Review Film : The Beginning of Life

The Beginning of Life (2016)


Review Film The Beginning of Life
Oleh : Nurbaiti Pohan

*
Kelahiran bayi selalu merupakan keajaiban. Dimulainya satu kehidupan baru. Walaupun tidak menafikan ada saja kehadiran bayi-bayi yang tidak diharapkan, namun sesungguhnya kehadiran mereka membawa kebahagiaan.

Banyak yang beranggapan bahwa bayi bahkan sampai anak-anak tidak bisa memperhatikan, padahal sebenarnya adalah mereka tidak bisa tidak memperhatikan sesuatu. Mereka merupakan pembelajar hebat. Dengan kondisi fisik yang masih sangat perlu untuk berkembang, mereka melihat, mendengar, menggapai-gapai, menendang-nendang, berceloteh sebisanya sebagai upaya mereka menyerap informasi dari lingkungan untuk diproses di otak dan menterjemahkan kepada mereka bagaimana lingkungan itu.

Sebagai contoh, bayi yang menjatuhkan sendok berulang kali padahal ibunya melarangnya, hal ini bukan karena mereka tidak memperhatikan atau mereka hanya sekedar pembuat onar, tapi kejadian itu mereka tangkap sebagai “informasi mengenai ibu”, dan mereka mengulang-ulang hal tersebut untuk menguatkan informasi tadi.

Kehadiran orangtua/pengasuh utama sangat penting dalam hidup bayi hingga anak-anak sebagai pendukung utama dalam proses belajar mereka. Ibu memberikan kenyamanan dan keamanan, mengenalkan mereka akan diri mereka sendiri. Sementara ayah membuat mereka berani menjelajah dunia luar, berani mengambil resiko. Pengasuhan anak pun harus dipahami sebagai tanggung jawab kedua orang tua, bukan hanya oleh ibu dengan dukungan ayah. Ayah bukanlah orang kedua dalam pengasuhan.

Quotes yang sangat berkesan yang disampaikan oleh salah satu ibu di film itu adalah “Saya tidak dipersiapkan menghadapi perasaan sedalam ini. Saya bahkan lebih menyayanginya ketimbang kedua orang tua saya”, ucapnya sambil menangis.

Anak-anak itu juga selalu menjaga image positif mengenai orang tua mereka. Seorang anak mengatakan bahwa monster menelan ibunya dan mengambil suaranya ibunya pada saat marah, ia dimarahi monster yang berwujud ibunya.
Sementara cerita seorang ayah adalah:
Ayah : Aku ayah yang buruk
Anak : Tidak
Ayah : Ya, aku ayah yang buruk karena aku meneriakimu.
Anak : Kau hanya meneriakiku saat aku nakal.
Ayah : Ya memang, tapi seharusnya itu tidak menjadi alasan untuk meneriakimu.
Anak : Kau tidak menjadi ayah yang buruk hanya karena meneriakiku
Dari cerita tersebut bisa diambil kesan bahwa anak-anak tetap mempercayai kedua orangtuanya walaupun saat-saat buruk kerap datang.

Terkadang, seiring dengan semakin paham ia tentang dirinya, anak-anak membangun otonomi dengan pemberontakan-pemberontakan pada lingkungannya, baik orang tua maupun saudara kandung. Pemberontakan-pemberontakan ini sekaligus melatih pola hubungan kompetitif, disamping hubungan kolaboratif yang juga dikembangkan. Kehadiran kakek dan nenek atau lingkungan (dekat) yang lebih luas lagi merupakan sebuah keuntungan untuk anak-anak, mereka bisa jadi sumber kasih sayang tak berbatas lainnya yang dapat mendukung pertumbuhan anak-anak.

Tak peduli dari latar belakang mana anak itu berasal -baik dari orang tua tunggal, hasil hubungan di luar nikah, anak dari pasangan homoseks, anak adopsi, anak dengan orangtua yang mengalami ketergantungan obat, anak-anak dari lingkungan yang sangat miskin, anak yang orangtua nya bercerai sehingga harus tinggal dengan orang dewasa lain yang merupakan pasangan baru orang tua mereka- kebutuhan mereka adalah sama.

Untuk mendukung anak-anak, maka yang harus dibantu adalah orang-orang dewasa yang mengasuh mereka. Maka diperlukan suatu komunitas yang dapat saling membangun dan mendukung orang dewasa agar dapat memberikan pengasuhan optimal kepada anak-anak mereka.

*

Peran Orang Tua Dalam Menemukan Passion Anak

Suatu hari, si kecil kami Radho, duduk jongkok berlama-lama di depan pohon jeruk kecil yang ada di halaman rumah kami. Rupanya ia tengah memperhatikan kehidupan laba-laba yang tak lebih besar dari jempol kakinya tengah membangun sarang di pohon jeruk itu. Dari pengamatanya, ia mendapati bahwa seekor laba-laba membangun sarang dengan mengeluarkan benang dari pantatnya.  Selanjutnya ia menangkap kejadian seekor nyamuk yang tiba-tiba terperangkap di jaring laba-laba dan sang laba-laba yang tadinya berada di ujung jaring, bergerak cepat mendekati nyamuk dan menggulungnya dengan benang lalu laba-laba itu akan kembali ke pinggir. Melihat kejadian tersebut, Radho berinisiatif mencarikan makanan untuk si laba-laba, ia mencari sapu lidi untuk menepas lalat, setelah kena tepas dan mati, kemudian Radho melemparkan lalat  ke dalam jaring laba-laba. Dengan cepat laba-laba itu mendekat dan kemudian menggulung lalat itu, beberapa saat kemudian, laba-laba mengisap cairan lalat, kemudian berpindah ke nyamuk dan mengisap cairan nyamuk. Dengan antusias, Radho menceritakan pengalamannya itu melalui gambar, ia menggambar jaring laba-laba, laba-laba, mangsa dan pohon. Mendengar pengalamannya itu, Saya mengajukan tantangan pada Radho untuk mendokumentasikan peristiwa tersebut dengan kamera video dan dijawabnya apabila bisa mendokumentasikan persitiwa semacam itu apakah akan laku untuk dijual atau masuk ke TV?

Sebagai orang tua, tentunya menjadi pertanyaan menarik bagaimana seorang anak belajar dan mencari tahu dari pengalaman yang diperolehnya. Cara dan minat Radho dalam memperhatikan kehidupan serangga barangkali bukan menjadi fokus yang menarik bagi anak yang lain. Dan minat semacam itu juga barangkali tidak teraktualisasi di sekolah yang menganut sistem pendidikan berbasis kurikulum (yang padat dengan bermacam mata pelajaran). Artinya, berbicara tentang pengasuhan dan pendidikan, maka kita tidak bisa hanya menyerahkan sepenuhnya pada institusi sekolah, justru peran keluarga sebagai lingkungan yang pertama lebih diutamakan. Tentunya orang tua selalu berupaya untuk mencari informasi dan belajar sebanyak mungkin untuk bisa memberikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik bagi anak.

Salah satu sumber yang saya anggap cukup menarik dalam membantu saya memahami pola pengasuhan anak adalah kecerdasan majemuk yang ditulis oleh Howard Gardner. Selain itu, memahami gaya belajar anak yang ditulis oleh Deporter dan Hernaki dan pola kepribadian anak yang dicetuskan oleh Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus, Saya percaya ketika orang tua paham tentang semua itu, maka pola pengasuhan dan pendidikan akan lebih mudah dijalankan, ibarat ketika kita mengerjakan sesuatu, ketika sudah paham teorinya, maka aplikasinya akan lebih mudah.

Kecerdasan majemuk

Ada  8 tipe kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu        :

  1. Kecerdasan Bahasa
    Ciri utama dari kecerdasan bahasa adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif dalam membaca, menulis, dan berbicara, kemampuan dalam bersyair, atau gaya menulis yang kaya ekspresi adalah bentuk kecerdasan bahasa.
  2. Kecerdasan Musik
    Kecerdasan musikal meliputi kepekaan terhadap tangga nada, irama, dan warna bunyi, serta aspek emosional akan bunyi yang berhubungan dengan bagian fungsional dari apresiasi musik, bernyanyi, dan memainkan alat musik
  3. Kecerdasan Logika-Matematika
    Kecerdasan logika-matematika meliputi keterampilan berhitung juga berpikir logis dan keterampilan pemecahan masalah”. Siapapun yang dapat menunjukkan kemampuan berhitung dengan cepat, menaksir, melengkapi permasalahan aritmetika, memahami atau membuat alasan tentang hubungan-hubungan antar angka merupakan ciri dari kecerdasan logika-matematika.
  4. Kecerdasan Visual-Spasial.
    Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan untuk merepresentasikan dunia melalui gambaran-gambaran mental dan ungkapan artistik. Pusat bagi kecerdasan ruang adalah kapasitas untuk merasakan dunia visual secara akurat, untuk melakukan transformasi dan modifikasi terhadap persepsi awal atas pengelihatan, dan mampu menciptakan kembali aspek dari pengalaman visual.
  5. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh.
    Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh badan atau bagian dari badan dalam membedakan berbagai cara sebagai ekspresi gerak.
  6. Kecerdasan Intrapersonal
    Fungsi penting dari kecerdasan intrapersonal ialah meliputi penilaian-diri yang akurat, penentuan tujuan, memahami-diri atau instropeksi, dan mengatur emosi diri sendiri.
  7. Kecerdasan Interpesonal.
    sangat berhubungan dengan kemampuan untuk memahami orang lain dan mampu mengatur hubungan antar individu.
  8. Kecerdasan Naturalis.
    Orang yang menonjol dalam kecerdasan naturalis adalah orang yang menunjukkan rasa empati, pengenalan, dan pemahaman tentang kehidupan dan alam meliputi tanaman, hewan, geologi.

Pemikiran Howard Gardner membuat kita menyadari bahwa setiap anak pastilah cerdas, namun kecerdasannya sangat bervariasi. Pemberian stimulasi di usia dini dapat mencakup semua kecerdasan, tidak hanya salah satunya saja, sebab semua kecerdasan yang mereka miliki harus dibiarkan tumbuh dan berkembang optimal. Seiring bertambahnya usia biasanya jenis kecerdasan menonjol sudah mulai terlihat. Pada kasus Radho, ia memiliki kecerdasan naturalis yang menonjol, hal itu bisa dilihat bagaimana ia melakukan kegiatan belajar secara antusias dengan melibatkan unsur alam, yang pada contoh di atas, meliputi hewan dan tanaman. Ia betah berlama-lama memperhatikan apa yang dilakukan laba-laba saat memangsa hewan buruannya.
Bukan hal yang mudah untuk mengetahui potensi kecerdasan anak. Ada beberapa metode yang banyak ditawarkan, misalnya dengan tes sidik jari. Atau kita dapat melakukan observasi sendiri dengan menstimulasi beberapa kecerdasan dan melihat mana yang lebih menonjol. Setelah memahami potensi kecerdasan anak, barulah orang tua dapat menentukan potensi yang akan diberikan stimulasi lebih banyak. Namun tidak cukup hanya dengan memahami potensi kecerdasan anak, penting juga bagi orang tua untuk mengetahui gaya belajar anak.

Gaya belajar

Menurut Deporter dan Hernacki, gaya belajar adalah merupakan kombinasi bagaimana seseorang menyerap informasi kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar adalah variasi cara yang dimiliki seseorang untuk mengakumulasi informasi, dimana gaya belajar bisa menjadi methode terbaik dalam mengumpulkanberbagai sumber informasi agar memperoleh pengetahuan yang spesifik        

Deporter dan Hernacki membagi ke dalam tiga tipe gaya belajar anak, yaitu:

  1. Visual, adalah gaya belajar yang menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
  2. Auditori, adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
  3. Kinestetik, adalah gaya belajar yang mengharuskan individu bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Gaya belajar ini menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya.

Manfaat dari memahami gaya belajar pada anak adalah agar kita sebagai orang tua lebih mudah dalam menentukan strategi belajar yang sesuai dengan kemampuan anak. Gaya belajar yang sesuai akan mendorong proses pengolahan  informasi yang lebih efisien, utamanya membantu anak dalam menikmati proses pembelajaran. Pada kenyataannya banyak anak yang tidak cocok dengan gaya belajar di kelas. Hal ini banyak dialami oleh anak dengan tipe visual atau kinestetik yang tersesat di dalam kelas yang diajar dengan metode auditori. Salah satunya terjadi pada Radho.

Dari pengalamannya dalam memperhatikan laba-laba, ia memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik. Tidak cukup dengan memperhatikan secara pasif, Radho juga coba melakukan eksperimen dengan mematahkan sarang laba-laba menggunakan lidi untuk mengetahui ketahanan jaring laba-laba, serta menjatuhkan lalat di sarang untuk mengetahui apa yang akan dilakukan laba-laba pada  lalat. Tipe anak seperti Radho akan mudah memahami sesuatu dengan cara menyentuh. Oleh karenanya, saya memberikan kebebasan kepadanya untuk bereksperimen dengan laba-laba, dengan begitu syaraf-syaraf otaknya akan aktif. Ia akan lebih bisa berpikir ketika kita tidak membatasi geraknya.

 

Kepribadian

Selain potensi kecerdasan dan gaya belajar, yang tidak kalah pentingnya juga untuk dipahami adalah kepribadian, karena inilah dasar dari pembentukan karakter seorang anak. Mengapa kita perlu membahas tentang kepribadian, kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu. Dengan memahami kepribadian anak berarti kita telah menyingkat waktu kita untuk menebak-nebak, berusaha mengerti dan memahami anak kita, kita bisa jauh lebih mudah untuk memahami seseorang anak dengan memperhatikan tipologi kepribadiannya.

Menurut Florence Littauer, kepribadian ini membagi manusia menjadi empat golongan besar yaitu korelis, sanguin, plegmatis dan melankolis.

  1. Sanguin, dijuluki si populer karena tipe sanguin pandai berbicara, persuasif dan riang.
  2. Koleris, dijuluki juga sebagai si kuat karena tipe ini adalah tipe dominan dan kompetitif, berkemauan kuat, dan berorientasi hasil.
  3. Melankolis, dijuluki juga si sempurna karena tipe ini sangat perfeksionis dan mencintai keteraturan.
  4. Plegmatis, dijuluki juga si cinta damai, karena kesetiaannya dan menghindari konflik.

Radho memiliki kecenderungan berkepribadian koleris, sebab ketika diberi tantangan untuk mendokumentasikan dengan kamera video, ia akan menanyakan “aku dapat apa” anak-anak tipe koleris selalu berorientasi pada hasil dan lebih suka dengan reward.

Setiap anak bisa jadi memiliki tipe koleris-melankolis, koleris sanguin, atau melankolis-plegmatis. Dengan mengenali perangai anak, kita akan mudah membaca karakternya, orang-orang dengan kepribadian koleris misalnya, koleris yang berorientasi hasil, akan mudah dibentuk dengan reward dan funishmen, orang-orang melankolis akan merasa dihargai ketika tidak di desak untuk menyelesaikan, sebab baginya yang terpenting adalah hasil yang sempurna. Kepribadian ini juga akan mempengaruhi pilihan profesi, seorang koleris misalnya akan lebih cocok sebagai leader, seorang melankolis akan lebih cocok sebagai ilmuwan dan seniman, dan seorang sanguin akan lebih cocok sebagai artis atau penghibur, seorang plegmatis akan lebih cocok sebagai pemuka agama.

Satu hal yang perlu kita ketahui adalah tidak ada satupun tipologi kepribadian ini yang lebih baik daripada lainnya. Artinya semua anak mempunyai kadar dari keempat tipologi kepribadian ini. Di dalam diri kita ada unsur melankolis, ada unsur plegmatis, ada unsur koleris dan ada unsur sanguin-nya. Hanya saja di bagian mana kita dominan dan itu yang membentuk kita, itu yang membedakan kita dari yang lainnya. Dan satu hal yang paling penting, adalah seperti yang tadi saya katakan bahwa tidak ada yang baik, tidak ada yang buruk disini. Yang ada adalah pada saat kita tidak menyadari berhadapan dengan anak kita dan kemudian kita tidak bisa menjalin suatu komunikasi dengannya, itu karena kita tidak bisa memahami persepsinya.

Penutup

Dari berbagai tipe yang Saya uraikan di atas, maka penting bagi orang tua agar mampu mengenali atau mengidentifikasi kecerdasan majemuk anak sebab setiap anak adalah unik, tak pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Tugas orang tua adalah melihat potensi itu, mengasahnya hingga kemudian mampu melihat kecerdasan yang paling dominan pada anak, diharapkan orang tua dapat menyesuaikan kecerdasaan anak dengan gaya belajar dan kepribadian anak. Sebagai contoh ketika anak memiliki kecerdasan logis matematis dengan gaya belajar visual, maka orang tua harus mampu memberikan stimulasi konkrit seperti menyediakan batu sebagai alat dalam menghitug. Nah kemudian bisa disesuaikan dengan karakter anak, misal dengan karakter anak yang koleris, maka pelajaran menghitung bisa diaplikasikan lewat tantangan, seperti pada hitungan ke sepuluh harus selesai mengerjakannya.

Gabungan berbagai pemahaman dan metode di atas akan mampu membuat anak selalu bergairah belajar dan mencintai prosesnya, sebab cara belajar yang demikian sangat menyenangkan. Bagi saya, ketika anak berbahagia maka belajar menjadi lebih mudah. Ketika orang tua mampu memformulasikan semua pemahaman di atas, maka akan semakin mudah dalam menemukan passion anak. Sebagai seorang praktisi homeschooling, saya telah menguji coba pemahaman-pemahan di atas dan mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar kami. (Rahmaida “bua” Simbolon)

Kejutan di Bulan Desember – Pengalaman Pramembaca Anak

Kupu-Kupu

Ini kupu-kupu
Kupu-kupu suka madu
Nina suka kupu-kupu
Nina cari kupu-kupu
Kupu-kupu lari tepi kayu

15 Desember 2015, ia melafalkan bacaan kupu-kupu, di saat bundanya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga.

Kaget, karena tidak ada kegiatan belajar membaca rutin di rumah. Ia hanya bermain mengenal nama setiap anggota keluarga.

Kaget, karena pada saat itu ia belum hafal semua abjad A-Z.

Yang sering ia lakukan setiap hari adalah membaca buku.

Ia mengenal buku sebelum usianya 1 tahun.

Ketika bayi, ia belajar membaca buku dengan cara memukul-mukulkan ke lantai, membanting, menggigit dan bahkan merobek lembaran buku.

Ia yang setiap malam mengambil buku bacaan dan meminta bundanya untuk membacakannya.

Ia yang sering duduk di samping bundanya ketika bundanya sedang membaca dan bertanya, ‘Buku apa, bund? Ceritanya bagaimana, bund? Bacain dong, bund.’ Padahal saat itu bundanya sedang asyik membaca buku-buku tak bergambar.

Ia adalah pembeli tercilik di Toko Buku Atqiya yg sering bertanya, ‘Buku ini bagus. Harganya berapa, bund?’

Ia yang sering membeli buku dengan uang hasil pemberian ayah atau kakek neneknya.

Dan ia sekarang tahu bahwa hobinya adalah membaca buku.

******

Ah, rupanya teori itu terbukti. Sebelum menikah, saya membaca buku tulisan pak Fauzil Adhim yg berjudul ‘Membuat Anak Gila Membaca’.

Inti dari buku tersebut adalah hal terpenting yang perlu kita tumbuhkan pada diri anak adalah minat membaca anak bukan kemampuan membaca.

Kita mengenalkan satu atau lebih bagian membaca kepada anak sehingga timbul ketertarikan yang kuat untuk ‘membaca’. Anak bersemangat melihat buku atau sumber bacaan lain. Ini merupakan bekal yang sangat berharga bagi proses pembelajaran membaca pada anak.

Jim Trelease berpendapat bahwa pengalaman pramembaca bisa kita berikan sejak anak lahir. Cara anak belajar membaca sama seperti anak belajar berbicara. Kita mulai mengajak anak berbicara sejak ia lahir, begitu juga kegiatan membaca. Kita membiasakan anak membaca, mengenal huruf dan angka serta memahami isi bacaan sebagaimana kita mengajarinya membaca. Kita kenalkan anak dengan bacaan sejak ia kecil.

Menurut Paul C.Burns, dengan memberikan pengalaman pramembaca (prereading experience) maka dapat merangsang kesiapan membaca pada anak.

Kesiapan membaca (reading readiness) adalah tingkat kematangan seorang anak, yang memungkinkannya belajar membaca tanpa suatu akibat negatif. Kematangan yang dimaksud disini meliputi kematangan fisik, mental, linguistik (bahasa), sosial.

Berdasarkan teori, umumnya anak memiliki kesiapan membaca pada usia 6 tahun. (Ada yg berpendapat 6 tahun, 6 tahun 5 bulan atau 6 tahun 6 bulan). Akan tetapi untuk anak yg mendapatkan pengalaman pramembaca sejak usia dua tahun maka di usia TK kemungkinan anak sudah mencapai reading readiness (kesiapan membaca).

Larangan mengajarkan membaca secara formal sampai anak berusia tujuh tahun merupakan kebijakan yang sangat tepat, terutama ketika banyak guru dan orangtua belum memahami bagaimana memberikan pengalaman pramembaca kepada anak.

Berikut ini adalah cara memberikan pengalaman pramembaca :

  1. Tanamkan kebiasaan membaca buku sejak dini sehingga membentuk pola membaca (reading pattern) pada anak dan menumbuhkan minat membaca yg kuat pada anak.
  2. Bacakan buku dengan suara dikeraskan (reading aloud), bacakan buku dgn suara yg berubah-ubah sehingga berirama. Selain mendorong anak untuk menyukai membaca, dapat bermanfaat sebagai rangsangan komunikasi yg baik dan kemampuan & kapasitas otak anak berkembang.
  3. Berikan buku yg sesuai dengan usianya.
    Untuk bayi, pilihkan buku yg terbuat dari bahan kertas tebal seperti karton (board book), atau soft book. Sehingga tidak mudah sobek, kaya warna & tidak banyak tulisan. Idealnya satu buku memuat tidak lebih dari 300 kata.
  4. Ajak anak membaca buku bersama. Kondisikan anak agar merasa nyaman ketika sedang membaca buku.
  5. Pilihlah bacaan yang bergizi bagi jiwa, hati & pikiran anak. Buku yang memiliki struktur penceritaan yang kuat akan memberi pengaruh yang luar biasa besar pada kemampuan & cara berpikir anak.
  6. Menciptakan lingkungan yang akrab dengan buku. Orangtua perlu menunjukkan betapa membaca sangat penting & sekaligus menarik. Melalui pengalaman melihat orangtua membaca, anak akan mengembangkan kebiasaan & sikap yang baik terhadap kegiatan membaca, dan muncul motivasi intrinsik untuk membaca.

***

Catatan bunda : 1 bulan setelah ia mampu membaca, kemampuan menulisnya pun meningkat. Saya jadi teringat perkataan mba Nuni, ‘Jangan paksa anak untuk mempelajari sesuatu, when they are ready, you’ll be surprise with the speed.’

-Bunda Wafa-

Homeschooling is Parenting

Setelah melalui waktu kurang lebih 1 tahun sebagai keluarga Homeschooling (yah, kira-kira begitu), saya memiliki satu kesimpulan: Homeschooling is nothing but parenting.

Setidaknya , itu definisi saya.

Tidak ada yang membedakan keluarga Homeschooling dengan keluarga -schooling-, kecuali filosofi yang mendasar dalam hal parenting/pengasuhan.

Buat saya, Homeschooling adalah filosofi, bahwa pilihan pendidikan itu luas, bebas dan ditentukan secara mandiri. Sehingga walaupun pada akhirnya si anak (yang keluarganya menganut “Homeschooling”) masuk sekolah formal, kesadaran didik-asuh lah, yang menjadi poin utama dalam membesarkan anak.

Tanpa kesadaran yang kuat dalam hal pengasuhan anak, Homeschooling pun bukan apa-apa. Banyak keluarga yang saya temui, menjadikan “Homeschooling” sebagai tahap belajar pribadi, mendewasakan diri sebagai orangtua.

Karena dengan mengambil secara mandiri seluruh tanggung jawab pendidikan anak, maka orangtua harus terus belajar mengenai anak mereka. Mulai dari sebab-sebab mereka berperilaku, cara menangani anak, memahami minat bakat anak, memahami temperamen anak, juga membahas secara lebih bijak mengenai berbagai macam hal.

Dalam filosofi ini, seluruh bagian keluarga akan dipaksa belajar dan terus belajar, dan pada akhirnya terus berkembang.

Tentu teman-teman yang memilih schooling pun bisa melakukannya. Siapapun bisa. Jadi kesimpulannya?

Educating your kids, rely only on your parenting practice.

Choosing where they get the education is only one part of it.

(Dianda azani)

Mendidik Anak dalam Kandungan

Sebelum hamil, saya pernah mendapat nasihat dari nenek saya berdasarkan tulisan dari bapak R. Soenarto Mertowardojo mengenai pendidikan dalam kandungan. Beliau mengatakan mendidik anak dalam kandungan artinya mendidik diri sendiri. Singkatnya, ibu harus bisa mengendalikan angan-angan (pikiran) dan nafsu-nafsunya untuk hal-hal yang baik dan selalu dalam suasana dekat dengan Tuhan. Selain itu juga menjaga kondisi kejiwaannya sendiri dengan cara selalu mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

Maka, begitu saya tahu bahwa saya hamil, saya berusaha untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang menurut saya kurang bermanfaat. Contohnya, bila sebelum hamil saya suka sekali main game dari pagi sampai malam, begitu hamil saya tinggalkan game dan memulai hidup yang menurut saya lebih bermanfaat seperti bangun lebih pagi, mengerjakan segala pekerjaan rumah lebih cepat, lebih banyak membaca buku dan membantu orang lain. Saya merasa bahwa niat mengubah watak saat itulah yang menyebabkan saya nyaman, baik secara fisik maupun mental.

Mengapa mendidik anak dalam kandungan itu penting? Karena mendidik anak dalam kandungan jauh lebih mudah dibandingkan mendidik anak ketika sudah di luar kandungan. Bagaimana caranya? Caranya dengan mendidik diri ibu sendiri. Contohnya, buang pikiran-pikiran yang terurai-urai tak berujung (seperti melamun, khawatir dan rumit), lakukan pekerjaan-pekerjaan bermanfaat dan kurangi kesenangan yang tidak bermanfaat. Apa hasilnya? Kejiwaan ibu akan lebih kuat, fisik ibu sehat dan janin pun kuat.

Lalu apakah peran sang ayah penting? Tentu saja. Bila seorang ayah sebagai pendamping bisa membantu menciptakan suasana kejiwaan yang baik bagi sang ibu, maka ibu akan sangat terbantu. Dengan sikap yang lembut dan keinginan untuk meringankan beban ibu baik secara fisik maupun mental dapat membantu ibu merasa nyaman. Bila ibu merasa aman, nyaman dan tentram, maka ibu lebih siap menghadapi perubahan-perubahan fisik yang terjadi padanya. Selain ayah siapa lagi yang bisa berperan? Siapa pun yang ada di dekat ibu hamil bisa berperan, contohnya: keluarga dan teman. Kepedulian orang dekat terhadap ibu hamil sangat perlu demi menjaga keutuhan jiwa generasi selanjutnya.

Perlukah ibu berhati-hati dalam berpikir, berbicara dan berbuat saat hamil? Menurut saya itu adalah teladan yang sangat perlu. Mengapa? Bila memang tujuan kita memiliki anak yang mudah dididik nantinya, maka kita harus memberi teladan mulai sejak janin itu tumbuh berkembang di dalam tubuh ibu. Bila kita mengharapkan anak yang berpikiran jernih maka berusahalah selalu berpikir positif, bila kita mengharapkan anak yang santun berbicara maka santunlah dalam berbicara, bila kita mengharapkan anak yang tenang maka tenanglah dalam menghadapi hal-hal yang amat sangat berat sekalipun, bila mengharapkan anak yang rajin beribadah maka jangan pernah lewatkan satupun kesempatan ibadah termasuk memaafkan dan menolong orang lain. Tentu akan lebih mudah bagi anak kita untuk mencontoh apa yang kita teladankan padanya, daripada melakukan apa yang kita nasihatkan padanya.

Namun ada yang perlu juga kita ingat, bahwa ada hukum keadilan Tuhan yang berlaku. Tak jarang kita temukan seorang yang dianggap tidak baik di masyarakat justru memiliki anak yang berbudi luhur. Dan tak jarang pula kita temukan orangtua yang baik memiliki anak yang berbudi asor atau perilakunya tercemar. Karena itu, tugas kita hanyalah berusaha yang terbaik selama proses pendidikan anak dalam kandungan, agar kita dapat mempersiapkan kondisi kejiwaan anak sejak masih dalam bentuk embrio kecil.

Demikianlah suasana sakral yang perlu sekali ibu jaga saat hamil yaitu mendidik anak dalam kandungan dengan mendidik diri sendiri. Semoga kelak anak-anak generasi mendatang luhur budinya, luhur derajatnya serta mulia hidupnya.

Penulis:

Wanda Soepandji

Ibu dari seorang anak laki-laki (3 tahun 9 bulan)

Domisili di Kota Depok – Jawa Barat – Indonesia

12 November 2015

Edited by Amelia

Hari-Hari Tanpa Televisi

Sudah sejak lama, saya memimpikan hidup tanpa televisi. Buat saya yang pikirannya simpel (mungkin ke arah tradisional konservatif), hidup dengan cara “kembali ke awal” adalah pilihan terbaik untuk menanamkan fondasi hidup. Maksud saya “kembali ke awal” adalah hidup dengan cara “mundur” sampai ke jaman sebelum modernitas terlalu menjalar dan berkembang kuat. Hidup dengan lebih sedikit hiburan dari gawai dan lebih banyak hiburan dengan pengalaman fisik riil merupakan salah satu contohnya.

Kenapa saya menganggap ini ideal? Selain dari -tentunya- isi konten televisi yang masih jauh lebih banyak jeleknya ketimbang bagusnya, hal-hal lain efek dari kehadiran televisi itu sendiri saya nilai tidak baik. Televisi itu menyita waktu, perhatian dan energi. Setiap kali televisi menyala, banyak energi kita akan tersedot “hanya” karena ia ada. Suaranya yang bising dan tampilannya yang melelahkan mata, akhirnya juga mengganggu kemampuan atensi konsentrasi saat itu.

Bayangkan jika ini terjadi terus-menerus. Apakah anda pernah merasakan lebih lama berpikir saat tv menyala? Atau, salah mengambil keputusan? Atau salah mengingat sesuatu? Sering pusing tiba-tiba? Atau.. anak anda tiba-tiba adaaa saja ulahnya (yang kebetulan selalu terjadi saat televisi menyala). Yah, itulah yang saya rasakan. Selain itu, efek lain buat diri saya adalah: saya jadi kecanduan. Selalu mencari tontonan demi tontonan yang memuaskan hati (walaupun nihil manfaatnya).

Kebetulan saat ini saya sudah punya 2 putera, yang besar usia 4 tahun, dan si.kecil 1,5 tahun. Buat saya, efek televisi terlihat sekali pada diri si abang. Untuk catatan, waktu menonton (saya biasakan dari gawai) saya berikan padanya hanya 1 jam/hari, 30 menit pagi setelah mandi makan pagi dan 30 menit malam setelah mandi makan sore. Sisanya televisi selalu mati kecuali saat saya atau anggota keluarga lain sedang menonton.

Buat si abang, efeknya terlihat (banget) saat ia mendapat kesempatan menonton lebih banyak dari jatah yang seharusnya: ia jadi.penuntut, pemarah, perebut barang, dan perilaku agresif lain muncul bertubi-tubi seperti memukul, berteriak, dan lain-lain. Suatu hari bahkan ia mengancam akan melempar (wajah saya) dengan mainan balok kayu kalau tidak memberinya tontonan. Wah, hati keibuan saya terguncang saat itu (curcol dikit). Saya marah sekali. Bayangkan, balok kayu ukuran 15×5 cm dengan tebal 5cm mau diamprok ke muka saya! Langsung saya stop tontonan buatnya selama sebulan penuh. Hehehe..

Apakah Asyraf nakal? Tidak tidak. Dia tidak nakal, untuk anak seusia dia, tidak ada kata “nakal” dalam kamus saya. Sebagai anak laki-laki usia 4 tahun yang memang belum bisa mengelola, mengatur dan menguasai diri (fisik dan emosional), perilaku itu wajar saja. Apalagi efek stimulasi visualnya langsung menggugah. Makanya, penting bagi anak-anak di usia ini untuk diberi stimulasi lingkungan yang sesuai dan “dikondisikan”.

O iya, perlu dicatat.. definisi “tontonan” yang saya kasih ke dia adalah semua jenis kartun. Dan kartun yang saya perbolehlan untuk dia tonton adalah yang mendidik, seperti upin dan ipin, dodo syamil, kisah zaman dahulu, dst. Saya tidak memberi tontonan bahasa inggris dan kisah-kisah superhero kecuali sebagai hiburan, sekali-sekaliii saja.

Apakah saya anti tayangan visual? Yah, sebetulnya tidak. Tapi saya selalu mengecek sejauh mana efeknya pada diri saya dan anak-anak. Ternyata efeknya besar. Buat si abang, efek itu lebih kuat pada sisi “ketagihan” nya, dan sedikit perilaku meniru. Jadi mungkin ada baiknya untuk menyetop dulu kegiatan tonton-menonton itu, dan meregulasinya dari awal: sedikit demi sedikit, konten demi konten. Sambil memantau sejauh mana kesiapan dan kemampuan pengendalian diri anak-anak.

Alhamdulillah saat ini kami sudah hidup tanpa televisi. (Yeayy!!) Dan no helper, note keras. Hehe. Anak-anak terbiasa melihat ibu dan ayahnya bekerja, dan menjadi terbiasa bekerja. Komunikasi juga lancar tanpa efek bising televisi. Alhamdulillah juga, banyak peningkatan yg saya lihat. Si abang jadi lebih ringan tangan membantu, lebih mandiri, lebih teratur, lebih menurut, perilaku marah-marah atau tantrum turuuunn *lega.

Waktu berkualitas keluarga juga meningkat, seperti memasak bersama, merapikan ruangan bersama, dan yang paling saya syukuri: waktu berkualitas dengan ayah sepulang kerja makin baik.. mulai dari bermain logico, bercerita, menghafal surat-surat.. (serius loh efek ayah keren banget). Untuk kegiatan bebenah, dia paling suka menyapu dan mengepel, dan mulai suka mengelap. Dan makin kesini, keterampilan ini makin membaik, juga “standar kesempurnaan kerja” meningkat. Dia gak akan berhenti mengepel sebelum bersih cling *ibunyagirang. Hehe..

Yah itulah sekilas tentang kami dan televisi. Oiya, sekedar pesan-pesan saja. Sering saya jumpai saudara atau teman yang menatap iba (kasiaan) pada anak saya karena saya larang nonton tv. Please don’t. Mereka sama bahagianya dengan anak-anak lainnya. Nggak ada hal berharga yang hilang dari masa kecil mereka hanya karena mereka “dibatasi” dalam interaksi dengan televisi. Yg penting kita selalu sediakan kegiatan bermanfaat yang sesuai usianya, agar dorongan mereka untuk belajar tersalurkan, pada hal-hal riil. So far saya kasih dia kegiatan berenang, bola, mengaji, playdates dengan teman-teman dan preschool minat. 🙂

Baiklah segitu saja share saya hari ini, semoga bermanfaat bagi saya dan kawan-kawan semua. Keep the good parenting 🙂

Dianda Azani

Yuk Piknik!

Sebelumnya saya pernah menuliskan tulisan terkait piknik di notes facebook saya dengan judul “pemberdayaan masyarakat dan piknik”. Kurangnya piknik ternyata dapat mengakibatkan orang menjadi cepat puas diri, tidak mampu menemukan masalah dalam diri dan kurangnya pengetahuan akibat wawasan yang rendah. Di situ saya menceritakan kasus petani salah satu desa di Purworejo, yang selama ini tidak mau berubah, sulit diberi pemahaman, bahkan tidak tahu desanya termasuk desa termiskin, akibat mereka umumnya tidak pernah pergi keluar dari desanya.

Tulisan kali ini, saya ingin menceritakan tentang serba serbi piknik yang telah keluarga kami lewati.

Pernah beberapa kali ada yang bertanya atau berkomentar “Jalan-jalan terus? Boros amat” “Mending uangnya ditabung.” atau berbagai komentar yang lain. Jadi begini ya, bagi kami, piknik itu investasi. Pernah dengar istilah “kurang piknik”? Sudah tahu kan bahayanya kurang piknik? Piknik itu kebutuhan. Bukan sekedar penghilang stres, tapi sarana belajar yang asyik. Ditambah lagi di usia SD, anak-anak butuh mulai mencari minat dan bakatnya, inilah waktu yang tepat bagi kami untuk membuka wawasan dan menggali minat anak.

Tapi kan mahal?
Eits… Tunggu dulu, mahal itu relatif. Kita bisa kok tetap piknik hemat, penuh manfaat. Piknik ga harus mahal, bisa disesuaikan dengan kondisi kita sendiri. Piknik menjadi mahal kalau kita tidak bisa mengukur diri.

Berikut beberapa aktifitas piknik hemat yang telah kami lakukan diantaranya :

  1. Kebun binatang Ragunan. Satu orang tiketnya ga sampai 5 rb kok. Mau hemat lagi, bawa rantangan ke sana, bisa makan bareng anak-anak, perginya naik pick up rame-rame hehehe… Ga sampai 5rb, sudah bisa belajar tentang berbagai macam hewan lho.
  2. Toko buku bekas. Di dekat rumah kami, Bintaro Trade Center, ada lapak toko buku bekas. Biasanya, minimal, sebulan sekali kami main ke sana melihat buku-buku. Ada buku anak yang baru juga, dengan harga bersahabat.
  3. Ke museum. Banyak pilihan museum yang layak dikunjungi. Satu favorit saya adalah museum Bank Indonesia. Itu museum paling keren yang pernah saya temui. Kemudian ke museum Nasional, Museum Satria mandala, Museum Layang-Layang (berbayar, tapi masih terjangkau)
  4. Naik KRL. Ini anak-anak pasti suka.
  5. Ke tempat kerja Ayah. Ayah Hegel bekerja di bidang konstruksi, ikut ayah bisa belajar tentang bagaimana proses membangun bangunan. Mengenal apa saja alat-alat pertukangan.

Masih banyak lagi ide piknik hemat kok asal kita mau mencari. Selain itu, ada juga piknik-piknik yang memang harus kita persiapkan sebelumnya karena keterbatasan biaya, waktu, atau tenaga.

Semua piknik itu baik? Tergantung niatnya juga sih. Kalau diniatkan untuk menambah wawasan, tentunya ada hal-hal yang harus kita perhatikan. Agar tujuan tercapai, persiapan tentu dibutuhkan. Kalau perlu, kita list detil tujuan yang kita harapkan, agar cocok dengan kegiatan piknik yang akan kita pilih.

Ya sudah, jangan ragu lagi. Yuk piknik!

Chairina Bunda Hegel