Anak belajar emosi : “terima kasih yaa sudah meminjamkan mainannya”

Usia 4 tahun umumnya merupakan usia dimana anak mengembangkan kemampuan sosial-pertemanan. Anak belajar mengenai konsep dan norma dalam relasi sosial, dan mulai dituntut untuk melakukannya.

Seperti misalnya tempo hari ada kejadian yang kuat kuingat . Seperti biasanya si sulung mengaji di masjid sore hari, disana. Ia berkumpul dengan banyak temannya yang usianya sebaya. Hari itu, seorang temannya membawa mainan super keren yaitu pesawat yang bisa dilipat-lipat (oh, entahlah namanya apa).

Betul-betul mainan adalah barangnya anak-anak. Sejak si X ini membawa mainan itu, pamornya di kalangan kawan-kawan lain meningkat pesat. Tiba-tiba hampir semua anak laki-laki seumuran dia, berkumpul mengitari si mainan, melihat si empunya mainan memainkan pesawat itu, dan menunggu gilirannya meminjam si pesawat.

Beberapa kawan X bergantian rebutan mainan X, lalu mulai membicarakan cara memainkannya, tipe-tipe mainan lain, dan mulai mengatur siapa yang boleh dan nggak boleh meminjam. Mainan itu mulai dibawa berlari kesana dan kesini.

Lucu ya, sebagai ibu, saya melihat si sulung ikut dalam kehebohan itu. Diawali dengan intip-lihat si mainan, lalu ikut nimbrung dalam “arisan anak laki-laki” sambil menunggu giliran, mendengarkan dengan takjub isi cerita, menanti dengan antusias, sampai akhirnya marah karena terkena imbas rebut-rebutan: ia nggak dapat giliran meminjam (lagi).

Sebagai catatan, saat itu si sulung belum kenal anak X yg membawa mainan. Jadi seluruh proses di atas, betul-betul dalam kelompok baru yang tidak familiar baginya.

Okelah, lalu tiba giliran si sulung marah karena nggak mendapat giliran kedua untuk meminjam mainan. Datang dan tetiba duduk di pangkuanku dengan menghentak, mulut manyun alis mata berkerut luar biasa. “Aku gak dipinjemin mainannya!!” Katanya.

“Ooh” ujarku. Lalu aku diam saja sejenak. Membiarkan si sulung mengalami perasaannya yang sedang menggejolak itu (ya, karena perasaan perlu dirasakan). Lalu, masih dalam sikap diam, aku berkata “yaa, nggak dipinjemin juga gak papa kok..”lalu diam, sejenak lalu aku merasakan emosinya turun sebentar, lalu si sulung: “tapi aku mau mainannya!! Mau pinjam, mau pinjam mau mainannya!!” Mulai sedikit merengek.

Aku, lagi-lagi diam. Mengambil jeda, lalu: “yaa.. itu kan mainannya dia, mau dia dia pinjamkan alhamdulillah, boleeh .. gak dipinjamkan juga nggak papa, kan punya dia”. Tidak aku peluk si sulung, pun tidak kuelus punggungnya. Aku masih dalam posisi: membiarkan ia berkeluh dalam pangkuanku, dan aku menopangkan tangan ke belakang.

Instingku kuat menyuruh aku membiarkan si sulung “mengalami” gejolak emosinya. Ini kali pertama ia begitu ingin meminjam mainan temannya (yang tidak ia kenal), dan tidak ia dapatkan. Dan karena ini kali pertama, maka penanganannya pun baru kali pertama. Kami sama-sama belajar.

Lalu ada 3 kejadian:

  1. Si guru datang, melihat si.sulung, dan penuh simpati berkata “ooh, mainan ya? Nggak papa .. nanti yaa, nanti.kalau ujiannya bagus sama mama akan… (disini aku menggeleng kuat-kuat. Sangat kuat dan berulang kali *hehe* memberi.isyarat bahwa aku TIDAK akan membelikan mainan itu hanya atas dasar kejadian ini, atau sebagai iming-iming)…

    Akhirnya si guru ngeles dan melanjutkan kalimat dengan kata-kata lain.

  2. Seorang ibu temanku, yang kebetulan anaknya sedang dapat giliran meminjam mainan, menyuruh anaknya meminjamkan mainan itu ke si sulung sebentar, walaupun anaknya –agak– nggak rela, tetap dikasih. Sehingga si.sulung main sebentar.
  3. Saat sudah waktunya pulang, si sulung menolak mengembalikan mainan dan berkata “aku mau bawa pulang mainannya!! Aku mau mainannya!!” Dan menolak bilang terima kasih walau aku suruh.

Disitulah aku mulai ber- “O-oww ” artinya: masalah nih. So, si sulung memulai episode marah-marahnya: jalan jauh-jauh dariku dan merengut. Aku? Memulai episode penanganan favorit: konsisten.

So, jadilah episode kejar-kejaran: memanggil namanya, suruh datang, negosiasi, panggil ulang, dan saat nggak berhasil: aku pegang tangannya dan aku tarik sampai akhirnya kami membuntuti si anak pemilik mainan X. Dialognya begini:

Si sulung: “aku gak mau bilang terima kasih!!! Pokoknya gak mau SE LA MA NYA!!”
Aku (ibunya): “pergi bilang terima kasih!! Tadi maksa-maksa pengen pinjam, habis dipinjemin kok nggak bilang terima kasih. Kalau begitu besok-besok ibu gak kasih ijin kamu pinjam mainan apapun sama siapapun!!”

Akhirnya, setelah hampir 100 meter membuntuti, rombongan si.empunya mainan terkejar. Aku memberi kode agar si sulung segera bilang terima kasih.

Berikutnya adalah luar biasa:

Sulung berusaha sekuat tenaga mengucapkan kata-kata ini: “makasih yaa udah dipijemin mainannya” (Si teman gak denger), lalu lagi setengah berteriak: “makasih yaa udah dipijemin mainannya!!” Lalu tiba-tiba meledak tangisnya.

(Episode ini agak lama, karena si sulung saat ngomong tidak menunggu / mencolek temannya, yg saat itu sedang ngobrol dengan teman lain, jadi setelah pecah tangisnya sy harus mencolek si anak *dan ibunya* supaya mereka dengar apa yang sulung mau bilang. Sulung mengulanginya lagi, lalu salaman, dan lanjut menangis minta gendong).

Lalu akhirnya anakku sulung itu dalam gendonganku, juga adiknya. Kududukkan ia di kursi terdekat, kutatap matanya, kuelus punggungnya, dan kukatakan dengan yakin dan lembut: “alhamdulillah, kamu sudah bilang terima kasih ya, begitulah caranya kita berteman. Saat dipinjamkan, kita bilang terima kasih, saat tidak dipinjamkan, kita tidak memaksa. Ibu lihat kamu sudah berusaha untuk bilang terima kasih, walaupun tadinya nggak mau, tapi kamu berusaha. Ibu bangga melihatnya, terima kasih ya soleh. I love you, ibu sayaang sekali sama kamu, kamu tau kan? ” lalu kupeluk erat dia.

Luar biasa, betul-betul momen yang tidak terbayar. Aku melihat dengan kepalaku sendiri, bagaimana anakku dengan sekuat tenaga mencoba menuruti ucapan ibunya, hingga hilang pertahanannya dan menangis. Dan mengangguk2 sambil menangis saat kunasehati. Luar biasa anakku.

Sampai sekian kali aku ceritakan dan tulis ini, air mata masih turun. Menyesal? Tidak, sedih juga tidak. Mungkin lebih ke haru.

Mungkin caraku -agak- keras, dan tentu nggak akan cocok dengan semua anak. Tapi ini anakku, dan begitulah kami ibu dan anak menghadapi masalah-masalah kami. Diantara prinsip-prinsipku yang utama adalah konsisten. Sederhana sih, kalau mau pinjam, ya harus mau bilang terima kasih.

Well, episode panjang itu diakhiri dengan aku membelikannya es krim kesukaannya, dan ia makan lahap tanpa intervensi. Setelah hari itu, hingga sekarang, ia tidak ada masalah dengan bilang “terus kasih”, ia berteman dengan baik-baik saja.

Disinilah aku bersyukur atas jalan yg aku pilih. Karena saat masalah muncul, aku bisa menangani masalah secara langsung, dengan caraku, dan dengan nilai-nilai kami.

Dianda azani.

Kisah Ekperimen Papilio Club

Yak… kegiatan bulanan Papilio Club kali ini adalah bereksperimen. Masing-masing anak mempraktekkan sendiri eksperimennya, dan menjelaskan ala “anak-anak” bagaimana pemahaman mereka tentang eksperimen tersebut.

Gavi, misalnya, anak dari kak Ivana Aritonang, selain bereksperiemen sendiri, Gavi juga belajar menuliskan hasil eksperimennya. Tulisan di bawah ini adalah tuliasan Gavi, dengan edikit editing dari saya,

Gavi melakukan percobaan “elektromagnetik”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. kabel yang sudah di kuliti dari pelindung karetnya
  2. sebuah paper clip
  3. baterai 1.5 vol
  4. sebuah paku
  5. sebuah saputangan
  6. sebagai pengaman yang takut kesetrum
  7. dan sebuah selotip.

Cara membuatnya sebagai berikut:

Ambil kabel dan lilitkan ke paku, melilitkannya dari tengah dan di sisakan kabelnya supaya bisa ditempel ke kutub – kutub baterai. Tempelkan ujung kawat dengan kutub-kutub baterai, lalu selotipkan dan dekatkan paku ke paper clip. Apa yang terjadi? Paper clip akan menempel ke paku, mengapa? Karena energi yang ada di baterai dipindahkan oleh kabel ke paku yang mengubahnya menjadi magnet, sehingga paku mampu mengangkat paper clip.

papilio-club-homeschooling-medan-ekperimen-elektromagnetik
Ekperimen elektromagnetik oleh Gavi

Nancy, melakukan eksperimen membuat “susu pelangi”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. sabun colek
  2. air
  3. pewarna makanan
  4. dan tusuk gigi

Caranya sebagai berikut :

Tuangkan susu cair di atas piring, kemudian teteskan beberapa pewarna di atas susu cair, (tidak tercampur). Ambil sedikit saja sabun colek menggunakan tusuk gigi, letakkan di tengah-tengah piring. Pewarna makanan akan menjauh dan membentuk gelembung warna –warni, mengapa? karena susu mengandung lemak dan protein yang merupakan merupakan unsur yang paling sensitif pada perubahan dalam larutan sekitarnya. Senyawa yang ada pada sabun memecah protein yang terkandung dalam lemak sehingga susu mendorong pewarna menjadi memutar dan menggulung.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-susu-pelangi
Eksperimen susu pelangi oleh Nancy

Athan, anak mba’ Dian Atika, bereksperimen “konsep tegangan air”. Bahan-bahan yang digunakan sebagai berikut:

    1. uang koin Rp100
    2. air
    3. wadah
    4. dan garpu

Caranya adalah sebagai berikut:

Apungkan uang koin di atas air dengan menggunakan garpu. Setelah mengapung, teteskan sabun dan uang koin akan tenggelam, mengapa? Uang mampu mengapung di atas air disebabkan oleh adanya tegangan air yang sama besar ke segala arah. Partikel-partikel di dalam air menarik ke segala arah sehingga membentuk selaput tipis di atas permukaan air, sehingga menahan koin tetap mengapung. Namun ketika dicelupkan satu tetes saja air sabun, koin akan tenggelam disebabkan oleh menurunnya tegangan di dalam air, yang menyebabkan selaput tipis menjadi terurai.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-tegangan-air
Ekperimen tegangan air oleh Athan

Radho, bereksperimen membuat “tornado air”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

      1. gelas
      2. air
      3. sendok
      4. dan pewarna makanan

Caranya sebagai bertikut:

Aduk air di dalam gelas dengan kecepatan tinggi. Teteskan perwarna makan satu tetes saja. Maka akan kelihatan air yang berwarna seperti bentuk tornado, megapa? Proses tornado air sama halnya dengan terbentuknya pusaran air, pusaran air terbentuk dari arah putaran air yang berlawanan, sehingga ketika diteteskan pewarna makanan akan terlihat gerakan vertikal yang berputar-putar.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-tornado air
Eksperimen tornado air oleh Radho

Raffa bereksperimen membuktikan benda yang diberikan “daya”, dengan menggunakan bahan-bahan sebagai berikut:

  1. gelas
  2. uang koin
  3. dan kartu remi

Caranya sebagai berikut:

Letakkan kartu remi di atas mulut gelas. Letakkan uang koin di atas kartu remi. Jentikkan jarimu menyentuh kartu remi, apa yang terjadi pada uang koin? Uang koin akan jatuh ke dalam gelas, meskipun kartu remi sudah melayang terbang, kenapa? Karena yang diberikan daya adalah kartu remi, maka kartu remi akan melayang, sedangkan uang koin karna tidak diberi gaya maka ia akan jatuh ke dalam gelas.

Tak ketinggalan, teman-teman yang lain dari Papilio Club yang tak bisa hadir, membuat eksperimen juga. Mereka mengunggahnya ke grup WhatsApp kami. Seperti Ali anak umi Afita Risdiarti dan Izzan anaknya bunda Wielda Syafrianty misalnya.
Ali bereksperimen “nut dancing” bahan-bahannya sebagai berikut:

    1. cairan berkarbonasi
    2. gelas
    3. biji kedelai

Caranya sebagai berikut :

Masukkan biji kedelai ke dalam gelas yang berisi air karbonasi. Msukkan garam, apa yang terjadi? biji kedelai akan bergerak naik turun dalam minuman berkarbonasi, dikarenakan gas karbon dioksida suka menempel pada benda padat. Itu sebabnya kita melihat ada gelembung gas yang berkumpul pada biji kedele. Lama-lama jumlah gas yang menempel ini semakin banyak sehingga mampu mendorong biji kedelai naik ke permukaan. Sampai di permukaan, gas lepas ke udara, dan biji kedelai yang lebih berat dengan air, kembali tenggelam. Ini terjadi berulang-ulang. Garam kita tambahakan untuk mendorong gas karbon dioksida yang terlarut dalam cairan.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-kedelai-karbonasi
Eksperimen Nut Dansing oleh Ali

Izzan bereksperimen tentang “gaya kapiler” , dengan bahan-bahan sebagai berikut:

      1. kertas
      2. gunting
      3. piring
      4. dan air

Caranya sebagai berikut:

Bentuklah pola di kertas seperti bunga matahari, lalu gunting dan tekuk ke dalam kelopak-kelopaknya. Lalu letakkan bunga kertas tersebut di atas piring atau baskom yang berisi air, apa yang terjadi? Dari hasil pengamatan, kelopak membuka atau mekar, disebabkan oleh gaya kapiler, kalau dilihat dengan mikroskop, akan terlihat serat-serat tipis yang panjang. Serat tipis itu menyerupai benang yang terurai dan menyerap air, sehingga menyebabkan bunga kertas itu mekar seperti bunga matahari.

papilio-club-homeschooling-medan-eksperimen-kapiler
Eksperimen gaya kapilet oleh Izzan

Rahmaida “bua” Simbolon

Homeschooling is Parenting

Setelah melalui waktu kurang lebih 1 tahun sebagai keluarga Homeschooling (yah, kira-kira begitu), saya memiliki satu kesimpulan: Homeschooling is nothing but parenting.

Setidaknya , itu definisi saya.

Tidak ada yang membedakan keluarga Homeschooling dengan keluarga -schooling-, kecuali filosofi yang mendasar dalam hal parenting/pengasuhan.

Buat saya, Homeschooling adalah filosofi, bahwa pilihan pendidikan itu luas, bebas dan ditentukan secara mandiri. Sehingga walaupun pada akhirnya si anak (yang keluarganya menganut “Homeschooling”) masuk sekolah formal, kesadaran didik-asuh lah, yang menjadi poin utama dalam membesarkan anak.

Tanpa kesadaran yang kuat dalam hal pengasuhan anak, Homeschooling pun bukan apa-apa. Banyak keluarga yang saya temui, menjadikan “Homeschooling” sebagai tahap belajar pribadi, mendewasakan diri sebagai orangtua.

Karena dengan mengambil secara mandiri seluruh tanggung jawab pendidikan anak, maka orangtua harus terus belajar mengenai anak mereka. Mulai dari sebab-sebab mereka berperilaku, cara menangani anak, memahami minat bakat anak, memahami temperamen anak, juga membahas secara lebih bijak mengenai berbagai macam hal.

Dalam filosofi ini, seluruh bagian keluarga akan dipaksa belajar dan terus belajar, dan pada akhirnya terus berkembang.

Tentu teman-teman yang memilih schooling pun bisa melakukannya. Siapapun bisa. Jadi kesimpulannya?

Educating your kids, rely only on your parenting practice.

Choosing where they get the education is only one part of it.

(Dianda azani)

Papilio Club Homeschooler Medan

Papilio club adalah sebuat komunitas yang didirikan oleh praktisi homeschooling yang ada di Medan terdiri dari beberapa keluarga yang memilih konsep “Home education” sebagai bentuk pendidikan berbasis keluarga. Komunitas ini dibentuk atas iniasiatif bersama, yang tujuan utamanya mengembangkan bakat dan minat anak, bertukar informasi, melakukan kegiatan bersama, dan kunjungan ke berbagai tempat yang mampu memperkaya pengetahuan dan wawasan anak-anak, melatih life skill, dan sebagainya.

Kami bersepakat komunitas ini diberikan nama Papilio Club. Papilio dalam bahasa Prancis  adalah kupu-kupu. Papilio sendiri adalah jenis kupu-kupu yang tersebar di seluruh dunia (baca : Papilio) . Transformasi kupu-kupu dari telur, ulat, kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu adalah sebuah transformasi yang mengagumkan oleh yang Maha Pencipta. Seekor mahkluk buruk rupa menjadi mahkluk yang cantik dan memukau. Maka semangat transformasi itu jugalah yang mendasari kami untuk memilih Papilio menjadi nama komunitas kami.

Ke depannya, anak-anak kami, keluarga-keluarga praktisi homeschooling atau non-praktisi  yang tergabung dalam Papilio Club, mampu menuju transformasi seperti halnya kupu-kupu, mampu memberikan karya terbaiknya untuk masyarakat, menebarkan virus membangun generasi, dan menebarkan kasih sayang antar sesama umat manusia.
(Rahmaida “Bua” Simbolon)

(Baca juga : Berita Papilio Club di Medan Bisnis)