Festival Dongeng Internasional Indonesia 2015

Tanggal 31 Oktober dan 1 November 2015 sudah saya tandai di kalender keluarga sebulan sebelumnya, karena saya sangat menunggu-nunggu acara di hari itu: festival dongeng tahunan!!! Yeaayy!! Senangnya.. tidak terasa festival ini diadakan lagi, teringat tahun sebelumnya kali pertama saya dan keluarga hadir di Museum Gajah untuk menonton berbagai pendongeng bergantian maju ke panggung untuk menceritakan berbagai macam cerita, dengan berbagai cara. Ada yang mendongeng dengan bantuan gambar; dengan bernyanyi; dengan boneka; dan berbagai instrumen lain.

Waktu itu, anak sulung saya, Asyraf, masih 3 tahun usianya. Sedangkan si bungsu, Kemal, belum genap setengah tahun. Dengan usia segitu, anak-anak saya belum bisa betul2 mendengarkan isi cerita, apalagi berpartisipasi dengan maju ke depan atau menjawab pertanyaan. Tapi, mereka juga senang sekali karena suasana saat dongeng begitu seru. Asyraf bisa mempelajari mimik, perubahan emosi, juga beberapa pokok cerita. Sedangkan Kemal? Dia belajar terbiasa dengam suasana riuh ramai dan berinteraksi dengan banyak orang. Yang paling senang? Ibu dan bapaknya! Hahaha.. dongeng sangat menyegarkan buat kami. 🙂

Baiklah, kembali ke 31 oktober 2015. Rupanya judul acara tahun ini adalah “Festival Dongeng Internasional“.. woow. Embel-embel Internasional muncul karena dongeng tidak hanya ditampilkan oleh pendongeng dari negeri kita saja. Tapi juga dari mancanegara, yaitu Malaysia; Singapura dan India.

Salah satu hal yang spesial lagi, festival dongeng kali ini adalah rangkaian! Jadi, setelah resmi dibuka pada 5 September 2015 di perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki. Rangkaian berlanjut dengan adanya acara dongeng di berbagai lokasi di ibukota, seperti di toko buku Gramedia Matraman; acara dongeng di berbagai mall; hingga dongeng di Kebun Raya Bogor satu minggu setelah acara puncak di Museum Gajah.

Baiklah. Kembali ke 31 oktober. Eh…. salah, ke 1 November. Hehe.. rupanya saya malah ada kerjaan di 31 Oktober, jadi bisa datangnya 1 November (diulang-ulang gini.. wkwk). Saya sekeluarga sampai di lokasi pukul 10.30. Ternyata, acara baru dibuka. Kak Aio (Ariyo Zidni) sedang membuka acara dengan lebih dulu memberi penghargaan pada (almarhum) pak Raden, sebagai bapak dongeng Indonesia. Memang, sekitar 2 hari sebelumnya pak Raden meninggal dunia, karena sakit yang telah lama diderita. Pengunjung bersama dengan panitia dan pengisi acara membacakan doa bersama, serta mengenang sejenak kisah dan pribadi pak Raden yang begitu membekas di hati. Suasana haru, hampir seluruh orangtau/dewasa meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Masa kecil kami-kami ini ya yang mengisi demgan berbagai kisah positif adalah pak Raden.. #ah jadi sedih.

Lalu setelah mendoakan pak Raden, acara pun dimulai dengan sesi perkusi dari aman percussion yang berlangsung sekitar 20 menit. Wow bikin semangat loh! Ibunya asyraf sampai goyang di tempat mengikuti musik. Tapi rupanya nggak semua anak.menikmati, karena asyraf malah “keberisikan”, begitu katanya. Hehe.. setelah itu, acara dongeng beruntun pun dimulai.

Selain dongeng di panggung utama, dongeng mancanegara dihadirkan di ruang-ruang khusus. Peserta yang ingin mengikuti dapat mendaftar lebih dulu. Ada dongeng dari negeri India, Singapura dan Malaysia yang masing-masing didampingi oleh penerjemah. Selain dongeng, ada pula penampilan grup band yang menyanyikan lagu-lagu anak.

Penampilan dongeng yang berkesan bagi saya adalah kakak Rona Mentari yang bercerita tentang pohon durian yang tidak lagi berbuah karena sampah, dan penampilan kelompok pendongeng yang baru saja mengikuti pelatihan/workshop nya di hari sebelumnya. Sayangnya kami tidak sempat melihat dongeng paman Gery dan kak Aio di akhir acara. Duo bocah sudah teler!! Haha..

Kesimpulannya? Kami senang sekali dengan hadirnya festival dongeng Indonesia di tengah-tengah kita. Dongeng jadi levih digalakkan. Dan rupanya, rangkaian festival tidak berhenti di 1 November itu, karena minggu berikutnya masih ada acara dongeng di Kebun Raya Bogor. Menyenangkan sekali! 🙂

-dianda.a-

Menjelajahi Tiga Air Terjun

Traveling adalah salah satu kegiatan yang paling kami suka, berada di alam, menikmati keindahannya serta mengagumi kebesaran Sang Maha Pencipta adalah sebuah bentuk terapi jiwa.

Dalam satu pekan kami menjelajah di tiga air terjun, yang pertama adalah air terjun Sikulikkap yang berada di wilayah Brastagi, air terjun jambu ara dan air terjun turunan yang berada di daerah Tanah Jawa, Simalungun. Kali ini penjelajahan ke tiga air terjun itu tanpa Ayah, maklum beliau sedang melakukan tugas negara, haha.., saya meyakini, ayah cemburu abis deh sama penjelajahan kami kali ini, peran ayah digantikan oleh tulang, adik bungsuku.

Berjalan menyusuri jalan setapak menuju air terjun Sikulikkap, jalanan becek, basah dan dingin, waktu itu tampaknya hujan di gunung, air terjun kelihatan besar sekali, hempasannya menderu-deru, percikan-percikan air tampak seperti mebentuk awan, kami yang berada jauh dari air terjunpun basah kuyup, basah dan dingin adalah sebuah kondisi yang membuat tulang terasa ngilu.

Berbeda dengan perjalanan menuju air terjun Jambuara, butuh satu jam dengan menggunakan motor dari kampung saya, ketika sampai, kau akan disuguhi oleh air terjun tinggi, menghujam deras menuju perut bumi, bisa kau bayangkan jalan dengan dua anak kecil, dan hanya cukup untuk satu orang di jalan, sebelah kanan dan kiri terpampang jelas lembah curam, jalanan terjal dan menukik, belum lagi kondisi tanah yang rapuh, terasa hentakan kaki meruntuhkan butiran-butiran pasir di tepi kiri kanan lembah.

Sebagai ibu, nyali terasa gentar, salah injak, kau akan jatuh ke hutan lembah, belum separuh jalan kau akan ditantang oleh jalan setapak yang lebih licin, sebelah kanan ada tebing tinggi berbatu penuh lumut, sebelah kiri ada sungai penuh bebatuan besar, saya hanya mampu menuntun Raffa tanpa memeganginya, bayangkan desir nadiku..!saya menghadap ke samping, memegang tebing, sambil berjalan selangkah demi selangkah, ahh….perjuangan panjang..
namun, tak sia-sia perjalanan yang mengentarkan itu, air terjun jambu ara dengan pesona lengkungannya, hempasan air yang mengebu-gebu, merelaksasi semua bagian otakku, jantung yang sedari tadi berdetak kencang, perlahan mulai stabil, ketika melihat air terjun yang tingginya lebih dari tujuh puluh meter itu, cantik, bergemuruh dan sejuk..

Beberapa kali terlihat ikan nila, dan ikan mujair sedang berkejar-kejaran, serangga capung aneka spesies silih berganti hinggap di rerumputan diantara bebatuan besar dan licin, dan larvanyapun kami temukan. kau tau apa yang paling menyenangkn di alam? Yap! Eksplorasi! Alam mengajarkan kami banyak hal, tentang kesiagaan, kehati-hatian dan kerendahan hati!

Begitu menginjakkan kaki di bebatuan sekitar air terjun, dua bocah itu berlari-lari kecil menuju gua mungil yang hanya bisa di isi oleh sepuluh orang, mereka tampak bersenang-senang dengan berbagai kegiatan, mengangkut pasir yang ada di tepi sungai menuju gua, berteriak memanggil-mangil hanya sekedar mempelajari efek pantulan suara seperti echo, yang dipantulkan ruangan kecil berbatu, dan sesekali mereka berenang-renang di tepi sungai yang dangkal, ahh.. dua bocah kecil itu selalu menyenangkan ketika berpetualang, sementara mereka sibuk bermain, dari kejauhan saya mengabadikan kegiatan eksplorasi mereka, dan nge-take pict beberapa view yang menarik. Di beberapa foto tertangkap sebuah fenomena, fenomena aneh, saat kau di foto, hasilnya seperti sedang berkaca dengan lensa cembung!!

Puas bereksplorasi di air terjun Jambuara, kami menuju air terjun Turunan, Tonduhan, jalan relatif aman bagi anak-anak, berbeda dengan air terjun jambu ara, di kolam air terjun turunan, anak-anak bebas mandi, karna dangkal, di beberapa foto airnya tampak coklat, namun sebenarnya warna coklat itu berasal dari pantulan pasir yang berada di dasar kolam, beberapa area memang lebih dalam, namun air terjun ini relatif lebih ramah bagi kedua bocah itu.
Yang paling menyenangkan dalam setiap perjalanan adalah, bagaimana dua bocah itu memaknai sebuah tantangan, menjaga diri dan survive! Proud of you both!
(Rahmaida “bua” Simbolon)