Pelatihan Menjadi Orangtua Cerdas (1) – Memahami Profesi Orang Tua – Komunitas Rumah Pencerah

Komunitas Rumah Pencerah adalah organisasi nirlaba yg terdiri dari individu-individu dengan berbagai latar belakang yg mempunyai kepedulian terhadap kebutuhan akan pelatihan orangtua dan peningkatan kualitas guru.

Visi : Terwujudnya guru, orangtua dan masyarakat yg berperan aktif meningkatkan kualitas pengasuhan dan pendidikan anak.

Salah satu kegiatannya adalah menyelenggarakan materi pelatihan & pengayaan bagi orangtua & guru PAUD.

Komunitas Rumah Pencerah mempersembahkan pelatihan dengan tema : Menjadi Orang Tua Cerdas

Materi 1 : Memahami Profesi Orang Tua
Pembicara :

  1. Ibu Fery Farhati, S.Psi, MS (Penanggung Jawab Komunitas Rumah Pencerah)
  2. Ibu Dra. Nurbaeti Rachman

Tanggal : 18 Agustus 2016
Tempat : Rumah Joglo, Jakarta Selatan.

  1. Bagi anak, orang tua adalah sekolah pertama. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam kehidupan anak. Tetapi di sisi lain orang tua pendidik yang paling tidak tersiapkan Menjadi orang tua adalah profesi sepanjang masa, dibandingkan dengan peran-peran lain dalam masyarakat. Tidak ada sekolah formal yang mengajarkan cara menjadi orang tua yang baik atau cara mengasuh dan mendidik anak yang benar.
  2. Kegagalan pengasuhan anak terjadi karena orang tua belum tahu bagaimana mendidik dan mengasuh dengan baik dan benar. Bukan karena kurangnya kasih sayang orang tua pada anak.
  3. Betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini juga menyangkut kepada masa depan sebuah negara. Pada anak-anak kita titipkan masa depan negara ini. Orang tua harus memiliki ilmu mendidik anak agar mampu mencetak generasi yang kuat. Yang akan menentukan bagaimana Indonesia 20 atau 30 tahun yang akan datang.
  4. Orang tua harus mau belajar menjadi orang tua yang baik, agar anak-anak terhindar dari dahsyatnya era digital yang telah banyak memakan korban.
  5. Kunci pengasuhan yang benar adalah pengasuhan dengan cinta dan kasih sayang sejak usia dini hingga usia 8 tahun. Dimana pada masa ini anak patuh tanpa syarat kepada orang tuanya. Orang tua wajib hadir dalam fase kehidupan anak. Hadir dalam arti benar-benar ada untuk anak saat anak membutuhkan orang tua. Bukan hadir dalam arti fisik dekat tapi hati dan pikiran melayang-layang. Contoh ketika raga hadir dekat anak tapi sibuk dengan gadget. Hadir untuk mendengarkan, hadir untuk melihat sorot mata anak, hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, hadir untuk memberikan pelukan dan ciuman hangat untuk anak.
  6. Memahami peran sebagai orang tua dan mengenal perkembangan anak dengan menyadari keunikan anak kita, yaitu : dilahirkan dalam keadaan fitrah kebaikan, dilahirkan cerdas, berbeda dan spesial (tidak ada anak yang sama bahkan anak kembar sekalipun. Jadi berhenti untuk selalu membanding-bandingkan), setiap anak membutuhkan orang tuanya.
  7. Mengenali potensi diri sebagai orang tua merupakan hal yang sangat penting. Selalu tanamkan pada diri bahwa kita adalah orang tua yang ahli mengenal anaknya, memiliki kelebihan, menginginkan yang terbaik untuk anaknya, memiliki perasaan yang naik turun, tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan tenang.
  8. Ketahui fakta tentang otak anak :
    • Saat dilahirkan bayi dianugerahi 1.000.000.000.000 sel otak masing-masing dengan 10.000 cabang.
    • Saat lahir hanya 17 persen dari otak bayi yang sudah saling terhubung. Sisanya terhubungkan melalui stimulasi yang diperoleh sang bayi.
    • Lebih dari 90 % perkembangan otak terjadi pada 4 tahun pertama kehidupan anak.
    • Kerja otak yang baik sangat tergantung pada hubungan yang sehat antara anak dan orang disekitarnya. Terutama orang tua dan keluarga dekat.
    • Otak harus digunakan dan dirangsang agar senantiasa tumbuh dan terhubungkan antar sel
    • Kurangnya rangsangan dan pemenuhan kebutuhan anak oleh orang tua dapat menyebabkan ketidakteraturan pada balita yang dapat menghambat perkembangan otak.
    • Dalam masa ini anak membutuhkan kasih sayang, gizi, dan stimulasi.
    • Otak bekerja dengan baik bila : cukup rangsangan, cukup nutrisi, cukup oksigen, cukup kasih sayang dengan penerimaan dan penghargaan.
  9. Stigma anak nakal atau banyak akal merupakan perbedaan kebutuhan antara kebutuhan anak dan kebutuhan orang tua. Kebutuhan anak adalah ingin tahu segala sesuatu, ingin mencoba, ingin menyentuh, ingin merasakan, ingin bergerak bebas. Ini adalah ciri khas anak sehat dan cerdas. Sementara disisi lain kebutuhan orang tua adalah ingin segalanya serba rapi, bersih, beres, teratur, berjalan baik, dan tepat waktu sesuai jadwal.
  10. Maka dari itu orang tua harus menyikapi perbedaan kebutuhan ini dengan bijak. Bila ada situasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita STOP dan tanyakan pada diri kita : apa yang ingin kita ajarkan pada anak kita? Pelajaran apa yang ingin diingat anak kita dari situasi saat ini? INGAT : dahulukan kepentingan anak, demi masa depan mereka. Bukan mendahulukan kepentingan keteraturan sesaat orang tua.
  11. Tanpa penanganan yang tepat, berbagai permasalahan anak akan berkembang menjadi perilaku buruk yang serius seperti : berbohong, bolos sekolah, narkoba, pergaulan bebas, tawuran, mencuri.
  12. Tantangan orang tua juga semakin berat di era informasi dan digital. Semua aspek kehidupan berubah. Termasuk perubahan dalam pola pendidikan dan pengasuhan anak.
  13. Membentuk tim kompak dalam pengasuhan anak. Pengasuhan dalam keluarga melibatkan keluarga besar, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, yang juga berada di dekat anak. Anak membutuhkan PANUTAN. Semua kejadian akan menjadi proses belajar bagi anak. Sehingga harus dipastikan bahwa orang dewasa di sekitar anak harus bisa menjadi model, contoh dan panutan.
  14. Peran AYAH dalam pengasuhan anak SANGAT PENTING. Ayah yang ikut berperan dalam pengasuhan anak sejak usia dini memiliki pengaruh yang baik dalam pembentukan pribadi berkarakter. Karenanya dibangun kelekatan emosional yang baik antara anak dengan ayah. Selalu hadirkan sosok Ayah dalam kehidupan anak- anak.
  15. Perbedaan karakter anak dengan kehadiran dan ketidakhadiran ayah.
    Dengan kehadiran figur ayah :

    • lebih cerdas dengan prestasi akademik diatas rata-rata.
    • percaya diri.
    • pandai bergaul.
    • kemampuan sosial yang baik

    Tanpa kehadiran figur ayah :

    • lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.
    • pergaulan sosial yang beresiko seperti gank.
    • kemampuan sosial yg kurang baik.
  16. Bagaimana membahagiakan anak :
    • membuat diri sendiri bahagia
    • menjadi orang tua bukan hakim yang tugasnya menghukum anak. Kesalahan bukan untuk dihukum tapi untuk dijadikan pelajaran berharga. Kesabaran orangtua dalam mendapingi anak akan menjadi pendorong sukses anak di masa depan.
    • menggunakan seluruh indera untuk mengungkapkan kasih sayang.

Dirangkum oleh : Anita Permata

Menumbuhkan Kebiasaan Positif Tanpa Reward dan Punishment

12 Agustus 2016 sore hingga malam terjadi perbincangan yang cukup seru di dalam grup Home Education mengenai

Bagaimana caranya menumbuhkan kebiasaan membuang sampah tanpa hadiah, tanpa hukuman dan tanpa perintah/nasihat?
Berbagai macam pendapat dan juga argumentasi dari anggota grup akan saya coba resumekan dalam notulensi ini, berikut adalah kurang lebih isi perbincangan seru yang mungkin dapat menjadi bahan pembelajaran buat kita bersama, dan perbincangan ini dimoderatori oleh Pak Bukik Setiawan.

Konsep mendidik anak itu harus datang dari kedua orangtuanya, tidak bisa sebelah doang ibarat burung terbang kalo sayapnya satu ga jalan ya ga bisa terbang, Konsep yang bener itu datang dari mindset orangtua yang benar…

Jadi anak malah jadi agen perubahan ya?
Dengan adanya keteladanan dan pembiasaan dari orang tua , baru kemudian dilanjutkan dengan proses belajar saintifik. Agar, anak faham kenapa ga boleh nyampah.
Sekedar sharing saja, kebetulan anak saya sekolah di sekolah berwawasan lingkungan. Jadi memang penekanannya ke lingkungan. Reuse reduce recycle banget lah. Juga gmn menjaga alam. Jadi soal sampah itu topik sehari2. Ga cuma buang sampah, tapi gimana mengolah limbah jadi berkah. Jujur bagi saya, saya juga teredukasi dr sekolah dan anak saya. Ketika saya mau bakar sampah, anak saya yg memberi tahu itu dilarang. Di sisi lain dia juga mengajarkan konsep pemilahan sampah dan mempromosikan pengolahan sampah menjadi barang lain yg bisa digunakan. Jadi menurut saya ga masalah apakah dampak baik itu dari rumah atau sekolah. Karena prinsipnya sekolah itu mitra pendidikan, ga cuma mendidik anak tapi kami semua menjadi lebih baik

Bagaimana cara membiasakan? Dengan perintah atau?

Soal gimana menumbuhkan, saya setuju dengan teman di atas, yaitu keteladanan dan pembiasaan. Tapi ga berhenti disitu, terhadap setiap tindakan dirasionalkan, karena anak-anaknya kritis jadi musti dikasih alasannya sehingga anak ga cuma tahu, tapi juga paham dan mau melakukannya bahkan menganjurkan kepada orang lain.
Membiasakan dimulai dengan keteladanan perintah dimulai setelah anak mengenal tanggungjawab baik tanggung jawab pribadi apalagi tanggung jawab sosial masyarakat…

Bagaimana memberikan pengertian pada anak tentang arti tanggungjawab ?

Seperti Pak Bukik katakan,  menanamkan dan menumbuhkan nilai nilai dalam diri anak butuh proses yg panjang. Anak meneladani dng melakukan hal yang sama berulang-ulang seperti yang menjadi teladan.  Perintah setelah anak mengenal tanggung jawab tersebut dengan baik dan sangat perlu dilakukan penguatan dan pengulangan secara terus menerus.
Cara lain untuk menumbuhkan kebiasaan membuang sampah ini, salah satu partisipan berpendapat bahwa dengan cara pembiasaan yang dilakukan di rumah selalu dalam keadaan bersih (tanpa sampah berserakan). Menyediakan tempat sampah di beberapa sudut rumah. Sehingga meminimalisir dulu yg namanya malas buang sampah krn ga ada tempat sampah.

Keteladanan dari orang yg lebih dewasa itu syarat mutlak.

Itu mungkin dr segi teknis.
Lalu saya dan suami dalam sela2 keseharian memberikan dongeng2 atau cerita bertemakan sampah,  kebersihan lingkungan.

Sampai detik ini pun ya masih belum sempurna feed back dr anak. Kadang eh dia  lupa menaruh bekas bungkus makanan masih diatas meja makan. Kalo sudah begitu waktunya  review timeeee…
proses inilah yang dimaksud dengan belajar saintifik.

Iyaa bener semua dimulai dari kita nya sebagai orang tua, dengan tahapan :
1. Mengkondisikan proses belajar
2. Kemudian mengaplikasikan
3. Tanya jawab/diskusi, studi kasus, bercerita/berkisah,
4. Memotivasi, menguatkan dan selalu mengulang, fokus…
5. Baru ada perintah ada hukuman tapi juga ada reward nya…

Pada beberapa keluarga belum ada hukuman ataupun reward, dengan alas an karena ketika reward n punishment mulai muncul saya kuatir malah esensi yg sebenarnya dari pentingnya buang sampah jadi terabaikan lalu tergantikan dengan reward dan punishmentnya ini. Jadi metode lain yang dapat dilakuakn dengan membiasakan  mereview saja dengan cara memberi liat konsekuensi nyata.. ketika anak buang sampah dibiarkan… lalu misalnya semut, kecoa datang. Atau ketika anak buang sampah lalu kepleset krn efek dr tidak buang sampah tersebut.
Saya melakukan hal yg sama. Berlaku juga pd makanan yg dibiarkan tergeletak di lantai, atau saat makan awur-awuran… ketika dia digigit semut, dapet esensinya, knp semut datang, krn banyak makanan berserakan, ade makannya tdk dirapikan, dst…

Bisa ya tanpa reward dan punishment? Tanpa hukuman dan kekerasan kan?

Dalam kenyataannya si memang tidak semulus yang dibayangkan teman-teman,

Tetapi berusahalah dengan sekuat tenaga ya

Walaupun sepertinya ini membutuhkan waktu yang lebih lama ya tampaknya. Ketimbang dengan reward n punishment atau hukuman. Akan tetapi biarpun Lebih lama efeknya lebih kuat menjadi karakter dan budaya anak ya teman-teman.
Contoh pengalaman pribadi lainnya yang dialami seorang ibu, sejak masa kecil diajak oleh orang tuanya setiap pagi nyapu keliling rumah bantuin bapak. Kalau ada sampah plastik dikebun,  dipungut sama2 trus dibakar. Zaman itu blum tau reduce,  reuce n recycle. Ada sampah ditangan selalu disuruh pegang/simpan sampe nemu tempat sampah. Sampe sekarang kebawa.  Rasanya ga enak hati kalo nyampah,  bgitu nyampah atau kotor merasa bersalah. Kadang-kadang tas atau kantong celana/baju penuh dengan sampah

Ada yang bisa menjelaskan, kenapa tanpa reward dan punishment justru membuat kebiasaan membuang sampah bisa terbentuk?

Hukuman yang saya maksud di sini adalah solusi terakhir apabila mengganghu proses pembelajaran anak… Dan maksud di hukum di sini bukan hukuman fisik dan non fisik…
Tapi seperti contoh nya yang diutarakan diatas dengan kepleset karena sampah yang tidak di buang pada tempatnya…
Sedangkan reward adalah bentuk apresiasi aja dan tidak selalu berbentuk materi…

Krn fokusnya bukan ke pada reward  dan  punishment Si anak melakukan buang sampah ya karena tau pentingnya buang sampah pada tempatnya. Bukan pada saya buang sampah krn ingin mendapatkan sesuatu atau takut dihukum
Karna buat saya sebagai manusia mustahil kan tidak melakukan kesalahan…

Dan contoh pengalaman pribadi yang diutarakan diatas itu bentuk hukuman pribadi loh…

Tanpa reward dan punishment utk menumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak
Feelguilty ketika membuang sampah sembarangan karena dengan munculnya rasa Feelquilty, artinya kesadaran sudah terbentuk
Itu bentuk hukuman terhadap diri sendiri…
Dan kita bahagia pada saat rumah bersih dan nyaman… Itu rewad atas jerih payah kita menjaga kebersihan

Kalau ada reward dan punishment, apakah tidak akan tumbuh?

Karena reward dan punishment merupakan motivasi eksternal, yang lebih dibutuhkan anak adalah motivasi internal dari dalam dirinya, kesadaran.

Bisa jadi tetap tumbuh meski ada hukuman dan reward…

Hanya saja hukuman ini sebagai bentuk mengoreksi dan memperbaiki kesalahan2 yg dilakukan… dan anak menyadari bukan hukuman yang menyakitkan fisik dan hati dan anak menyadari kesalahan sehingga ketika timbul ada hukuman anak sadar bukan hukuman yang menyakitkan fisik dan hati

Dan rewardnya penghargaan tidak selalu diberi materi…

Oh ya? Kalau ada reward dan punishment, bagaimana cara kita mengetahui perilaku anak disebabkan karena kesadaran atau karena ingin reward/takut dapat punishment?

Salah satunya bisa dilihat dari kebiasaannya dan tanggung jawabnya terhadap yang dikerjakannya ketika anak paham akan tanggungjawabnya ukurannya pun bukan reward lagi tapi kesadaran seperti merasa nyaman kalo kamar atau rumahnya bersih… jadi anak tidak peduli terhadap reward nya… Mau diberikan atau tidak baginya tidak penting…
Pun ketika ada hukuman ia akan cepat memperbaiki kesalahannya sekali lagi memperbaiki kesalahan dengan sukarela dan bukan karna takut dihukumnya…

Anak ringan mengerjakannya, Anak senang mengerjakannya dilakukan dengan gembira dan bahagia… Dan setiap orangtua pasti ngerasain bahagia atau ga, tulus atau ga ngerjainnya… Hihihi… Kan bisa kelihatan dari ekspresi… Bahasa tubuh… Intonasi… Dll

Anak ringan mengerjakannya itu ketika ada atau ketika tidak ada hukuman/reward? 🙂

Ketika tidak ada hukuman ataupun reward

Anak ringan mengerjakannya ketika tidak ada rewad sekalipun dan anak ringan mengerjakannya ketika sedang berada dalam hukuman karna menyadari kesalahannya

“….anak ringan mengerjakannya ketika sedang berada dalam hukuman karna menyadari kesalahannya” à Ketika anak menyadari kesalahan (saja) atau ketika anak dihukum? Atau harus kedua-duanya digabung?

Menurut Pak Bukik kondisi yang timbul dalam bincang seru diatas di bukunya disebut Pendidikan Menumbuhkan (vs Menanamkan) atau kalau di sekolah/kampus kami disebut sebagai Disiplin Positif, yang telah dipraktikkan lebih dari 15 tahun. Bisa? Bisa. Sulit? Banget. Tapi hasilnya lebih membahagiakan.

Di psikologi, reward & punishment berasal dari tradisi behaviorisme yang dibangun berdasarkan eksperimen terhadap anjing, tikus dan merpati. Psikologi purba. Meski purba, tapi jadi paling popular (bahkan di kampus psikologi hingga saat ini……sesuatu yang memalukan bagi saya, orang psikologi) karena teknik yang paling mudah. Lebih mudah lagi, kekerasan atau hukuman fisik. Mereka yang tidak belajar pedagogi (atau Tarbiyah) pun bisa melakukannya.
Karna tanggungjawab dan konsekuensi

Sharing dari teman-teman tadi semakin menguatkan, bahwa sebenarnya cara-cara manusiawi (bukan dari eksperimen anjing, tikus dan merpati) bisa efektif dijalankan. Pertanyaannya, apakah kita mau belajar metode yang lebih menantang? Mau belajar? Silahkan belajar dari yang sudah sharing tadi ya
Selamat malam! Selamat istirahat.

Tips Memilih Sekolah Untuk Anak 

  1. Kalau memang mau disekolahkan, usahakan yg mengaplikasikan MI jadi bisa menyelaraskan
  2. Dan dapat pula dengan menyesuaikan dengan minat dan bakat anak,  misalnya anak kita kelihatan suka minat dan berbakat bisnis… Maka kita sebagai orangtua memfasilitasi hal tersebut dengan menyekolahkan anak ke tempat yang sesuai dengan jiwa hati dan pikirannya…
    Begitupun anak minat bakat dan punya keinginan yg kuat jadi hafiz/hafizoh… Maka sebagai fasilitator kan mencarikan guru atau tempat atau sekolah atau lingkungan yang berbasis sesuai minat bakat dan keinginan anak…

Dirangkum oleh : Margareta Amalia

Diskusi Buku Bakat Bukan Takdir

Catatan : Diskusi ini dilaksanakan di grup WhatsApp “Home Education” pada 11 Agustus 2016 pukul 19.30 – 21.30 WIB

Narasumber  : Bukik Setiawan, penulis  Anak bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir

Referensi artikel :

  1. http://buku.enggar.net/non-fiksi/bakat-bukan-takdir/
  2. https://ridhoadhie.wordpress.com/2016/03/27/review-buku-bakat-bukan-takdir/

Bukik Setiawan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2 Psikologi, ia memutuskan menjadi dosen fakultas psikologi Universitas Airlangga. Setelah menjadi Ketua Lembaga Pengkajian & Pengembangan Psikologi Tetapan & Ketua Program Magister Perubahan & Pengembangan Organisasi, ia mengundurkan diri sebagai dosen PNS. Setelah mundur, ia menjadi fasilitator lepas, pengembang aplikasi bakat anak Takita, pengelola portal bakat anak TemanTakita.com & manajer pengembangan kampus Guru Cikal.

Kegelisahan terhadap dunia pendidikan mendorongnya menulis buku Anak Bukan Kertas Kosong yg memperkenalkan konsep pendidikan menumbuhkan & siklus pengembangan bakat anak. Keinginan membantu orangtua dalam mengembangkan bakat anak berdasar pendidikan menumbuhkan mendorongnya berkolaborasi dgn Andrie Firdaus untuk menulis buku Bakat Bukan Takdir.

“Anak dapat benang merah dari sekolah, benang biru dari tempat les, benang kuning dari teman, benang hijau dari buku, media & internet. Peran orangtua adalah membantu anak merajut semua benang pengetahuan itu menjadi kain kearifan yang indah.” -Bukik Setiawan-

Kata Pengantar

Tantangan Zaman Kreatif

  1. Bukan lagi Seberapa Banyak pengetahuan, tapi seberapa BESAR KEMAMPUAN untuk belajar.
  2. Proses Belajar bukan lagi mengunduh Pengetahuan, tapi MENGUNGGAH KARYA.
  3. Bukan saatnya lagi MEMILIH SATU PROFESI, tapi juga FOKUS MENGEMBANGKAN KEKUATAN DIRI.
  4. Tak lagi hanya kemampuan berproduksi, tapi juga KEMAMPUAN BERKREASI.
  5. Zaman kreatif, bukan lagi memaksakan keseragaman, tapi HIDUP DI TENGAH KERAGAMAN.
  6. Bukan lagi kemampuan berkompetisi yang utama, tapi yang utama adalah KEMAMPUAN BERKOLABORASI.

Pentingnya Orangtua sebagai Pendidik

Anak belajar dari banyak sumber, mulai dari orangtua, buku, sekolah, tempat les, teman, orang dewasa lain, media, internet, dan banyak lain. Belajar dari banyak sumber secara terpisah cenderung membuat anak bertanya-tanya & sering merasa bingung.

Apa hubungan antara matematika dengan bermain piano? Apa hubungan antara membaca Mallory Towers & Lima Sekawan di rumah dgn pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahku? Bagaimana hubungannya aku les fotografi dengan temanku di sekolah yg suka fotografi? Apa sih gunanya aku belajar banyak?

Pada titik itu, peran orangtua menjadi sangat penting. Meski anak bersekolah di sekolah keren, les di tempat seru, punya gawai canggih untuk mengakses internet, punya koleksi buku yg banyak & bagus, punya banyak teman yg unik & pintar, semua itu tdk dapat menggantikan peran orangtua. Mengapa?

Karena orangtualah yg dapat membantu anak merajut semua pengetahuan itu menjadi kearifan yg mengarah pada tujuan hidup anak. Karena orangtualah yg dapat memfasilitasi anak untuk menerapkan pengetahuan menjadi keterampilan & kebiasaan hidup. Karena orangtualah yg mendampingi tumbuh kembang anal dari setiap tahap perkembangannya, dari setiap jenjang pendidikannya. Sederhananya, guru TK berganti guru SD, SMP, SMA, bahkan berganti dosen, tapi orangtua tetaplah setia di sisi anaknya.

Orangtua adalah fasilitator pengembangan bakat anak. Orangtua memfasilitasi proses belajar anak yg mengubah kecerdasan majemuk & minat anak menjadi bakat sebagai modal menuju karier yg cemerlang di masa mendatang.

Tanya Jawab

  1. Bagaimana cara mengetahui minat n bakat seorang anak dan dukungan seperti apa yg dpt dilakukan untuk mendapatkan lingkungan yang baik untuk perkembangan anak?

Dalam psikologi, cara terbaik dalam mengenali seseorang adalah observasi dan wawancara. Cara-cara yang lain adalah pendukung dari observasi dan wawancara. Tapi observasi dan wawancara butuh dipelajari secara khusus. Obrolan buat orang awam mungkin hanya bersifat sosial, tapi buat yang terlatih, obrolan sangat powerfull.Langkah awal untuk mengenali bakat anak adalah mengenali kecerdasan majemuk yaitu pada anak usia 0-7 tahun.

Siklus pengenalan kecerdasan majemuk: stimulasi – kenali – refleksi. Mengapa stimulasi dulu? Karena kecerdasan majemuk sifatnya potensi, hanya bila ada kesempatan maka kecerdasan akan muncul dan digunakan anak. Penting bagi anak mendapat stimulasi yang beragam, setidaknya bisa menggunakan kerangka 8 kecerdasan majemuk dari Gardner. Anak akan memberikan respon terhadap stimulasi tersebut. Respon tersebut yang diingat untuk mengenali kecerdasan majemuk anak. Prosesnya mungkin lebih lama dibandingkan tes kecerdasan tertulis atau finger print, tapi orang tua akan jauh lebih paham dinamika kecerdasan anaknya. Tidak hanya terpaku pada 1 – 2 kecerdasan majemuk semata.

Respon tertentu bermakna, respon yang lain tidak ada artinya. Respon bermakna itu kami sebut sebagai perilaku seru yang ditandai oleh: cepat belajar, asyik mengalami, puas terhadap hasilnya dan ingin mengulang.Semakin banyak perilaku seru berarti semakin kuat suatu kecerdasan majemuk anak. Perilaku seru ini yang kemudian dikomunikasikan dan direfleksikan kepada anak, sehingga yang menyadari kecerdasan majemuk bukan hanya ortu tapi juga anak.

  1. Gimana caranya untuk mengubah mindset orang tua dan keluarga besar mengenai kesuksesan tiap anak berbeda? Sedangkan si anak ini juga tidak mau melawan orang tuanya. Si anak yg diharuskan masuk ke jurusan kuliah tertentu dan anak ini merasa bukan dia, bukan passionnya, merasa tertekan dan hampir bunuh diri. Anak ini sdh punya visi besar yg akan dicapai 2036 tapi orang tuanya adalah tembok besar untuk mencapai mimpi ini.

Ini sangat spesifik ya, apalagi hampir bunuh diri. Perlu sesi khusus. Intinya: yakinkan anak bahwa ada banyak jalan untuk mencapai impian. Berikan contoh kisah nyata berbagai cara tersebut. Apabila anak sudah stabil, baru berpikir tentang cara meyakinkan keluarga/orangtua.

  1. Di jaman yang semakin berkembang seperti sekarang, dimana teknologi canggih bisa diakses dimanapun dan kapanpun…tantangan juga semakin banyak…Hal apa yang paling penting bapak tekankan untuk ananda (agar bisa survive mengikuti jamannya namun tidak terbawa arus)? Di sisi lain mampu menumbuhkan dan mengembangkan bakat minatnya..terima kasih pak..
  1. Kemampuan belajar, dalam artian umum, bukan akademis. Kemampuan mengenali tantangan, merespon secara efektif, merefleksikan dan memperbaiki responnya tersebut.Tips: sering2 tawarkan pilihan pada anak, minta anak memilih, tanyakan alasannya, lakukan dan konsekuen dengan konsekuensinya.
  2. Kemampuan mengelola diri. Zaman berkembang semakin banyak dan beragam stimulasi dari lingkungan. Meski ada yang positif, tapi banyak yang negatif atau gak cocok. Banyak godaan yang menggoda anak kita dari tujuannya. Kemampuan mengelola diri sebenarnya mirip kemampuan belajar tapi sifatnya lebih internal, belajar diri sendiri.Tips: kurangi melarang anak agar anak menghadapi stimulasi dari lingkungan. Perbanyak ajak ngobrol dan mendengarkan bagaimana anak menghadapi tantangan yang dihadapi sehari-hari.
  1. Pada buku BBT, pihak yg paling penting untuk tahu bakat anak adalah anak itu sendiri. Nah, kapan saat yang tepat kita memberitahukannya? Kemudian, bagaimana langkah kita selanjutnya agar ‘pencarian bakat’  tidak selesai sehingga anak terus belajar dan bisa menemukan potensi yg lain, jika ada

Bakat bukan takdir berarti bakat bukan bawaan dari lahir. Bakat bukan apa yang ada dalam diri anak, tapi apa karya yang dihasilkan anak.

kecerdasan majemuk + minat proses belajar bakat.

Bukan anak diberitahu bakatnya, tapi diajak merefleksikan perilaku serunya (seperti saya jelaskan di no 1) agar orangtua dan anak sama-sama menyadari potensi / profil kecerdasan majemuk anak. Mengapa penting anak tahu? Karena anak yang menggunakan kecerdasan majemuk itu.

Bagaimana jadinya bila pemilik kecerdasan tidak menyadari kecerdasannya?

Proses itu dilakukan pada anak pada saat usia 6 – 8 tahun. Setelah itu, masuk ke fase belajar mendalam (7 – 13 tahun). Tugas orangtua memandu anak menemukan fokus belajar (bidang bakat yang akan ditekuni) serta kesepatan mengenai sasaran belajar yang akan dicapai. Setelah menemukan fokus belajar, tugas orangtua memfasilitasi kegemaran belajar, ketekunan belajar, hingga belajar mendalam. Prosesnya tidak linier, tapi dinamis dan kompleks.

Contoh: presentan suara anak ketujuh. Awalnya suka menggambar, kemudian menulis, tapi pada akhirnya berkarya membuat prakarya yang memadukan kecerdasan imaji, bahasa dan tubuh. Pengembangan bakat anak adalah proses sepanjang hayat. Tidak ada kata selesai.

  1. Apakah potensi itu otomatis akan memunculkan minat? Jika punya potensi, maka pasti muncul minat? Artinya, minat anak terhadap sesuatu belum tentu potensi anak itu, dan tidak adanya minat terhadap sesuatu itu bukan berarti tidak punya potensi ya? Apakah potensi dapat diubah?

Ibaratnya ya. Potensi/kecerdasan majemuk adalah mesin pengelola informasi. Minat adalah kesukaan anak terhadap obyek/aktivitas tertentu. Kecerdasan majemuk tidak menentukan, tapi mempengaruhi minat anak. Misal: kecerdasan tubuh akan membatasi minat pada obyek/aktivitas yang melibatkan pergerakan/pengelolaan tubuh

Potensi manusia itu tidak terbatas atau menjadi misteri sepanjang manusia itu hidup. Pengenalan potensi manusia bisa terus menerus dilakukan sepanjang manusia itu hidup. Contoh yang sering saya pakai adalah pendiri KFC, yang kariernya cemerlang ketika usianya suda menjelang senja. Potensi tidak berubah, pemahaman terhadap potensi diri kita yang terus berkembang, atau berubah.

  1. Bagaimana jika stimulus yang anak terima itu dapat dikatakan terlambat. Di atas usia 7 tahun, apakah stimulasi ini bisa optimal dan bagaimana caranya?

Saya menyusun siklus perkembangan bakat yang terdiri dari 4 fase. Setiap fase memang ada batasan usia yang disarankan. Tapi penyebutan siklus berarti proses itu bisa dilakukan berulang kali sepanjang hayat. Jadi sebenarnya tidak ada kata terlambat. Kapanpun, anak tetap bisa berkembang optimal.

  1. 7.Mungkinkah “ada minat tapi tidak berbakat” atau “bakat tapi tidak berminat”? Jika ada, bagaimana jika anak berbakat sesuatu tapi tidak berminat?

Saya ubah kata-katanya ya. Ada minat tapi tidak ada kecerdasan atau ada kecerdasan tapi tidak berminat.

Saya jawab, tidak ada. Pada dasarnya anak (dan manusia) mudah teralihkan fokusnya (mudah tergoda) oleh stimulus dari lingkungan. Jadi ada kesan, minat pada sesuatu tapi tidak ada kecerdasan atau sebaliknya. Ini prosesnya memang berat, karena itu saya membuat satu tugas perkembangan bakat yaitu ketekunan belajar (fase belajar mendalam). Tantangannya bagaimana anak tetap mempertahankan konsentrasinya pada fokus belajar yang telah ditetapkannya (kesepakatan anak dan ortu).

        1. Saya ingin bertanya… Orangtua sebagai coaching sekaligus sebagai fasilitator berarti ada kegiatan menstimulus… Adakah batasan2 orangtua menstimulus anak2nya dalam menggunakan metode2 tertentu,, yang dalam banyak penelitian di anggap kurang tepat tetapi berhasil bagi kita… Bagaimana saran pak Bukik dalam hal ini…

Dalam buku BBT saya menuliskan 6 prinsip stimulasi yaitu :

  1. Kesesuaian.
    Stimulasi harus sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangan anak.
  2. Beragam.
    Semakin beragam stimulasi, semakin anak mendapatkan banyak pilihan dan kaya pengalaman.
  3. Butuh waktu.
    Stimulasi tidak langsung mendapat respons anak, apalagi membuahkan hasil.
  4. Berkelanjutan.
    Stimulasi harus dilakukan berkelanjutan untuk mendapatkan manfaat yang optimal.
  5. Berjenjang.
    Stimulasi diberikan berjenjang kesulitannya sehingga kemampuan anak terus berkembang.
  6. Pilihan pada anak.
    Stimulasi tetap memberikan pilihan pada anak untuk merespons atau tidak merespons stimulasi itu.

Saya bahas khusus ini ya “menstimulus anak2nya dalam menggunakan metode2 tertentu,, yang dalam banyak penelitian di anggap kurang tepat tetapi berhasil bagi kita”. Tidak ada faktor tunggal yang menentukan suatu keberhasilan, sekecil apapun keberhasilan itu. Keberhasilan mensyaratkan kombinasi sejumlah faktor. Seringkali kita sebagai individu mendapatkan kesimpulan secara subyektif.

Contohnya: penggunaan kekerasan. Kita bisa dengan mudah terjatuh pada kesimpulan: kekerasan membuat kita jadi lebih baik sambil melupakan berbagai faktor lain yang mendukung pada saat kita berubah jadi lebih baik. Jadi, saran saya, hati-hati dengan kesimpulan pribadi.

  1. Jika sudah ketemu beberapa kecerdasan majemuknya, kemudian anak setelah beberapa tahun menunjukkan kebosanannya atas kecerdasan tsb, bagaimana saya tahu bahwa itu anak tersebut hanya bosan atau kesalahan kami menyimpulkan kecerdasan majemuk anak tsb?

Setiap kesempatan adalah kesempatan belajar, begitu juga kekeliruan. Jadi jangan khawatir keliru, tapi khawatirlah kita (ortu dan anak) tidak belajar.Karena itu kalau di BBT, saya mendorong orangtua untuk menjadikan anak sebagai mitra belajar, bukan sebagai kertas kosong yang diisi. Pengenalan kecerdasan majemuk semisal, bukan hanya dilakukan orangtua, tapi ortu bersama anak. Bila prosesnya dilakukan dengan benar, maka ortu dan anak akan belajar dari kekeliruan2 yang terjadi. Toh lebih baik segera keliru, karena bisa segera diperbaiki.

  1. Mohon kami diberi contoh stimulasi 8 kecerdasan untuk usia 0-7thn dan adakah tips khusus untuk mencatat semua perkembangan anak?

Ada di buku BBT lengkapnya. Contoh: mengajak anak membaca buku itu bentuk stimulasi kecerdasan aksara dan logika. Mengajak anak bermain balok/lego adalah bentuk stimulasi kecerdasan tubuh, logika dan imaji. Bermain rumah-rumahan menggunakan sprei adalah bentuk stimulasi kecerdasan imaji dan tubuh. Seringkali hal-hal sederhana itu diremehkan orang dewasa, padahal sangat penting buat anak usia dini. Penjelasan asyiknya ada di film The Begining of Life. Sudah nonton? 🙂

  1. Membaca jawaban no 7 , saya memahaminya bahwa kita bisa mengesampingkan bakat/kecerdasan bawaan lahir untuk menekuni minat secara kuat? (reaksi seru dari sebuah stimulus/lingkungan) Jadi kecerdasan (yg bukan bawaan lahir) bisa  muncul dan bisa maestro pd suatu bidang, penekanannya ada pada ketekunan terhadap minat tersebut, Pak?

Satu kecerdasan majemuk itu bisa menghasilkan berbagai bakat. Jadi kecerdasan majemuk semacam rentang yang luas. Misal, kecerdasan aksara bisa menghasilkan bakat penulis buku, editor, pembaca pertama, sastrawan, ahli mengaji, orator, wartawan, dll

Sebaliknya, sebuah bakat tidak cukup dengan 1 kecerdasan. Misal: wartawan adalah kombinasi kecerdasan aksara, kecerdasan logika, dan kecerdasan sosial.Kecerdasan majemuk adalah bawaan lahir. Bakat yang bukan bawaan lahir. Untuk pengembangan bakat, butuh kombinasi kecerdasan majemuk, minat, dan proses belajar (kegemaran belajar, ketekunan belajar dan belajar mendalam).

  1. 12.Bagaimana membedakan mana yang benar2 bakat anak, dan mana yang cuma sekedar ikut2an atau karena pengaruh lingkungan? Atau di biarkan saja, sampai anaknya menyadari bahwa ternyata dia tidak suka?

Dibiarkan memang bisa saja tapi tentu lebih optimal bisa dipandu. Bagaimana membedakan bakat dan sekedar ikut2an? Saya percaya pada usaha dan bukti nyata. Seberapa besar usaha anak dalam menekuni suatu bidang?

Besar kecilnya usaha anak bisa dipandu orangtua selama fase belajar mendalam. Bagaimana orangtua bersama anak membuat tantangan belajar, melakukan, dan merefleksikannya. Jadi misal ya anak saya les piano, meski kami tidak bisa piano tapi kami bisa merawat kegemaran dan ketekunan belajar anak.

Caranya?

  1. Menanyakan dan bila perlu memberi tantangan (bukan perintah, tapi lebih bersifat stimulasi) pada anak.
  2. Meminta dan mendengarkan anak tentang tantangan dan proses belajar yang dialaminya.
  3. Memberi umpan balik terhadap proses belajarnya. Itulah mengapa sebodoh apapun dalam suatu bidang, peran orangtua tidak tergantikan. Karena untuk menjalankan 3 hal itu tidak butuh menjadi maestro piano.
  1. Pak bukik, kalau ternyata minat anak banyak bagaimana cara mengarahkannya untuk bisa fokus, atau malah biarkan dikembangkan semua?

Hehe ini memang tantangan. Jebakannya: fokus pada satu hal atau melakukan semua hal. Saya tidak menyarankan kedua2nya. Jadi setelah ngobrol untuk menemukan fokus belajar (dan sasarannya), anak harus konsekuen dengan kesepakatan itu. Tapi bukan berarti anak tidak boleh melakukan hal yang lain. Anak boleh melakukan hal yang lain selama kesepakatan fokus belajarnya dilakukan.

Saya hanyalah seorang anak yang mempunyai aktivitas dan hobi sama seperti anak-anak pada umumnya. Saya suka mainan seperti Action figures super heroes dan juga suka nonton film. Seperti baru-baru ini saya nonton film Kungfu Panda di mana alur ceritanya menarik dan juga banyak actionnya.” Joey Alexander. (VOAIndonesia.com). Sumber: http://temantakita.com/joey-alexander/

Penutup

Saya hanya ingin menegaskan dan meneguhkan bahwa peran orangtua tidak tergantikan dalam perkembangan bakat anak. Kalau pun kita sebagai orangtua tidak menjalankan peran, anak akan menemukan “orangtua” lain yang akan membantunya mengembangkan bakat. Ambil dan jalankan peran kita. Pahami dan bantu anak untuk berkembang optimal potensinya. Antarkan anak ke pintu gerbang keberhasilan bakatnya, bukan keberhasilan kita.