Peran Orang Tua Dalam Menemukan Passion Anak

Suatu hari, si kecil kami Radho, duduk jongkok berlama-lama di depan pohon jeruk kecil yang ada di halaman rumah kami. Rupanya ia tengah memperhatikan kehidupan laba-laba yang tak lebih besar dari jempol kakinya tengah membangun sarang di pohon jeruk itu. Dari pengamatanya, ia mendapati bahwa seekor laba-laba membangun sarang dengan mengeluarkan benang dari pantatnya.  Selanjutnya ia menangkap kejadian seekor nyamuk yang tiba-tiba terperangkap di jaring laba-laba dan sang laba-laba yang tadinya berada di ujung jaring, bergerak cepat mendekati nyamuk dan menggulungnya dengan benang lalu laba-laba itu akan kembali ke pinggir. Melihat kejadian tersebut, Radho berinisiatif mencarikan makanan untuk si laba-laba, ia mencari sapu lidi untuk menepas lalat, setelah kena tepas dan mati, kemudian Radho melemparkan lalat  ke dalam jaring laba-laba. Dengan cepat laba-laba itu mendekat dan kemudian menggulung lalat itu, beberapa saat kemudian, laba-laba mengisap cairan lalat, kemudian berpindah ke nyamuk dan mengisap cairan nyamuk. Dengan antusias, Radho menceritakan pengalamannya itu melalui gambar, ia menggambar jaring laba-laba, laba-laba, mangsa dan pohon. Mendengar pengalamannya itu, Saya mengajukan tantangan pada Radho untuk mendokumentasikan peristiwa tersebut dengan kamera video dan dijawabnya apabila bisa mendokumentasikan persitiwa semacam itu apakah akan laku untuk dijual atau masuk ke TV?

Sebagai orang tua, tentunya menjadi pertanyaan menarik bagaimana seorang anak belajar dan mencari tahu dari pengalaman yang diperolehnya. Cara dan minat Radho dalam memperhatikan kehidupan serangga barangkali bukan menjadi fokus yang menarik bagi anak yang lain. Dan minat semacam itu juga barangkali tidak teraktualisasi di sekolah yang menganut sistem pendidikan berbasis kurikulum (yang padat dengan bermacam mata pelajaran). Artinya, berbicara tentang pengasuhan dan pendidikan, maka kita tidak bisa hanya menyerahkan sepenuhnya pada institusi sekolah, justru peran keluarga sebagai lingkungan yang pertama lebih diutamakan. Tentunya orang tua selalu berupaya untuk mencari informasi dan belajar sebanyak mungkin untuk bisa memberikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik bagi anak.

Salah satu sumber yang saya anggap cukup menarik dalam membantu saya memahami pola pengasuhan anak adalah kecerdasan majemuk yang ditulis oleh Howard Gardner. Selain itu, memahami gaya belajar anak yang ditulis oleh Deporter dan Hernaki dan pola kepribadian anak yang dicetuskan oleh Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus, Saya percaya ketika orang tua paham tentang semua itu, maka pola pengasuhan dan pendidikan akan lebih mudah dijalankan, ibarat ketika kita mengerjakan sesuatu, ketika sudah paham teorinya, maka aplikasinya akan lebih mudah.

Kecerdasan majemuk

Ada  8 tipe kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu        :

  1. Kecerdasan Bahasa
    Ciri utama dari kecerdasan bahasa adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif dalam membaca, menulis, dan berbicara, kemampuan dalam bersyair, atau gaya menulis yang kaya ekspresi adalah bentuk kecerdasan bahasa.
  2. Kecerdasan Musik
    Kecerdasan musikal meliputi kepekaan terhadap tangga nada, irama, dan warna bunyi, serta aspek emosional akan bunyi yang berhubungan dengan bagian fungsional dari apresiasi musik, bernyanyi, dan memainkan alat musik
  3. Kecerdasan Logika-Matematika
    Kecerdasan logika-matematika meliputi keterampilan berhitung juga berpikir logis dan keterampilan pemecahan masalah”. Siapapun yang dapat menunjukkan kemampuan berhitung dengan cepat, menaksir, melengkapi permasalahan aritmetika, memahami atau membuat alasan tentang hubungan-hubungan antar angka merupakan ciri dari kecerdasan logika-matematika.
  4. Kecerdasan Visual-Spasial.
    Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan untuk merepresentasikan dunia melalui gambaran-gambaran mental dan ungkapan artistik. Pusat bagi kecerdasan ruang adalah kapasitas untuk merasakan dunia visual secara akurat, untuk melakukan transformasi dan modifikasi terhadap persepsi awal atas pengelihatan, dan mampu menciptakan kembali aspek dari pengalaman visual.
  5. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh.
    Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh badan atau bagian dari badan dalam membedakan berbagai cara sebagai ekspresi gerak.
  6. Kecerdasan Intrapersonal
    Fungsi penting dari kecerdasan intrapersonal ialah meliputi penilaian-diri yang akurat, penentuan tujuan, memahami-diri atau instropeksi, dan mengatur emosi diri sendiri.
  7. Kecerdasan Interpesonal.
    sangat berhubungan dengan kemampuan untuk memahami orang lain dan mampu mengatur hubungan antar individu.
  8. Kecerdasan Naturalis.
    Orang yang menonjol dalam kecerdasan naturalis adalah orang yang menunjukkan rasa empati, pengenalan, dan pemahaman tentang kehidupan dan alam meliputi tanaman, hewan, geologi.

Pemikiran Howard Gardner membuat kita menyadari bahwa setiap anak pastilah cerdas, namun kecerdasannya sangat bervariasi. Pemberian stimulasi di usia dini dapat mencakup semua kecerdasan, tidak hanya salah satunya saja, sebab semua kecerdasan yang mereka miliki harus dibiarkan tumbuh dan berkembang optimal. Seiring bertambahnya usia biasanya jenis kecerdasan menonjol sudah mulai terlihat. Pada kasus Radho, ia memiliki kecerdasan naturalis yang menonjol, hal itu bisa dilihat bagaimana ia melakukan kegiatan belajar secara antusias dengan melibatkan unsur alam, yang pada contoh di atas, meliputi hewan dan tanaman. Ia betah berlama-lama memperhatikan apa yang dilakukan laba-laba saat memangsa hewan buruannya.
Bukan hal yang mudah untuk mengetahui potensi kecerdasan anak. Ada beberapa metode yang banyak ditawarkan, misalnya dengan tes sidik jari. Atau kita dapat melakukan observasi sendiri dengan menstimulasi beberapa kecerdasan dan melihat mana yang lebih menonjol. Setelah memahami potensi kecerdasan anak, barulah orang tua dapat menentukan potensi yang akan diberikan stimulasi lebih banyak. Namun tidak cukup hanya dengan memahami potensi kecerdasan anak, penting juga bagi orang tua untuk mengetahui gaya belajar anak.

Gaya belajar

Menurut Deporter dan Hernacki, gaya belajar adalah merupakan kombinasi bagaimana seseorang menyerap informasi kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar adalah variasi cara yang dimiliki seseorang untuk mengakumulasi informasi, dimana gaya belajar bisa menjadi methode terbaik dalam mengumpulkanberbagai sumber informasi agar memperoleh pengetahuan yang spesifik        

Deporter dan Hernacki membagi ke dalam tiga tipe gaya belajar anak, yaitu:

  1. Visual, adalah gaya belajar yang menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
  2. Auditori, adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
  3. Kinestetik, adalah gaya belajar yang mengharuskan individu bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Gaya belajar ini menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya.

Manfaat dari memahami gaya belajar pada anak adalah agar kita sebagai orang tua lebih mudah dalam menentukan strategi belajar yang sesuai dengan kemampuan anak. Gaya belajar yang sesuai akan mendorong proses pengolahan  informasi yang lebih efisien, utamanya membantu anak dalam menikmati proses pembelajaran. Pada kenyataannya banyak anak yang tidak cocok dengan gaya belajar di kelas. Hal ini banyak dialami oleh anak dengan tipe visual atau kinestetik yang tersesat di dalam kelas yang diajar dengan metode auditori. Salah satunya terjadi pada Radho.

Dari pengalamannya dalam memperhatikan laba-laba, ia memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik. Tidak cukup dengan memperhatikan secara pasif, Radho juga coba melakukan eksperimen dengan mematahkan sarang laba-laba menggunakan lidi untuk mengetahui ketahanan jaring laba-laba, serta menjatuhkan lalat di sarang untuk mengetahui apa yang akan dilakukan laba-laba pada  lalat. Tipe anak seperti Radho akan mudah memahami sesuatu dengan cara menyentuh. Oleh karenanya, saya memberikan kebebasan kepadanya untuk bereksperimen dengan laba-laba, dengan begitu syaraf-syaraf otaknya akan aktif. Ia akan lebih bisa berpikir ketika kita tidak membatasi geraknya.

 

Kepribadian

Selain potensi kecerdasan dan gaya belajar, yang tidak kalah pentingnya juga untuk dipahami adalah kepribadian, karena inilah dasar dari pembentukan karakter seorang anak. Mengapa kita perlu membahas tentang kepribadian, kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu. Dengan memahami kepribadian anak berarti kita telah menyingkat waktu kita untuk menebak-nebak, berusaha mengerti dan memahami anak kita, kita bisa jauh lebih mudah untuk memahami seseorang anak dengan memperhatikan tipologi kepribadiannya.

Menurut Florence Littauer, kepribadian ini membagi manusia menjadi empat golongan besar yaitu korelis, sanguin, plegmatis dan melankolis.

  1. Sanguin, dijuluki si populer karena tipe sanguin pandai berbicara, persuasif dan riang.
  2. Koleris, dijuluki juga sebagai si kuat karena tipe ini adalah tipe dominan dan kompetitif, berkemauan kuat, dan berorientasi hasil.
  3. Melankolis, dijuluki juga si sempurna karena tipe ini sangat perfeksionis dan mencintai keteraturan.
  4. Plegmatis, dijuluki juga si cinta damai, karena kesetiaannya dan menghindari konflik.

Radho memiliki kecenderungan berkepribadian koleris, sebab ketika diberi tantangan untuk mendokumentasikan dengan kamera video, ia akan menanyakan “aku dapat apa” anak-anak tipe koleris selalu berorientasi pada hasil dan lebih suka dengan reward.

Setiap anak bisa jadi memiliki tipe koleris-melankolis, koleris sanguin, atau melankolis-plegmatis. Dengan mengenali perangai anak, kita akan mudah membaca karakternya, orang-orang dengan kepribadian koleris misalnya, koleris yang berorientasi hasil, akan mudah dibentuk dengan reward dan funishmen, orang-orang melankolis akan merasa dihargai ketika tidak di desak untuk menyelesaikan, sebab baginya yang terpenting adalah hasil yang sempurna. Kepribadian ini juga akan mempengaruhi pilihan profesi, seorang koleris misalnya akan lebih cocok sebagai leader, seorang melankolis akan lebih cocok sebagai ilmuwan dan seniman, dan seorang sanguin akan lebih cocok sebagai artis atau penghibur, seorang plegmatis akan lebih cocok sebagai pemuka agama.

Satu hal yang perlu kita ketahui adalah tidak ada satupun tipologi kepribadian ini yang lebih baik daripada lainnya. Artinya semua anak mempunyai kadar dari keempat tipologi kepribadian ini. Di dalam diri kita ada unsur melankolis, ada unsur plegmatis, ada unsur koleris dan ada unsur sanguin-nya. Hanya saja di bagian mana kita dominan dan itu yang membentuk kita, itu yang membedakan kita dari yang lainnya. Dan satu hal yang paling penting, adalah seperti yang tadi saya katakan bahwa tidak ada yang baik, tidak ada yang buruk disini. Yang ada adalah pada saat kita tidak menyadari berhadapan dengan anak kita dan kemudian kita tidak bisa menjalin suatu komunikasi dengannya, itu karena kita tidak bisa memahami persepsinya.

Penutup

Dari berbagai tipe yang Saya uraikan di atas, maka penting bagi orang tua agar mampu mengenali atau mengidentifikasi kecerdasan majemuk anak sebab setiap anak adalah unik, tak pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Tugas orang tua adalah melihat potensi itu, mengasahnya hingga kemudian mampu melihat kecerdasan yang paling dominan pada anak, diharapkan orang tua dapat menyesuaikan kecerdasaan anak dengan gaya belajar dan kepribadian anak. Sebagai contoh ketika anak memiliki kecerdasan logis matematis dengan gaya belajar visual, maka orang tua harus mampu memberikan stimulasi konkrit seperti menyediakan batu sebagai alat dalam menghitug. Nah kemudian bisa disesuaikan dengan karakter anak, misal dengan karakter anak yang koleris, maka pelajaran menghitung bisa diaplikasikan lewat tantangan, seperti pada hitungan ke sepuluh harus selesai mengerjakannya.

Gabungan berbagai pemahaman dan metode di atas akan mampu membuat anak selalu bergairah belajar dan mencintai prosesnya, sebab cara belajar yang demikian sangat menyenangkan. Bagi saya, ketika anak berbahagia maka belajar menjadi lebih mudah. Ketika orang tua mampu memformulasikan semua pemahaman di atas, maka akan semakin mudah dalam menemukan passion anak. Sebagai seorang praktisi homeschooling, saya telah menguji coba pemahaman-pemahan di atas dan mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar kami. (Rahmaida “bua” Simbolon)

Papilio Jelajah Tangkahan (3): Tracking dan Tubing

Tangkahan adalah kawasan hutan bak surga yang tersembunyi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kami, dari keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling  (HS) di Medan, mengadakan fieldtrip ke sana.

Setelah puas bersenang senang dengan gajah kemarin, hari ini kami akan menjelajah tangkahan dengan kegiatan tracking dan tubing. Tracking adalah kegiatan jelajah alam lewat jalan darat, berjalan kaki menyusuri pinging-pinggir sungai, merasakan kesejukan udara, menyatukan tiap langkah kaki dengan bumi yang kita pijak, dan merasakan betapa kecilnya kita di alam luas. Sedangkan tubing adalah kegiatan jelajah alam lewat jalur sungai menggunakan ban dalam truk yang dipompa. Peserta tubing merasakan betapa aliran air menyatukan mereka dengan alam, melihat hutan dengan sudut pandang yang berbeda, dan juga merasakan Maha BesarNyaTuhan.

Tidak semua keluarga Papilio mengikuti dua kegiatan, tracking dan tubing sekaligus, karena jalurnya berbeda. Kami masing-masing hanya mengikuti satu dari dua kegiatan itu. Kami dibagi menjadi dua rombongan, yaitu rombongan tracking dan tubing. Saya berada dalam rombongan tracking.

papilio-jelajah-tangkahan-jalur-tracking-indonesia-mendidik
Jalur Tracking dan Tubing

Saya dan keluarga Papilio di rombongan tracking, memulai perjalanan bersama seorang guide (pemandu perjalanan). Kami harus naik mobil ke lokasi awal tracking sekitar 5 menit. Jalur tracking mengambil arah ke area parkiran di dekat Visitor Centre. Dari situ kami berjalan menuju sebuah jembatan gantung yang terbuat dari kayu. Namanya Balu’s Bridge (jembatan Balu). Untuk melewati jambatan ini dikenakan biaya Rp5.000,00/orang.

papilio-jelajah-tangkahan-balus-bridge-indonesia-mendidik
Balu’s Bridge

Balu’s Bridge adalah jembatan sepanjang kurang lebih 50 meter. Lebarnya kurang dari 1 meter. Jembatan hanya boleh dilalui oleh maksimal 6 orang. Jika dari arah berlawanan ada yang menyebrang, kita harus menunggu sampai mereka mendekat ke tempat kita berada, baru kita bisa maju untuk menyeberang.

Bagi saya, jembatan ini sepertinya aman. Tapi, saat berada di tengah jembatan, kaki saya seperti berat untuk melangkah. Phobia (ketakutan) ketinggian saya mulai muncul. Tidak mudah melawan rasa itu, rasa gamang dan tidak yakin. Padahal sebelumnya saya yakin bisa melewati jembatan.

Saya mencoba berkonsentrasi dan berpegangan pada besi di samping kanan kiri jembatan. Saya berusaha tidak melihat ke bawah. Wow, saat saya melakukan itu, pemandangan eksotis terpampang dari atas jembatan. Saya memberanikan diri untuk mengabadikan keindahan sungai dari atas jembatan, walau dengan kaki gemetar. Sempat terasa jembatan seperti oleng. Orang-orang yang lewat menyebabkan jembatan bergoyang. Secepatnya saya melangkah, dan akhirnya sampai juga di ujung jembatan. Saya lega. Sensasi melalui Balu’s Bridge benar-benar memacu adrenalin.

Perjalanan kami lanjutkan melewati kebun-kebun milik penduduk, ada pohon jeruk nipis, nanas, dan durian. Suasana asri mengiringi perjalanan kami. Selain kebun, banyak penginapan dengan suasana hutan di sekitar kami. Tak lama berjalan, kami tiba di sumber air panas (hot spring), di tepi Sungai Buluh. Disini kami berjumpa dengan rombongan tubing. Kami beristirahat sejenak.

Sumber air panas yang kami temui berupa sebuah goa yang di dalamnya mengalir air panas. Goanya cukup besar, sehingga kami bisa berbaring dan merendam tubuh di aliran air panas alami ini.

papilio-jelajah-tangkahan-tracking-indonesia-mendidik
Perjalanan Tracking

Tujuan kami selanjutnya adalah Air Terjun Pijat. Kami menyusuri pinggiran sungai dan tiba di tujuan. Air Terjun Pijat masih berada di aliran Sungai Buluh. Air terjun ini tidak terlalu tinggi, namun air jatuhannya cukup keras. Jika kita berada di bawahnya, tubuh kita terasa dipijat-pijat oleh air yang jatuh. Itulah sebabnya tempat ini diberi nama Air Terjun Pijat.

Rombongan tubing rupanya sudah lebih dahulu sampai di Air Terjun Pijat dan sudah melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Glugur. Kami tidak melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Glugur. Tracking berakhir di Air Terjun Pijat.

Di sini, kami dan anak-anak bermain air dan berenang di Sungai Buluh. Setelah puas main air kami memutuskan untuk pulang. Ternyata jalur pulang, saya harus melewati Balu’s Bridge lagi. Alamak, saya bakal sport jantung lagi. Hahaha 😀 Mau tidak mau saya harus berani melaluinya.

Bagaimana ya dengan kelompok tubing? Mereka juga bersenang-senang.

Tubing hampir sama dengan rafting. Bedanya, kalau rafting menggunakan perahu karet, tubing menggunakan ban dalam truk yang dipompa.

papilio-jelajah-tangkahan-rombongan-tubing-indonesia-mendidik
Rombongan Tubing

Wah, rombongan tubing sangat bersemangat, apalagi anak-anak. Mereka sangat antusias dengan jaket pelampung di badan. Benar-benar anak-anak pemberani.

Perjalanan tubing ditemani juga oleh guide. Arus sungai yang akan mereka arungi tidak terlalu deras. Meskipun demikian, setiap peserta tubing wajib menggunakan pelampung demi keselamatan. Safety always comes first, keselamatan adalah hal yang utama. Tak lupa, mereka juga membawa bekal makanan.

Jalur perjalanan rombongan tubing adalah sumber air panas-Air Terjun Pijat-Air Terjun Glugur-menuju finish lewat jalan darat (naik truk pengangkut sawit). Jadi, rombongan tubing melewati dua tempat yang sama dengan rombongan tracking, yaitu sumber air panas dan Air Terjun Pijat.

Dari air terjun Pijat, rombongan tubing bertemu dengan simpang Sungai Buluh. Tiba di simpang Sungai Buluh, tubing ditambatkan. Mereka berjalan ke hot spring lalu turun ke air terjun Pijat, kembali ke simpang, naik tubing lagi, kemudian melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Glugur.

papilio-jelajah-tangkahan-tubing-indonesia-mendidik
Kegiatan Tubing

Air Terjun Glugur lebih tinggi dan lebih besar dibanding dengan air terjun Pijat. Rombongan tubing beristirahat sejenak sambil menyantap perbekalan. Setelah puas 3 jam bermain di Glugur, mereka kembali ke penginapan naik truk sawit dalam keadaan basah kuyup, lelah, dan senang luar biasa.

Pengalaman menjelajah alam di Tangkahan sangat berkesan di hati kami semua. Selain melatih mental dan spiritual, anak-anak juga melatih fisik agar kelak menjadi anak-anak yang tangguh.[]

Kontributor : Wilda Syafrianty

Papilio Jelajah Tangkahan (2): Bersenang-Senang dengan Gajah Tangkahan

Tangkahan adalah kawasan hutan bak surga yang tersembunyi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kami, dari keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling  (HS) di Medan, mengadakan fieldtrip ke sana.

Kami mengunjungi satu ikon Tangkahan, yaitu tempat penangkaran gajah Sumatra. Penangkaran adalah tanah luas yang dikelilingi pagar listrik. Kami masuk ke penangkaran dan mengamati gajah-gajah itu.

papilio-jelajah-tangkahan-naik-gajah-indonesia-mendidik

Gajah di Tangkahan difungsikan untuk turut membantu usaha konservasi alam di kawasan TNGL. Mereka digunakan untuk berpatroli mengamankan hutan dari pembalak liar serta pemburu. Gajah mampu membelah sungai dengan kaki-kakinya yang tegap saat berpatroli. Terkadang gajah juga dapat mengantar turis yang ingin menjelajah Tangkahan.

papilio-jelajah-tangkahan-suasana-penangkaran-gajah-indonesia-mendidik
Suasana Penangkaran Gajah di Tangkahan

Saat waktu mandi gajah tiba, gajah-gajah berbaris rapi. Para mahout (pelatih gajah) memberi aba-aba saat menggiring mereka menuju sungai Batang Serangan untuk mandi. Kami sungguh takjub dapat berbaur dan berjalan beriringan disamping hewan besar ciptaan Tuhan ini. Sungguh momen yang jarang terjadi.

Ketika gajah-gajah itu mandi, anak-anak sibuk mengambil sikat yang dibagikan dari abang-abang senior mahout. Mereka ikut memandikan gajah. Ada anak yang takut-takut. Ada yang langsung menyentuh gajah. Ada yang langsung saja menyikat gajah, bahkan duduk diatas perut gajah sambil menyikat. Hahaha. 😀

“Ihh…kulitnya kasar ya, Bun, tebal lagi,” kata salah seorang anak.

Selesai mandi, sebagian gajah pulang ke kandangnya dan yang lain tetap tinggal. Gajah-gajah yang kembali ke kandang adalah induk gajah yang mempunyai baby (anak gajah). Saya ingin sekali menyentuh dan bermain bersama anak gajah yang mungil dan menggemaskan itu. Tapi, menurut para mahout kita harus berhati-hati terhadap anak gajah.

“Lho, kenapa Pak?” tanya saya kepada salah satu mahout.

“Anak gajah suka bermain. Kalau tak sengaja terdorong, dia akan membalas mendorong. Kadang ia menyeruduk pula,” demikian penjelasan pak mahout.

Setelah selesai memandikan gajah, giliran kami yang dimandikan gajah. Para gajah menyemprotkan air dari belalainya beberapa kali. Anak-anak tertawa dan menjerit senang.

Selain memandikan gajah, anak-anak diberi kesempatan memberi makan gajah. Gajah makan buah-buahan dan pelepah sawit. Pelepah-pelepah sawit diperoleh dari sekitar penangkaran dan diangkut ke kandang oleh gajah-gajah itu juga. Sungguh gajah hewan yang rajin dan cerdas, mampu mengangkut kebutuhan makannya sendiri ke kandang.

Kami mengakhiri acara memandikan gajah dengan berfoto bersama gajah. Hal yang tak kalah luar biasa adalah gajah-gajah itu pandai berterima kasih. Mereka memberikan salam penghormatan dengan gaya yang keren sekali, sebagai tanda terima kasih. Kami sungguh senang.

Kesenangan kami berlanjut. Setelah kembali ke atas menuju penginapan, kami melihat atraksi gajah yang lain. Anak-anak sangat riuh dan bersemangat ingin naik gajah. Saya pun ikut naik gajah. Naik gajah seperti naik perahu yang terombang-ambing. Sensasinya menyenangkan. Selesai naik gajah, rombongan kami pun kembali ke penginapan.

papilio-jelajah-tangkahan-gajah-membelah-sungai-indonesia-mendidik
Gajah Membelah Sungai

Dari gajah, kami belajar banyak hal. Kami belajar tentang pentingnya berterima kasih, tentang memanfaatkan kekuatan untuk tujuan memelihara alam, tentang bersahabat, tentang bersenang-senang dengan cara yang baik.

Perjalanan kami berlanjut esok harinya, yaitu jelajah Tangkahan melalui kegiatan tracking dan tubing. Tracking dan tubing tak kalah serunya dengan aktivitas bersama gajah. Yuk, ikuti kami! []

Kontributor: Wilda Syafrianty