Kulwap : Tanya Jawab Homeschooling bersama Moi Kusman

homeschooling-di-indonesia
picture image from homeschooling Indonesia

 

Kamis, 8 September 2016
Pukul 19.30-21.00 WIB

Tema: Tanya Jawab Homeschooling bersama Ibu Moi Kusman

Narasumber  : Ibu Moi Kusman
Moderator      : Hapsari Dania
Notulis             : Wanda Soepandji

moi-kusman
picture image from moi kusman blogspot

 

**
PROFIL Ibu Moi Kusman

Nama lengkap Bu Moi Kusman adalah Wimurti Kusman. Beliau adalah pengajar bahasa Inggris, English for Adults. Beliau senang menulis, membaca, berenang, fitnes, masak, beres-beres, mengajar, mengambil gambar, mendengar lagu, menonton, travelling, memasak, makan enak dan belajar.

Tertarik pada pendidikan, kesehatan, alam, filsafat, sejarah, lingkungan hidup, komunikasi, arsitektur, sosial budaya, politik, teknologi, dan fesyen.

Berdomisili di Cilegon. Ibu dari 2 anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak sulung laki-laki bernama Fari, kedua perempuan bernama Amira, dan yang bungsu laki-laki bernama Fattah.

2 Anak tertua lulus paket C & diterima -lalu lulus- di UI, dan kini keduanya sudah bekerja. Anak ke 2 mendapat beasiswa dari LPDP untuk lanjut S2 di UCL (University College London) di Inggris & berangkat tgl 20 September ini.

Bu Moi tidak sengaja terjun ke dunia homeschooling, saat anak ke 2 (sekarang 22 tahun) minta berhenti sekolah di saat lulus SD, diikuti oleh anak pertama (sekarang 23 tahun) yang juga meminta homeschooling di saat duduk di kelas 1 SMA, dan akhirnya anak ke 3 (12 tahun) juga tidak pernah bersekolah sampai sekarang.

Bu Moi cukup aktif dalam mencatat perjalanan homeschooling putra-putrinya dalam blog, bisa ditengok di moi-kusman.blogspot.co.id. Beliau juga aktif dalam menjadi pembicara berbagai seminar homeschooling bersama Klub Oase, sebagai praktisi homeschooling.

***

*RUANG TANYA-JAWAB*

PERTANYAAN 1

1)Bagaimana proses deschooling anak pertama dan keduanya?

2) Waktu pendaftaran ke UI (Universitas Indonesia), apakah dipersulit oleh universitasnya? Atau ada syarat khusus?

3) Untuk anak ke 3, pakai metode tertentu utk HS(Homeschooling)-nya kah?(charlotte mason, unschooling, atau lainnya?)

JAWABAN 1
1) Karena masih meraba-raba, jadinya menurut saya tidak mudah. Akhirnya kami seperti membiarkan mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan. Anak-anak lebih banyak nonton film di televisi kabel selain kegiatan lain yang sudah ada sebelum mereka HS, seperti kegiatan olahraga, musik, kursus bahasa Inggris. Tapi ternyata dari kegiatan itulah mereka jadi tahu apa yang mereka tahu tanpa direcoki oleh orang luar seperti guru bahkan orang tua itu sendiri.

2)  Tidak ada kesulitan. Ijazah paket C diterima seperti ijazah lainnya.

3) Tidak ada metode khusus. Saya tidak mau menyebutkan unschooling juga, karena tidak tahu memang unschooling itu apa.

PERTANYAAN 2
Selama kurang lebih 10 tahun menyelami dunia homeschooling di Indonesia, menurut ibu apakah ada sisi negatif dari homeschooling? Apakah itu? Dan bagaimana menghadapinya?

JAWABAN 2
Sisi negatifnya adalah:
1. Sering berubahnya peraturan tentang pendidikan di Indonesia sehingga tidak   ada pijakan yang jelas bagi keluarga.

2. Keluarga homeschooling belum dianggap ada oleh pemerintah.

3. Buat kami sendiri, keberadaan PKBM belum cukup terang benderang peraturannya.

Bagaimana menghadapinya?
1. Berjejaring agar selalu dapat informasi.

2. Pede aja lagi. Percaya pada keputusan pribadi.

3. Hampir sama dengan no. 1

PERTANYAAN 3
Mungkinkah HS bila ibu dan ayahnya bekerja?

JAWABAN 3
Bekerja di sini apakah ke dua ayah ibu bekerja penuh waktu? Saya juga bekerja walau pun tidak penuh waktu. Keadaan di Cilegon yang tidak semacet Jakarta mungkin akan berbeda dengan kalau kami tinggal di Jakarta. Walau pun menurut kami tidak ada yang tidak mungkin, barangkali bisa diurutkan prioritas pekerjaan ayah dan ibu itu seperti apa, lalu bekerja sama dengan pengasuh tentang bagaimana pengaturannya. Kalau boleh menambahkan, saat Fattah tidak ada yang menemani & saya harus bekerja, maka Fattah saya bawa. Demikian.

PERTANYAAN 4
Bagaimana proses administratif pengurusan ijazah paket untuk memasuki Universitas Indonesia? Apakah ada kendala atau diskriminasi ketika proses screening administratif?

JAWABAN 4
Sama sekali tidak. Amira masuk UI tahun 2010 memakai ijazah paket C. Fari di tahun yang sama diterima di IKJ juga dengan ijazah paket C. Tahun 2011 Fari diterima di UI, juga tidak ada kendala atau diskriminasi administratif.

Kalau di UI tidak ada kendala, maka kendala yang ada yang kami rasakan adalah lamanya ijazah asli paket C itu didapat. Itu yang jadi kendala. UI sendiri menerima ijazah sementara, sampai saat akhirnya mereka lulus & UI minta ijazah aslinya saat anak-anak akan tamat. Entah mengapa, perlu lebih dari 6 bulan buat kami untuk menerima ijazah asli. Itu salah satu tantangan homeschooling yang mungkin bisa disuarakan pada pemerintah. Ijazah kejar paket itu keluarnya selalu lama.

PERTANYAAN 5
1) Fattah mulai kursus/kegiatan rutinnya sejak usia berapa? Apa tanda-tanda kesiapan anak sudah bisa diberi aktifitas rutin?

2) Hal apakah yg tidak memungkinkan keluarga/anak untuk tidak bisa ber-HS?

JAWABAN 5
1) Sejak umur 5-6 tahun ikut klub renang di mana ke dua kakak-kakaknya ikut. Lalu musik sejak 10 tahun. Kursus bahasa Inggris sejak umur 8 tahun. Ikut Klub Oase sejak 2011. Tanda-tandanya apakah sudah siap atau belum? Ketika diajak dan dia mau. Agak OOT, baru pada Fattah ini kami tidak mau memaksakan kehendak kami, tapi kami tanya. Contohnya: Amira belajar musik di usia 4-5 tahun, tanpa saya tanya, saya daftarkan saja ke kursus musik. Untungnya anaknya mau. Di usia yang sama, saya tanya apakah Fattah mau belajar musik. Fattah saat itu jawab tidak mau. Kami turuti. Jadi saat akhirnya Fattah kami masukkan ke kursus musik, Fattah memang sudah setuju.

2) Menurut saya sih tidak ada. Bahkan orang tua tunggal sekali pun kalau ada kemauan pasti ada jalan.

PERTANYAAN 6
Bagaimana urutan kurikulum HS, misal, usia ini materinya ini.  Dan bagaimana pemasangan target dan goalnya?

JAWABAN 6
Pertanyaan yang sulit. Mungkin bisa ke acuan yang pernah saya baca di rumahinspirasi.com.

Buat kami sih panduannya mulai dari kegiatan rumah. Hal-hal kecil seperti membereskan mainan setelah dimainkan, mandi yang bersih, membantu ayah-ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, mengerjakan tugas yang diberikan ayah-ibu (ke warung, memberikan sesuatu pada orang lain/tetangga, dll). Targetnya selalu diperbaiki setiap kali karena selalu dievaluasi ayah itu. Misalnya: apakah piring sudah dicuci dengan bersih, apakah barang-barang sudah diletakkan kembali ke tempatnya, apakah saat memberikan sesuatu pada tetangga dengan terlebih dahulu menyapa, berkata sopan, & kurang lebih begitu. Buat kami kalau yang kecil-kecil sudah dilaksanakan dengan baik, yang lain akan tidak ada masalah.

Matematika, IPA, IPS menurut kami sih gak sepenting tata krama, sopan santun, peduli pada sesama. Hal-hal lainnya akan dengan mudah menyusul. Maaf kalau kurang ilmiah ya.

PERTANYAAN 7
Apakah pada homeschooling itu anak setiap hari harus dikasih aktivitas? Kemudian harus mengacu pada kurikulum atau tidak?

JAWABAN 7
Menurut kami sebaiknya ada, dan ada target walau pun dibuat tidak usah rigid. Mengacu ke kurikulum atau tidak? Terus terang, di keluarga kami yang betul-betul mulai dari nol itu Fattah. Kakak-kakak bisa menentukan sendiri mau belajar apa karena kurang lebih sudah tahu apa yang mereka mau. Fattah tidak mengacu pada kurikulum apa pun, apa lagi kami, sementara ini tidak berniat ikut kejar paket A, B, C. Jadi saat ini Fattah belajar matematika, sains ringan lewat khanacademy.org, belajar bahasa Jerman di duolingo.com. Fattah masih latihan renang & fisik, belajar piano, kegiatan Klub Oase, kursus bahasa Inggris di LIA.

PERTANYAAN 8
Kalau kegiatan sehari-hari adalah nonton film dan pendidikan moral, lalu bagaimana bisa lulus paket C?

JAWABAN 8
Hahaha, gak kebayang ya? Maksud saya, gara-gara nonton itu anak-anak jadi tahu apa yang mereka mau. Suatu hari Amira bilang pada kami:”Bu, aku mau ujian paket B deh.” Lalu kami cari tahu bagaimana bisa ikut ujian.

Begitu pula saat menjelang paket C, tiba-tiba anak-anak datang pada saya & bilang: “Bu, aku mau kuliah, jadi mau ujian paket C. Biar latihan soal, masuk bimbel ya, Bu.”

PERTANYAAN 9
Bu Moi, Seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk mengajar? Kira-kira berapa jam/minggu? Kemudian, apakah selain mengajar ibu juga melakukan pekerjaan lain di luar rumah? Misalnya seperti mendapatkan jabatan tertentu dari instansi ibu bekerja?

Maksud saya pekerjaan selain mengajar. Seperti jabatan tertentu di tempat ibu mengajar yg mengharuskan ibu datang bekerja setiap hari. Saya ingin mendapat gambaran bagaimana ibu mengatur waktu.

JAWABAN 9
Tidak banyak. Sehari paling lama 4 jam. Tapi mengajar itu yang lama persiapannya walau pun saya sudah lama mengajar. Apakah ada pekerjaan lain? Mengerjakan pekerjaan rumah seperti membereskan rumah, memasak dll maksudnya?  Itu menurut saya pekerjaan juga & buat saya cukup menyita waktu & tenaga.

Saya terus terang sejak punya anak tidak mau berkarir apa-apa. Saya bahagia jadi ibu & jadi ibu rumah tangga. Saya juga suka mengajar. Saya tidak mau mengikat diri pada sesuatu yang mengharuskan saya ke luar rumah setiap hari. Saya mulai mengajar di siang/sore hari di mana saat itu saya biasanya bisa mendrop anak-anak di kegiatan renang/musik/kursus mereka. Kalau saya tidak dapat menjemput, maka saya koordinasi dengan suami.

Saya mengajar terus terang tergantung mood dan/atau kebutuhan saya. Saat ini saya selesai mengajar saat maghrib, tapi ada kalanya sampai jam 21 (walau pun jarang sekali). Suami rutin pulang jam 16 dari kantor, sehingga bisa aplusan dengan saya dalam urusan anak-anak.

PERTANYAAN 10
Di jawaban kedua, ibu menyebutkan PKBM. PKBM itu apa bu?

JAWABAN 10
https://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Kegiatan_Belajar_Masyarakat
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Biasanya daftar ujian paket A, B, atau C di sana.

PERTANYAAN 11
1) Waktu Fattah, pada usia berapa Fattah mulai belajar baca, hitung, tulis?
Bagaimana cara belajarnya?

2). Kalau boleh tahu, channel apa saja yang boleh ditonton di TV kabel rumah?

JAWABAN 11
1) Fattah bisa membaca & berhitung di usia sekitar 6 tahun. Caranya dengan berinteraksi membantu saya dan ayahnya seperti cerita di atas. Jadi kalau masak/buat kue, ada perhitungan, ada membaca resep. Saat isi bensin, saat belanja ke pasar, & banyak lainnya. Oh ya interaksi dengan ortu itu sangat penting sekali dan itu sarana pembelajaran yang super efektif. Amira bisa baca di usia 4 tahun. Fari 5 tahun. Sejak dulu memang saya suka jadi ibu rumah tangga & homeschooling itu cocok buat saya. *maaf OOT.

It doesn’t matter how old you are able to read, yang penting anak punya kebiasaan membaca. Itu lebih penting.

2. Buat kami sih semua boleh asal tidak berlebihan.

PERTANYAAN 12
Apa suka duka bu Moi dalam menjalani HS? Lalu jika ibu mendapat pertanyaan tentang sosialisasi anak homeschooling, apa jawaban ibu? Terima kasih.

JAWABAN 12
– Sukanya banyak karena selalu dekat & berinteraksi dengan anak. Umur orang tua bersama anak itu singkat. Saat anak sudah kuliah, saat itulah nyaris selesai tugas ortu. Jadi terus-terusan bersama anak itu priceless.
– Dukanya: ketidakpastian di Indonesia. Walau pun dengan adanya internet, perlahan dan pasti, kita menuju ke arah kebaikan.
– Pertanyaan tentang sosialisasi: Manusia itu ternyata memang mahluk sosial. Dengan HS anak justru tidak dikotak-kotakan dalam batas-batas kelas. Silakan main ke Klub Oase, di mana anak-anak sangat mudah bergaul & cair sekali. Yang menjadi kendala justru peer pressure di sekolah/pergaulan. Saat itu hilang, maka manusia akan menjadi dirinya yang fitrahnya memang baik.

PERTANYAAN 13
Ada seorang anak HS ingin menjadi pilot pesawat tempur tetapi menurut seorang TNI AU, seorang anak harus masuk SMA kelas IPA baru bisa ikut ujian masuk Angkatan Udara, jadi tidak bisa hanya dengan ijazah paket C.Selama ini apakah Bu Moi pernah dengar ada anak kesulitan masuk pendidikan lebih tinggi dalam bidang militer, kedokteran, teknik dll karena latar belakang HS?

JAWABAN 13
Kalau kedokteran, teknik, IPS, apa lagi seni, saya sangat yakin tidak ada kesulitan berarti. Hanya saja beberapa hari lalu pernah baca di rubrik Surat Pembaca, masuk Kepolisian tidak boleh ijazah paket C. Apakah mungkin di kemiliteran juga tidak boleh? Saya tidak tahu.Saya kecewa saat ijazah paket C dianak-tirikan, padahal ijazah itu resmi dari pemerintah. Tentang pilot, kalau sekolah pilot swasta saya yakin tidak ada kendala. Kalau Curug saya tidak tahu.Agak OOT (Out of Topic), saat menjadi pramugari di Cathay Pacific Hong Kong, pilot-pilot asal Australia yang bekerja di sana itu dilatih oleh pilot-pilot Angkatan Udara kita di Madiun. Jadi human resources kita sebetulnya sangat mumpuni. Sistem yang harus banyak diperbaiki.

PENUTUP

Pesan Ibu Moi Kusman :
Tetap yakin pada pilihan sambil selalu berjejaring agar ter-update dengan info terbaru. Selalu percaya diri dan berprasangka baik pada Sang Pencipta yang telah menitipkan anak-anak pada kita. Anak-anak itu semua baik, semua pintar, semua “sempurna” karena mereka hadiah-Nya pada kita.

Demikian. Terima kasih.

Review Film : The Beginning of Life

The Beginning of Life (2016)


Review Film The Beginning of Life
Oleh : Nurbaiti Pohan

*
Kelahiran bayi selalu merupakan keajaiban. Dimulainya satu kehidupan baru. Walaupun tidak menafikan ada saja kehadiran bayi-bayi yang tidak diharapkan, namun sesungguhnya kehadiran mereka membawa kebahagiaan.

Banyak yang beranggapan bahwa bayi bahkan sampai anak-anak tidak bisa memperhatikan, padahal sebenarnya adalah mereka tidak bisa tidak memperhatikan sesuatu. Mereka merupakan pembelajar hebat. Dengan kondisi fisik yang masih sangat perlu untuk berkembang, mereka melihat, mendengar, menggapai-gapai, menendang-nendang, berceloteh sebisanya sebagai upaya mereka menyerap informasi dari lingkungan untuk diproses di otak dan menterjemahkan kepada mereka bagaimana lingkungan itu.

Sebagai contoh, bayi yang menjatuhkan sendok berulang kali padahal ibunya melarangnya, hal ini bukan karena mereka tidak memperhatikan atau mereka hanya sekedar pembuat onar, tapi kejadian itu mereka tangkap sebagai “informasi mengenai ibu”, dan mereka mengulang-ulang hal tersebut untuk menguatkan informasi tadi.

Kehadiran orangtua/pengasuh utama sangat penting dalam hidup bayi hingga anak-anak sebagai pendukung utama dalam proses belajar mereka. Ibu memberikan kenyamanan dan keamanan, mengenalkan mereka akan diri mereka sendiri. Sementara ayah membuat mereka berani menjelajah dunia luar, berani mengambil resiko. Pengasuhan anak pun harus dipahami sebagai tanggung jawab kedua orang tua, bukan hanya oleh ibu dengan dukungan ayah. Ayah bukanlah orang kedua dalam pengasuhan.

Quotes yang sangat berkesan yang disampaikan oleh salah satu ibu di film itu adalah “Saya tidak dipersiapkan menghadapi perasaan sedalam ini. Saya bahkan lebih menyayanginya ketimbang kedua orang tua saya”, ucapnya sambil menangis.

Anak-anak itu juga selalu menjaga image positif mengenai orang tua mereka. Seorang anak mengatakan bahwa monster menelan ibunya dan mengambil suaranya ibunya pada saat marah, ia dimarahi monster yang berwujud ibunya.
Sementara cerita seorang ayah adalah:
Ayah : Aku ayah yang buruk
Anak : Tidak
Ayah : Ya, aku ayah yang buruk karena aku meneriakimu.
Anak : Kau hanya meneriakiku saat aku nakal.
Ayah : Ya memang, tapi seharusnya itu tidak menjadi alasan untuk meneriakimu.
Anak : Kau tidak menjadi ayah yang buruk hanya karena meneriakiku
Dari cerita tersebut bisa diambil kesan bahwa anak-anak tetap mempercayai kedua orangtuanya walaupun saat-saat buruk kerap datang.

Terkadang, seiring dengan semakin paham ia tentang dirinya, anak-anak membangun otonomi dengan pemberontakan-pemberontakan pada lingkungannya, baik orang tua maupun saudara kandung. Pemberontakan-pemberontakan ini sekaligus melatih pola hubungan kompetitif, disamping hubungan kolaboratif yang juga dikembangkan. Kehadiran kakek dan nenek atau lingkungan (dekat) yang lebih luas lagi merupakan sebuah keuntungan untuk anak-anak, mereka bisa jadi sumber kasih sayang tak berbatas lainnya yang dapat mendukung pertumbuhan anak-anak.

Tak peduli dari latar belakang mana anak itu berasal -baik dari orang tua tunggal, hasil hubungan di luar nikah, anak dari pasangan homoseks, anak adopsi, anak dengan orangtua yang mengalami ketergantungan obat, anak-anak dari lingkungan yang sangat miskin, anak yang orangtua nya bercerai sehingga harus tinggal dengan orang dewasa lain yang merupakan pasangan baru orang tua mereka- kebutuhan mereka adalah sama.

Untuk mendukung anak-anak, maka yang harus dibantu adalah orang-orang dewasa yang mengasuh mereka. Maka diperlukan suatu komunitas yang dapat saling membangun dan mendukung orang dewasa agar dapat memberikan pengasuhan optimal kepada anak-anak mereka.

*

Otoritas Orangtua dan Ketaatan Anak Dalam Metode Charlotte Mason – Kulwap Bersama Ellen Kristi

Pada tanggal 28 Januari 2016, grup kami “Home Education” menghadirkan mba’ Ellen Kristi, penulis buku “Cinta yang Berpikir”. Ellen Kristi ibu dari 3 anak yang menjalankan homesschooling dengan metode Charlotte Mason. Ellen Kristi juga mengelola website www.cmindonesia.com untuk memperkenalkan filosofi pendidikan Charlotte Mason.  Tahun 2012, Ellen Kristi menerbitkan sebuah buku: Cinta Yang Berpikir, yang memuat prinsip-prinsip Charlotte Mason dan panduan penerapannya sehari-hari.

Tentu bakal mudah sekali jadi orangtua seandainya anak-anak selalu dengan sukarela dan sukacita mengerjakan apa pun yang kita perintahkan kepada mereka. Sayangnya, realita sehari-hari tidak seperti itu

Charlotte Mason (disingkat CM) dalam volume 1 menulis, ketika lahir, bayi pasrah diapakan saja oleh orangtuanya, tetapi makin bertambah usia, kepribadiannya akan makin nampak jelas. Dengan kata lain, ego anak menguat dari waktu ke waktu. Dan seperti dalam relasi mana pun, ketika ego bertemu ego, selalu ada kemungkinan benturan ego. Orangtua punya ego, anak pun punya ego, maka konflik dan perselisihan selalu mungkin, atau malah sering, terjadi.

Namun, coba kita renungkan lagi, bukankah sebetulnya sangat indah dan menakjubkan bahwa anak-anak kita mengembangkan keunikan pribadi mereka sendiri? Mereka jadi bisa berpikir, memutuskan, dan bertindak bagi diri mereka sendiri. Apa senangnya kita jika anak selamanya jadi bayi? Apa bagusnya kalau anak kita seperti robot yang selalu menurut, tak berkepribadian? Jadi, kita patut bersyukur kalau anak kita bisa menyatakan apa yang mereka mau, apa yang mereka pikir dan rasa, sekalipun itu berbeda dari yang kita mau, pikir, dan rasa.

Masalah utamanya dengan demikian bukan meratapi kenapa anak suka membantah, enggan menurut, semaunya sendiri. Tetapi masalahnya adalah bagaimana menjalin relasi yang sebegitu rupa, sehingga kepribadian anak bisa berkembang matang, bijak, dewasa, dalam situasi damai? Bagaimana kita bisa mendampingi mereka menjalani pertumbuhan itu namun rumah tidak ribut penuh perselisihan, kata-kata marah, ancaman, dsb?

Dalam filosofi CM, untuk itu, ada satu pertanyaan mendasar yang harus dijawab. Siapakah pemimpin di rumah? Siapakah pemegang otoritas tertinggi?

Seperti yang saya tulis di buku Cinta yang Berpikir, ada dua haluan besar. Pertama, parent-centered, orangtua sebagai pemegang otoritas tertinggi. Kedua, child-centered, anaklah yang dijadikan penentu kebijakan. CM bukan keduanya. Bagi CM, pemegang otoritas tertinggi adalah TUHAN. Baik orangtua maupun anak berkewajiban untuk menaati otoritas-Nya, aturan-aturan-Nya.

Aturan TUHAN menjadi kompas dalam perilaku. Ada dua macam aturan TUHAN, yang pertama adalah hukum-hukum alam, yang kedua adalah hukum moral. Itu sebabnya dalam metode CM, sains dan agama harus sama-sama dipelajari untuk mengetahui apa itu Kebenaran.

Nah, menurut CM, sudah aturan dari TUHAN bahwa orangtua menjadi perwakilan-Nya dalam mengasuh anak. Sebagai perwakilan TUHAN, orangtua mengemban amanah untuk menjalankan otoritas titipan TUHAN. Ayah dan ibu menjadi perwakilan TUHAN untuk membimbing anak di jalan-Nya.

Itu berarti, saat menjalankan otoritas titipan TUHAN, orangtua harus selalu mencari tahu apa maunya TUHAN bagi anak-anak mereka. Seperti sifat TUHAN, otoritas harus dibarengi dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Jadi, tidak boleh orangtua semaunya sendiri memerintah anak, itu namanya penyalahgunaan kekuasaan, abuse of authority.

Selain penyalahgunaan kekuasaan, menurut CM problem lain orangtua saat menjalankan otoritas titipan TUHAN adalah kurangnya kepercayaan diri, lack of confidence. Mereka takut-takut saat menyuruh anak melakukan sesuatu. Mereka mengkeret dan mundur ketika anak membantah atau menolak. Seperti seorang jenderal yang takut pada kopralnya yang suka melawan.

Bisa kokoh dalam prinsip, tapi penuh kasih. Bisa lembut, tapi tetap tegas. Begitulah idealnya cara orangtua menjalankan otoritas.

CM yakin, setiap anak terlahir dengan kemauan untuk diarahkan oleh otoritas, oleh orangtua. Asal orangtua percaya diri bahwa mereka memang mendapat titipan otoritas itu dari TUHAN, anak akan mematuhinya.

Tetapi memang perkaranya tidak sesimpel mengeluarkan perintah ini-itu lalu mereka langsung menurut. Ingat, anak bukan robot, maka jangan paksa mereka jadi robot. Ada syaratnya agar mereka mau taat pada otoritas.
Syarat pertama adalah faktor keteladanan, apakah orangtua menunjukkan bahwa mereka pun taat pada prinsip-prinsip dan aturan? CM mengistilahkannya “atmosfir”. Nilai-nilai apa yang anak serap dari perilaku nyata kita sebagai orangtua. Mungkinkah kita tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan? Itu akan menentukan seberapa respek anak terhadap otoritas kita.

Syarat kedua adalah faktor pengetahuan, apakah kita melengkapi diri kita dengan ilmu tentang mendidik anak? CM mengistilahkannya “cinta yang berpikir”. Agar berhasil mendidik anak, kata CM minimal kita harus punya bekal pengetahuan fisiologi & psikologi. Makin kaya ilmu, makin baik kemampuan kita dalam membesarkan anak. Artinya, otoritas harus dilengkapi dengan semangat belajar terus-menerus.

Pada prinsipnya, CM menolak gaya parenting diktator, tapi juga menolak gaya parenting child-centered.

Mengapa anak tidak bisa dijadikan “pemimpin” dalam proses mendidik? CM melihat bahwa sekalipun anak itu makhluk luar biasa, penuh semangat, rasa ingin tahu, dan potensi, tetaplah anak belum punya kematangan moral dan kekayaan pengalaman hidup.

Anak belum bisa mengendalikan hasrat-hasrat dalam diri mereka. Kapasitas berpikir anak belum berkembang sepenuhnya. Begitu pula kemampuan mereka memilah benar-salah, baik-buruk.
Tidaklah bertanggung jawab jika orangtua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka belum siap untuk itu.

Tugas orangtualah menginspirasi dan melatih anak agar memiliki self-control, self-knowledge, dan self-reverence. Di sini pentingnya tiga pilar: atmosfir, pelatihan kebiasaan baik, dan suplai ide-ide luhur untuk anak.

Pendekatan kita kepada anak adalah sebagai “asisten”. Assist, artinya membantu. Kita ingin membantu mereka bertumbuh. Kalau mereka belum bisa mengerjakan sesuatu, kita harus mencari cara supaya akhirnya mereka bisa.

Itu sebabnya, menurut CM, seharusnya tidak perlu hukuman, apalagi marah-marah atau pukulan.

Education is the science of relations, kata CM. Coba bina relasi yang penuh kasih dan respek dengan anak, bangun pemahamannya tentang dirinya sendiri dan kehendak TUHAN baginya, pelajari teknik berkomunikasi yang efektif, tunjukkan keteladanan positif, dan tegakkan aturan secara konsisten. Maka tidak akan sulit memenangkan respek dan ketaatan anak.

Demikian pokok-pokok pemikiran metode CM tentang otoritas orangtua & ketaatan anak.

Tanya Jawab

1. Pertanyaan dari Mb An

Mohon penjelasan untuk kalimat ini, “tidaklah bertanggung jawab jika orang tua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka blum siap untuk itu”

Anak saya 4 thn, punya 2 teman perempuan di lingkungan, dan selalu inginnya main dengan mereka, dan memang tidak ada anak kecil lain. Kedua anak itu adalah anak yang saya bilang tidak ada orang tua, orang tuanya ada tapi sibuk sendiri, dan ga peduli sama anaknya.

Anak yang satu hidup dalam 1 rumah dengan 5 keluarga di dalamnya. Bayangkan satu rumah kecil hidup 5 keluarga yang beranak pinak. Semua anak dari yang lulus sma sampai bayi, laki atau perempuan, tidak punya kamar.

Anak 1nya lagi malah sempat melakukan tindih2an buka celana dengan anak cowok.

Intinya dua anak ini saya nilai berbahaya buat anak saya. Saya melarang mereka bermain dengan anak saya, dan anak saya selalu frustasi kalau dilarang main dan nangis

Saya bilang ke anak saya, ga boleh main sama mereka karena ujung2nya berantem

Apa itu termasuk saya memaksa anak menentukan sikap moralnya sendiri, padahal belum siap?

Jawaban : Tidak, dalam kasus ini justru mb An sudah membantu anak menetapkan sikap moral dalam bergaul.
Membiarkan anak menentukan sikap moral sendiri itu misalnya, mempersilakan anak untuk memilih mau terus nonton TV atau tidak, padahal dia belum punya kemampuan untuk menghentikan dirinya sendiri menonton TV; membiarkan anak untuk memilih agamanya sendiri, padahal dia belum punya kemampuan untuk membedakan secara prinsipiil perbedaan agama satu dengan yang lain; dsb.
Dari sekilas cerita Mbak An, memang perlu memberi rambu-rambu kepada anak saat bergaul dengan kedua teman perempuan itu. Kalau kedua teman itu yang bermain ke rumah, Mbak An juga bisa memberitahu mereka, apa aturan yang harus mereka ikuti saat bermain dengan anak Mbak.

2. Pertanyaan dari mb Am.

Saat anak usia egosentris antara 3-5 thn, bgmn cr ortu mendampingi dan mengarahkan anak2 untuk mencoba mengatur atau mengatasi emosi mereka yang terkadang suka meledak-ledak, spt saat tantrum, krn mgkn dengan penjelasan saja pada saat spt itu mrk tidak bisa lgsg terima.

Jawaban : Tentunya kita pelajari dulu tantrumnya karena apa. Ada rumus HALT: hungry, angry, lonely, tired. Apakah anak meledak karena salah satu dari faktor itu? Kita tangani sesuai kasusnya.
Langkah yang terbaik adalah pencegahan. Jadi kalau bisa, kita upayakan supaya tidak terlanjur jadi tantrum. Misalnya, anak cenderung tantrum kalau dia kecapekan, berarti sebelum dia capek sekali, kita ajak dia beristirahat. Dan sejenisnya.

Ada satu teknik yang saya rasa sangat bermanfaat sekali untuk mengajarkan anak mengendalikan dirinya. Namanya Baby Brain-Adult Brain, atau saya terjemahkan Si Bayi dan Si Bijak. Ini bukan spesifik teknik CM, tapi sangat sesuai dengan konsepnya tentang pengenalan diri, juga dengan neurosains/psikologi. Teknik ini bisa mulai diajarkan saat anak kurang lebih berusia tiga tahun.
Jadi setiap kali anak mengalami naik-turun emosional, baik marah ataupun sedih, kita bilang padanya sambil menepuk-nepuk kepala kita di bagian belakang: “Di sini ada si Bayi. Si Bayi ingin kamu menjerit-jerit.” Lalu kita tepuk-tepuk kepala kita bagian depan: “Di sini ada si Bijak. Kita harus jadikan si Bijak sebagai pemimpin. Si Bayi harus menurut pada si Bijak.”

Contoh kasusnya biar gampang memahaminya. Seorang anak suka sekali makanan manis. Lalu saya ajari dia membedakan si Bayi dan si Bijak. “Kamu ditawari permen. Lalu si Bayi ingin kamu makan permen itu?” Dia mengiyakan. “Tapi si Bijak tahu tidak bahwa permen itu banyak gulanya, merugikan tubuhmu? Bisakah si Bayi menurut pada si Bijak?” Dan ketika anak tersebut berpikir-pikir lalu batal makan permen, saya memuji dia dan katakan: “Itu hebat sekali. Kalau kamu bantu si Bijak menang, dia makin lama makin kuat.”
Pemahaman ini kalau dilatihkan terus-menerus akan membuat kita lebih mudah menangani anak saat tantrum atau situasi emosional lainnya. “Mama paham, kamu melihat mainan yang bagus, si Bayi ingin sekali mendapatkan mainan itu sekarang juga, apa kata si Bijak?”

Cukup panjang bahasan tentang teknik ini. Tapi kurang lebih intinya adalah membantu anak mengenali perasaan-perasaan dan keinginan-keinginannya, menerima mereka tanpa harus menuruti mereka.

3. Pertanyaan dari  mb In.
Mau tanya perihal anak tengah saya, sifatnya selalu merebut barang n menguasai ini itu tdk hny milik saudaranya bahkan milik org lain, sy sbg ibu kalo tegas bilang itu milik si anu dia nangis kejer, kalo saya diemin jg lah ya takutnya nanti ngelunjak, bgmn sebaiknya sikap saya? Terimakasih

Jawaban : Anak Mbak In umur berapa ya? Kalau sudah bisa diajak komunikasi, langkah pertama adalah pencegahan. Kalau bermain ke tempat saudara, sebelumnya kita diskusi dulu dengannya, nanti kita main ke sana, mungkin ada barang/mainan yang Kakak mau ambil, janji ya, sebelum ambil harus minta izin dulu pada yang punya. Bicara baik-baik, kalau ternyata tidak dipinjami, tidak apa-apa ya.

Langkah kedua, bisa sebelumnya latihan di rumah. Mbak In pura-pura jadi pemilik barang, si Kakak latihan meminjam. Cara ngomongnya bagaimana? Kalau ditolak, harus bersikap bagaimana?

Langkah ketiga, kalau sudah tiba di lokasi dan ternyata tetap terjadi konflik. Gendong Kakak menjauh dari lokasi dengan tenang. Lalu, kalau saya, saya terapkan teknik si Bayi dan si Bijak tadi. “Kakak lihat ada mainan bagus. Kakak suka. Kakak sudah bagus, mau pinjam baik-baik. Tapi dia nggak kasih pinjam. Lalu si Bayi teriak-teriak, harus boleh, harus boleh, rebut saja, rebut saja. Iya ya? Namanya juga si Bayi, tidak sabaran. Tapi si Bijak bilang lain kan? Bagaimana, kakak bisa bantu si Bijak supaya menang?”
Jangan lupa puji anak kalau dia berhasil memutuskan untuk mengendalikan dirinya.

4. Pertanyaan dari mba E.

Dalam materi disampaikan bahwa tugas ortu adalah asisst atau asisten yg artinya membantu anak dalam proses tumbuh kembangnya..nah jika dlm proses tsb ternyata anak jadi tergantung atau sering meminta bantuan terus..bagaimana cara menyikapinya? Atau terkadang anak jika tidak ditemani ma ortunya malah mogok.

Jawaban : Membantu di sini bukan dalam arti teknis, tapi konsep. Jadi, orangtua jangan memposisikan diri sebagai tukang tes, sengaja membiarkan anak melakukan kesalahan, untuk kemudian menyalahkan/menghukum.
Misalnya, memberi aturan bahwa siapa yang meninggalkan barang di lantai, maka barang itu akan dibuang. lalu dengan sengaja membiarkan anak meninggalkan barang di lantai, kemudian membuang barangnya, supaya anak “dapat pelajaran”. Itu bukan pendekatan yang dianjurkan CM.

Alih-alih, sebaiknya orangtua mencari cara terbaik, bagaimana supaya anak termotivasi dan terlatih untuk selalu meletakkan barang di tempatnya setelah selesai menggunakan. Lalu secara konsisten melatih terus kebiasaan itu sampai menjadi watak permanen anak. Itulah yang CM maksud kita “membantu” anak untuk bertumbuh.

Kemandirian juga salah satu watak positif yang harus kita latihkan. Dalam hal apa anak harus mandiri, sesuai umurnya? Itu harus kita tentukan dulu. Setelah itu, bagaimana membantu dia agar bisa mandiri? Latihan seperti apa yang akan mengkondisikan anak untuk menjadi mandiri?

Jadi pertanyaan Mbak E justru intinya adalah bagaimana membantu anak agar bisa menjadi mandiri ya?

5. Pertanyaan dari mba D.

Adakah batas atau patokan kapan kita harus memaksa atau menunda sesuatu yg orangtua ingin agar anak mengikuti mereka?

Jawaban : Dalam CM kuat sekali konsep “amanah” atau “kewajiban”. Tiap orang punya kewajiban, yang mesti dia kerjakan entah suka atau tidak suka.
Kalau soal kewajiban, anak tentu harus melakukannya. Tetapi kalau perintah yang terkait dengan keinginan personal orangtua, tentu anak boleh menolak atau menawar.
Memang kadang tipis bedanya, atau sulit dipilah. Rasanya yang kita perintahkan ke anak selalu “prinsipiil” (menurut kita). Di situlah kita sebagai orangtua juga perlu banyak refleksi, supaya kita tidak jadi diktator.
Contoh: di rumah saja, ada kewajiban bagi anak untuk makan apa pun hidangan sehat yang tersedia. Kadang ada bahan makanan yang anak menolak, bilang kalau itu tidak enak, maka saya akan tegaskan kepadanya, “makan itu kewajiban kita terhadap tubuh, kita makan karena sehat atau tidak sehat, bukan enak atau tidak enak, dan ini sehat karena mengandung bla-bla-bla yang berguna untuk bla-bla-bla”. Dan anak saya tetap memakannya.

Sedangkan untuk kasus seperti anak  yang tidak mau sholat, atau tidak mau mencium tangan nenek kakek atau orang yg lebih tua. Sebagai orang tua  adakah saat2 kita hrs memaksa anak melakukan hal yg ortu inginkan? Lalu sekiranya ada, menurut pengalaman mbak Ellen kapankan kita harus memaksa anak, kapankah kita harus berhenti meminta anak melakukan hal yang orang tua inginkan?

Jawaban : Kalau soal hormat pada orangtua, bagi saya pribadi itu hal prinsipiil, jadi anak punya kewajiban melakukannya. Kepada mereka, disaat-saat yang nyaman saya sampaikan pentingnya belajar menghormati orangtua, bahwa Tuhan memerintahkan begitu, dsb.

Pada momennya, kalau memang ada sopan santun yang harus mereka lakukan, saya bilang dengan nada tegas saja, ayo salam dulu, ayo tawari makan Opa-Oma, dsb.
Karena memang anak-anak tahu bahwa kalau Mama sudah menyuruh dengan nada begitu, berarti kewajiban, ya mereka melakukan.

Saya akan beri pujian kalau mereka melakukannya sebelum saya menyuruh.

Asah intuisi saja, Mbak D. Kapan kita harus melonggarkan diri. Makin dekat kita dengan anak kita, makin kita bisa paham gejala-gejala perilakunya.

6. Pertanyaan dari mb Wl.

Bgmn cara nya menghadapi anak yg suka nego (banyak nawarnya😝) kalau kita suruh atau minta melakukan sesuatu. Memang saya selalu menang, tp kdg kala sy terima nego nya kalau masuk akal. Trus, apakah itu merupakan sesuatu yg positif, dlm arti suatu keunikan atau kelebihan dlm diri si anak yg tukang nego?

Jawaban : Di balik semua yang terkesan negatif, sebetulnya ada sesuatu yang positif. Dalam hal ini, anak mbak Wi punya kemampuan negosiasi yang baik, perlu dihargai 😊

Tapi akan kelewatan kalau lalu segala sesuatu dinego. Anak juga perlu paham bahwa ada hal-hal yang tak bisa ditawar. Respek anak kepada orangtua juga bisa berkurang jika dia tahu bahwa apa saja bisa ditawar. Maka sebaiknya sebelum memberi perintah ke anak, kita pikir dulu baik-baik apakah perintah kita itu sudah tepat. Kalau misalnya kita lihat anak kita sedang asyik bermain, lalu kita memerintahkannya untuk mandi sekarang juga, kemungkinan besar anak akan menawar. Maka sebaiknya perintah itu kita sampaikan dalam bentuk pertanyaan: “kamu mau mandi berapa menit lagi?” Jadi memang sejak awal sudah kita suratkan bahwa ini negotiable. Tapi kalau kita memutuskan untuk menyampaikan perintah yang harus dikerjakan sekarang juga, pastikan bahwa perintah itu memang anak kerjakan saat itu juga.

Oh ya, tambahan, menurut kajian psikologis, prefrontal cortex anak akan berkembang jika kita menanyainya. Jadi alih-alih memerintah dengan tanda seru, cobalah rumuskan perintah itu dalam kalimat tanya.

Contohnya  “Setelah bermain, sebaiknya apa?” (beres-beres)
“Lantai kamarmu penuh dengan barang, bisa kamu bereskan dalam berapa menit?” dan sejenisnya.

7. Pertanyaan dari mb C

1. Bagaimana menanamkan nilai-nilai ketuhanan sehingga anak bisa paham dan mau menurut ketika diberi perintah. Kalaupun kita sudah mencontohkan, ada kalanya anak tidak mendengarkan

2. Selain nilai ketuhanan, bagaimana dengan rasionalitas dlm sebuah tindakan? Karena anak kadang juga mempertanyakan suatu perintah dan butuh penjelasan rasionalnya

Jawaban : Dalam metode CM, selalu tiga pilar yaitu atmosfir keteladanan, latihan kebiasaan baik, dan suplai ide inspiratif.

Keteladanan saja tidak cukup. Harus ada disiplin berupa latihan kebiasaan baik. Juga harus dibantu dengan banyak disuplai kisah/cerita yang menggugah dia untuk melakukan yang baik.

Mempertanyakan kalau memang niatnya diskusi, jelaskanlah. Tapi kalau niatnya untuk membantah, maka CM menyarankan agar tidak melayani.

8. Pertanyaan dari mb M

Bagaimana membagi waktu kegiatan sehari2 mba Ellen dgn mengurus anak pdhal ada baby. Bagaimana menghadapi jadwal anak pertama apakah  pendampingan anak pertama berkurang? Bgmn mengatasi mslh membagi waktu anak pertama dan anak lainnya? Pekerjaan yg banyak, ada baby, misal tdk ada pembantu, mengurus RT bisa menguras tenaga n emosi semuanya itu mempengaruhi dlm mendidik anak. Makasih.

Jawaban : Wah, ini sudah bukan soal otoritas ya? Baiklah. Soal manajemen waktu, saya berusaha membuat target yang realistis saja, yang bisa tercapai. Kalau memang butuh bantuan dari luar, ya cari bantuan. Saat ini, saya dibantu oleh teman untuk menjadi pendamping anak pertama saya belajar matematika. Materi dan cara belajar saya yang menentukan, tapi anak belajar dengan orang lain. Saya juga minta bantuan tenaga panggilan untuk menemani si kecil, supaya saya bisa mendampingi kakak-kakaknya kelas.

9. Pertanyaan dari mba Af

Anak pertama saya punya kesulitan dan ketakutan yang berlebihan thdp sayur dan buah..di usianya yg menjelang 9 tahun dia hanya mau mncoba satu sampai dua jenis sayur dan buah..itupun TDK setiap hari dia mau..lbh bnyak TDK maunya.
Mngkn saya yg pnya kesalahan di wktu bayi ada perlakuan saya yg mmbuat anak saya jd trauma terhadap sayur dan buah.
Padahal dia sdh tau fakta pntingnya mkn sayur dan buah pada saat dia BAB berdarah..saya dampingi dia mncari tau sebabnya serta kaitannya dgn konsumsi sayur Dan buah.
Nah sbgai ortu sejauh mana  intervensi yg hrsnya saya lakukan ntuk meluruskan pandgnnya trhdp sayur Dan buah. Mksh Mbak

Jawaban : Kalau saya sarankan, coba pakai teknik si Bayi dan si Bijak itu, Mbak Af.
Salah seorang anak saya juga semula tidak suka makan pepaya. Tapi kemudian dia suatu hari berkata, “Ma, aku mau makan pepaya! Aku menang ya, Ma?” (maksudnya si Bijak dia menang terhadap si Bayi). Memang prosesnya tidak instan.
Kadang harus ‘mlipir’ dulu. Catat semua kemenangan si Bijaknya dalam berbagai hal, katakan betapa bangganya kita karena si Bijaknya terus menguat. Lambat laun, prefrontal cortex anak juga akan menguat dalam berbagai perkara lain.

10. Pertanyaan dari mba As

Mohon penjelasan untuk kalimat ini, “tidaklah bertanggung jawab jika orang tua membiarkan anak menentukan sendiri sikap moralnya ketika mereka blum siap untuk itu.”

Pertanyaan
Utk memberi pengertian dan membiasakan anak utk berjilbab..
Dan berkaitan dengan peraturan sekolah yg menerapkan hal ini jd peraturan..

Bagaimanakah jika menentukan pilihan sekolah utk anak..
Anaknya dipersilahkan memilih dg bbrp pilihan ortu nya
Yg ternyata pilihan ortunya adalah yg menerapkan peraturan memakai kerudung.
Dan ini blm siap dilaksanakan oleh sang anak.

Jawaban : Saya tidak paham maksudnya anak belum siap melaksanakan. Tapi saya coba refleksikan dengan pengalaman saya sendiri ya.

Terhadap salah satu anak saya, saya sudah sosialisasikan sejak lama bahwa di usia 6 tahun, dia mesti belajar berenang. Jadi umur 5, belajar sepeda. Umur 6, belajar berenang. Umur 7, kelas (belajar terstruktur) seperti kakaknya.

Masuk usia 6, saya bawa ke kolam renang. Ternyata dia menolak diajari berenang. Sampai nangis-nangis kejer. Nah, di sini, kita mesti amati lebih dalam, apakah ini penolakan karena dia berniat melawan kita, atau karena dia memang takut atau punya perasaan tertentu yang membuatnya menolak.

Dalam kasus anak saya, saya sadari bahwa tidak ada gunanya memaksa dia, semakin dipaksa malah semakin trauma nanti. Akhirnya, saya minta dia berjanji untuk berlatih sendiri dengan papanya, memasukkan kepala ke dalam air, dan kalau sudah bisa, nanti coba les renang lagi.

Ya begitulah, akhirnya dia berlatih sendiri suka-suka dia, sambil dibombong (encourage) terus. Akhirnya mau sedikit-sedikit memasukkan kepala ke air. Dipuji terus. Kadang dikasih reward yang lain juga. Kurang lebih setengah tahun kemudian, baru mulai coba lagi les renang, dan ternyata sudah mau.

Selesai sudah sesi diskusi dengan mba Ellen Kristi. Semoga di lain kesempatan, kita bisa berdiskusi kembali dengan tema lainnya.

Terima kasih banyak mba Ellen untuk ilmu dan waktunya. 🙏🏻

Pesan mb Ellen :
Dititipi otoritas sebagai orangtua memang bukan perkara mudah. Makin jarang kita harus memaksa anak melakukan sesuatu, berarti makin berhasil kita. Makin anak bisa dilepas karena kita percaya dia akan tetap berperilaku baik, makin berhasil kita

Anak dan Buku

Tiga hari yang lalu saya pulang kerja sambil membawa pesanan Umar anak saya, buku berjudul “Winnetou”. Itu adalah buku kedua karya Karl May yang kami beli. 24 jam kemudian buku setebal 346 halaman tersebut selesai dibaca Umar.Sejak menajdi orang tua kami punya keinginan kuat agar anak-anak kelak senang membaca. Kebanyakan orang tua punya impian yang serupa.

Saya dilahirkan dan tumbuh dalam keluarga yang memiliki tradisi membaca. Bapak sangat senang membaca dan mengkoleksi banyak sekali buku – kebanyakan buku bertema agama.

Ketika pulang dari tugas luar kota seringkali bapak membawa segepok majalah bekas yang didapatkan dari temannya yang berlangganan untuk anaknya. Dan kami anak-anaknya menyambut dengan gembira oleh-oleh tersebut. Tanpa kami sadari bapak sedang menanamkan kegemaran membaca. Jika ada uang lebih kami sering menyempatkan membeli buku dari majalah Bobo bekas hingga novel Trio Detektif.

Tradisi membaca tersebut kami teruskan pada anak-anak kami. Sejak Umar kecil kami sering mengajaknya ke Gramedia atau toko buku lainnya. Kalau kantong sedang kempes cukup dengan membaca gratis di tempat kemudian pulang. Pengalaman tersebut sangat menyenangkan dan ternyata begitu mebekas bagi Umar sehingga setelah bisa membaca maka buku menajdi barang wajib yang harus kami beli dengan rutin.

Sebagaimana anak lainnya, komik menjadi salah satu kegemarannya. Dari Donal, Smurf, Tin-tin, juga beragam komik sains seperti Why dan Super Science. Akhir-akhir ini Umar lebih menikmati bacaan yang lebih berat, novel. Awalnya kami menjadikan buku “Lord of The Ring” sebagai bacaan dan narasi wajib mengikuti saran dari buku “Cinta yang Berpikir” oleh Elen Kristi. Kemudian novel-novel lainnya pun mulai dibacanya.

Selain harus rutin membeli buku, kami juga harus menghilangkan gangguan paling buruk, “TV”. Sudah lama sekali kami tidak lagi memiliki TV. Acara-acara di TV nasional yang menurut saya kurang mendidik dan tidak layak ditonton adalah salah satu alasannya. Selain itu kami ingin mengisi waktu senggang kami dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti membaca.

Tahap selanjutnya kami sedang berpikir agar Umar berminat untuk menulis.

Nasir Nooruddin

Sumber : http://griyasinau.com/anak-dan-buku.html

Anak belajar emosi : “terima kasih yaa sudah meminjamkan mainannya”

Usia 4 tahun umumnya merupakan usia dimana anak mengembangkan kemampuan sosial-pertemanan. Anak belajar mengenai konsep dan norma dalam relasi sosial, dan mulai dituntut untuk melakukannya.

Seperti misalnya tempo hari ada kejadian yang kuat kuingat . Seperti biasanya si sulung mengaji di masjid sore hari, disana. Ia berkumpul dengan banyak temannya yang usianya sebaya. Hari itu, seorang temannya membawa mainan super keren yaitu pesawat yang bisa dilipat-lipat (oh, entahlah namanya apa).

Betul-betul mainan adalah barangnya anak-anak. Sejak si X ini membawa mainan itu, pamornya di kalangan kawan-kawan lain meningkat pesat. Tiba-tiba hampir semua anak laki-laki seumuran dia, berkumpul mengitari si mainan, melihat si empunya mainan memainkan pesawat itu, dan menunggu gilirannya meminjam si pesawat.

Beberapa kawan X bergantian rebutan mainan X, lalu mulai membicarakan cara memainkannya, tipe-tipe mainan lain, dan mulai mengatur siapa yang boleh dan nggak boleh meminjam. Mainan itu mulai dibawa berlari kesana dan kesini.

Lucu ya, sebagai ibu, saya melihat si sulung ikut dalam kehebohan itu. Diawali dengan intip-lihat si mainan, lalu ikut nimbrung dalam “arisan anak laki-laki” sambil menunggu giliran, mendengarkan dengan takjub isi cerita, menanti dengan antusias, sampai akhirnya marah karena terkena imbas rebut-rebutan: ia nggak dapat giliran meminjam (lagi).

Sebagai catatan, saat itu si sulung belum kenal anak X yg membawa mainan. Jadi seluruh proses di atas, betul-betul dalam kelompok baru yang tidak familiar baginya.

Okelah, lalu tiba giliran si sulung marah karena nggak mendapat giliran kedua untuk meminjam mainan. Datang dan tetiba duduk di pangkuanku dengan menghentak, mulut manyun alis mata berkerut luar biasa. “Aku gak dipinjemin mainannya!!” Katanya.

“Ooh” ujarku. Lalu aku diam saja sejenak. Membiarkan si sulung mengalami perasaannya yang sedang menggejolak itu (ya, karena perasaan perlu dirasakan). Lalu, masih dalam sikap diam, aku berkata “yaa, nggak dipinjemin juga gak papa kok..”lalu diam, sejenak lalu aku merasakan emosinya turun sebentar, lalu si sulung: “tapi aku mau mainannya!! Mau pinjam, mau pinjam mau mainannya!!” Mulai sedikit merengek.

Aku, lagi-lagi diam. Mengambil jeda, lalu: “yaa.. itu kan mainannya dia, mau dia dia pinjamkan alhamdulillah, boleeh .. gak dipinjamkan juga nggak papa, kan punya dia”. Tidak aku peluk si sulung, pun tidak kuelus punggungnya. Aku masih dalam posisi: membiarkan ia berkeluh dalam pangkuanku, dan aku menopangkan tangan ke belakang.

Instingku kuat menyuruh aku membiarkan si sulung “mengalami” gejolak emosinya. Ini kali pertama ia begitu ingin meminjam mainan temannya (yang tidak ia kenal), dan tidak ia dapatkan. Dan karena ini kali pertama, maka penanganannya pun baru kali pertama. Kami sama-sama belajar.

Lalu ada 3 kejadian:

  1. Si guru datang, melihat si.sulung, dan penuh simpati berkata “ooh, mainan ya? Nggak papa .. nanti yaa, nanti.kalau ujiannya bagus sama mama akan… (disini aku menggeleng kuat-kuat. Sangat kuat dan berulang kali *hehe* memberi.isyarat bahwa aku TIDAK akan membelikan mainan itu hanya atas dasar kejadian ini, atau sebagai iming-iming)…

    Akhirnya si guru ngeles dan melanjutkan kalimat dengan kata-kata lain.

  2. Seorang ibu temanku, yang kebetulan anaknya sedang dapat giliran meminjam mainan, menyuruh anaknya meminjamkan mainan itu ke si sulung sebentar, walaupun anaknya –agak– nggak rela, tetap dikasih. Sehingga si.sulung main sebentar.
  3. Saat sudah waktunya pulang, si sulung menolak mengembalikan mainan dan berkata “aku mau bawa pulang mainannya!! Aku mau mainannya!!” Dan menolak bilang terima kasih walau aku suruh.

Disitulah aku mulai ber- “O-oww ” artinya: masalah nih. So, si sulung memulai episode marah-marahnya: jalan jauh-jauh dariku dan merengut. Aku? Memulai episode penanganan favorit: konsisten.

So, jadilah episode kejar-kejaran: memanggil namanya, suruh datang, negosiasi, panggil ulang, dan saat nggak berhasil: aku pegang tangannya dan aku tarik sampai akhirnya kami membuntuti si anak pemilik mainan X. Dialognya begini:

Si sulung: “aku gak mau bilang terima kasih!!! Pokoknya gak mau SE LA MA NYA!!”
Aku (ibunya): “pergi bilang terima kasih!! Tadi maksa-maksa pengen pinjam, habis dipinjemin kok nggak bilang terima kasih. Kalau begitu besok-besok ibu gak kasih ijin kamu pinjam mainan apapun sama siapapun!!”

Akhirnya, setelah hampir 100 meter membuntuti, rombongan si.empunya mainan terkejar. Aku memberi kode agar si sulung segera bilang terima kasih.

Berikutnya adalah luar biasa:

Sulung berusaha sekuat tenaga mengucapkan kata-kata ini: “makasih yaa udah dipijemin mainannya” (Si teman gak denger), lalu lagi setengah berteriak: “makasih yaa udah dipijemin mainannya!!” Lalu tiba-tiba meledak tangisnya.

(Episode ini agak lama, karena si sulung saat ngomong tidak menunggu / mencolek temannya, yg saat itu sedang ngobrol dengan teman lain, jadi setelah pecah tangisnya sy harus mencolek si anak *dan ibunya* supaya mereka dengar apa yang sulung mau bilang. Sulung mengulanginya lagi, lalu salaman, dan lanjut menangis minta gendong).

Lalu akhirnya anakku sulung itu dalam gendonganku, juga adiknya. Kududukkan ia di kursi terdekat, kutatap matanya, kuelus punggungnya, dan kukatakan dengan yakin dan lembut: “alhamdulillah, kamu sudah bilang terima kasih ya, begitulah caranya kita berteman. Saat dipinjamkan, kita bilang terima kasih, saat tidak dipinjamkan, kita tidak memaksa. Ibu lihat kamu sudah berusaha untuk bilang terima kasih, walaupun tadinya nggak mau, tapi kamu berusaha. Ibu bangga melihatnya, terima kasih ya soleh. I love you, ibu sayaang sekali sama kamu, kamu tau kan? ” lalu kupeluk erat dia.

Luar biasa, betul-betul momen yang tidak terbayar. Aku melihat dengan kepalaku sendiri, bagaimana anakku dengan sekuat tenaga mencoba menuruti ucapan ibunya, hingga hilang pertahanannya dan menangis. Dan mengangguk2 sambil menangis saat kunasehati. Luar biasa anakku.

Sampai sekian kali aku ceritakan dan tulis ini, air mata masih turun. Menyesal? Tidak, sedih juga tidak. Mungkin lebih ke haru.

Mungkin caraku -agak- keras, dan tentu nggak akan cocok dengan semua anak. Tapi ini anakku, dan begitulah kami ibu dan anak menghadapi masalah-masalah kami. Diantara prinsip-prinsipku yang utama adalah konsisten. Sederhana sih, kalau mau pinjam, ya harus mau bilang terima kasih.

Well, episode panjang itu diakhiri dengan aku membelikannya es krim kesukaannya, dan ia makan lahap tanpa intervensi. Setelah hari itu, hingga sekarang, ia tidak ada masalah dengan bilang “terus kasih”, ia berteman dengan baik-baik saja.

Disinilah aku bersyukur atas jalan yg aku pilih. Karena saat masalah muncul, aku bisa menangani masalah secara langsung, dengan caraku, dan dengan nilai-nilai kami.

Dianda azani.