Papilio Jelajah Tangkahan (3): Tracking dan Tubing

Tangkahan adalah kawasan hutan bak surga yang tersembunyi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kami, dari keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling  (HS) di Medan, mengadakan fieldtrip ke sana.

Setelah puas bersenang senang dengan gajah kemarin, hari ini kami akan menjelajah tangkahan dengan kegiatan tracking dan tubing. Tracking adalah kegiatan jelajah alam lewat jalan darat, berjalan kaki menyusuri pinging-pinggir sungai, merasakan kesejukan udara, menyatukan tiap langkah kaki dengan bumi yang kita pijak, dan merasakan betapa kecilnya kita di alam luas. Sedangkan tubing adalah kegiatan jelajah alam lewat jalur sungai menggunakan ban dalam truk yang dipompa. Peserta tubing merasakan betapa aliran air menyatukan mereka dengan alam, melihat hutan dengan sudut pandang yang berbeda, dan juga merasakan Maha BesarNyaTuhan.

Tidak semua keluarga Papilio mengikuti dua kegiatan, tracking dan tubing sekaligus, karena jalurnya berbeda. Kami masing-masing hanya mengikuti satu dari dua kegiatan itu. Kami dibagi menjadi dua rombongan, yaitu rombongan tracking dan tubing. Saya berada dalam rombongan tracking.

papilio-jelajah-tangkahan-jalur-tracking-indonesia-mendidik
Jalur Tracking dan Tubing

Saya dan keluarga Papilio di rombongan tracking, memulai perjalanan bersama seorang guide (pemandu perjalanan). Kami harus naik mobil ke lokasi awal tracking sekitar 5 menit. Jalur tracking mengambil arah ke area parkiran di dekat Visitor Centre. Dari situ kami berjalan menuju sebuah jembatan gantung yang terbuat dari kayu. Namanya Balu’s Bridge (jembatan Balu). Untuk melewati jambatan ini dikenakan biaya Rp5.000,00/orang.

papilio-jelajah-tangkahan-balus-bridge-indonesia-mendidik
Balu’s Bridge

Balu’s Bridge adalah jembatan sepanjang kurang lebih 50 meter. Lebarnya kurang dari 1 meter. Jembatan hanya boleh dilalui oleh maksimal 6 orang. Jika dari arah berlawanan ada yang menyebrang, kita harus menunggu sampai mereka mendekat ke tempat kita berada, baru kita bisa maju untuk menyeberang.

Bagi saya, jembatan ini sepertinya aman. Tapi, saat berada di tengah jembatan, kaki saya seperti berat untuk melangkah. Phobia (ketakutan) ketinggian saya mulai muncul. Tidak mudah melawan rasa itu, rasa gamang dan tidak yakin. Padahal sebelumnya saya yakin bisa melewati jembatan.

Saya mencoba berkonsentrasi dan berpegangan pada besi di samping kanan kiri jembatan. Saya berusaha tidak melihat ke bawah. Wow, saat saya melakukan itu, pemandangan eksotis terpampang dari atas jembatan. Saya memberanikan diri untuk mengabadikan keindahan sungai dari atas jembatan, walau dengan kaki gemetar. Sempat terasa jembatan seperti oleng. Orang-orang yang lewat menyebabkan jembatan bergoyang. Secepatnya saya melangkah, dan akhirnya sampai juga di ujung jembatan. Saya lega. Sensasi melalui Balu’s Bridge benar-benar memacu adrenalin.

Perjalanan kami lanjutkan melewati kebun-kebun milik penduduk, ada pohon jeruk nipis, nanas, dan durian. Suasana asri mengiringi perjalanan kami. Selain kebun, banyak penginapan dengan suasana hutan di sekitar kami. Tak lama berjalan, kami tiba di sumber air panas (hot spring), di tepi Sungai Buluh. Disini kami berjumpa dengan rombongan tubing. Kami beristirahat sejenak.

Sumber air panas yang kami temui berupa sebuah goa yang di dalamnya mengalir air panas. Goanya cukup besar, sehingga kami bisa berbaring dan merendam tubuh di aliran air panas alami ini.

papilio-jelajah-tangkahan-tracking-indonesia-mendidik
Perjalanan Tracking

Tujuan kami selanjutnya adalah Air Terjun Pijat. Kami menyusuri pinggiran sungai dan tiba di tujuan. Air Terjun Pijat masih berada di aliran Sungai Buluh. Air terjun ini tidak terlalu tinggi, namun air jatuhannya cukup keras. Jika kita berada di bawahnya, tubuh kita terasa dipijat-pijat oleh air yang jatuh. Itulah sebabnya tempat ini diberi nama Air Terjun Pijat.

Rombongan tubing rupanya sudah lebih dahulu sampai di Air Terjun Pijat dan sudah melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Glugur. Kami tidak melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Glugur. Tracking berakhir di Air Terjun Pijat.

Di sini, kami dan anak-anak bermain air dan berenang di Sungai Buluh. Setelah puas main air kami memutuskan untuk pulang. Ternyata jalur pulang, saya harus melewati Balu’s Bridge lagi. Alamak, saya bakal sport jantung lagi. Hahaha 😀 Mau tidak mau saya harus berani melaluinya.

Bagaimana ya dengan kelompok tubing? Mereka juga bersenang-senang.

Tubing hampir sama dengan rafting. Bedanya, kalau rafting menggunakan perahu karet, tubing menggunakan ban dalam truk yang dipompa.

papilio-jelajah-tangkahan-rombongan-tubing-indonesia-mendidik
Rombongan Tubing

Wah, rombongan tubing sangat bersemangat, apalagi anak-anak. Mereka sangat antusias dengan jaket pelampung di badan. Benar-benar anak-anak pemberani.

Perjalanan tubing ditemani juga oleh guide. Arus sungai yang akan mereka arungi tidak terlalu deras. Meskipun demikian, setiap peserta tubing wajib menggunakan pelampung demi keselamatan. Safety always comes first, keselamatan adalah hal yang utama. Tak lupa, mereka juga membawa bekal makanan.

Jalur perjalanan rombongan tubing adalah sumber air panas-Air Terjun Pijat-Air Terjun Glugur-menuju finish lewat jalan darat (naik truk pengangkut sawit). Jadi, rombongan tubing melewati dua tempat yang sama dengan rombongan tracking, yaitu sumber air panas dan Air Terjun Pijat.

Dari air terjun Pijat, rombongan tubing bertemu dengan simpang Sungai Buluh. Tiba di simpang Sungai Buluh, tubing ditambatkan. Mereka berjalan ke hot spring lalu turun ke air terjun Pijat, kembali ke simpang, naik tubing lagi, kemudian melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Glugur.

papilio-jelajah-tangkahan-tubing-indonesia-mendidik
Kegiatan Tubing

Air Terjun Glugur lebih tinggi dan lebih besar dibanding dengan air terjun Pijat. Rombongan tubing beristirahat sejenak sambil menyantap perbekalan. Setelah puas 3 jam bermain di Glugur, mereka kembali ke penginapan naik truk sawit dalam keadaan basah kuyup, lelah, dan senang luar biasa.

Pengalaman menjelajah alam di Tangkahan sangat berkesan di hati kami semua. Selain melatih mental dan spiritual, anak-anak juga melatih fisik agar kelak menjadi anak-anak yang tangguh.[]

Kontributor : Wilda Syafrianty

Papilio Jelajah Tangkahan (2): Bersenang-Senang dengan Gajah Tangkahan

Tangkahan adalah kawasan hutan bak surga yang tersembunyi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kami, dari keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling  (HS) di Medan, mengadakan fieldtrip ke sana.

Kami mengunjungi satu ikon Tangkahan, yaitu tempat penangkaran gajah Sumatra. Penangkaran adalah tanah luas yang dikelilingi pagar listrik. Kami masuk ke penangkaran dan mengamati gajah-gajah itu.

papilio-jelajah-tangkahan-naik-gajah-indonesia-mendidik

Gajah di Tangkahan difungsikan untuk turut membantu usaha konservasi alam di kawasan TNGL. Mereka digunakan untuk berpatroli mengamankan hutan dari pembalak liar serta pemburu. Gajah mampu membelah sungai dengan kaki-kakinya yang tegap saat berpatroli. Terkadang gajah juga dapat mengantar turis yang ingin menjelajah Tangkahan.

papilio-jelajah-tangkahan-suasana-penangkaran-gajah-indonesia-mendidik
Suasana Penangkaran Gajah di Tangkahan

Saat waktu mandi gajah tiba, gajah-gajah berbaris rapi. Para mahout (pelatih gajah) memberi aba-aba saat menggiring mereka menuju sungai Batang Serangan untuk mandi. Kami sungguh takjub dapat berbaur dan berjalan beriringan disamping hewan besar ciptaan Tuhan ini. Sungguh momen yang jarang terjadi.

Ketika gajah-gajah itu mandi, anak-anak sibuk mengambil sikat yang dibagikan dari abang-abang senior mahout. Mereka ikut memandikan gajah. Ada anak yang takut-takut. Ada yang langsung menyentuh gajah. Ada yang langsung saja menyikat gajah, bahkan duduk diatas perut gajah sambil menyikat. Hahaha. 😀

“Ihh…kulitnya kasar ya, Bun, tebal lagi,” kata salah seorang anak.

Selesai mandi, sebagian gajah pulang ke kandangnya dan yang lain tetap tinggal. Gajah-gajah yang kembali ke kandang adalah induk gajah yang mempunyai baby (anak gajah). Saya ingin sekali menyentuh dan bermain bersama anak gajah yang mungil dan menggemaskan itu. Tapi, menurut para mahout kita harus berhati-hati terhadap anak gajah.

“Lho, kenapa Pak?” tanya saya kepada salah satu mahout.

“Anak gajah suka bermain. Kalau tak sengaja terdorong, dia akan membalas mendorong. Kadang ia menyeruduk pula,” demikian penjelasan pak mahout.

Setelah selesai memandikan gajah, giliran kami yang dimandikan gajah. Para gajah menyemprotkan air dari belalainya beberapa kali. Anak-anak tertawa dan menjerit senang.

Selain memandikan gajah, anak-anak diberi kesempatan memberi makan gajah. Gajah makan buah-buahan dan pelepah sawit. Pelepah-pelepah sawit diperoleh dari sekitar penangkaran dan diangkut ke kandang oleh gajah-gajah itu juga. Sungguh gajah hewan yang rajin dan cerdas, mampu mengangkut kebutuhan makannya sendiri ke kandang.

Kami mengakhiri acara memandikan gajah dengan berfoto bersama gajah. Hal yang tak kalah luar biasa adalah gajah-gajah itu pandai berterima kasih. Mereka memberikan salam penghormatan dengan gaya yang keren sekali, sebagai tanda terima kasih. Kami sungguh senang.

Kesenangan kami berlanjut. Setelah kembali ke atas menuju penginapan, kami melihat atraksi gajah yang lain. Anak-anak sangat riuh dan bersemangat ingin naik gajah. Saya pun ikut naik gajah. Naik gajah seperti naik perahu yang terombang-ambing. Sensasinya menyenangkan. Selesai naik gajah, rombongan kami pun kembali ke penginapan.

papilio-jelajah-tangkahan-gajah-membelah-sungai-indonesia-mendidik
Gajah Membelah Sungai

Dari gajah, kami belajar banyak hal. Kami belajar tentang pentingnya berterima kasih, tentang memanfaatkan kekuatan untuk tujuan memelihara alam, tentang bersahabat, tentang bersenang-senang dengan cara yang baik.

Perjalanan kami berlanjut esok harinya, yaitu jelajah Tangkahan melalui kegiatan tracking dan tubing. Tracking dan tubing tak kalah serunya dengan aktivitas bersama gajah. Yuk, ikuti kami! []

Kontributor: Wilda Syafrianty

Papilio Jelajah Tangkahan (1): The Hidden Paradise

Dunia adalah sebuah buku, dan saya senang membacanya.

Sebaik-baik buku adalah memuat bacaan yang menginspirasi dan kita menikmatinya. Dunia ini adalah sumber bacaan, yang meskipun tidak tertulis, tapi sungguh adalah buku terbaik.

Kami, Keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling (HS) di Medan, membaca dan menikmati kawasan Tangkahan melalui kegiatan fieldtrip, Papilio jelajah Tangkahan. Apa yang menarik dari Tangkahan? Bagaimana anak-anak HS Papilio ini belajar? Apa saja yang dapat dipelajari di Tangkahan? Ayo, menjelajah Tangkahan bersama kami.

keluarga-papilio
Keluarga Papilio

Tangkahan terletak di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, diapit oleh dua desa dan dua sungai. Dua desa itu adalah Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang. Sedangkan dua sungainya yaitu Sungai Buluh dan Sungai Batang Serangan.

Tentang Sungai Batang Serangan, air sungai sebenarnya jernih kehijau-hijauan. Warna hijaunya merefleksikan warna-warni pohon di hutan Tangkahan. Tetapi saat kami datang, sungai berwarna coklat. Hal itu karena hujan yang terus menerus turun dalam beberapa hari. Air hujan membawa tanah yang coklat dan mengalir ke sungai.

alam-asri-tangkahan
Air sungai berwarna coklat karena hujan yang turun terus menerus membawa tanah ke aliran sungai.

Tangkahan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuseur (TNGL). TNGL tadinya adalah tempat terjadinya illegal logging, penebangan kayu liar. Di sini, kami belajar kalau illegal logging dapat merusak ekosistem. Dengan usaha dan kerja keras masyarakat lokal, illegal logging akhirnya hilang.

Perjalanan dari Medan ke Tangkahan memakan waktu 3-4 jam naik mobil. Sepanjang perjalanan, kami melewati perkebunan sawit. Kondisi jalanan berbatu dan tanah merah. Sesekali hujan turun. Hal ini membuat akses jalan menuju ke Tangkahan menjadi becek dan licin. Kami harus ekstra hati-hati mengendarai mobil. Anak-anak merasa kelelahan dan tidak sabar untuk segera sampai di lokasi.

Pertama kali tiba di Tangkahan, kami disuguhi pemandangan indah kupu-kupu yang beragam, bak berada di surga kupu-kupu. Kami belajar kalau kupu-kupu selain indah, juga merupakan indikator bahwa alam Tangkahan masih terjaga kelestariannya, ekosistemnya seimbang, dan udaranya sehat.

kupu-kupu
Surga kupu-kupu.

Panorama hutan Tangkahan sangat luar biasa. Selain surga kupu-kupu, kami menikmati pemandangan pohon-pohon hijau berjajar, sungai-sungai membentang, air terjun, goa, lembah, bukit, dan tumbuhan hutan tropis. Inilah anugerah ciptaan Tuhan. Kami belajar bersyukur dengan cara menjaga kelestariannya.

air-terjun-tangkahan1
Air terjun Tangkahan.

Hal yang tak kalah menarik adalah adanya penangkaran gajah. Di tempat penangkaran gajah ini, kami memandikan gajah, menunggang gajah melintasi sungai, dan belajar banyak hal tentang gajah. Kegiatan ini tidak ditemui di tempat lain. Jadilah gajah menjadi ikon Tangkahan.

kegiatan-memandikan-gajah
Kegiatan memandikan gajah.

Puas belajar tentang gajah, kami menjelajah Tangkahan dengan berkegiatan tracking dan tubing. Tracking adalah kegiatan menjelajah alam dengan berjalan kaki, sedangkan tubing adalah menjelajah alam dengan kendaraan unik, yaitu ban dalam truk yang dipompa.

treking
Tracking
tubing-tangkahan
Tubing

Alam yang masih asri dan indah, keanekaragaman flora dan fauna, dipadu dengan udara segar, Tangkahan layak diberi julukan “The Hidden Paradise”, surga tersembunyi, karena dengan keunikan alamnya ini, hanya sedikit yang mengetahuinya. Tak terasa segala lelah menempuh perjalanan menuju Tangkahan. Sungguh Tangkahan adalah surga yang nyata.[]

Kontributor: Wilda Syafrianty

Radho, Raffa dan Ikan Cupangnya

Mungkin karena emaknya “pelit” memberi sesuatu, duo bocah itu jadi berusaha lebih keras. Saya tak memberi uang jajan secara cuma-cuma, mereka harus bekerja, kadang-kadang mereka merasa uang jajan yang diberikan emaknya terlalu sedikit, haha! Maklum anak gak sekolah, jadi gak perlulah jajan banyak-banyak.

Belakangan duo bocah itu sibuk dengan ikan cupangya, beberapa kali  tertangkap basah sedang “browsing”  ikan cupang

“ikan cupanggg.. aja yang dilihat” kata emaknya menggerutu.

“gapapalah bua, abang mau tau yang mana yang jantan dan yang mana betina”  katanya menjelaskan

“bua.. ini lambang apa sih? Sambil menunjukkan simbol jantan dan betina

“tanda positif ini menunjukkan jenis kelamin betina, tanda panah ini menunjukkan tanda jantan” itu simbol-simbol pelajaran biologi bang” jawab saya sedikit menjelaskan.

“oh.. gitu” katanya sambil mengangguk

“emang kenapa bang? Tanya emaknya menyelidik

“mau abang lihat dulu ikan-ikan abang, yang mana yang jantan yang mana yang betina, biar abang kasih nama, trus nanti mau abang kawinkan” lumayan kalau bisa bertelur banyak, jadi anaknya banyak, bisa abang jual sama si Rasyad dan orang-orang luar kompleks, katanya bersemangat.

Hingga detik ini Radho-Raffa masih antusias merawat ikan-ikannya, mulai dari menangkap jentik-jentik dan mencari cacing merah di selokan, mengganti airnya, sesekali mereka juga menjemur ikannya di luar. Beberapa kali saya lihat mereka sedang mencampurkan ikan jantan dan betinanya di dalam satu toples, katanya sedang mengawinkan. Mereka juga betah berlama-lama memperhatikan perilaku ikan-ikannya, sesekali mereka berteriak.
ikan-cupang-radho-raffa-indonesia-mendidik-2
“bua..bua, yang jantan sudah membuat gelembung-gelembung untuk telornya, tinggal nunggu kawinnya ini” kata Radho bersemangat. Bayangan dolar mungkin sudah berputar-putar di kepalanya, wajahnya terlihat sumringah.

“bua.. bua.. kalau kayak gini, lagi kawin gak? Tanya Radho lagi.

“ya..gimana ikan cupang kawin?

“ya.. nanti jantannya menjepit betinanya, trus betinanya nanti lemas, trus keluar telur-telurnya, trus yang jantan menangkap telurnya, untuk diletakkan di gelembung-gelembung itu”

“ya udah gitu gak abang lihat kelakuannya?

“masih mau gitu, tapi gak jadi”

“dek..bayangkan, kalau ikan kita telurnya menetas 600, ada 600 dek yang bisa kita jual, kali Rp10.000,- dek, buuanyaakk kali itu dek” mata menerawang membayangkan dollar.

“ihh.. iya ya bang, buanyak kali, bisalah kita beli kucing persia bang”

“iyalah.. bisa..

Hanya dengan memelihara ikan cupang saja mereka bisa belajar biologi ( simbol jantan dan betina, proses kawin, ciri-ciri jantan-betina) memanfaatkan teknologi (browsing) ekonomi (berbisnis) karakter (ketekunan) dan bermimpi bagaimana mewujudkan cita-cita dengan proses, bukan dengan cara-cara yang instant.

Rahmaida “bua” Simbolon

Keseimbangan : Eksperimen Lilin Jungkat-Jungkit.

Eksperimen ini sangat mudah, hanya butuh dua gelas, sebuah lilin, sebuah korek api  dan  jarum.

Caranya : masukkan jarum persis ditengah bagian lilin. Setelah masuk letakkan jarum di atas mulut gelas. Mulut gelas sebagai penyangga jarum. Nyalakan salah satu ujung lilin, posisi lilin akan menjadi vertikal. Kemudian nyalakan ujung lilin lainya, sehingga kedua ujung lilin menyala.

Fakta :  lilin mulai bergerak-gerak berkali-kali, kemudian berputar putar, hingga perlahan mencapai titik keseimbangan.

Tampak anak-anak antusias memperhatikan, seperti biasa, emaknya mulai menggali rasa ingin tahu duo bocah itu.

“Kok bisa seimbang bang? Dek?”

“gak tau abang..” katanya sambil memperhatikan lilinya, dan sesekali memainkan cairan panas dari  lilin itu.

“coba dipikir lagi, kenapa kira-kira jadi seimbang”?

“mungkin karna lilinnya terbakarnya sama-sama, jadi beratnya sama, yang sebelah sini sama yang sebelah sini” sambil menujuk ujung-ujung lilin”

“tadi kan satu ujungnya aja di bakar”? kenapa malah lilinyanya jadi vertikal? Tanya saya.

“ya karna ujung sini masih lebih berat, jadi yang berat masih di bawah” sambil menunjuk ujung lilin yang belum terbakar.

“terus kenapa kalau dibakar kedua ujungnya malah bisa seimbang? Bukannya harusnya yang duluan terbakar lebih ringan?” harusnya posisinya tetap vertikal?

“iya sih harusnya, gak taulah abang bua..”

“iya, gitulah bua, sama beratnya ini, dua-duanya” sahut raffa sambil menunjuk kedua ujung lilin.

Emaknya sedikit menjelaskan tentang gaya dan energi, kira-kira seperti di bawah ini, dengan penjelasan yang sangat sederhana, yang sesuai dengan anak-anak.

eksperimen-lilin-jungkat-jungkit

Penjelasan :
Gerak jungkat-jungkit pada lilin, dipengaruhi oleh  berat beban, berat kuasa, jarak beban ke titik tumpu, jarak kuasa ke titik tumpu. Kondisi akan seimbang jika gaya pada kedua sisi sama besar. Dalam eksperimen kami kali ini, saya menjelaskan gaya dan energi, dimana gaya adalah tarikan atau dorongan yang dapat mempengaruhi keadaan suatu benda, gaya juga dapat menimbulkan perubahan gerak. Dalam eksperimen ini terdapat hubungan gaya dan energi. Energi sendiri adalah kemampuan suatu benda dalam melakukan kerja, semua benda yang bergerak memiliki energi, nah.. energi dalam ekperimen ini adalah energi panas, maka energi panas inilah yang membuat  lilin bergerak-gerak alias jungkat-jungkit.

Rahmaida “bua” Simbolon

Madu Palsu!

Tadinya kami hanya bereksperimen membuktikan gaya kohesi, dengan menggunakan madu, air berwarna, dan minyak. Hasil eksperimen terlihat pada gelas yang paling bawah adalah madu, di tengah adalah air yang diberi pewarna hijau, dan yang paling atas adalah minyak goreng. Ketiga zat cair itu tidak dapat menyatu, disebabkan oleh gaya kohesi, yaitu sebuah gaya tarik menarik antara partikel partikel yang sejenis. Kohesi dipengaruhi oleh kepadatan dan jarak antar partikel dalam zat. Dengan demikian, gaya kohesi mengakibatkan ketiga zat tersebut bila dicampurkan tidak akan saling melekat.

Namun dalam eksperimen kami, madu dan air bercampur menjadi satu, sehingga terjadi perubahan warna, dari hijau menjadi kecoklatan.

“Bercampur bua, madu dan air hijaunya bercampur”  kata anak-anak, emaknya terdiam, sebab paham, seharusnya madu itu tak tercampur dengan air, sambil berkerut-kerut mikir..

“kok bisa bercampur ya bang? Apa madunya palsu?

“bisa jadi bua, kalau palsu bercampur, kalau asli gak bercampur” katanya sambil ikut berpikir.

“tapi kenapa tadi waktu diawal madunya gak tercampur bang?

“hmm.. kenapa ya? Jawab duo bocah itu serentak.

“ohh.. bua tau, mungkin karna kepekatan gulanya bang, madu palsu itu kan mengandung banyak sekali gula, jadi pekat, nah.. kalau air pewarna kan tanpa gula,  jadi belum tercampur ketika belum diaduk,  kan kita pernah tuh eksperiemen kepekatan gula ya? Tapi agak gagal waktu itu bang”

“Ohh.. iya mungkin bua”

“tapi malah bagus tuh bang, kita malah tau, madu kita palsu! Emaknya cenggengesan sambil kesel karna sudah tertipu.

Kesimpulan kami adalah; eksperiemn kami bisa dijadikan acuan, untuk membuktikan bahwa madu yang anda beli palsu apa asli, madu palsu akan bercampur dengan air ketika diaduk, karna madu palsu mengandung banyak air, sedangkan madu asli tidak akan bercampur dengan air, disebabkan oleh kepadatan antar kedua partikel berbeda, begitulah, ketika eksperimen gagal sekalipun, ilmu itu selalu ada.

Rahmaida “bua” Simbolon
#experimen#curiosity#funLearning#

Kisah Ekperimen Papilio Club

Yak… kegiatan bulanan Papilio Club kali ini adalah bereksperimen. Masing-masing anak mempraktekkan sendiri eksperimennya, dan menjelaskan ala “anak-anak” bagaimana pemahaman mereka tentang eksperimen tersebut.

Gavi, misalnya, anak dari kak Ivana Aritonang, selain bereksperiemen sendiri, Gavi juga belajar menuliskan hasil eksperimennya. Tulisan di bawah ini adalah tuliasan Gavi, dengan edikit editing dari saya,

Gavi melakukan percobaan “elektromagnetik”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. kabel yang sudah di kuliti dari pelindung karetnya
  2. sebuah paper clip
  3. baterai 1.5 vol
  4. sebuah paku
  5. sebuah saputangan
  6. sebagai pengaman yang takut kesetrum
  7. dan sebuah selotip.

Cara membuatnya sebagai berikut:

Ambil kabel dan lilitkan ke paku, melilitkannya dari tengah dan di sisakan kabelnya supaya bisa ditempel ke kutub – kutub baterai. Tempelkan ujung kawat dengan kutub-kutub baterai, lalu selotipkan dan dekatkan paku ke paper clip. Apa yang terjadi? Paper clip akan menempel ke paku, mengapa? Karena energi yang ada di baterai dipindahkan oleh kabel ke paku yang mengubahnya menjadi magnet, sehingga paku mampu mengangkat paper clip.

papilio-club-homeschooling-medan-ekperimen-elektromagnetik
Ekperimen elektromagnetik oleh Gavi

Nancy, melakukan eksperimen membuat “susu pelangi”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. sabun colek
  2. air
  3. pewarna makanan
  4. dan tusuk gigi

Caranya sebagai berikut :

Tuangkan susu cair di atas piring, kemudian teteskan beberapa pewarna di atas susu cair, (tidak tercampur). Ambil sedikit saja sabun colek menggunakan tusuk gigi, letakkan di tengah-tengah piring. Pewarna makanan akan menjauh dan membentuk gelembung warna –warni, mengapa? karena susu mengandung lemak dan protein yang merupakan merupakan unsur yang paling sensitif pada perubahan dalam larutan sekitarnya. Senyawa yang ada pada sabun memecah protein yang terkandung dalam lemak sehingga susu mendorong pewarna menjadi memutar dan menggulung.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-susu-pelangi
Eksperimen susu pelangi oleh Nancy

Athan, anak mba’ Dian Atika, bereksperimen “konsep tegangan air”. Bahan-bahan yang digunakan sebagai berikut:

    1. uang koin Rp100
    2. air
    3. wadah
    4. dan garpu

Caranya adalah sebagai berikut:

Apungkan uang koin di atas air dengan menggunakan garpu. Setelah mengapung, teteskan sabun dan uang koin akan tenggelam, mengapa? Uang mampu mengapung di atas air disebabkan oleh adanya tegangan air yang sama besar ke segala arah. Partikel-partikel di dalam air menarik ke segala arah sehingga membentuk selaput tipis di atas permukaan air, sehingga menahan koin tetap mengapung. Namun ketika dicelupkan satu tetes saja air sabun, koin akan tenggelam disebabkan oleh menurunnya tegangan di dalam air, yang menyebabkan selaput tipis menjadi terurai.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-tegangan-air
Ekperimen tegangan air oleh Athan

Radho, bereksperimen membuat “tornado air”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

      1. gelas
      2. air
      3. sendok
      4. dan pewarna makanan

Caranya sebagai bertikut:

Aduk air di dalam gelas dengan kecepatan tinggi. Teteskan perwarna makan satu tetes saja. Maka akan kelihatan air yang berwarna seperti bentuk tornado, megapa? Proses tornado air sama halnya dengan terbentuknya pusaran air, pusaran air terbentuk dari arah putaran air yang berlawanan, sehingga ketika diteteskan pewarna makanan akan terlihat gerakan vertikal yang berputar-putar.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-tornado air
Eksperimen tornado air oleh Radho

Raffa bereksperimen membuktikan benda yang diberikan “daya”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. gelas
  2. uang koin
  3. dan kartu remi

Caranya sebagai berikut:

Letakkan kartu remi di atas mulut gelas. Letakkan uang koin di atas kartu remi. Jentikkan jarimu menyentuh kartu remi, apa yang terjadi pada uang koin? Uang koin akan jatuh ke dalam gelas, meskipun kartu remi sudah melayang terbang, kenapa? Karena yang diberikan daya adalah kartu remi, maka kartu remi akan melayang, sedangkan uang koin karna tidak diberi gaya maka ia akan jatuh ke dalam gelas.

Tak ketinggalan, teman-teman yang lain dari Papilio Club yang tak bisa hadir, membuat eksperimen juga. Mereka mengunggahnya ke grup WhatsApp kami. Seperti Ali anak umi Afita Risdiarti dan Izzan anaknya bunda Wielda Syafrianty misalnya.
Ali bereksperimen “nut dancing” bahan-bahannya sebagai berikut:

    1. cairan berkarbonasi
    2. gelas
    3. biji kedelai

Caranya sebagai berikut :

Masukkan biji kedelai ke dalam gelas yang berisi air karbonasi. Msukkan garam, apa yang terjadi? biji kedelai akan bergerak naik turun dalam minuman berkarbonasi, dikarenakan gas karbon dioksida suka menempel pada benda padat. Itu sebabnya kita melihat ada gelembung gas yang berkumpul pada biji kedele. Lama-lama jumlah gas yang menempel ini semakin banyak sehingga mampu mendorong biji kedelai naik ke permukaan. Sampai di permukaan, gas lepas ke udara, dan biji kedelai yang lebih berat dengan air, kembali tenggelam. Ini terjadi berulang-ulang. Garam kita tambahakan untuk mendorong gas karbon dioksida yang terlarut dalam cairan.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-kedelai-karbonasi
Eksperimen Nut Dansing oleh Ali

Izzan bereksperimen tentang “gaya kapiler” , dengan bahan-bahan sebagai berikut:

      1. kertas
      2. gunting
      3. piring
      4. dan air

Caranya sebagai berikut:

Bentuklah pola di kertas seperti bunga matahari, lalu gunting dan tekuk ke dalam kelopak-kelopaknya. Lalu letakkan bunga kertas tersebut di atas piring atau baskom yang berisi air, apa yang terjadi? Dari hasil pengamatan, kelopak membuka atau mekar, disebabkan oleh gaya kapiler, kalau dilihat dengan mikroskop, akan terlihat serat-serat tipis yang panjang. Serat tipis itu menyerupai benang yang terurai dan menyerap air, sehingga menyebabkan bunga kertas itu mekar seperti bunga matahari.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-kapiler
Eksperimen gaya kapilet oleh Izzan

Rahmaida “bua” Simbolon

Mencari Surga yang Tersembunyi, Negeri Suah Sibolangit

Hujan seharian membuat keputusan untuk mencari “surga yang tersembunyi” di daerah Sibolangit menjadi dilema, meski pada akhirnya kami berangkat juga menuju surga itu, namun posisi matahari sudah hampir tegak lurus dengan kepala, mungkin Negeri Suah tak jauh, pikirku..

Beberapa kali berhenti sekedar hanya untuk bertanya pada warga, jalan menuju Negeri Suah, jalanan berkelok, penuh lubang, beberapa tebing bahkan sudah longsor, kiri dan kanan lembah curam, sesekali jantung terasa berdenyut, merasa gentar ketika mobil seperti menukik, hujan bahkan menambah denyut nadi semakin kencang, licin..

Di jalanan, terlihat gerombolan pemuda pemudi berjalan beriringan, seperti baru pulang kemah, merasa yakin tujuan semakin mendekat, di ujung jalan ada juga puluhan muda-mudi yang sedang istirahat, ah.. kami sudah sampai! kami berhenti sejenak di warung kopi, sekedar menghangatkan tubuh dan mengisi energi, perjalanan belum usai, kami masih harus menempuh perjalanan melalui persawahan yang tak kalah licinnya dengan jalanan sebelumnya. Rintik hujan masih setia menemani perjalanan kami, bisa kau bayangkan tanah merah ketika hujan? ya..licin, sangat licin! Terkadang terasa badan tak seimbang ketika menelusuri jalan itu, tak ketinggalan pria berkacamata itu pun seperti kewalahan menghadapi arena petualangan, bahkan ia sempat jatuh.. haha! Aku tau ia ingin mengeluh, namun hal itu tak kan pernah dilakukannya..”i know him so much”

Beruntung karena empat anak kecil tak perlu dituntun, kecuali keponakan, yang memang belum terbiasa berpetualan. Negeri Suah.. ah.. kau sudah di depan mata, tampak sungai itu mengalir deras, di kejauhan terlihat kepulan asap sebagai penanda bahwa sungai itu sebagai sumber air panas, dari jauh kau akan mencium bau belerang yang menyengat, kami bahkan melalui sungai kecil yang airnya terasa hangat. Melihat perlahan-lahan, aku mulai menduga, sungai ini baru saja banjir bandang, beberapa kayu besar tersangkut, dan beberapa gundukan kayu kecil-kecil, jelas di tepi sungai bekas erosi tanah akibat derasnya air, bahkan terlihat di tengah seperti pulau, aku yakin sungai itu dulunya tak seluas ini.

Ketika kuinjakkan kaki, air terasa deras, hangat dan beraroma belerang, rerumputan yang tumbuh di pinggir sungai sudah memutih. Tampak belerang itu menempel di setiap benda yang dilaluinya. Anak-anak hanya bermain di tepi, meski bawa pelampung, kondisi sungai tak kondusif untuk dijelajahi, airnya yang deras mengurungkan niat kami untuk berpetualang lebih jauh, pun waktu yang sempit, kami harus sudah kembali sebelum matahari berangkat menuju ufuk barat, rintik hujan menambah bumi Negeri Suah semakin gelap!

mencari-surga-tersembunyi-negeri-suah-sibolangit-sumatera-utara-indonesia-mendidik-1

Tak lama kami berada di sana, sekedar menghilangkan lelah dan menikmati sejenak hangatnya air belerang. Bumi yang gelap, kabut, tanah longsor, jalanan licin serta mata pak supir yang minus lima, membuat kami harus segera bergegas. Dalam perjalanan apapun, keselamatanlah hal yang utama, jangan menjadi konyol ketika kemewahan surga membius hati, lena dengan sensasi alam.

Anak-anak membawa bongkahan batu kecil, mereka ingin menelitinya, batu itu tampak cantik, mengkilat, berwarna putih keabu-abuan, sepintas mirip dengan stalagtit di dalam gua. Di tengah jalan, saya memetik dua bunga kecombrang, yang tumbuh liar di seluruh Negeri Suah. Berhektar-hektar tanah ditumbuhi tanaman ini, mungkin karena banyaknya bunga-bunga itu sebagian layu dan sebagiannya berbuah. Terlihat tanaman ini tidak dimanfaatkan oleh penduduk setempat, mungkin juga karena penduduk Negri Suah yang hanya enam belas kepala keluarga itu kelebihan bunga kecombrang. Bayangkan saja enam belas kepala keluarga dengan tanaman kecombrang berpuluh-puluh hektar atau mungkin ratusan hektar.

Pada perjalanan pulang, mobil tak bisa naik dikarenakan jalanan yang licin, mendaki, dan tikungan tajam. Terpaksa kami para penumpang, turun dan membantu agar mobil bisa melewati tikungan tajam dan mendaki itu. Setelah mobil dapat bergerak naik, kamipun berlari-lari mengejar mobil di bawah rintik hujan, ketika kondisi mobil dalam keadaan aman, barulah kami naik lagi, pfiuuhh.. lumayan jauh.. tapi.. seru!

Tak berapa lama berjalan, kami disuguhi pemandangan yang cantik,bentangan sawah di pebukitan, dengan bedeng yang bertingkat, hijauuu.. di depannya terpampang iringan pebukitan… puas dengan hamparan sawah dan pebukitan. Kemudian kami disuguhi lagi pemandangan ladang biji-bijian yang lua. Penasaran dengan tanaman ini, tanaman ini pasti ditanam, bukan tumbuh liar, terlihat dari rapinya tanaman itu, dan hampir tak terlihat gulma di ladang itu, saya memetiknya dan ingin mencari tau jenis tanaman itu? Ternyata tanaman itu tanaman jali, mirip sekali dengan “buah kalung” yang sejak kecil biasa saya ronce untuk membuat gelang dan kalung. Tanaman itu secara fisik sedikit berbeda dengan “buah kalung”. Daun “buah kalung” lebih lebar dengan batang yang lebih pendek, sementara pohon jali yang saya lihat, batang yang lebih tinggi, hampir setinggi pohon jagung, dengan daun yang lebih sempit, bisa saja tanaman itu sebenarnya sama, Cuma habitat menjadikan tanaman itu sedikit berbeda. Tanaman di daerah sejuk tampaknya mengecilkan daunnya, bukankah tanaman di daerah dingin cenderung lebih sempit atau bahkan seperti jarum? Seperti daun cemara misalnya? Lebih tinggi bisa jadi karna mencari matahari?? Bijinya lebih keras di daerah panas ketimbang daerah sejuk. Setelah membaca beberapa artikel, saya yakin tanaman ini sama, yaitu buah jali.

mencari-surga-tersembunyi-negeri-suah-sibolangit-sumatera-utara-indonesia-mendidik-2

mencari-surga-tersembunyi-negeri-suah-sibolangit-sumatera-utara-indonesia-mendidik-4

Buah jali bisa dimanfaatkan sebagai sumber makanan yang mengandung karbohidrat, serat dan protein. Bisa dijadikan sebagai pengganti beras, ternyata buah jali juga ada di daratan China, hanya saja buah jali asal indonesia lebih baik kualitasnya, dan buah jali asal Medan lebih baik kualitasnya dari buah jali daerah lain di Indonesia. Ya.. itu sedikit saja kisah kami ketika mencari “Negeri Suah”..

Rahmaida “Bua” Simbolon

Tantangan Homeschooling di Daerah Sulit Sinyal

Sejak pertama memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anak-anak, maka sejak itu juga tantangan terus menghadang, haha!

Dimulai dari minimnya akses untuk memperoleh arus informasi, sinyal yang sering muncul tenggelam, berkali-kali ganti kartu hanya untuk menemukan oprator mana yang bisa dipakai di daerah ini, hampir semua kartu kami coba.

Pernah mencoba kartu tri, awal-awal masih bisa meski lambat, semakin lama siynalnya semakin hilang, kemudian ganti dengan kartu xl, lumayan lebih kencang dari tri,tapi tak lama, hingga akhirnya siynal melemah juga, hingga akhirya satu bulan belakangan tak lagi bisa menggunakan kartu tersebut! Apa nyana.. kegiatan rutin harian radho-raffa untuk ixl dan readingegg tak bisa berjalan, kami hanya mengerjakan matematika dan bahasa seadanya, dan beralih memperbanyak eksperimen.

Merasa kegiatan yang masih sedikit, akhirnya kami memutuskan untuk mencari daerah bersinyal, kami memutuskan mengerjakan ixl dan readingegg persis di bawah tower, hahahha! Apa yang terjadi? Ya.. siynal meluap namun paket internetnya habis! (pengen ngakak guling-guling) kemudian saya ganti kartu yang ada di hape saya untuk dipasangkan di modem, sama sih jaringan meluap, tapi.. tetap saja jaringannya sibuk, tak bisa juga mengerjakan ixl dan readingegg! Hah! Sebegininya ya perjuangan untuk belajar?? Sementara saya masih menunggu agar webnya terbuka, anak-anak berakrobatik panjat-memanjat, lompat-lompat dan bergelantungan, tak berapa lama readingeggnya bisa dibuka, satu sesion selesai, setelah itu..tewas! wkwwkkwk.. duh.. sungguh tak mudah menjalaninya, tapi memutuskan untuk tetap homeschooling adalah sebuah tanggung jawab yang harus terus diemban, hingga nanti anak-anak bisa secara mandiri mengambil keputusan untuk dirinya sendiri!

tantangan-homeschooling-daerah-sulit-sinyal-4Sambil menunggu kapan sinyal datang lagi menyapa, dua bocah itu berusaha menghibur diri mereka dengan permainan-permainan fisik, lumayan, bisa mengasah motorik kasarnya, sementara saya dengan tatapan hampa menatap layar monitor dengan dahi yang berkerut-kerut karena telah kepanasan ditambah lagi dengan jaringan yang tak kunjung menyapa, rasanya pengen pingsan aja.. yaelah.. urip ki kok koyo ngene yo? Mesakno temen!

“dahlah bua, dah kayak orang gila kita disini, dah gitu sama aja kayak di rumah, gak bisa-bisa juga! Begitu kata Radho putus asa! Pfiuuhh.. baiklah.. ayo kita kemon anak-anak, kapan-kapan kita coba lagi”! ahh.. HS itu adalah proses perjuangan panjang dalam membentuk karakter tangguh tidak saja untuk anak-anak tetapi untuk emaknya, tak mudah memang, atau bisa dibilang terjal, bisa jadi karena tak mudah, maka alam menempa semangat kami untuk lebih kuat menghadapi tantangan! Jalani saja, lakukan maksimal, sisanya biarkan Tuhan yang menuntun jalan kita..

Rahmaida “bua’ Simbolon

Festival Dongeng Internasional Indonesia 2015

Tanggal 31 Oktober dan 1 November 2015 sudah saya tandai di kalender keluarga sebulan sebelumnya, karena saya sangat menunggu-nunggu acara di hari itu: festival dongeng tahunan!!! Yeaayy!! Senangnya.. tidak terasa festival ini diadakan lagi, teringat tahun sebelumnya kali pertama saya dan keluarga hadir di Museum Gajah untuk menonton berbagai pendongeng bergantian maju ke panggung untuk menceritakan berbagai macam cerita, dengan berbagai cara. Ada yang mendongeng dengan bantuan gambar; dengan bernyanyi; dengan boneka; dan berbagai instrumen lain.

Waktu itu, anak sulung saya, Asyraf, masih 3 tahun usianya. Sedangkan si bungsu, Kemal, belum genap setengah tahun. Dengan usia segitu, anak-anak saya belum bisa betul2 mendengarkan isi cerita, apalagi berpartisipasi dengan maju ke depan atau menjawab pertanyaan. Tapi, mereka juga senang sekali karena suasana saat dongeng begitu seru. Asyraf bisa mempelajari mimik, perubahan emosi, juga beberapa pokok cerita. Sedangkan Kemal? Dia belajar terbiasa dengam suasana riuh ramai dan berinteraksi dengan banyak orang. Yang paling senang? Ibu dan bapaknya! Hahaha.. dongeng sangat menyegarkan buat kami. 🙂

Baiklah, kembali ke 31 oktober 2015. Rupanya judul acara tahun ini adalah “Festival Dongeng Internasional“.. woow. Embel-embel Internasional muncul karena dongeng tidak hanya ditampilkan oleh pendongeng dari negeri kita saja. Tapi juga dari mancanegara, yaitu Malaysia; Singapura dan India.

Salah satu hal yang spesial lagi, festival dongeng kali ini adalah rangkaian! Jadi, setelah resmi dibuka pada 5 September 2015 di perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki. Rangkaian berlanjut dengan adanya acara dongeng di berbagai lokasi di ibukota, seperti di toko buku Gramedia Matraman; acara dongeng di berbagai mall; hingga dongeng di Kebun Raya Bogor satu minggu setelah acara puncak di Museum Gajah.

Baiklah. Kembali ke 31 oktober. Eh…. salah, ke 1 November. Hehe.. rupanya saya malah ada kerjaan di 31 Oktober, jadi bisa datangnya 1 November (diulang-ulang gini.. wkwk). Saya sekeluarga sampai di lokasi pukul 10.30. Ternyata, acara baru dibuka. Kak Aio (Ariyo Zidni) sedang membuka acara dengan lebih dulu memberi penghargaan pada (almarhum) pak Raden, sebagai bapak dongeng Indonesia. Memang, sekitar 2 hari sebelumnya pak Raden meninggal dunia, karena sakit yang telah lama diderita. Pengunjung bersama dengan panitia dan pengisi acara membacakan doa bersama, serta mengenang sejenak kisah dan pribadi pak Raden yang begitu membekas di hati. Suasana haru, hampir seluruh orangtau/dewasa meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Masa kecil kami-kami ini ya yang mengisi demgan berbagai kisah positif adalah pak Raden.. #ah jadi sedih.

Lalu setelah mendoakan pak Raden, acara pun dimulai dengan sesi perkusi dari aman percussion yang berlangsung sekitar 20 menit. Wow bikin semangat loh! Ibunya asyraf sampai goyang di tempat mengikuti musik. Tapi rupanya nggak semua anak.menikmati, karena asyraf malah “keberisikan”, begitu katanya. Hehe.. setelah itu, acara dongeng beruntun pun dimulai.

Selain dongeng di panggung utama, dongeng mancanegara dihadirkan di ruang-ruang khusus. Peserta yang ingin mengikuti dapat mendaftar lebih dulu. Ada dongeng dari negeri India, Singapura dan Malaysia yang masing-masing didampingi oleh penerjemah. Selain dongeng, ada pula penampilan grup band yang menyanyikan lagu-lagu anak.

Penampilan dongeng yang berkesan bagi saya adalah kakak Rona Mentari yang bercerita tentang pohon durian yang tidak lagi berbuah karena sampah, dan penampilan kelompok pendongeng yang baru saja mengikuti pelatihan/workshop nya di hari sebelumnya. Sayangnya kami tidak sempat melihat dongeng paman Gery dan kak Aio di akhir acara. Duo bocah sudah teler!! Haha..

Kesimpulannya? Kami senang sekali dengan hadirnya festival dongeng Indonesia di tengah-tengah kita. Dongeng jadi levih digalakkan. Dan rupanya, rangkaian festival tidak berhenti di 1 November itu, karena minggu berikutnya masih ada acara dongeng di Kebun Raya Bogor. Menyenangkan sekali! 🙂

-dianda.a-