Menumbuhkan Literasi Kritis Anak

Kulwap Grup Home Education

Tema : Menumbuhkan Literasi Kritis Pada Anak
Waktu : Senin, 20 Maret 2017 pukul 19.00 – 21.00
Narasumber : Ibu Lestia Primayanti, Kepala Sekolah Dasar Kembang (www.sekolahkembang.sch.id)
Moderator : Nareswawi Putri
Notulis : Majedah Ulfa

Profil Narasumber:

  • Bu Lestia memiliki pengalaman mengajar selama 10 tahun dan 3 tahun sebagai Kepala Sekolah
  • Beliau juga ikut mengembangkan sekolah untuk jadi sekolah yang ramah anak dan mengajak komunitas sekolah menjadi komunitas belajar.
  • Minat utama beliau pada pendidikan literasi, berpikir kritis dan anak berbakat/cerdas istimewa.

Prolog

Akhir-akhir ini, saya, mungkin juga Anda, merasa gelisah dengan begitu mudah dan cepatnya berita-berita hoax tersebar. Meski saya sadar bahwa banyak faktor yang mempengaruhi pembuatan dan penyebaran hoax, sebagai konsumen informasi, saya merasa bahwa kemampuan saya untuk menjadi jeli dan peka pada sebuah informasi yang saya baca menjadi salah satu hal yang penting.

Kemampuan ini tak serta merta muncul karena kita banyak membaca buku. Bisa jadi, kita termasuk orang yang rajin membaca, tapi orang yang rajin membaca belum tentu memiliki kemampuan literasi kritis.

Apa Itu Literasi kritis?
Literasi kritis adalah kemampuan untuk membaca sebuah teks secara aktif dan reflektif sehingga kita memiliki pemahaman yang mendapat tentang konsep-konsep yang dibentuk secara sosial seperti: kekuasaan, ketidaksetaraan, ketidakadilan dalam relasi antar manusia.

Literasi kritis mendorong seseorang untuk memahami dan mempertanyakan sikap, nilai, belief yang terkandung dalam sebuah teks. Teks yang saya maksud bisa beragam seperti : artikel, buku, iklan, pidato, wawancara, film, lagu, dan sebagainya. Bentuk “teks” di sini bisa berupa tulisan, visual, audio visual, maupun audio.

Orang yang sudah menguasai ketrampilan literasi kritis berarti sudah menguasai kemampuan membaca, menganalisa, mengkritisi dan mempertanyakan “pesan” di dalam teks yang ia baca.

Kepedulian, gerakan, yang terkait pada berbagai isu kemanusiaan, isu lingkungan, politik, ekonomi, dan sebagainya seringkali bermula dari kritis terhadap teks.

Adakah contoh yang terpikirkan oleh Anda?

Mengapa kini membicarakan literasi kritis menjadi penting?

Dunia kita berubah dalam kecepatan yang mencengangkan. Kini kita tinggal di dunia yang dengan cepat bergerak makin beragam, makin global, makin kompleks, dan “media saturated”. Kehadiran internet membuat siapa saja di seluruh dunia bisa berkomunikasi dan berbagi informasi.

Dunia yang terus berubah ini terutama adalah Dunia anak-anak kita di abad 21. Mereka harus bisa menjadi orang-orang yang literate. Media literate, environment literate, multiculture literate, financial literate, … masih banyak lagi.
Anak-anak kita akan menghadapi berbagai isu seperti pemanasan global, kelaparan, kemiskinan, masalah kesehatan, ledakan populasi, dan berbagai masalah lingkungan dan sosial lainnya. Semua permasalahan ini akan membutuhkan orang-orang yang cakap berkomunikasi, sehingga dapat menghadirkan perubahan baik perubahan pribadi, perubahan sosial, perubahan ekonomi atau perubahan politik di skala lokal sampai global.

Anak-anak kita perlu mampu berpikir kritis dan menggunakan pengetahuan serta informasi untuk mengambil keputusan. Perkembangan internet membuat literasi kritis menjadi amat penting di dalam komunitas yang semakin global.

Internet di abad 21 ini juga memungkinkan kolaborasi terjadi. Anak-anak bisa berkolaborasi dengan siapa saja di seluruh dunia untuk melakukan hal-hal yang bermakna dan menghasilkan perubahan. Mereka akan belajar bahwa kolaborasi, bukan kompetisi, yang bisa mengubah dunia. Mereka akan menggunakan beragam teknologi, juga akan mendiskusikan berbagai hal dengan kritis.

Empat ketrampilan di atas yaitu Komunikasi, Berpikir Kritis, Kolaborasi dan Kreativitas akrab kita pahami sebagai 21st century learning skills. Semuanya berkaitan erat dengan literasi kritis.

Literasi kritis berkembang melalui diskusi. Untuk dapat berdiskusi, semua pihak perlu setara dan terlibat. Keterlibatan adalah salah satu faktor kunci ketika belajar tentang literasi kritis. Anak perlu terlibat secara aktif dan memaknai pengalamannya.

Anak yang terlibat aktif akan tampak:

  • Ingin mengerti
  • Berinteraksi dengan teks karena dorongan dari dalam dirinya
  • Melihat membaca sebagai proses berpikir
  • Berbagi pengetahuan melalui diskusi dengan orangtua dan teman sebaya
  • Membaca untuk tujuan yang beragam (misalnya untuk mencari informasi, untuk bersenang-senang)
  • Menggunakan pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk memaknai teks secara sosial.

Sebagai orang tua dan guru kita dapat mendorong keterlibatan anak dengan :

  • Mendorong anak untuk membaca karena perlu memenuhi kebutuhannya.
  • Memancing diskusi tentang hubungan teks dengan keseharian anak atau pribadi anak.
  • Fokus pada memahami bacaan.
  • Respond in meaningful ways.

Agar anak termotivasi, orang tua dan guru dapat :

  • Menjadi teladan dalam membaca
  • Menciptakan lingkungan yang kaya dengan buku
  • Memberi kesempatan untuk memilih
  • Mendorong anak terbiasa dengan buku dari berbagai genre

Anak-anak yang sangat termotivasi untuk membaca berbagai buku biasanya membaca untuk beragam alasan termasuk karena ingin tahu, ingin terlibat, kepuasan emosional, dll.

Ada banyak cara dan kondisi yang bisa kita lakukan/ciptakan untuk memotivasi anak membaca. Mungkin kita sudah menggunakannya, namun bisa jadi berikut ini adalah beberapa strategi baru, misalnya :

  • Membuat kegiatan berbahasa (bicara, mendengar, membaca, menulis, menonton) adalah kegiatan yang menyenangkan
  • Memberi waktu yang memadai untuk kegiatan-kegiatan tersebut.
  • Membuat perpustakaan di rumah, maupun bersama komunitas dengan buku dari beragam genre.
  • Menyediakan waktu sehingga anak bisa merespon teks dengan aktif dan kreatif baik melalui diskusi, maupun bentuk-bentuk lain seperti menulis, menggambar, dramatisasi, dan sebagainya.
  • Mendorong dan menghargai kemampuan anak berpikir mandiri selagi mereka membaca, menulsi, bicara, mendengar, dan menonton.
  • Daftar ini bisa panjang sekali, dan saya yakin teman-teman di group ini bisa brainstorming ide bersama-sama.

Bagaimana memilih teks untuk mendukung anak belajar literasi kritis?

  • Buku yang mengganggu kebiasaan dan menyediakan beragam sudut pandang. Buku-buku seperti ini akan membuat pembaca melihat situasi yang umum/biasa dari sudut pandang yang amat berbeda, membuat kita mempertanyakan kembali sterotype dan asumsi yang sering otomatis muncul. Contohnya : The Day The Crayon Quit by Drew Daywalt, Buku-buku “Plih Sendiri Petualanganmu”
  • Buku yang fokus pada aksi atau kepedulian tentang keadilan sosial. Banyak buku biografi bercerita tentang hal ini. Membaca buku-buku ini dapat memunculkan diskusi menarik yang kritis tentang bagaimana orang bisa menjadi amat berpengaruh.
  • Buku yang fokus pada isu sosial atau politik antara individu atau dalam masyarakat. Buku-buku seperti ini memberi konteks yang kaya untuk diskusi tentang literasi kritis. Misalnya buku tentang holocoust. Terakhir saya membaca Tru and Nelle bersama kelas 6.

Pengalaman dari Sekolah Kembang
Saya ingin berbagi sedikit cerita dari Sekolah Kembang. Meski kami tidak nyata-nyata menggunakan istilah literasi kritis, namun kami mencoba melakukan beberapa hal sepanjang tahun ini.

Salah satunya di TK dan SD kelas 1-2, tema pelajaran dibangun dari buku cerita anak.

Buku-buku yang banyak kami gunakan tahun ini adalah buku terbitan Litara, misalnya Aku Suka Caramu, Cap Go Meh, Rumah Untuk Ge, Jangan Sedih, Bujang!, Srinti, Rotan Pun Jadi, dan masih banyak lagi.

Buku lain yang juga kami gunakan adalah Twinkle and The Peculiar World.

Tak hanya membahas hal-hal sebatas kemampuan baca tulis anak usia mereka, buku-buku ini merupakan pancingan diskusi yang ternyata sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari anak.

Ketika membaca teks, guru akan memandu diskusi yang lebih jauh dari memahami unsur-unsur cerita seperti penokohan, alur, latar, dan pesan dalam cerita. Kami mencoba mengajak anak-anak berefleksi, menempatkan diri sebagai tokoh cerita, memahami latar cerita lebih jauh, membahas pro dan kontra yang mungkin terjadi dalam isu yang diangkat, dan sebagainya.

Kepedulian mulai muncul dalam karya-karya mereka setiap hari seperti jurnal, gambar, komentar, dan lebih jauh lagi muncul sebagai ide-ide memecahkan masalah. “Sepertinya kita butuh bahan baru untuk membuat kertas supaya tidak merusak pohon. “ atau “Seharusnya semua orang, bisa melihat atau tidak bisa melihat, gampang pergi ke mana-mana ya.”

Di kelas yang lebih besar, kami menggunakan berbagai novel anak. Tahun ini saya menggunakan buku Wonder (R.J Palacio) untuk membahas tentang bullying dan anak berkebutuhan khusus selain bahasa indonesia sesuai kurikulum, juga Tru & Nelle (G. Neri) untuk membahas tentang diskriminasi, toleransi, dan buku SYahrir; Peran Besar Bung Kecil untuk belajar sejarah.

Dari banyak kegiatan, saya mengambil benang merah bahwa critical literacy ini muncul ketika guru dan murid saling percaya bahwa semua bisa berpartisipasi dalam kegiatan belajar.

Kemudian kami berusaha tak hanya fokus di penguasaan materi, tetapi menghargai waktu-waktu diskusi dan bertukar pikiran diantara pembahasan buku. Guru sebagai fasilitator belajar juga perlu kritis dan peka terhadap berbagai permasalahan di sekitar kita, maupun yang ditampilkan dalam buku.

Buku-buku yang kami bawa sebagai konteks, membuat anak-anak berkenalan dengan dunia membaca dan dunia sesungguhnya, yang memang harus dipahami dengan kritis dan terbuka.

Sesi Tanya Jawab

1.T : Bagaimana membiasakan diri untuk tetap membaca, walau dihadapkan dengan media sosial.

J : Bagaimana untuk membiasakan diri tetap membaca, saya kira kita bisa membuat komitmen ya. Lebih baik lagi jika komitmen bersama seluruh anggota keluarga. Misalnya 30 menit setelah makan malam, semua akan membaca bersama-sama.

Di kelas, ada metode Drop Everything And Read, ini cukup efektif untuk memulai kebiasaan membaca. Bisa kita lakukan serupa itu di rumah. Ini bisa menjadi langkah pertama.

Selanjutnya agar komitmen tetap terjaga, bisa dengan membuat jurnal dari apa yang kita baca, atau membuat klub dengan beberapa teman untuk berbagi bacaan. Namun untuk membuat kebiasaan baru, mulai dengan langkah-langkah kecil saja dulu.

T : Jurnal yg dimaksud contohnya seperti apa ya?
J : Jurnal yang saya maksud seperti buku catatan saja Bu Sari Yahya. Contohnya kita buat refleksi dari hal-hal yang sudah kita baca.

2. T : Assalamu’alaikum.. bu Lestia saat ini anak saya HS usia prasekolah, saya di rumah sering kali tiap selesai membacakan buku untuk anak, saya memintanya untuk menceritakan kembali apa yg telah kami baca tadi dengan menggunakan bahasa yang ia pahami. Lalu apa langkah selanjutnya yang dapat saya berikan pada anak saya agar bisa mengembangkan kualitas literasinya menjadi lebih baik?  Terimakasih.

J : Saya rasa itu kebiasaan yang baik Bu Risza Agustina. Menceritakan kembali bisa dilakukan dengan banyak cara selain tanya jawab lisan atau menceritakan ulang secara lisan. Ibu bisa meminta anak menggambar bagian yang paling ia sukai, bisa bermain peran bersama anak untuk menuturkan kembali cerita dari buku kesukaannya, …. bisa amat banyak variasinya.

Sebagai panduan, ibu bisa mereka kegiatan berdasarkan 8 kecerdasan di kecerdasan majemuk, ibu juga bisa mencari berbagai kegiatan reading comprehension melalui mesin pencari yang kira-kira sesuai dengan usia pra sekolah.

Jika merujuk pada literasi kritis, ibu juga bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing anak berpikir lebih lanjut mengenai isu-isu yang ia temui dalam buku yang ia baca. “Isu-sunya bisa disesuaikan dengan pengalaman dan minat ananda.

3. T : Kalau membacakan buku untuk anak kita dengan menunjuk kata-katanya atau baca saja langsung tanpa menunjuk seperti kita sedang membaca sendiri?

J : Kalau anak ikut membaca di samping kita, ada baiknya kita menunjuk kata-kata yang sedang dibaca. Tujuannya supaya anak sadar bahwa kata yang diucapkan sesuai dengan kata yang dibaca. Dalam kemampuan pramembaca, memahami bahwa tulisan itu melambangkan kata yang dibaca adalah satu keterampilan juga.

Namun ada kalanya anak yang sedang dibacakan buku cerita lebih suka lari-lari, lompat-lompat, masuk kolong meja, dan seterusnya… itu tidak apa-apa juga. Barangkali ia menikmati bagaimana suara kita membaca. Anak tetap bisa menikmati ceritanya, orang tua juga bisa “mengajarkan” aspek lain dalam membaca, yaitu intonasi saat membaca.

4. T : Apakah yang harus disampaikan ke anak-anak yang bertanya mengenai berita yang mereka baca, namun sifat beritanya negatif, belum sesuai usianya, dll. Apakah harus disampaikan yang sebenarnya atau bagaimana?

J : Saya perlu sedikit klarifikasi, misalnya berita seperti apa dan untuk anak usia berapa?

Prinsip dasarnya bagi saya adalah berkata jujur. Kita apresiasi rasa ingin tahu dan kepedulian anak dengan jawaban yang jujur. Tentunya tetap disesuaikan dengan usia anak. Boleh saja kita menunda menjawab karena ingin mencari jawaban yang tepat, jujur saja kepada anak dengan kalimat. “Sebentar ya, ibu perlu waktu untuk mencari tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan padamu. Boleh kita bahas lagi besok malam?”

Pertanyaan anak adalah teachable moments, saat-saat yang dinanti dan bisa digunakan untuk belajar banyak hal. Kita manfaatkan saja dengan bijaksana. Semoga jawaban ini tidak terlalu “mengawang” ya Bu. Nanti bisa dikonfirmasi lagi.

T : Selamat malam Bu Tia, maaf baru sempat menyimak lagi. Maksud saya berita negatif adalah seperti yang terjadi akhir-akhir ini (pedofil, penculikan dll), apakah perlu kita jelaskan panjang lebar, atau secukupnya supaya mereka lebih berhati-hati saja.

J : adalah baik untuk membuat anak-anak tidak khawatir ya. Jadikan pertanyaan mereka sebuah kesempatan untuk belajar tahu hal-hal yang penting untuk keselamatan dan keamanan mereka, seperti aturan ber-sosial media, menggunakan internet, bertegur sapa dengan orang yang belum dikenal, menjaga daerah pribadi, dan seterusnya.

5. T : Apakah menarasikan sebuah buku termasuk dalam menganalisi atau mengkritisi suatu bacaan?

J : Menarasikan (menceritakan kembali) saja belum termasuk literasi kritis. Literasi kritis adalah membaca secara aktif dan reflektif. Bila setelah membaca kita memaknainya, misalnya menghubungkan dengan pengalaman kita sebelumnya, maka bisa dikatakan mulai dan menyentuh literasi kritis itu. Saya rasa literasi kritis itu lebih jauh dan lebih dalam dari sekedar makna tersurat (yang biasanya lebih banyak muncul saat menceritakan kembali).

Jadi literasi kritis bukan bisa menceritakan kembali, tapi lebih kepada memaknai apa yang dibaca. Sebagai contoh, kita membaca buku Jack and The Beanstalk. Setelah selesai membaca, kita bisa meminta anak menceritakan kembali kisahnya dari awal sampai akhir. Untuk masuk kepada literasi kritis, kita bisa bertanya padanya; apa pendapatmu masuk ke rumah orang tanpa izin? Bolehkah mengambil barang orang lain tanpa izin? Bagaimana kalau barang itu milik orang jahat? Apakah menurutmu semua raksasa pasti jahat? Apakah kamu akan merasa bahagia kalau kamu memiliki barang yang bukan milikmu seperti harpa dan ayam raksasa yang dimiliki Jack?

Dalam diskusi ini kita bisa bicara soal sterotyping, benarkah raksasa pasti jahat? Bagaimana dengan BFG? Bisa juga kita bicara tentang apa itu adil. Siapa yang berhak diperlakukan adil? Adakah syaratnya?

Nah saya rasa diskusi semacam ini lebih bisa disebut sebagai literasi kritis.

6. T : Diskusi seperti apa yang dilakukan guru dengan anak TK dan SD kelas 1 dan 2 terkait buku bacaan yang mereka baca?

J : Karena referensi saya apa yang terjadi di Sekolah Kembang, saya sharing saja ya apa yang kami lakukan.

Biasanya, setelah membacakan buku, guru akan mulai dengan bertanya hal-hal faktual seputar buku, agar tahu anak-anak benar-benar paham atau tidak isi ceritanya.

Kemudian, guru juga akan mendengarkan pertanyaan anak-anak dan mengajak anak-anak turut menjawab pertanyaan teman-temannya.

Sesuai dengan keadaan kelas, guru juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam seperti yang saya contohkan tadi dengan cerita Jack and The Beanstalk.

Kami berusaha sekali tidak meremehkan anak-anak, jadi cenderung ingin tahu dan berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna. Kami juga sering kaget lho, kok anak-anak tahu jawabannya. Kami ikuti saja minat mereka.

Selain itu, tema di TK, dan SD kelas 1 dan 2 memang dibangun berdasarkan satu buku. Literature based, begitu. Jadi setelah diskusi buku pasti banyak kegiatan lainnya. Sebagai contoh, di TKA kemarin kami membahas lingkungan hidup dengan buku Twinkle and The Peculiar World.

Sebenarnya ini buku untuk anak usia 9+, jadi guru agak akrobat menceritakan kembali isi buku dengan bahasa anak-anak TK.

Ceritanya Twinkle adalah anak yang sangat ingin tahu tentang sekitarnya, terutama lingkungan hidup. Setelah membaca buku, anak-anak keluar kelas dan berpura-pura menjadi Twinkle yang mengamati apa yang aneh di sekitarnya, lalu menggambarnya.

Jadi mereka menghayati sekali cerita si Twinkle itu… Begitu contohnya
Nggak habis-habis nanti kalau saya cerita bagian ini.

7. T : Bagaimana cara melatih Respond in Meaningful way untuk para orangtua?

J : Biasakan mendengarkan anak, mencoba melihat dari sudut pandang mereka, menjelaskan dengan kata-kata, contoh yang relevan dengan dunia anak-anak.

Kita harus paham juga tahap perkembangan mereka sampai mana, baik secara umum (milestones sesuai usia, misalnya), juga yang unik dari anak kita.

8. T : Selamat malam Bu Lestia, akhirnya saya paham literasi kritis. Apa boleh saya tanya apa itu BFG?

J : BFG = Big Friendly Giant, buku karya Roald Dahl yang baru saja difilmkan. Menambahkan sedikit ya, ini juga bisa jadi salah satu cara untuk memahami buku. Cari buku-buku dengan tema/tokoh serupa untuk dibandingkan kesamaan dan perbedaannya. Pasti menarik sekali.

9. T : Boleh minta daftar judul buku yg dibaca dibacakan di TK usia 5 – 7 tahun?

J : Daftarnya panjang juga ya bu Dianda. Tapi yang sedang jadi favorit adalah buku-buku terbitan Litara. Seperti Aku Suka Caramu, Cap Go Meh, Rumah untuk Ge, Jangan Sedih, Bujang, dst.

Boleh dicari. Buku lain,… macam-macam. Benar-benar tergantung ketemu buku apa. Buku-buku Clara Ng juga dipakai, buku-buku seri Franklin juga favorit.

10. T : Bu Tia, menarik sekali kegiatan literasi di Sekolah Kembang. Apa yang menjadi acuan dalam memilih sebuah buku bacaan untuk anak-anak? Seperti contoh anak TKA membaca buku Twinkle & The Peculiar World.

J : Kebetulan Twinkle adalah ujicoba kami untuk menyusun buku penunjang berupa Buku Referensi Guru untuk menyusun kegiatan pendamping buku. Yang lain, kami lihat kesesuaian dengan coverage kurikulum, minat anak, keterbacaan untuk anak, dan kemungkinan buku itu dikembangkan ke dalam banyak kegiatan.

Kami juga usahakan hanya menggunakan buku berbahasa Indonesia, atau berbahasa Inggris, tapi tidak yang bilingual.

T: Kenapa tidak memilih bilingual bu? Alasannya apa? Soalnya sekarang banyak buku berembel-embel bilingual.
J : Jarang menemukan buku bilingual yang sama-sama bagus bahasanya, Bu. Jadi kami pilih tidak. Kalau ada yang bagus, sebenarnya silakan saja dipakai. Ini hanya preferensi sepertinya, ya?

11. T : Barusan saya ngintip kegiatan di Fanspage sekolah kembang, keren. Maaf oot kalau boleh tahu kurikulum sekolah kembang mengikuti diknas atau memiliki kurikulum tersendiri.

J: Kurikulum diknas bu… memang metode belajarnya yang kami rancang agar lebih ramah anak dan lebih melibatkan anak-anak.

Tahun ini kami mencoba mengembangkan tema pembelajaran berdasarkan buku untuk anak-anak Kelompok Bermain, TK dan SD Kelas 1-2. SD Kelas 3-6 sudah membaca novel sebagai dasar pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap Semester kami baca 2 novel.

12. T : Bu lestia, kebanyakan buku bilingual terjemahannya kacau. Kira-kira kenapa ya bu?

J : Saya kurang paham juga kenapa, Bu. Tapi menurut saya bahasa bukan hanya soal kosakata yang diterjemahkan mentah-mentah. Setiap bahasa punya cara bertutur dan struktur sendiri-sendiri, kadang-kadang memang tak bisa diterjemahkan begitu saja. Mungkin seperti itu ya. Apakah teman-teman punya pengalaman serupa/berbeda?

13.T : Wow, anak kelas 3 SD sudah membaca novel.

J : Sudah, meski banyak yang terkaget-kaget. Tapi biasanya mereka jadi lebih suka membaca setelah berkenalan dengan chapter book alias novel.

14. T : Novelnya seperti apa untuk anak 3SD? Bayangan saya novel kan lumayan tebal.

J : Novel-novel Roald Dahl seperti Charlie and The Chocolate Factory, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Taman Rahasia.

15. T : Kalo novel filsafat jostein gaarder yang Perpustakaan Bibbi bokken, Gadis Jeruk, cocoknya mulai usia brp ya bu?

J : dilihat saja anaknya kira-kira sudah siap atau belum. Saya pernah baca tuh, tapi lupa lupa ingat.

16. T : Mungkinkah novel seperti Heidi, Tom Sawyer dimasukkan?

J : Murid saya ada yang baca Dunia Sophie di kelas 2 SD, ada juga yang sudah mau lulus.
Bisa Bu… Pertimbangan kami dalam memilih novel adalah kemampuan membaca dan minat kelasnya. Kadang ada kelas yang advance, kami berani pakai buku yang agak sulit

17. T : Bagaimana menentukan kelas tersebut advance atau belum? Bagaimana menilai kemampuan mencerna bacaan tiap anak?

J: Berdasarkan penilaian guru tahun sebelumnya dan pendapat guru yang sedang mengajar bu Nareswari. Kadang-kadang salah juga, tapi tak apa, buku berikutnya disesuaikan lagi.

Tahun ini saya mengajar kelas 6, memulai dengan buku Wonder, karena temanya tentang bullying.
Saya kira akan mudah, ternyata buku dengan sudut pandang berbeda-beda begitu agak susah. Buku kedua, kami pakai Tru and Nelle, lebih baik… anak-anak senang karena kebetulan mereka suka sejarah.

18. T : Bu Tia, bagaimana jika anaknya tidak suka novel? Apakah tetap harus diarahkan agar suka novel? Anak saya usia 6 tahun dari kecil ini tidak suka buku-buku seperti dongeng, novel. Jadi dia lebih suka buku-buku non fiksi mungkin ya istilahnya. Seperti buku sejarah. Buku geografi, buku-buku teknis. Apakah ada pengaruhnya Bu Tia terhadap perkembangan literasi anaknya kedepan. Terima kasih.

J : Sebenarnya, saya cenderung mengikuti minat anak-anak membaca. keuntungan membaca novel atau non fiksi adalah kemampuan mereka membaca makna tersirat akan lebih terlatih. Tapi ikuti saja dulu, karena anak masih umur 6 tahun. Tawari saja buku-buku fiksi dengan latar belakang tema yang ia sukai.

19. T : Untuk membuat anak gemar membaca & memiliki kemampuan literasi kritis, pasti diperlukan kolaborasi antara pihak sekolah dan orangtua di rumah. Kalau bentuk kolaborasi di Kembang seperti apa bu Tia?

J : Kolaborasi ortu dan sekolah memang susah-susah gampang. Kadang guru memberi jurnal membaca untuk diisi bersama, atau di TK anak-anak pinjam buku perpus tapi yang diminta membacakan ortu-nya.

Ada sesi-sesi ngobrol sama ortu untuk berbagi tentang literasi.

Untuk ortu yang kita utamakan adalah edukasi bahwa bisa baca usia dini itu belum tentu hebat. Anak-anak perlu disiapkan dulu untuk bisa baca tulis sebelum akhirnya belajar baca tulis.

20. T : Adakah anak di Sekolah Kembang yang tidak suka baca buku? Bagaimana meresponnya?

J : Laaah… anak saya contohnya. Hehehe. Masih belum berminat membaca meski sudah kelas 1 SD. Kalau dipaksa makin nggak suka, kadang-kadang saya bacakan saja buku untuk adiknya, lama-lama dia nimbrung.

Selalu ada saja, Bu. Anak-anak ini kita tetap saja paparkan pada buku-buku melalui perpustakaan, program DEAR (drop everything and read), jurnal membaca, … dst. Pokoknya kita coba-coba saja semua cara. Barangkali ada yang nyangkut. Ini namanya stimulasi. Anak saya ekstrem kemampuan auditorinya, jadi dia memang lebih suka mendengarkan.

21. T: Kalo baca komik, nalar anak-anak mulai berkembang urutan bacanya itu mulai kapankah?

J : Saya rasa dicoba saja. Kalau belum siap, simpan lagi. Begitu kenal cara membacanya, mereka akan menikmati.

T: Kita beri tahu dulukah urutanya baca dari mana ke mana?

J :Boleh saja, memberi petunjuk cara bacanya.

22. T : Audio book bisa jadi solusi ya? Walaupun saya gak bisa membayangkan aplikasinya di ruang kelas.

J: Audio book bisa jadi pilihan, kalau kelasnya memungkinkan. Saling membacakan buku bergantian dengan teman juga bisa jadi pilihan sederhana

Closing

Terima kasih, senang sekali bisa ngobrol dengan teman-teman Home Education malam ini. Membaca adalah salah satu cara kita mendapatkan informasi dan untuk bisa membaca dengan baik, kita perlu melatih ketrampilan-ketrampilan dasar membaca. Lebih dari itu, kita punya tantangan lain. Saat ini membaca tak hanya terbatas pada membaca teks tertulis. Ada teks dalam berbagai bentuk yang kita baca. Tantangan lain adalah kebiasaan patuh pada teks yang tersaji sehingga kita mengira semua informasi yang kita dapatkan adalah benar, padahal belum tentu. Literasi Kritis mengajak kita menjadi kritis dan menanggapi teks dengan aktif; mempertanyakan, membandingkan, menelusuri sumber, mengenal tujuan, dan sebagainya. Sebagai orang tua, saya harap kita tak hanya mengejar anak agar senang membaca, tapi memanfaatkan kemampuan membaca itu untuk ikut mengubah dunia jadi lebih baik.

Kulwap : Melek Literasi di Era Digital

Kulwap Grup Home Education

Tema : Melek Literasi di Era Digital
Waktu : 5 Desember 2016, pukul 19.30 – 21.00 WIB
Narasumber : Muhammad Jawy
Moderator : Wanda Soepandji
Notulis : Hapsari Dania


Profil Muhammad Jawy

Muhammad Jawy adalah salah satu penggiat Masyarakat Indonesia Anti Hoax. Gerakan ini terbentuk sebagai bentuk keprihatinan atas maraknya hoax yang tersebar terutama di era digital.

Mengenal internet pertama kali ketika kuliah dimana harga untuk mengakses internet masih mahal dan tidak banyak yang bisa mengaksesnya. Sebagai aktivis baru ghirah (ABG), salah satu pemanfaatan internet adalah bagaimana untuk belajar Islam, sekaligus menyebarkan materi Islam. Dua hal tersebut, tentu saja merupakan kegiatan positif.

Ketika blog dan media sosial media belum seramai sekarang, Jawy muda menyalurkan ghirah-nya via mailing-list yang kala itu sedang booming. Bertemu dengan berbagai keyakinan, penyebaran hoax pun dilakukan oleh banyak pengguna milist untuk menyerang keyakinan lain dan Jawy muda termasuk penyebar hoax tersebut. Ketika yang lain menyebarkan hoax Jawy muda membelasnya dengan hoax.

Menurut pengakuannya “kalau saya disebut penista agama, iya. Saya pernah menista ajaran dan umat Kristen. Bahkan dengan hoax, atau informasi yang saya sendiri tidak tahu benar atau tidak.”

Semua itu berubah ketika ada yang menasehatinya dengan dua ayat:

_“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik”_ (QS. Al ‘Ankabut: 46)

_“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”_ (QS. Al An’am: 108)

Nasehat kawan ini sangat mengena batinnya, dan ada peristiwa yang mengubah pandangannya tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan non muslim.

Bahwa ya, sebagai muslim saya yakin bahwa ajaran Islam itu paling benar, tapi bukan berarti saya boleh menghalalkan segala cara untuk berdebat dengan ummat agama lain, karena justru bertentangan dengan spirit akhlaq Islam itu sendiri.

Kini Muhammad Jawy menjadi salah satu penggiat anti-Hoax terutama di media sosial

Sekilas Tentang Dinamika Hoax dan Penanggulangannya

Dinamika penggunaan gadget yang semakin “nyaman” namun tidak “aman”.

Kemajuan teknologi digital dengan tersedianya ragam chat mobile application seperti Telegram, Line, What Apps dan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path, You Tube, membuat pengguna gadget nyaman berselancar di dunia maya. Namun bak dua sisi pada sekeping mata uang, rasa nyaman ber-gadget juga diikuti dengan rasa ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh membanjirnya informasi melalui internet. Pengguna internet di Indonesia menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencapai 132 juta dan 100 juta lebih menggunakan ponsel pintar.

Serba Serbi Hoax Dan Rasa Tidak Aman

Hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Dengan kata lain hoax juga bisa diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Hoax juga bisa diartikan sebagai tindakan mengaburkan informasi yang sebenarnya, dengan cara membanjiri suatu media dengan pesan yang salah agar bisa menutupi pesan yang benar.

Tujuan dari hoax yang disengaja adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah langkah.

Perkembangan hoax di media sosial semula dilakukan untuk sarana pembulian. Namun, perkembangan selanjutnya, para spin doctor politik melihat efektivitas hoax sebagai alat black campaign di pesta demokrasi yang mempengaruhi persepsi pemilih.

Penyebaran hoax di media sosial Indonesia, mulai marak sejak media sosial populer digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ini disebabkan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis. Beberapa orang yang tidak bertanggung jawab, menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial dalam konteks negatif, yaitu menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.
Hal ini semakin parah ketika musim pemilu. Media sosial, di satu sisi digunakan untuk ajang kampanye positif, namun banyak yang menggunakannya untuk kampanye negatif.
Selain dunia politik, kekuatan hoax juga merambah ke masyarakat luas dengan menggunakan kedok agama. Mereka bisa merekrut sebanyak mungkin orang yang se”iman”, dengan jalan menyebarkan hoax sebagai bagian dari perjuangan “iman”nya.

Bagaimana Menanggulangi Hoax di Media Sosial?

“Bagi pengguna gadget yang kebanjiran berita hoax, fitnah, dan provokasi, yang merasa tidak nyaman bahkan tidak aman silakan bergabung. Mari bersama kita menjadi DUTA ANTI HOAX di tengah keluarga, keluarga besar, komunitas dan berbagi cara menanggulangi informasi hoax”.
Itu adalah ajakan kepada masyarakat Indonesia pengguna media sosial. Diawali dengan kepedulian akan maraknya berita fitnah, hasut, hoax, kepada para tokoh, institusi negara, aparat, organisasi, beberapa aktivis media sosial mendirikan group dan Fanpage di Facebook sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketidakjujuran di media sosial.
Akivitas ini adalah aktivitas non partisan, murni panggilan hati anggota masyarakat karena tidak rela melihat kawannya, saudaranya, termakan issue hoax yang mengakibatkan saling berdebat atau bahkan saling bertengkar, tidak hanya di dunia maya, namun ada yang menyebabkan hubungan mereka terputus di dunia nyata.

Siapa saja yang menjadi korban hoax?

Level pendidikan seseorang tidak membuatnya kebal terhadap hoax. Ada yang pendidikan dosen alumni perguruan tinggi luar negeri ternama, meski dia sangat ahli dalam bidangnya, namun dia bisa termakan hoax dalam bidang lain. Ada yang merupakan tokoh agama, sangat alim, disegani oleh jama’ahnya, namun ada kalanya ia terjebak menyebarkan berita hoax. Apalagi masyarakat umum yang kadang belum paham kaidah untuk mengonfirmasi kebenaran sebuah berita.

Siapa saja yang telah melakukan perlawanan terhadap Hoax?

Tidak ingin penyebaran hoax menjadi sarana mudah untuk kerusakan bangsa, mulailah netizen secara sporadis melakukan perlawanan terhadap penyebaran hoax. Banyak netizen yang dengan panggilan hati, mulai menyerang balik setiap hoax yang berseliweran. Dan perlawanan itu berkembang menjadi pembentukan group atau Fanpage.
Saat ini beberapa group atau Fanpage mendedikasikan untuk perlawanan terhadap fitnah, hasut dan hoax.

Diantaranya adalah:

1. Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. (FAFHH).
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/fafhh/. Group ini sifatnya crowdsourcing, member bisa membuat topik klarifikasi/bantahan terhadap hoax/fitnah/hasut yang beredar, atau member bisa mencari klarifikasi tentang sebuah berita yang diragukan, dan member lain yang akan mencarikan jawabannya. Admin hanya bertugas untuk mengatur supaya diskusi berjalan lancar, tidak ada yang saling serang ad hominem, dan ada kalanya admin turut berkontribusi mencarikan jawaban. Group ini berdiri sejak September 2015, dan saat ini ada sekitar 12.000 member.

2. *Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster.
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndoHoaxBuster. Fanpage ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 2700 orang yang menjadi follower FP ini. Sedangkan group ada di https://www.facebook.com/groups/IndoHoaxBuster/

3. Fanpage Indonesian Hoaxes
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndonesianHoaxes/?fref=ts. Fanpage ini juga dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 80.000 orang yang menjadi followernya. Dan ada grup untuk diskusi di https://www.facebook.com/groups/IndonesianHoaxesCommunity/

4. Group Sekoci
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/icokes/ dengan Fanpage di https://www.facebook.com/sekoci.indo/?fref=ts. Group ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang rutin berdiskusi membahas hoax dan membuat publikasi berkala di Fanpage-nya. Saat ini ada sekitar 2.200 orang follower di FP-nya dan 2.800 member di grup diskusinya.

Selain aktivitas di media sosial, beberapa relawan membuat perkumpulan, dengan tujuan khusus memberantas hoax di media sosial, sekaligus mengajak netizen Indonesia cerdas bermedia sosial dan turut berkontribusi terhadap pembangunan yang sedang marak dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Perkumpulan ini merupakan lembaga non-profit yang diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah, ormas, tokoh masyarakat, sekolah, dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya cerdas bermedia sosial.
Perlawanan terhadap hoax ini membutuhkan keseriusan, karena penyebaran hoax tidak bisa dianggap sepele. Beberapa negara mengalami kerusakan dan kehancuran, karena diperparah penyebaran hoax yang tidak terkendali seperti di Suriah dan negara konflik lainnya. Dengan melibatkan partisipasi publik yang luas, dan adanya payung hukum UU ITE yang telah direvisi, maka perlawanan terhadap hoax diharapkan akan lebih efektif.

Bagaimana Mendeteksi Berita Fitnah, Hasut dan Hoax

Supaya masyarakat yang bermedsos tidak termakan oleh berita fitnah, hasut dan hoax, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan sebagai berikut:

1. Cross Check Judul Berita Provokatif
Tak sedikit berita yang muncul di internet menggunakan judul provokatif. Netizen harus melakukan cross check berita itu dengan menggunakan mesin pencari Google untuk memastikan apakah berita yang dibaca, juga ditulis dan diterbitkan oleh situs berita lain. Kemudian membandingkan judul dan isi dari masing-masing berita, sehingga bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang dari beberapa sudut pandang.

2. Perhatikan Alamat Situs Web
Perhatikan media yang membuat berita itu. Jika yang memuatnya adalah situs abal-abal, yang tidak terdaftar dalam Dewan Pers, maka harus lebih berhati-hati untuk mempercayainya. Situs yang masuk dalam dewan pers pun belum tentu beritanya semua benar, atau kadang berita itu dibuat dengan sudut pandang tertentu, namun secara umum media resmi lebih kredibel karena memiliki standar jurnalistik, mengikuti Pedoman Pemberitaan Media Siber dan dapat dilaporkan ke Dewan Pers jika ada pelanggaran. Ini berbeda dengan situs abal-abal yang kadang tidak punya redaksi, bahkan tidak disebutkan nama dan alamat penanggungjawab.

3. Cek Fakta
Jika sumber informasi berasal dari sumber yang otoritatif, misalnya dari KPK, Polri, maka itu adalah pernyataan resmi. Namun jika sumber informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, ataupun pengamat, jangan langsung dipercaya.
Perhatikan keberimbangan dalam berita, apakah ketika berita tersebut memuat satu sumber, kemudian ia juga memuat sumber yang lain yang berseberangan? Jika hanya dari satu sumber saja, kita tidak bisa mendapatkan gambaran utuh, yang kadang bisa membuat kesimpulan yang keliru.

Bedakan antara fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti. Opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita. Semakin banyak fakta yang dimuat, semakin kredibel berita tersebut. Sebaliknya, beberapa situs memang bertujuan menggiring pemikiran pembaca dengan memperbanyak opini.

4. Cek Foto
Cek foto di dalam artikel berita. Terkadang pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Caranya, download atau screenshot foto di artikel itu. Buka Google Images di browser dan seret (drag) foto itu ke kolom pencarian Google Images. Periksa hasilnya untuk mengetahui sumber dan caption asli dari foto tersebut. Sekarang juga sudah bisa menggunakan aplikasi Android untuk mengecek foto.

5. Langganan Fanpage Anti-Hoax dan Ikuti Group Diskusi Anti Hoax
Sudah ada beberapa fanpage dan group diskusi Anti Hoax di Facebook, dimana disana sering dibahas klarifikasi terhadap hoax yang beredar. Netizen pun bisa ikut bertanya, apakah berita yang ia baca itu hoax atau bukan. Dengan model crowdsourcing yang populer, orang bisa mendapatkan jawaban secara efektif dengan ikut serta dalam group Anti Hoax.

Melaporkan Konten Negatif

Jika Netizen menjumpai konten negatif di media sosial, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan :

1. Menggunakan fitur Report Status di Facebook, dan melaporkannya sebagai kategori hate speech/harrasment/rude/threatening atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari netizen, umumnya Facebook akan menghapus status tersebut.

Untuk Google, bisa menggunakan fitur Feedback untuk melaporkan situs yang keluar dari hasil pencarian sebagai situs palsu yang tidak benar.

Twitter pun memiliki fitur untuk melaporkan twit yang negatif, dengan Report Tweet.

Instagram memiliki fitur Report untuk melaporkan konten negatif.

2. Mengadukan konten negatif ke Kominfo. Yaitu dengan mengirimkan email ke aduankonten@mail.kominfo.go.id

PIAGAM MASYARAKAT ANTI HOAX

Kami menyadari bahwa sesuai pasal 28E ayat 3 UUD 1945 setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Namun kebebasan tersebut dibatasi dengan pertimbangan moral, keamanan, ketertiban hukum dan nilai agama.
Bahwa setiap orang dapat menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mencari dan menyebarkan informasi, mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, mendekatkan pemerintah dan masyarakat, untuk kepentingan pendidikan serta penyebaran ajaran agama, dan untuk kegiatan politik.
Media sosial hendaknya digunakan untuk kegiatan warga bangsa yang positif, tidak menyebabkan perpecahan bangsa, dan bukan tempat untuk menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan dunia media sosial Indonesia yang positif dan bersih dari fitnah, hasut dan hoax, kami segenap masyarakat Indonesia dengan ini mendeklarasikan PIAGAM MASYARAKAT ANTI HOAX.

Dengan kesadaran, keikhlasan, dan keinginan luhur untuk berbuat yang terbaik bagi Indonesia, Piagam ini kami jadikan pegangan dan landasan perilaku kami dalam bermedia sosial sebagai berikut:

1. Mendorong pemanfaatan media sosial secara positif, sehingga antara kelompok masyarakat dari berbagai daerah bisa saling menginspirasi, menggugah, berbagi, membangun dan berempati,

2. Siap berperan aktif dalam mencegah upaya pecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk penyebaran isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar golongan),

3. Memahami bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, adat dan agama, sehingga selalu berempati dalam bermedia sosial untuk tidak menyinggung warga lain,

4. Berhati-hati dalam menerima informasi atau berita, terlebih dari sumber yang tidak memiliki identitas atau kedudukan yang jelas,

5. Tidak mudah untuk menyebar ulang berita di media sosial, sebelum memastikan bahwa informasi tersebut benar, sesuai dengan data dan fakta,

6. Meningkatkan literasi media sehingga tidak mudah termakan oleh berita hoax,

7. Mendukung sosialiasi dan kampanye kepada keluarga, tetangga, masyarakat tentang bahaya penyebaran fitnah, hasut dan hoax, dari sisi moral, hukum dan nilai agama,

8. Memahami dampak kerusakan dari penyebaran fitnah, hasut dan hoax terhadap pribadi, keluarga, institusi dan masyarakat,

9. Turut aktif dalam memerangi penyebaran berita hoax yang tersebar di media sosial,

10. Ikut membantu upaya penegakan hukum pada penyebar fitnah, hasut dan hoax.

Berpijak di bumi Indonesia tanah tumpah darah kami, Piagam ini kami buat dengan hati, kami ucapkan dengan sadar, didengar oleh Tuhan Yang Maha Mendengar, dan disaksikan oleh alam semesta, agar menjadi pengingat dan perhatian bagi segenap masyarakat Indonesia.

Dan sejak ditandatanginya PIAGAM MASYARAKAT ANTI HOAX semua pihak harus bersatu padu, bergandeng tangan, saling menghormati dan saling menguatkan.

Semoga Tuhan Sang Penguasa Alam memberikan petunjuk agar Piagam ini bisa terwujud, dalam karya yang nyata, menuju media sosial Indonesia yang positif dan saling menginspirasi.

Jakarta, 1 Desember 2016

Pengantar Kulwap
Masyarakat Indonesia Anti Hoax

Fenomena media sosial adalah keniscayaan teknologi dan budaya, yang merupakan bagian dari evolusi penggunaan teknologi informasi. Secara prinsip, teknologi itu bebas nilai, sehingga teknologi bisa dipakai baik untuk hal yang positif maupun negatif, dilihat dari kacamata moral, etika, agama.

Media sosial baru marak mulai menjelang tahun 2010, dan meledak pemakaiannya hingga sekarang. Banyak yang bisa memanfaatkan media sosial untuk penyebaran konten positif, misalnya pendidikan, hubungan pemerintah dan masyarakat, penyebaran ajaran agama, peningkatan ekonomi UKM dengan model marketing yang lebih mudah, dsb.

Namun harus diakui, media sosial tanpa menggunakan moral, etika, ajaran agama yang baik, justru bisa menjadi tempat yang subur bagi munculnya informasi fitnah, hasut, hoax, asusila.

Dan saya mengamati, sejak Pilgub 2012, Pilpres 2014, hingga sekarang, media sosial juga menjadi ajang polarisasi antara kubu politik yang berseberangan.Polarisasi itu kadang ekstrem, karena melibatkan fitnah, hasut dan hoax yang sebenarnya jauh dari perintah agama, dan normal kesusilaan bangsa kita

Dari sisi norma kesusilaan dan kesopanan, perilaku menyebar hoax bertentangan dengan; bertindak dan berperilaku jujur, berbicara hal-hal yang baik, menghormati orang lain.

Dari sisi hukum perbuatan tersebut melanggar:

Fitnah:
“Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tidak dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukum penjara selama-lamanya empat tahun.”
(Pasal 311 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)
Hasut:
_“Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”_
Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”)
Hoax:
Pasal 28 ayat (1) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) menyatakan,
“Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.”_

Dari sisi agama (maaf saya hanya bisa menjelaskan dari agama saya, Islam). Penyebaran berita fitnah, hasut dan hoax bertentangan dengan:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. [An Nur : 11].

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)? Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi berkata: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia datang (dengan membawa dosa) telah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si itu; maka si ini (orang yang terzhalimi) akan diberikan (pahala) kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman), dan si ini (orang yang terzhalimi lainnya) akan diberikan kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman). Jika kebaikannya telah habis sebelum dituntaskan dosanya, maka (dosa) kesalahan mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Melihat perkembangan penyebaran fitnah, hasut, hoax, kebencian yang demikian parah, maka sebagian netizen sporadis melakukan perlawanan.

Ada pula yang membentuk group, forum, sehingga dampaknya semakin besar. Nah kami mencoba meningkatkan level perlawanan ini denga mendeklarasikan Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax, dengan harapan media sosial kelak tidak dipakai untuk penyebaran konten negatif.
Namun bsia berubah menjadi media sosial yang positif, sinergis, saling empati, saling inspirasi, saling menggugah.

Tanya Jawab

1. Tanya : Adakah aplikasi sebagai cara tergampang untuk mengkroscek suatu informasi, untuk mengetahui valid atau tidaknya?

Jawab : Saat ini kami dibantu secara volunter oleh beberapa pakar IT untuk mencari solusi yang mudah bagi netizen untuk mengetahui informasi itu valid atau tidak. Ada sahabat kami di Singapura yang tengah membuat add-on di Chrome untuk melaporkan berita itu hoax atau tidak, sehingga nantinya informasi itu bisa dimanfaatkan oleh netizen lainnya. Tapi masih eksperimental, baru juga ditest hari ini. Kami mohon doanya supaya tools ini bisa segera kami luncurkan. Sedangkan secara umum, masih membutuhkan kejelian dari masing-masing pengguna medsos untuk berhati-hati dalam menerima informasi dan menyebarluaskannya.

‌Tips bagaimana mendeteksi berita itu hoax atau tidak, sudah kami sampaikan di materi di awal tadi.

2. Tanya : a. Apa yg orangtua bisa ajarkan kepada anak-anak agar mereka memiliki kemampuan melek literasi di era digital? Bisa membedakan berita real dan hoax?
b. Bagaimana membedakan antara berita real dan hoax di medsos?

Jawab : a. Menurut saya, anak perlu diberi tahu, mana sumber informasi yang sifatnya adalah ilmu, dimana ia bisa langsung belajar. Misalnya tentang ilmu matematika, ilmu agama, ilmu fisika. Dan diberi tahu, mana sumber informasi yang sifatnya adalah berita, dimana berita itu seringkali memuat sudut pandang pembuatnya (framing). Ajarkan anak untuk skeptis menerima berita.
Ajari anak untuk membaca sumber informasi dari beberapa sumber, sehingga anak tidak terbiasa menerima informasi dari satu sumber saja.

b. Membedakan berita faktual dan hoax, kadang sulit kadang mudah. Kalau ada judul yang provokatif, sebaiknya jangan langsung terima berita itu. Kekurangan netizen Indonesia, adalah kalau pertama nyebar berita di suatu grup, seolah paling kekinian, paling up-to-date.

Padahal bisa jadi berita tersebut belum dikonfirmasi. Atau masih half truth, yaitu baru sebagian yang dimunculkan oleh si pembuat berita. Kemudian, kalau judulnya provokatif, jangan segan menggunakan quota untuk melakukan Googling. Membandingkan suatu peristiwa dari berbagai macam sumber berita. Ini adalah bagian dari memperkuat literasi media.

Yang kedua, perhatikan alamat situs web. Jika yang membuat adalah situs abal-abal, yaitu yang tidak jelas nama redaksinya, tidak jelas penanggungjawabnya, tidak masuk ke Dewan Pers, maka harus hati-hati sekali menerima berita. Karena bahkan media mainstream pun sering melakukan kekeliruan faktual. Bedanya media mainstream, ada mekanisme untuk melakukan somasi atau gugatan, melalui Dewan Pers.

Ketiga. Cek fakta. Ini yang seringkali sulit, bahkan bagi aktivis anti hoax. Karena tidak semua fakta itu memang muncul di medsos. Sebagian hanya bisa kita temui di dunia nyata, dengan bertemu atau bersilaturahmi. Umumnya berita yang provokatif, itu tidak memuat keberimbangan. Bisa jadi karena memang niatnya untuk menggiring opini, bukan untuk menyampaikan fakta yang utuh.

Keempat, salah satu yang sering muncul di medsos, adalah gambar atau foto hoax. Hal ini bisa dicari kebenarannya kalau kita mau berlatih menggunakan tool seperti Google Images, untuk mengetahui foto tersebut aslinya tentang apa, asalnya dari mana.

Kelima, bergaul dengan komunitas anti hoax. Mengikuti grup mereka. Mengikuti beberapa FP anti hoax. Karena komunitas tersebut biasanya aktif menerima hoax terbaru, dan mencarikan obatnya.

3. Tanya : Pa Jawi, bagaimana caranya kita menelusuri bahwa berita share-an orang atau yg akan kita share itu hoax atau tdk, setelah secara nalar kita tahu bahwa … ah ini mah boong.

Bagaimana agar kita tdk terjebak pada sumber berita, yg ternyata hoax juga?

Jawab : Poin pertama, sudah saya jawab sebelumnya ya.

Supaya tidak terjebak pada sumber berita yang ternyata hoax, sementara ini memang kita masih berbasis pengalaman dan ingatan.
Idealnya adalah ada mekanisme dari netizen supaya bisa tahu rating dari sumber berita. Analoginya dengan situs rottentomatoes yang memberi rating kepada film. Kita lagi ingin menuju ke arah sana, semoga kedepan impian ini bisa tercapai, sehingga netizen bisa punya panduan, mana sumber berita yang bisa dipakai referensi, mana yang tidak.

Sebelum itu ada, ya gabungan, antara pengalaman, pembelajaran dari netizen lain, dan preferensi, baik itu politik ataupun agama.
4. Tanya : a. Bagaimana cara yang baik mengingatkan kolega yang kita ketahui sedang menyebarkan hoax?

b. Bagaimana proses pembuatan dan penyebaran hoax tersebut? Apakah memang ada organisasinya?

Jawab : a. Mengingatkan kolega, secara umum, bisa menasehatinya dari sisi moral, hukum, dan ajaran agama. Karena saya yakin ajaran agama manapun juga tidak membolehkan penyebaran hoax. Kecuali kalau memang orang yang tidak punya pegangan apapun, baik itu moral ataupun agama. Meskipun kalau orang Indonesia seharusnya lebih mudah dinasehati, karena basis agama, moral dan etika, seharusnya masih menjadi panduan utama.
Cara mengingatkan juga dengan cara yang baik, tidak mempermalukan ia. Kirim pesan saja lewat PM, sambil menyertakan bukti bahwa itu hoax. Bukti itu bisa ditanyakan di forum anti hoax.

b. Motivasi pembuat hoax itu bermacam-macam, ada yang motifnya ekonomi, karena memang beberapa situs hoax bisa menghasilkan puluhan juta perbulan dari iklan. Terutama yang memang sering menjadi referensi di media sosial. Ada juga yang motifnya politik, agama, kelompok, suku. Atau campuran darinya. Misalnya motif ekonomi sekaligus politik.

Buat mereka yang memang mengandalkan iklan untuk mendapatkan uang sebesar-besarnya, mereka tidak segan untuk membuat postingan hoax, yang penting asal banyak orang yang klik berita tersebut.

Jadi ada yang terorganisir, khususnya di level pembuat hoax.

Sedangkan penyebar hoax, seringnya tidak terorganisir, mereka spontan saja. Karena asal ada berita yang menjatuhkan orang yang tidak disenanginya, mereka asal sebar saja

5. Tanya : a. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan untuk menghindari hoax, terutama untuk anak-anak apa ya?

b. Hoax sering kali dianggap suatu usaha perang siber, cyber war, seperti juga pengalaman dan masa lalu pak Jawy, hal apakah yang memotivasi/menyadarkan pak Jawy hal itu bukan hal baik malah sekarang jadi penggagas komunitas anti hoax?

Jawab : a. Sudah ada jawaban diatas ya. Intinya ajak anak-anak untuk berwawasan luas dari kecil.

b. Saya pun dulu pernah menjadi CyberArmy. Ikut berperang melawan mereka yang saya anggap sebagai musuh Islam. Disitu saya dulu menganggap bahwa melawan mereka, bisa menggunakan segala cara, termasuk jika ada informasi yang merugikan mereka, tidak peduli benar atau tidak, dipakai untuk menghajar mereka.

Akhirnya saya sadar, bahwa itu bukan ajaran agama saya yang sesungguhnya. Karena seharusnya kalau mau menang, harus terhormat. Kalaupun harus kalah, tetap menggunakan cara terhormat. Aktivitas saya sebagai aktivis anti hoax, barangkali ikhtiar saya untuk menebus kesalahan saya di masa lalu.

6. Tanya : a. Bagaimana cara2 supaya selalu hati2 dalam menerima informasi?
b. Bagaimana cara menambah literasi media?
c. Bagaimana menyadari suatu berita itu hoax atau benar?

Jawab : a. Menurut saya, ketika ada informasi masuk, yang sekiranya bisa merugikan orang lain. Maka kita harus tabayyun, cross check. Kalau kita tidak punya kemampuan crosscheck, maka informasi itu kita simpan dengan skeptis, jangan langsung diterima di hati. Biarkan informasi itu berkembang, sehingga ada keseimbangan informasi atau berita. Apalagi berita yang berisi tuduhan, kalau bagi orang Islam, konsekuensinya ikut menyebarkan tuduhan yang salah, bisa berdampak serius dunia akhirat.

b. Literasi media itu sebenarnya sudah kita pelajari dari sejak SMP, SMA. Yaitu pelajaran membaca. Bedanya, karena di dunia sekarang, ada banyak sumber informasi, maka kita harus belajar membuat kesimpulan dari berbagai sumber. Jadi misalnya kalau ada berita A mengucapkan sesuatu B. Maka kita harus check di sumber berita lain, apa betul A mengucapkan B? Ataukah itu hanyalah penafsiran atau framing dari sumber berita yang kita dapat.

Ingat, semua media punya framing masing-masing. Baik itu media mainstream, apalagi situs abal2

c. sudah terjawab sebelumnya

7. Tanya : Ada tidak cara mudah untuk menskrining hoax? Terutama untuk medsos seperti youtube. Krn youtube sangat mudah diliat anak anak jaman sekarang. Terutama anak usia dini.

Jawab : Well ya, saya pegiat IT, bahkan saya punya usaha IT. Tapi saya justru sangat membatasi anak (usia 11th dan 5th) menggunakan gadget. Laptop, smartphone pun tidak saya kasih. Mereka hanya bisa pakai, kalau ada orangtuanya.

Juga ada beberapa usaha untuk mengamankan gadget dari anak, misalnya dengan memasang beberapa aplikasi pengaman untuk anak. Misalnya applock, atau ad remover, sehingga mereka tidak terjebak ke dunia yang tidak seharusnya mereka lihat.

Namun untuk masalah berita, tidak ada cara lain, kecuali orang tua harus bertanggungjawab penuh ketika anak mengambil berita dari gadget. Kalau memang pas tidak ada waktu, lebih utama mematikan akses sementara bagi anak, ketimbang resikonya lebih besar, mereka bisa rusak pemikiran dari kecil, karena menerima konten negatif dari media sosial atau pun internet pada umumnya

8. Tanya : a. Selain cek dan ricek saat mendapat berita tertentu, ada gak cara lain untuk lebih mengenali bahwa berita itu hoax atau tidak? Soalnya terkadang kita susah sekali membedakan mana yang asli dan mana yang hoax, sedangkan untuk cek dan ricek yang sering membutuhkan waktu yang tidak sedikit…

b. Tadi dikatakan bahwa kita harus hati-hati saat menerima berita dari media apapun, apalagi media abal2 atau media yg tak tertulis di Dewan Pers. Nah adakah syarat2 tertentu buat si calon media ini untuk menjadi anggota Dewan Pers..

Jawab : a. Dengan adanya komunitas anti hoax, kita banyak terbantu karena banyak orang lain yang telah berkorban waktu tenaga pikiran untuk mengklarifikasi hoax. Kami sendiri sedang membuat situs TurnBackHoax.ID sebagai tempat repository untuk hoax. Selain itu bisa mengunjungi FP Indonesian Hoaxes. Atau di group2 kami yang tersebut di awal pembahasan. Carilah disana dulu, karena kebanyakan hoax populer pasti dibahas.

b. Syarat menjadi anggota Dewan Pers ada di link berikut ini: http://dewanpers.or.id/siaran_pers/detail/292/siaran-pers-pendaftaran-anggota-dewan-pers-periode-2016-2019

Syarat Umum:

  1. Memahami kehidupan pers nasional dan mendukung kemerdekaan pers berdasarkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik
  2. Memiliki integritas pribadi
  3. Memiliki sense of objectivity dan sense of fairness; dan
  4. Memiliki pengalaman yang luas tentang demokrasi, kemerdekaan pers, mekanisme kerja jurnalistik, ahli di bidang pers dan atau hukum di bidang pers.
  5. Calon dari unsur wartawan masih menjadi wartawan.
  6. Calon dari unsur pimpinan perusahaan pers masih bekerja sebagai pimpinan perusahaan pers.
  7. Calon dari unsur tokoh masyarakat ahli di bidang pers dan atau komunikasi, dan bidang lainnya.

Syarat Administrasi:

  1. Surat pencalonan oleh organisasi pers, masyarakat atau diri sendiri.
  2. Surat pernyataan kesediaan menjadi calon anggota Dewan Pers.
  3. Menyertakan kartu tanda penduduk yang masih berlaku.
  4. Menyertakan riwayat hidup.
  5. Menyertakan pas foto terbaru ukuran 4×6 dua lembar.
  6. Surat pernyataan tidak sedang menjadi pengurus partai politik.
  7. Calon dari unsur wartawan:
    • Foto copy sertifikat atau surat keterangan kompetensi Wartawan Utama.
    • Surat keterangan dari penanggung jawab perusahaan pers bahwa yang bersangkutan masih menjalankan kerja jurnalistik di perusahaan pers yang sesuai dengan UU No.40 tahun 1999 tentang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan oleh Dewan Pers. (contoh formulir dapat diunduh di sini www.dewanpers.or.id)
  8. Calon dari unsur pimpinan perusahaan pers:
    – Surat keputusan pengangkatan dari perusahaan pers bahwa yang bersangkutan masih bekerja sebagai pimpinan perusahaan pers yang sesuai dengan UU No.40 tahun 1999 tentang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan oleh Dewan Pers.
  9. Calon dari unsur tokoh masyarakat:
    – Surat pernyataan tidak sedang bekerja sebagai wartawan atau menjadi pimpinan perusahaan pers.

9. Tanya : Sering kali orang sudah memiliki referensi berita, sehingga kecenderungan memilih sumber berita yang itu-itu saja, mereka hanya mau membaca atau mendengar apa yang ingin didengar, tanpa mau melihat berita pembanding, maka ketika ada pihak lain yang mengcounter hoax itu, sering kali penyebar hoax malah menuduh yang mencounter dengan hoaxer, gimana caranya agar hoax bisa dicounter secara efektif?

Jawab : Well ya, ini memang sulit. Karena kadang membedakan antara fakta dan opini saja orang kesulitan. Karena hoax itu tidak menyangkut opini. Hoax itu menyangkut fakta, jika fakta yang disampaikan keliru, maka ia hoax.

Memang tidak mudah untuk mengajak orang keluar dari bubble-nya masing-masing. Yaitu terbiasa meneirma berita yang hanya disukainya.
Maka hanya ajakan untuk kembali kepada moral, etika, dan agama, yang mungkin bisa berhasil.

Salah satu hal yang butuh diajarkan kepada netizen adalah Mutsaqqaful Fikr, yaitu luasnya wawasan. Tidak mudah mengambil kesimpulan dari sudut yang sempit. Mungkin itu jawaban yang mungkin belum menjawab secara tuntas pertanyaan sulit ini.

10. Tanya : Saat ini hoax bahkan sudah dijadikan mesin pendulang uang. Ketika ada pemblokiran situs, mereka dengan mudah pengganti domain sehingga bisa diakses kembali. Adakah upaya2 yang lebih efektif baik dari sisi teknologi maupun hukum agar situs2 penyebar hoax dapat “dimatikan” dengan cepat dan permanen?

Jawab : Ada beberapa langkah sebenarnya yang bisa dilakukan. Tapi memang belum dilakukan dengan baik oleh pemerintah.

  1. Proses hukum situs yang memang nyata menebar fitnah, hasut dan hoax. Karena sudah ada pasalnya masing-masing
  2. Matikan sumber pendapatan mereka, dengan mematikan akses Google Adsense, yang selama ini mereka pakai untuk mendulang uang. Google sendiri sudah berniat untuk mempermudah bagi pemerintah untuk mematikan Adsense bagi situs hoax.
  3. Tutup situs penyebar hoax/fitnah/hasut

Namun secara jangka panjang, yang lebih penting justru mendidik netizen supaya cerdas bermedsos. Yaitu mengutamakan konten positif, menggunakan medsos untuk menebar inspirasi dan menggugah.

11. Tanya : a. Apakah aksi oleh jutaan massa pada bulan November dan Desember 2016 termasuk tergerak karena hoax pak?
b. Apakah bahayanya hoax? Apakah bapak dapat memberikan contoh nyatanya pada kami, agar kami lebih memahami dunia per-hoax-an ini?
c. Apakah hoax dapat menjadi ancaman besar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Jawab : a. Saya tidak melihatnya demikian. Meskipun banyak hoax yang tertuju baik pemerintah, Polri maupun kepada peserta aksi tersebut.

b. Bahaya hoax ada banyak ya. Bagi yang terfitnah oleh hoax, bisa jadi nama baiknya rusak, karirnya hilang, atau dibenci oleh banyak orang.
Kita kembali ke Pilpres 2014, ada banyak hoax yang menyerang baik Pak Jokowi ataupun Prabowo. Jokowi difitnah sebagai keturunan PKI, ibu kandungnya disembuyikan, dan puluhan hoax lain. Demikian Prabowo difitnah (maaf) kemaluannya dipotong, punya dua kewarganegaraan, anaknya homo.

Hoax-hoax semacam ini membuat polarisasi di masyarakat, sehingga rentan terhadap konflik horizontal.

Bahkan ya, bisa mengancam keutuhan bangsa. Kehancuran Suriah, juga diakselerasi oleh penyebaran hoax.
Kita tentu tidak ingin Indonesia hancur seperti Suriah.

Penutup

Masing-masing dari kita bertanggungjawab atas apa yang kita perbuat. Jangan sampai jari kita mendzalimi orang lain. Kedzaliman kepada orang lain akibat jari kita di media sosial, bisa tersebar oleh banyak orang lain, dimana kita juga akan menanggung akibat dari perbuatan orang lain tersebut. Dan sangat sulit untuk bisa memperbaiki kesalahan, jika jari kita yang menyebabkan berita tidak benar itu tersebar luar. Ibarat mengumpulkan kapas yang sudah terhambur di udara. Mustahil.

Jadi jarimu adalah harimaumu. Hati-hatilah sebelum menekan keyboard, apalagi menekan tombol share. Ia bisa jadi menjadi penyelamat atau penghancur kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.

Terimakasih, mohon maaf atas segala kekurangan penyampaian saya. Karena ini adalah kulwap saya yang pertama kali.
Akhirnya segala kebenaran hanya milik Allah SWT, dan semua kesalahan adalah dari saya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh