sholeh, sebuah pohon raja besar, yang telah berusia ribuan tahun di sekitar tebing. Mia mencari-cari pohon raja yang dimaksud, tapi Mia tak menemukannya, ahh.. mungkin Saya salah, gumamnya dalam hati. Mia memutuskan untuk kembali ke rumah, dengan segudang pertanyaan berkecamuk di kepalanya, Re mulai gila, berhalusinanasi seolah Pak Taya itu benar ada ataukah saya yang salah dan tidak menemukan tempat yang benar, besok Saya harus membuntuti Re untuk membuktikanya.

Di dalam kamar, Re dan Mia tidur bersama, menatap langit-langit rumah bersama, dan untuk pertama kali Re dan Mia berbaring membisu. Hanya terdengar dengusan nafas Mia sesekali, seperti ada beban berat yang menimpanya namun Re tidak berani bertanya. Sejak Pak Sholeh menceritakan semua kelakuannya di pinggir tebing. Re merasa ibunya seperti anak kecil yang ingin tahu,  namun justru itulah yang Re suka. Meski Re tahu ibunya bisa menjelma menjadi teman sebaya, namun kali ini, bibir Re terkunci rapat, bahkan sekedar mengucapkan selamat tidurpun Re tak sanggup, keheningan ini sungguh mencekam. Re berada di puncak kegelisahan, tangannya dingin, jantungnya berdetak sangat kencang, suara jangkrik dan kumbang-kumbang semakin riuh mengerubunginya, menteror tanpa ampun. Perasaan yang sama juga dirasakan Mia, tak tertidur semalaman, hanya memikirkan kata-kata Pak Sholeh. Re seperti orang yang kecanduan, terus menerus ingin menemui Pak Taya.

Pagi setelah tak bercakap-cakap dengan Mia, Re keluar dengan berjalan kaki di rerumputan yang basah. Mia mengikutinya, mengendap-gendap, kehadirannya tak boleh diketahui Re. Sampai di tebing, di bawah pohon raja, Mia mengintip. Re mulai mencari benda-benda di sekelilingnya, mengambil daun, rumput dan ranting-ranting kecil, seperti sedang meracik sesuatu, tampak seperti bercakap-cakap dengan seseorang, bahagia, tertawa dan sesekali tampak serius dan tampak mata Re sedang tertutup. Sekujur badan Mia terasa lemas, berlari pulang, meninggalkan Re sendirian. Matanya sembab, kesedihannya menjadi-jadi hanya mengeluarkan air mata tanpa isak, bayangan akan kehilangan orang yang dicintainya itu semakin  nyata di depan mata.
Re baru saja pulang lalu duduk di sebelah Mia.

“Re..jujur pada Ibu Nak, apa yang kamu lakukan di pinggir tebing itu?“ jarinya gemetar saat mengusap ujung matanya yang basah

“Re ke rumah Pak Taya Buk, Re senang di sana!..”

“Hentikan Re, hentikan Nak!” Mia berteriak,

“Tidak ada pondok seperti yang Kau ceritakan pada Ibu, tidak ada Pak Taya, Ibu mengikutimu seharian, Ibu melihatmu sedang apa di sana, Kau seperti orang gila Re, demi ibu, berhentilah ke sana Re, Ibu sudah tidak ingin kehilangan orang yang Ibu cintai lagi, hanya Kau milik Ibu!

“Tapi Bu.. Re benar-benar ketemu dengan Pak Taya..” Re berusaha menjelaskan pada ibunya

“Bu, ada banyak hal yang tidak tertangkap oleh mata kita, bukan karena mereka tidak ada, melainkan kemampuan kitalah yang terbatas untuk melihatnya. Ada hal-hal di dunia ini yang bersama-sama dengan kita sekarang, ibu percaya?”

“Re tidak gila Bu!” lanjut Re lagi. Mia terdiam, tak sanggup membayangkan harus kehilangan orang yang dicintainya tanpa kabar dan jasad.

..”

***

Satu pemikiran pada “Dimensi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *