Saltdough dan Playdough Mainan Seru nan Bermanfaat

Saltdough dan playdough adalah mainan sederhana yang bisa dibuat sendiri di rumah, selain lebih aman dan ramah lingkungan, mainan ini punya banyak manfaat edukatif, diantaranya:

  1. Sebagai alat stimulasi sensoris

Baik playdough maupun saltdough adalah campuran tepung dan garam. Anak-anak bisa ikut membuat dan mencicipi rasa saltdough/playdough guna menstimulasi indera perasanya mengenal rasa asin. Untuk membuat saltdough/playdough digunakan pewarna atau esens. Bedanya pewarna dan esens adalah pada esens selain mengandung pewarna, mnegandung juga aroma tertentu yang dapat menstimulasi indera pembau. Adonan  yang menggunakan esens biasanya lebih disukai anak-anak karena baunya mirip bau kue.

Saat membuat adonan bersama anak-anak, maka itulah saat menyenangkan bagi mereka. Karena anak-anak bisa mengaduk dan meremas-remas adonan. Perubahan tekstur kasar menjadi halus saat adonan diuleni pun bermanfaat untuk menstimulasi indera perabanya.

  1. Sebagai alat stimulasi motoris

Cara pembuatan Saltdough juga dapat menstimulasi motorik halus anak. Saat menemani orang tua membuat adonan, otot-otot kecil pada tangan anak akan terlatih. Otot yang terlatih akan siap melakukan kegiatan yang membutuhkan koordinasi otot tangan-mata seperti menulis, menggunting, atau mengambil benda-benda kecil.

Anak-anak pun dapat meremas, memotong, menekan-nekan adonan atau menekuk hingga membentuk sesuatu bentuk yang mereka inginkan.

  1. Mengembangkan kreativitas, daya imajinasi dan kepercayaan diri pada anak

Setelah membuat adonan selesai maka saat yang menyenangkan adalah memainkannya. Anak-anak bisa menggunakan cetakan playdough yang dijual di toko mainan atau bereksperimen sendiri membentuk sesuatu yang ada dalam imajinasinya. Membuat dan bermain dengan saltdough tidak ada yang salah atau benar. Ijinkan anak memutuskan sendiri warna yang diinginkan untuk mewarnai adonan, dan memutuskan membuat benda yang ingin dibuatnya secara mandiri. Mainan ini cocok untuk mengembangkan rasa percaya diri, kreatifitas dan daya imajinasi anak Anda.

  1. Meningkatkan kemampuan kognitif dan mengembangkan rasa ingin tahu alami

Saat mewarnai adonan, anak dapat bereksperimen dengan berbagai pencampuran warna. Minta anak menggabungkan 2 warna terlebih dahulu. Pencampuran warna ini akan membentuk warna-warna baru yang akan menambah variasi warna saltdough. Selain itu juga dapat mengembangkan keingintahuan alamiah anak-anak untuk mencoba menghasilkan warna yang mereka inginkan.

  1. Mengembangkan kemampuan bersosialisasi anak

Jika anak bermain bersama dengan temannya, maka secara tidak langsung ada kolaborasi ketika membuat sesuatu. Saat menggunakan cetakan secara bersama-sama pun dapat memberikan kesempatan pada anak untuk belajar berbagi dan mengantri dengan teman-temannya.

  1. Bermain saltdough/playdough berarti ketenangan

Bermain dengan saltdough adalah saat-saat yang menenangkan karena pikiran anak akan sibuk menyalurkan ide-idenya. Dibanding dengan menyaksikan televisi, bermain saltdough/playdough membuat otak anak bekerja dengan aktif. Otak yang sering distimulasi dengan baik dan selalu aktif adalah pondasi awal menjadi pembelajar mandiri dan kreatif.

  1. Mengenalkan huruf atau angka

Playdough pun bisa digunakan sebagai media pengenalan alfabet atau angka. Saya membantu Farras membuat siput dari playdough untuk mengenalkan alfabet pada Farras. Pada kesempatan lainnya kami membentuk abjad menggunakan playdough. Membuat manik manik dari playdough dan menghitungnya. Playdough/saltdough adalah media belajar yang menyenangkan.

Untuk membuat playdough saya biasanya menggunakan formula sebagai berikut:

Bahan:

  • Tepung terigu 1 gelas belimbing
  • Minyak sayur 1 sendok makan
  • Garam 1/3 gelas belimbing
  • Air ¾-1 gelas belimbing (pastikan jumlah air cukup agar adonan tidak terlalu lembek atau keras)
  • Cream of tar tar 1 sendok makan (bisa dibeli di toko bahan kue)

Cara pembuatan:

  1. Campurkan bahan-bahan kering ke dalam wajan anti lengket. Aduk rata
  2. Masukkan air perlahan hingga semua bahan terlarut
  3. Masukkan minyak sayur
  4. Masak di atas api kecil, diaduk terus hingga campuran kalis membentuk adonan yang konsistensinya cukup keras tapi juga tidak terlalu lunak.
  5. Dinginkan
  6. Bagi menjadi beberapa bagian untuk diwarnai

Sedangkan untuk adonan saltdough saya menggunakan formula sebagai berikut:

Bahan:

  • tepung terigu                       1 gelas belimbing
  • garam                                  1 gelas belimbing
  • air secukupnya hingga membuat adonan menjadi kalis (tidak lengket pada wadah)

Cara membuat:

  1. Campur terigu dan garam menggunakan tangan hingga merata

saltdough-playdough-3

  1. Tuang air dalam campuran terigu secara perlahan
  2. Dengan mengunakan tangan, aduk hingga membentuk adonan yang kalis (tidak lengket pada wadah).

saltdough-playdough-4

  1. Bagi adonan sesuai dengan warna yang diinginkan

saltdough-playdough-5

  1. Untuk mewarnai setiap adonan, gunakan 5-6 tetes pewarna atau esens, bila perlu ditambah sesuai dengan ketebalan warna yang diinginkan.
  2. Saltdough siap untuk dimainkan menggunakan cetakan kue, cetakan bento, atau cetakan playdough.

saltdough-playdough-6

saltdough-playdough-7

saltdough-playdough-8

  1. Hasil dari kreasi anak dapat diawetkan dengan cara di oven kurang lebih 1 jam dengan api kecil. Dengan pemanasan yang baik adonan akan mengeras kurang lebih 3-4 hari.

Rosa Kumala
Editor : Amelia

Tantangan Homeschooling di Daerah Sulit Sinyal

Sejak pertama memutuskan untuk meng-homeschooling-kan anak-anak, maka sejak itu juga tantangan terus menghadang, haha!

Dimulai dari minimnya akses untuk memperoleh arus informasi, sinyal yang sering muncul tenggelam, berkali-kali ganti kartu hanya untuk menemukan oprator mana yang bisa dipakai di daerah ini, hampir semua kartu kami coba.

Pernah mencoba kartu tri, awal-awal masih bisa meski lambat, semakin lama siynalnya semakin hilang, kemudian ganti dengan kartu xl, lumayan lebih kencang dari tri,tapi tak lama, hingga akhirnya siynal melemah juga, hingga akhirya satu bulan belakangan tak lagi bisa menggunakan kartu tersebut! Apa nyana.. kegiatan rutin harian radho-raffa untuk ixl dan readingegg tak bisa berjalan, kami hanya mengerjakan matematika dan bahasa seadanya, dan beralih memperbanyak eksperimen.

Merasa kegiatan yang masih sedikit, akhirnya kami memutuskan untuk mencari daerah bersinyal, kami memutuskan mengerjakan ixl dan readingegg persis di bawah tower, hahahha! Apa yang terjadi? Ya.. siynal meluap namun paket internetnya habis! (pengen ngakak guling-guling) kemudian saya ganti kartu yang ada di hape saya untuk dipasangkan di modem, sama sih jaringan meluap, tapi.. tetap saja jaringannya sibuk, tak bisa juga mengerjakan ixl dan readingegg! Hah! Sebegininya ya perjuangan untuk belajar?? Sementara saya masih menunggu agar webnya terbuka, anak-anak berakrobatik panjat-memanjat, lompat-lompat dan bergelantungan, tak berapa lama readingeggnya bisa dibuka, satu sesion selesai, setelah itu..tewas! wkwwkkwk.. duh.. sungguh tak mudah menjalaninya, tapi memutuskan untuk tetap homeschooling adalah sebuah tanggung jawab yang harus terus diemban, hingga nanti anak-anak bisa secara mandiri mengambil keputusan untuk dirinya sendiri!

tantangan-homeschooling-daerah-sulit-sinyal-4Sambil menunggu kapan sinyal datang lagi menyapa, dua bocah itu berusaha menghibur diri mereka dengan permainan-permainan fisik, lumayan, bisa mengasah motorik kasarnya, sementara saya dengan tatapan hampa menatap layar monitor dengan dahi yang berkerut-kerut karena telah kepanasan ditambah lagi dengan jaringan yang tak kunjung menyapa, rasanya pengen pingsan aja.. yaelah.. urip ki kok koyo ngene yo? Mesakno temen!

“dahlah bua, dah kayak orang gila kita disini, dah gitu sama aja kayak di rumah, gak bisa-bisa juga! Begitu kata Radho putus asa! Pfiuuhh.. baiklah.. ayo kita kemon anak-anak, kapan-kapan kita coba lagi”! ahh.. HS itu adalah proses perjuangan panjang dalam membentuk karakter tangguh tidak saja untuk anak-anak tetapi untuk emaknya, tak mudah memang, atau bisa dibilang terjal, bisa jadi karena tak mudah, maka alam menempa semangat kami untuk lebih kuat menghadapi tantangan! Jalani saja, lakukan maksimal, sisanya biarkan Tuhan yang menuntun jalan kita..

Rahmaida “bua’ Simbolon

Origami untuk Si Aktif

Sudah umum kita pahami bahwa anak-anak yang aktif bergerak kesana kemari, memanjat, melompat, berlarian, kadang sambil bertanya ini itu seakan tiada henti dan tak pernah kehabisan energi, juga merupakan anak-anak yg sulit berkonsentrasi / fokus pada hal tertentu.

Begitu juga dengan anak kami Hafidz (5 tahun). Hal ini tentu saja menjadi faktor penghambat dalam proses belajar si kecil. Sekalipun kami sudah menerapkan metode belajar sambil bermain, tetap saja kemampuan untuk bisa berkonsentrasi atau fokus dlm satu kegiatan harus dilatih.

Memang tidak banyak yang bisa dituntut dari anak usia balita seperti Hafidz, sebab dalam rentang usia ini, kemampuan anak berkonsentrasi hanya berkisar 5-10 menit. Dan, bagi anak kami, untuk mencapai targt 5-10 menit ini pun harus melalui latihan yg cukup intens. Kami memilih kegiatan yang bisa menstimulasi indra sensoris dan kerja otak kanan dan kiri. Setelah beberapa percobaan yg gagal memberi hasil yang kami harapkan ( kami mencoba kegiatan bermain dengan dough, lego, rubik, puzzle, blocks, juga aneka permainan kreasi sendiri ) akhirnya kami menemukan kegiatan yg cocok dan ternyata sangat digemari oleh si kecil : Origami

Dari yg sederhana hingga yg cukup rumit, kegiatan lipat melipat kertas inilah yang akhirnya sukses membuat si kecil duduk tenang bahkan berlama-lama melebihi target 10 menit yang ingin kami capai. Kegiatan ini rutin kami lakukan setiap hari, bertahap tingkat kesulitan serta waktu pengerjaannya. Mulai 5 menit, 15 menit, 30 menit, hingga seterusnya sesuka hati dan semampu si kecil menyelesaikan ‘proyek’ lipatannya.

Dengan latihan rutin seperti ini, sekarang si kecil menjadi kooperatif jika diminta menyelesaikan sesuatu dan sudah ‘mahir’ membagi perhatiannya agar tidak mudah terpecah, sebelum benar benar menyelesaikan suatu kegiatan.

indonesia-mendidik-origami-1

Ajaib bagi kami, dan pelajaran berharga yang bisa kami petik : carilah kegiatan yang benar benar disukai anak agar mereka tidak mudah bosan dan selalu termotivasi untuk melakukannya, jangan ragu mencoba, dan jangan berhenti sampai benar benar menemukan yang paling sesuai untuk anak.

Selain keberhasilan kecil namun penuh manfaat yang kami rasakan bersama anak kami, ternyata origami memiliki segudang manfaat lain, yang tentu saja sangat berpengaruh dalam proses belajar dan menstimulasi kerja otak anak, diantaranya :

  • anak belajar meniru / mengikuti arahan
  • anak belajar berkreatifitas
  • anak belajar berimajinasi
  • anak belajar berkarya seni
  • anak belajar mengapresiasi hasil karya
  • anak belajar membuat model
  • anak belajar membuat mainannya sendiri
  • anak belajar membaca diagram/ gambar
  • anak belajar mencari solusi
  • anak belajar perbandingan/ proporsi dan berfikir matematis

Nah, ayah bunda..banyak bukan manfaatnya, yuk dicoba bersama si aktif di rumah. It’s not just about folding the papers, it’s a fun way to learn!

Written By : Riannie ummu Hafidz – Nov 10th 2015

Mendidik Anak dalam Kandungan

Sebelum hamil, saya pernah mendapat nasihat dari nenek saya berdasarkan tulisan dari bapak R. Soenarto Mertowardojo mengenai pendidikan dalam kandungan. Beliau mengatakan mendidik anak dalam kandungan artinya mendidik diri sendiri. Singkatnya, ibu harus bisa mengendalikan angan-angan (pikiran) dan nafsu-nafsunya untuk hal-hal yang baik dan selalu dalam suasana dekat dengan Tuhan. Selain itu juga menjaga kondisi kejiwaannya sendiri dengan cara selalu mematuhi perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya.

Maka, begitu saya tahu bahwa saya hamil, saya berusaha untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang menurut saya kurang bermanfaat. Contohnya, bila sebelum hamil saya suka sekali main game dari pagi sampai malam, begitu hamil saya tinggalkan game dan memulai hidup yang menurut saya lebih bermanfaat seperti bangun lebih pagi, mengerjakan segala pekerjaan rumah lebih cepat, lebih banyak membaca buku dan membantu orang lain. Saya merasa bahwa niat mengubah watak saat itulah yang menyebabkan saya nyaman, baik secara fisik maupun mental.

Mengapa mendidik anak dalam kandungan itu penting? Karena mendidik anak dalam kandungan jauh lebih mudah dibandingkan mendidik anak ketika sudah di luar kandungan. Bagaimana caranya? Caranya dengan mendidik diri ibu sendiri. Contohnya, buang pikiran-pikiran yang terurai-urai tak berujung (seperti melamun, khawatir dan rumit), lakukan pekerjaan-pekerjaan bermanfaat dan kurangi kesenangan yang tidak bermanfaat. Apa hasilnya? Kejiwaan ibu akan lebih kuat, fisik ibu sehat dan janin pun kuat.

Lalu apakah peran sang ayah penting? Tentu saja. Bila seorang ayah sebagai pendamping bisa membantu menciptakan suasana kejiwaan yang baik bagi sang ibu, maka ibu akan sangat terbantu. Dengan sikap yang lembut dan keinginan untuk meringankan beban ibu baik secara fisik maupun mental dapat membantu ibu merasa nyaman. Bila ibu merasa aman, nyaman dan tentram, maka ibu lebih siap menghadapi perubahan-perubahan fisik yang terjadi padanya. Selain ayah siapa lagi yang bisa berperan? Siapa pun yang ada di dekat ibu hamil bisa berperan, contohnya: keluarga dan teman. Kepedulian orang dekat terhadap ibu hamil sangat perlu demi menjaga keutuhan jiwa generasi selanjutnya.

Perlukah ibu berhati-hati dalam berpikir, berbicara dan berbuat saat hamil? Menurut saya itu adalah teladan yang sangat perlu. Mengapa? Bila memang tujuan kita memiliki anak yang mudah dididik nantinya, maka kita harus memberi teladan mulai sejak janin itu tumbuh berkembang di dalam tubuh ibu. Bila kita mengharapkan anak yang berpikiran jernih maka berusahalah selalu berpikir positif, bila kita mengharapkan anak yang santun berbicara maka santunlah dalam berbicara, bila kita mengharapkan anak yang tenang maka tenanglah dalam menghadapi hal-hal yang amat sangat berat sekalipun, bila mengharapkan anak yang rajin beribadah maka jangan pernah lewatkan satupun kesempatan ibadah termasuk memaafkan dan menolong orang lain. Tentu akan lebih mudah bagi anak kita untuk mencontoh apa yang kita teladankan padanya, daripada melakukan apa yang kita nasihatkan padanya.

Namun ada yang perlu juga kita ingat, bahwa ada hukum keadilan Tuhan yang berlaku. Tak jarang kita temukan seorang yang dianggap tidak baik di masyarakat justru memiliki anak yang berbudi luhur. Dan tak jarang pula kita temukan orangtua yang baik memiliki anak yang berbudi asor atau perilakunya tercemar. Karena itu, tugas kita hanyalah berusaha yang terbaik selama proses pendidikan anak dalam kandungan, agar kita dapat mempersiapkan kondisi kejiwaan anak sejak masih dalam bentuk embrio kecil.

Demikianlah suasana sakral yang perlu sekali ibu jaga saat hamil yaitu mendidik anak dalam kandungan dengan mendidik diri sendiri. Semoga kelak anak-anak generasi mendatang luhur budinya, luhur derajatnya serta mulia hidupnya.

Penulis:

Wanda Soepandji

Ibu dari seorang anak laki-laki (3 tahun 9 bulan)

Domisili di Kota Depok – Jawa Barat – Indonesia

12 November 2015

Edited by Amelia

Hari-Hari Tanpa Televisi

Sudah sejak lama, saya memimpikan hidup tanpa televisi. Buat saya yang pikirannya simpel (mungkin ke arah tradisional konservatif), hidup dengan cara “kembali ke awal” adalah pilihan terbaik untuk menanamkan fondasi hidup. Maksud saya “kembali ke awal” adalah hidup dengan cara “mundur” sampai ke jaman sebelum modernitas terlalu menjalar dan berkembang kuat. Hidup dengan lebih sedikit hiburan dari gawai dan lebih banyak hiburan dengan pengalaman fisik riil merupakan salah satu contohnya.

Kenapa saya menganggap ini ideal? Selain dari -tentunya- isi konten televisi yang masih jauh lebih banyak jeleknya ketimbang bagusnya, hal-hal lain efek dari kehadiran televisi itu sendiri saya nilai tidak baik. Televisi itu menyita waktu, perhatian dan energi. Setiap kali televisi menyala, banyak energi kita akan tersedot “hanya” karena ia ada. Suaranya yang bising dan tampilannya yang melelahkan mata, akhirnya juga mengganggu kemampuan atensi konsentrasi saat itu.

Bayangkan jika ini terjadi terus-menerus. Apakah anda pernah merasakan lebih lama berpikir saat tv menyala? Atau, salah mengambil keputusan? Atau salah mengingat sesuatu? Sering pusing tiba-tiba? Atau.. anak anda tiba-tiba adaaa saja ulahnya (yang kebetulan selalu terjadi saat televisi menyala). Yah, itulah yang saya rasakan. Selain itu, efek lain buat diri saya adalah: saya jadi kecanduan. Selalu mencari tontonan demi tontonan yang memuaskan hati (walaupun nihil manfaatnya).

Kebetulan saat ini saya sudah punya 2 putera, yang besar usia 4 tahun, dan si.kecil 1,5 tahun. Buat saya, efek televisi terlihat sekali pada diri si abang. Untuk catatan, waktu menonton (saya biasakan dari gawai) saya berikan padanya hanya 1 jam/hari, 30 menit pagi setelah mandi makan pagi dan 30 menit malam setelah mandi makan sore. Sisanya televisi selalu mati kecuali saat saya atau anggota keluarga lain sedang menonton.

Buat si abang, efeknya terlihat (banget) saat ia mendapat kesempatan menonton lebih banyak dari jatah yang seharusnya: ia jadi.penuntut, pemarah, perebut barang, dan perilaku agresif lain muncul bertubi-tubi seperti memukul, berteriak, dan lain-lain. Suatu hari bahkan ia mengancam akan melempar (wajah saya) dengan mainan balok kayu kalau tidak memberinya tontonan. Wah, hati keibuan saya terguncang saat itu (curcol dikit). Saya marah sekali. Bayangkan, balok kayu ukuran 15×5 cm dengan tebal 5cm mau diamprok ke muka saya! Langsung saya stop tontonan buatnya selama sebulan penuh. Hehehe..

Apakah Asyraf nakal? Tidak tidak. Dia tidak nakal, untuk anak seusia dia, tidak ada kata “nakal” dalam kamus saya. Sebagai anak laki-laki usia 4 tahun yang memang belum bisa mengelola, mengatur dan menguasai diri (fisik dan emosional), perilaku itu wajar saja. Apalagi efek stimulasi visualnya langsung menggugah. Makanya, penting bagi anak-anak di usia ini untuk diberi stimulasi lingkungan yang sesuai dan “dikondisikan”.

O iya, perlu dicatat.. definisi “tontonan” yang saya kasih ke dia adalah semua jenis kartun. Dan kartun yang saya perbolehlan untuk dia tonton adalah yang mendidik, seperti upin dan ipin, dodo syamil, kisah zaman dahulu, dst. Saya tidak memberi tontonan bahasa inggris dan kisah-kisah superhero kecuali sebagai hiburan, sekali-sekaliii saja.

Apakah saya anti tayangan visual? Yah, sebetulnya tidak. Tapi saya selalu mengecek sejauh mana efeknya pada diri saya dan anak-anak. Ternyata efeknya besar. Buat si abang, efek itu lebih kuat pada sisi “ketagihan” nya, dan sedikit perilaku meniru. Jadi mungkin ada baiknya untuk menyetop dulu kegiatan tonton-menonton itu, dan meregulasinya dari awal: sedikit demi sedikit, konten demi konten. Sambil memantau sejauh mana kesiapan dan kemampuan pengendalian diri anak-anak.

Alhamdulillah saat ini kami sudah hidup tanpa televisi. (Yeayy!!) Dan no helper, note keras. Hehe. Anak-anak terbiasa melihat ibu dan ayahnya bekerja, dan menjadi terbiasa bekerja. Komunikasi juga lancar tanpa efek bising televisi. Alhamdulillah juga, banyak peningkatan yg saya lihat. Si abang jadi lebih ringan tangan membantu, lebih mandiri, lebih teratur, lebih menurut, perilaku marah-marah atau tantrum turuuunn *lega.

Waktu berkualitas keluarga juga meningkat, seperti memasak bersama, merapikan ruangan bersama, dan yang paling saya syukuri: waktu berkualitas dengan ayah sepulang kerja makin baik.. mulai dari bermain logico, bercerita, menghafal surat-surat.. (serius loh efek ayah keren banget). Untuk kegiatan bebenah, dia paling suka menyapu dan mengepel, dan mulai suka mengelap. Dan makin kesini, keterampilan ini makin membaik, juga “standar kesempurnaan kerja” meningkat. Dia gak akan berhenti mengepel sebelum bersih cling *ibunyagirang. Hehe..

Yah itulah sekilas tentang kami dan televisi. Oiya, sekedar pesan-pesan saja. Sering saya jumpai saudara atau teman yang menatap iba (kasiaan) pada anak saya karena saya larang nonton tv. Please don’t. Mereka sama bahagianya dengan anak-anak lainnya. Nggak ada hal berharga yang hilang dari masa kecil mereka hanya karena mereka “dibatasi” dalam interaksi dengan televisi. Yg penting kita selalu sediakan kegiatan bermanfaat yang sesuai usianya, agar dorongan mereka untuk belajar tersalurkan, pada hal-hal riil. So far saya kasih dia kegiatan berenang, bola, mengaji, playdates dengan teman-teman dan preschool minat. 🙂

Baiklah segitu saja share saya hari ini, semoga bermanfaat bagi saya dan kawan-kawan semua. Keep the good parenting 🙂

Dianda Azani

Festival Dongeng Internasional Indonesia 2015

Tanggal 31 Oktober dan 1 November 2015 sudah saya tandai di kalender keluarga sebulan sebelumnya, karena saya sangat menunggu-nunggu acara di hari itu: festival dongeng tahunan!!! Yeaayy!! Senangnya.. tidak terasa festival ini diadakan lagi, teringat tahun sebelumnya kali pertama saya dan keluarga hadir di Museum Gajah untuk menonton berbagai pendongeng bergantian maju ke panggung untuk menceritakan berbagai macam cerita, dengan berbagai cara. Ada yang mendongeng dengan bantuan gambar; dengan bernyanyi; dengan boneka; dan berbagai instrumen lain.

Waktu itu, anak sulung saya, Asyraf, masih 3 tahun usianya. Sedangkan si bungsu, Kemal, belum genap setengah tahun. Dengan usia segitu, anak-anak saya belum bisa betul2 mendengarkan isi cerita, apalagi berpartisipasi dengan maju ke depan atau menjawab pertanyaan. Tapi, mereka juga senang sekali karena suasana saat dongeng begitu seru. Asyraf bisa mempelajari mimik, perubahan emosi, juga beberapa pokok cerita. Sedangkan Kemal? Dia belajar terbiasa dengam suasana riuh ramai dan berinteraksi dengan banyak orang. Yang paling senang? Ibu dan bapaknya! Hahaha.. dongeng sangat menyegarkan buat kami. 🙂

Baiklah, kembali ke 31 oktober 2015. Rupanya judul acara tahun ini adalah “Festival Dongeng Internasional“.. woow. Embel-embel Internasional muncul karena dongeng tidak hanya ditampilkan oleh pendongeng dari negeri kita saja. Tapi juga dari mancanegara, yaitu Malaysia; Singapura dan India.

Salah satu hal yang spesial lagi, festival dongeng kali ini adalah rangkaian! Jadi, setelah resmi dibuka pada 5 September 2015 di perpustakaan Jakarta Taman Ismail Marzuki. Rangkaian berlanjut dengan adanya acara dongeng di berbagai lokasi di ibukota, seperti di toko buku Gramedia Matraman; acara dongeng di berbagai mall; hingga dongeng di Kebun Raya Bogor satu minggu setelah acara puncak di Museum Gajah.

Baiklah. Kembali ke 31 oktober. Eh…. salah, ke 1 November. Hehe.. rupanya saya malah ada kerjaan di 31 Oktober, jadi bisa datangnya 1 November (diulang-ulang gini.. wkwk). Saya sekeluarga sampai di lokasi pukul 10.30. Ternyata, acara baru dibuka. Kak Aio (Ariyo Zidni) sedang membuka acara dengan lebih dulu memberi penghargaan pada (almarhum) pak Raden, sebagai bapak dongeng Indonesia. Memang, sekitar 2 hari sebelumnya pak Raden meninggal dunia, karena sakit yang telah lama diderita. Pengunjung bersama dengan panitia dan pengisi acara membacakan doa bersama, serta mengenang sejenak kisah dan pribadi pak Raden yang begitu membekas di hati. Suasana haru, hampir seluruh orangtau/dewasa meneteskan air mata. Bagaimana tidak? Masa kecil kami-kami ini ya yang mengisi demgan berbagai kisah positif adalah pak Raden.. #ah jadi sedih.

Lalu setelah mendoakan pak Raden, acara pun dimulai dengan sesi perkusi dari aman percussion yang berlangsung sekitar 20 menit. Wow bikin semangat loh! Ibunya asyraf sampai goyang di tempat mengikuti musik. Tapi rupanya nggak semua anak.menikmati, karena asyraf malah “keberisikan”, begitu katanya. Hehe.. setelah itu, acara dongeng beruntun pun dimulai.

Selain dongeng di panggung utama, dongeng mancanegara dihadirkan di ruang-ruang khusus. Peserta yang ingin mengikuti dapat mendaftar lebih dulu. Ada dongeng dari negeri India, Singapura dan Malaysia yang masing-masing didampingi oleh penerjemah. Selain dongeng, ada pula penampilan grup band yang menyanyikan lagu-lagu anak.

Penampilan dongeng yang berkesan bagi saya adalah kakak Rona Mentari yang bercerita tentang pohon durian yang tidak lagi berbuah karena sampah, dan penampilan kelompok pendongeng yang baru saja mengikuti pelatihan/workshop nya di hari sebelumnya. Sayangnya kami tidak sempat melihat dongeng paman Gery dan kak Aio di akhir acara. Duo bocah sudah teler!! Haha..

Kesimpulannya? Kami senang sekali dengan hadirnya festival dongeng Indonesia di tengah-tengah kita. Dongeng jadi levih digalakkan. Dan rupanya, rangkaian festival tidak berhenti di 1 November itu, karena minggu berikutnya masih ada acara dongeng di Kebun Raya Bogor. Menyenangkan sekali! 🙂

-dianda.a-

Dimensi

PERJALANAN selama enam jam menuju kampung, melewati hutan dan lembah telah membuat Re meracau tak tahan dengan jalanan penuh batuan, badan terhempas-hempas, mual setengah mati,

“Kapan kita sampai Buk?” tanyanya dengan wajah bercucuran keringat, wajah yang tampak kotor dan lusuh.

“Sepuluh menit lagi kita sampai” Jawab Mia sambil menoleh ke badan jalan.

Re, anak semata wayangnya itu segera bangkit, bersemangat ingin melihat kampung yang sering disebut-sebut ibunya menjelang tidur. Semua energinya terkuras beberapa minggu ini hanya karena ingin merambah hutan, lembah dan pantai di kampung seperti yang pernah diceritakan ibunya.

“Dari tahun ke tahun, kampung ini tak banyak berubah Re, masih seperti dulu. Ibu heran, kenapa tak sedikitpun ada kemajuan ya, jalan masih rusak dan jembatan berlobang-lobang. Kalau jalannya mulus, pasti kita sudah sampai Re..”

“Meski begitu, Ibu selalu kangen kampung ini Re, kangen kakek nenekmu..” lanjut Mia dengan mata mengawang, di sudut matanya ada setetes air yang hendak jatuh. Napak tilas perjalanan hidupnya menghadirkan haru. Segera saja bis kecil itu berhenti setelah Mia mengetok pintu bis.

“Ayo..kita turun Re, kita sudah sampai!”

Cepat-cepat Re menaikkan ranselnya ke bahu, dan berjalan mengikuti Mia menuju rumah tua

“Dulu ibu dan bapakmu bercita-cita membangun desa ini Re, ahhh..sudahlah, Ibu suka sedih mengingat Bapakmu.. Yuk!.. kita masuk ke dalam!..”

Mia mengalihkan pandangannya menuju pintu bangunan tua, rumah tempatnya menghabiskan masa kecil. Bunyi pintu kayu berderet saat perlahan Mia melangkah memasuki rumah itu. Nampak di setiap sudut tergantung jaring laba-laba, penanda rumah itu sudah lama tak dihuni. Mia mulai membersihkan rumah, melebarkan kasur kapuk yang tergulung, mengkibas-kibaskannya dengan kain sarung berkali-kali. Semakin malam, bunyi jangkrik dan katak pohon seolah menjadi terapi untuk tubuh yang kelelahan.

“Buk, Re kangen Bapak, Re ingin mencari Bapak” celetuk Re seketika kepada Mia dan masih mengusap-usap matanya sehabis bangun pagi. Mia memperhatikan wajah Re.

“Kamu menggigau lagi Re?”

Re menggeleng. Mia menghela nafas panjang, memandang dalam-dalam ke arah mata Re, merasakan apa yang dirasakan Re.

“Re, Ibu tidak mungkin akan menahanmu kalau kau mau mencari Bapak, tapi Ibu pun tidak tahu apa Bapakmu masih hidup. Kau tahu kan apa yang sudah kita lakukan selama ini untuk mencari Bapak, tapi hasilnya?” Mia mengangat kedua tangannya diiringi bahu yang mengangat, menahan nafas..

“Ibu sudah pasrah Re, sudahlah, Kau mandi dulu sana, Ibu akan menyiapkan nasi goreng kampung kesukaanmu..”

Sore itu, Re berjalan-jalan menuju pantai, turun naik melewati lembah di sekitar hutan kampung, ia melihat sebuah pondok kayu di pinggir tebing, lengkap dengan berbagai koleksi tanaman. Re berhenti menyandarkan sepedanya, mengamati berbagai jamur, raflesia arnoldi, bunga bangkai, nephentes dan berbagai tanaman aneh lain yang tidak bisa diidentifikasikannya.

“Sedang apa Nak?” tanya seorang lelaki berjanggut dengan kulit kuning langsat serta sorot mata tajam. Suara yang membuat Re kaget, Re yang sedang berupaya mengindentifikasi berbagai jenis tanaman menjadi salah tingkah.

“Ahh.. Saya lagi melihat koleksi tanaman, kebun ini milik Bapak?”
Tersenyum lelaki paruh baya itu mengangguk

“Mau mampir? Bapak buatkan minuman segar untukmu..”

“Iya, mau Pak, mau!” spontan Re menjawab.

Semakin lama lelaki paruh baya ini semakin menyenangkan. Sinar mata tajam itu bersahabat, mengingatkan Re pada Bapak.

“Mari masuk” lelaki itu mempersilahkan Re untuk masuk. Ragu-ragu Re melangkah..

“Silahkan duduk, santai saja, eh..iya, kita belum kenalan, siapa namamu?”

“Re Pak,  Refa Tanuwijaya, tapi panggil saja saya Re..”

“Nama yang bagus, Oh ya, kenalkan, Saya Tanu Wijaya, panggil saja Pak Taya..” sambil menjulurkan tangganya dihadapan Re.

“Wah, nama kita sama, kebetulan yang aneh ya Pak!” coloteh Re. Pak Taya tersenyum.

“Kamu percaya dengan kekebetulan?” tanya Pak Taya sambil menaikkan kedua alisnya,

“Ahh..sudahlah, baru pindah ke desa ini?” tanya Pak Taya lagi sambil melirik Re yang masih memandang lekat-lekat Pak Taya.

“Iya Pak, baru seminggu Re pindah bersama ibu. Masih belum banyak orang yang Re kenal di kampung ini” jelas Re.

Pak Taya sibuk di dapur menyiapkan teh hijau, teh yang dipetik langsung dari kebun teh miliknya, dimasak dengan sumber air dari dalam perut bumi, dengan gula batu dan sedikit taburan jamur.

“Silahkan diminum, teh ini khusus Bapak buatkan untukmu, Bapak punya firasat akan kedatangan tamu istimewa” senyum Pak Taya mengembang memandang Re. Re pun tak sabar ingin segera mencicipi teh hijau jamur yang disuguhkan untuknya. Mencium aromanya saja sudah sangat menyegarkan, apalagi meminumnya. Re terlihat semakin bersemangat menyeruput teh hijau jamur itu,

“Tehnya enak pak..” Re berkomentar tanpa bermaksud memuji.

“Iya dong, teh istimewa untuk seseorang yang istimewa..”

“Mau kemana tadi Nak?” Pak Taya mengalihkan pembicaraan.

“Mau ke pantai Pak” jawab Re singkat,

“Sudah lihat pantainya? “

“Belum Pak, belum sampai ke sana, Re malah  mampir ke pondok Bapak. Dari kejauhan pondok Bapak kelihatan menarik sekali, jadi Re putuskan untuk mampir sebentar. Re penasaran ada jamur di kebun Bapak yang bisa berpendar, apakah itu jamur conocybe, jamur mematikanyang asalnya dari Amerika? Bentuknya mirip sekali dengan jamur psilocybe..”

“Ya, betul sekali,  kamu cerdas Re, bisa mengidentifikasi jenis jamur itu, padahal jamur itu sedang berkamuflase..”

“Bapak sudah lama tinggal di sini?“

“Ya, sudah cukup lama juga. Re boleh sering-sering ke sini kalau suka dengan koleksi tanaman Bapak, mungkin ada yang bisa Re pelajari”..
Nyatanya setiap orang yang mengenali Re akan menawari sesuatu, entah itu kudapan, minuman ataupun undangan berkunjung ke tempat mereka kapanpun Re mau, termasuk lelaki paruh baya yang seolah mahluk genius yang keluar dari perut bumi.

“Kelas berapa kamu sekarang Re?”

“Harusnya Re kelas satu SMP sekarang Pak, tapi Re  tidak pergi ke sekolah, kata ibu, yang penting Re tetep belajar dan mengerjakan yang Re suka. Sehari-hari Ibu yang mengenalkan Re pada sains. Kata Ibu, bapak Re orang hebat dan Re mewarisi kecerdasan Bapak, Re sendiri tidak merasa genius, memang ibu suka berlebihan” Jawab Re malu-malu.

Lama mereka mengobrol, berbicara tentang temuan-temuan sains moderen, kehidupan orang-orang hebat zaman dahulu, seperti Aljabar, Ibnu Sina, Ibnu Rusyid dan masih banyak lagi hingga tak terasa matahari sudah menuju ufuk barat..

“Sudah sore, Kamu tidak pulang?”

“Oh..iya.. Pak, sudah sore ya?” Re melihat langit dari jendela rumah Pak Taya.

”Re pamit pulang Pak, boleh Re ke sini lagi besok?”

“Boleh, sesering yang Kamu mau Nak“ Pak Taya mengelus kepala Re seperti bapak yang mengelus kepala anak lelakinya. Re segera menggoes sepede buntutnya, membelah hutan gelap dengan sinar bulan pucat  yang masih bertengger di langit, menembus pohon dan dedaunan, menciptkan siluet abstrak keperakan.

“Assalamu’alaikum”

“Waalakum salam, dari mana saja Re, kok lama sekali pulangnya..”

“Iya Buk, tadi seru, Re bertemu Pak Taya, baik sekali orangnya Buk, Pak Taya menawarkan Re melakukan penelitian di rumahnya. Ibu tau gak, Pak Taya punya koleksi tanaman jamur banyak sekali, bentuknya lucu-lucu. Yang paling aneh, ada jamur yang berpendar Bu, keren kan! Re belum pernah baca ada jamur yang begitu keren, dan kayaknya jamur itu hasil eksperimen Pak Taya..”

“Oh.. ya?” Mia menggernyitkan dahinya,

“Iya Bu.. benar!..” Re menjelaskan dengan semangat yang berapi-api.

“Pak Taya itu orang yang genius Buk!” mata Re menerawang mengingat percakapannya dengan Pak Taya.  Re dan Mia terbaring di dipan tua, memandangi langit-langit rumah yang sudah mulai lapuk,  ngobrol kesana kemari hingga akhirnya tertidur pulas.

Pagi sekali Re sudah sibuk membantu Mia, rencananya ingin sesegera mungkin menemui Pak Taya. Ada perasaan yang membuatnya selalu ingin ke tempat itu, rumah Pak Taya. Ngobrol dengan Pak Taya membuat Re nyaman, Re bahkan membayangkan jika saja Pak Taya itu adalah bapaknya, nama belakangnya sama. Mungkinkah Pak Taya itu bapak? Apakah memang ada yang kebetulan? Jangan-jangan ini jalan Re menemukan bapak!

“Bu.. Re pergi dulu ya!..” sambil berlari kecil, Re menaiki sepedanya dan melaju meninggalkan rumah.

“Hati-hati Re, pulangnya jangan kemalaman” teriak Mia melepas anaknya yang semakin menjauh.

Re mengetuk rumah Pak Taya, agak lama terdengar suara dari dalam,
“Masuk Re!..”

Re memasuki rumah itu, tapi Pak Taya tampaknya akan segera pergi. Pak Taya menyiapkan bohlam-bohlam pijaar yang diberi pengikat, dan mulai menentengnya ke luar,

“Bapak mau kemana?”

“Mau  turun gunung, mau ikut?”

“Ikut Pak” jawab Re kegirangan. Pak taya memandang Re,

“Yakin? Bapak sampai malam lho di pantai, nanti ibumu khawatir?”

”Gak apa-apa Pak, Re mau  ikut!“ Re setengah memaksa

“Haha, kamu keras kepala juga rupanya!” Pak Taya mengalah.

Berdua mereka menuruni jalan terjal, curam dan dalam..
“Wah, ada air terjunnya ya Pak, bagus sekali, lebar dan besar, Re suka alam” sepanjang jalan Re mengoceh.

Senja sudah menuju ufuk barat, matahari tampak merah, perlahan langit tampak gelap, disusul bintang-bintang yang mulai terlihat. Pak Taya masih menyisir pantai, seolah-olah mencari sesuatu, kemudian memasukkan air laut ke dalam lampu pijar tanpa sumbu, dan ditutup rapat

“Ayo kita pulang”

“Cuma ambil air laut saja pak” tanya Re..

“iya”

“Ahh.. kirain Bapak mau ngapain ke sini, ternyata hanya mengisi bohlam-bohlam itu dengan air laut” Re tampak kecewa, Pak Taya hanya tersenyum..

“Kamu mau di sini apa mau pulang?” Re tak menjawab, hanya mengikuti Pak Taya dari belakang, jalanan mulai mendaki, terdengar suara riak air terjun, gelap. Tiba-tiba Re melihat ada yang berwarna-warni, seperti malam yang berpelangi
“Wah, apa itu Pak?”

Setiap bohlam yang berisi air laut itu memiliki warna yang berbeda, Re takjub.
“Itu plankton, phytoplankton berjenis biolumenesence, bagaimana menurutmu?”

“Wah.. keren sekali Pak, Re suka!..“

“Nih untukmu!”  Pak Taya menyodorkan tiga bohlam untuk Re. Dengan mata berbinar, Re memandang planton-plakton itu. Tak disangkanya air yang diisi dengan air laut tiba-tiba berubah menjadi lampu yang berpendar-pendar.

Di depan rumah Pak Taya masih terparkir sepeda Re. Re pamit pulang dan membawa lampu-lampu pijar yang berisi plankton itu dengan hati-hati. Ibu yang sedari tadi menunggu Re sudah tertidur di kursi malas peninggalan nenek.

Pelan-pelan re membuka pintu, takut ibu terbagun, seperti pencuri yang mengendap-endap.

“Re, dari mana saja Kau jam segini baru pulang?” tanya Mia tiba-tiba. Re kaget dan gugup namun terus masuk ke dalam kamar, menyimpan bohlam-bohlam cantiknya itu, menggantungkannya di belakang pintu kamarnya,

“Hmmm.. dari rumah  Pak Taya, Bu!” Re menjawab pertanyaan Mia dari balik pintu,

“Re..Ibu mau bicara, duduklah di samping Ibu!” lalu Re pun mendekat

“Re.. Ibu khawatir kamu pergi lama sekali, pengalaman kehilangan bapakmu masih terasa mengganjal di hati ibu. Kau milik ibu satu-satunya sekarang, ibu tidak ingin kehilanganmu nak!”

Re terdiam, tertunduk, tak mampu menatap mata Mia. Re tak tega menemukan kesedihan di mata Mia, namun keinginannya untuk bertemu Pak Taya jauh lebih mendesaknya, bagai manusia yang kecanduan heroin, ingin lagi dan lagi.

Diam-diam Re mengatur rencana akan menemui Pak Taya siang ini, kebetulan Ibu akan pergi lama. Dada Re sesak karena rindu, sudah tak tahan ingin bertemu Pak Taya. Re segera menaiki sadel sepedanya dan bergegas laju. Di depan rumah Pak Taya, Re selalu saja disambut jamur-jamur yang berpendar. Masuk ke rumah Pak Taya seperti masuk ke rumah sendiri.

“Re..Bapak ingin menunjukkan sesuatu padamu, ayo ikut Bapak!” Pak Taya menggeser batu yang tersembunyi di ujung bawah lemari buku, membukalah batu besar dan terlihat anak tangga menuju ke semacam ruang rahasia bawah tanah.
“Ayo  ikut Bapak!”

Ragu-ragu Re mengikuti Pak Taya. Mereka menuruni tangga, gelap, basah dan dingin.  Di sudut ruangan terletak beberapa kotak kaca yang berisi binatang berlampu meletup-letup, namun tumbuh terus menerus, sejenis kunang-kunang yang melewati proses rekayasa genetik. Re menatap takjub  benda-benda itu, plakton-planton yang kemarin dimasukkan ke dalam bohlam-bohlam mampu berpendar berganti-ganti warna.

“Stop!.. jangan sentuh itu sebelum Bapak menyiapkan penawarnya, itu jenis jamur, yang mampu membuatmu berhalusinasi, dalam kondisi yang parah, jamur itu mampu membuat jantungmu berhenti dalam hitungan sepuluh detik!”

Pak taya mengeser batu kecil seperti sebuah kunci, perlahan-lahan batu besar membelah, dan memperlihatkan air terjun yang dilihatnya kemarin saat menuruni lembah curam menuju pantai. Re masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, semua keajaiban ini serasa mustahil. Pak Taya menaiki kembali tangga-tangga yang tadi digunakan untuk turun.

“Ayo Re.. udara di sini tidak baik untukmu jika malam telah tiba, semua energimu akan terserap habis!” cepat-cepat Re menyusul Pak Taya.

Menjelang malam baru Re kembali ke rumah disambut kecemasan Mia.

“Pak Sholeh tadi pagi datang ke rumah, katanya Kau sering ke tebing di bawah pohon raja. Pak Sholeh sendiri tidak tahu apa yang sedang Kau lakukan disana, katanya Kau berbicara sendiri, benar begitu Re?”

“Tidak Buk, Re bersama Pak Taya seharian, Pak Taya bahkan menunjukkan Re tempat yang sangat bagus, Ibu tidak perlu percaya dengan Pak Sholeh. Ibu masih percaya pada Re kan?” selidik Re mendesak Mia. Mencari tahu ketidakpercayaan Mia.

Setelah itu mereka menghabiskan malam panjang dengan suasana yang terasa semakin tidak nyaman. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Re yang merasa Mia tidak mempercayainya dan Mia yang khawatir akan kehilangan anak semata wayangnya.

Pagi sekali, Mia bermaksud membuktikan kesalahan cerita Pak Sholeh. Cerita Pak Sholeh cukup membuat dadanya panas dengan segala kerisauannya. Mia berjalan tergesa-gesa menuju jalan setapak, ingin segera mendapatkan daerah yang diucapkan Pak Sholeh, sebuah pohon raja besar, yang telah berusia ribuan tahun di sekitar tebing. Mia mencari-cari pohon raja yang dimaksud, tapi Mia tak menemukannya, ahh.. mungkin Saya salah, gumamnya dalam hati. Mia memutuskan untuk kembali ke rumah, dengan segudang pertanyaan berkecamuk di kepalanya, Re mulai gila, berhalusinanasi seolah Pak Taya itu benar ada ataukah saya yang salah dan tidak menemukan tempat yang benar, besok Saya harus membuntuti Re untuk membuktikanya.

Di dalam kamar, Re dan Mia tidur bersama, menatap langit-langit rumah bersama, dan untuk pertama kali Re dan Mia berbaring membisu. Hanya terdengar dengusan nafas Mia sesekali, seperti ada beban berat yang menimpanya namun Re tidak berani bertanya. Sejak Pak Sholeh menceritakan semua kelakuannya di pinggir tebing. Re merasa ibunya seperti anak kecil yang ingin tahu,  namun justru itulah yang Re suka. Meski Re tahu ibunya bisa menjelma menjadi teman sebaya, namun kali ini, bibir Re terkunci rapat, bahkan sekedar mengucapkan selamat tidurpun Re tak sanggup, keheningan ini sungguh mencekam. Re berada di puncak kegelisahan, tangannya dingin, jantungnya berdetak sangat kencang, suara jangkrik dan kumbang-kumbang semakin riuh mengerubunginya, menteror tanpa ampun. Perasaan yang sama juga dirasakan Mia, tak tertidur semalaman, hanya memikirkan kata-kata Pak Sholeh. Re seperti orang yang kecanduan, terus menerus ingin menemui Pak Taya.

Pagi setelah tak bercakap-cakap dengan Mia, Re keluar dengan berjalan kaki di rerumputan yang basah. Mia mengikutinya, mengendap-gendap, kehadirannya tak boleh diketahui Re. Sampai di tebing, di bawah pohon raja, Mia mengintip. Re mulai mencari benda-benda di sekelilingnya, mengambil daun, rumput dan ranting-ranting kecil, seperti sedang meracik sesuatu, tampak seperti bercakap-cakap dengan seseorang, bahagia, tertawa dan sesekali tampak serius dan tampak mata Re sedang tertutup. Sekujur badan Mia terasa lemas, berlari pulang, meninggalkan Re sendirian. Matanya sembab, kesedihannya menjadi-jadi hanya mengeluarkan air mata tanpa isak, bayangan akan kehilangan orang yang dicintainya itu semakin  nyata di depan mata.
Re baru saja pulang lalu duduk di sebelah Mia.

“Re..jujur pada Ibu Nak, apa yang kamu lakukan di pinggir tebing itu?“ jarinya gemetar saat mengusap ujung matanya yang basah

“Re ke rumah Pak Taya Buk, Re senang di sana!..”

“Hentikan Re, hentikan Nak!” Mia berteriak,

“Tidak ada pondok seperti yang Kau ceritakan pada Ibu, tidak ada Pak Taya, Ibu mengikutimu seharian, Ibu melihatmu sedang apa di sana, Kau seperti orang gila Re, demi ibu, berhentilah ke sana Re, Ibu sudah tidak ingin kehilangan orang yang Ibu cintai lagi, hanya Kau milik Ibu!

“Tapi Bu.. Re benar-benar ketemu dengan Pak Taya..” Re berusaha menjelaskan pada ibunya

“Bu, ada banyak hal yang tidak tertangkap oleh mata kita, bukan karena mereka tidak ada, melainkan kemampuan kitalah yang terbatas untuk melihatnya. Ada hal-hal di dunia ini yang bersama-sama dengan kita sekarang, ibu percaya?”

“Re tidak gila Bu!” lanjut Re lagi. Mia terdiam, tak sanggup membayangkan harus kehilangan orang yang dicintainya tanpa kabar dan jasad.

..”

***

Menjelajahi Tiga Air Terjun

Traveling adalah salah satu kegiatan yang paling kami suka, berada di alam, menikmati keindahannya serta mengagumi kebesaran Sang Maha Pencipta adalah sebuah bentuk terapi jiwa.

Dalam satu pekan kami menjelajah di tiga air terjun, yang pertama adalah air terjun Sikulikkap yang berada di wilayah Brastagi, air terjun jambu ara dan air terjun turunan yang berada di daerah Tanah Jawa, Simalungun. Kali ini penjelajahan ke tiga air terjun itu tanpa Ayah, maklum beliau sedang melakukan tugas negara, haha.., saya meyakini, ayah cemburu abis deh sama penjelajahan kami kali ini, peran ayah digantikan oleh tulang, adik bungsuku.

Berjalan menyusuri jalan setapak menuju air terjun Sikulikkap, jalanan becek, basah dan dingin, waktu itu tampaknya hujan di gunung, air terjun kelihatan besar sekali, hempasannya menderu-deru, percikan-percikan air tampak seperti mebentuk awan, kami yang berada jauh dari air terjunpun basah kuyup, basah dan dingin adalah sebuah kondisi yang membuat tulang terasa ngilu.

Berbeda dengan perjalanan menuju air terjun Jambuara, butuh satu jam dengan menggunakan motor dari kampung saya, ketika sampai, kau akan disuguhi oleh air terjun tinggi, menghujam deras menuju perut bumi, bisa kau bayangkan jalan dengan dua anak kecil, dan hanya cukup untuk satu orang di jalan, sebelah kanan dan kiri terpampang jelas lembah curam, jalanan terjal dan menukik, belum lagi kondisi tanah yang rapuh, terasa hentakan kaki meruntuhkan butiran-butiran pasir di tepi kiri kanan lembah.

Sebagai ibu, nyali terasa gentar, salah injak, kau akan jatuh ke hutan lembah, belum separuh jalan kau akan ditantang oleh jalan setapak yang lebih licin, sebelah kanan ada tebing tinggi berbatu penuh lumut, sebelah kiri ada sungai penuh bebatuan besar, saya hanya mampu menuntun Raffa tanpa memeganginya, bayangkan desir nadiku..!saya menghadap ke samping, memegang tebing, sambil berjalan selangkah demi selangkah, ahh….perjuangan panjang..
namun, tak sia-sia perjalanan yang mengentarkan itu, air terjun jambu ara dengan pesona lengkungannya, hempasan air yang mengebu-gebu, merelaksasi semua bagian otakku, jantung yang sedari tadi berdetak kencang, perlahan mulai stabil, ketika melihat air terjun yang tingginya lebih dari tujuh puluh meter itu, cantik, bergemuruh dan sejuk..

Beberapa kali terlihat ikan nila, dan ikan mujair sedang berkejar-kejaran, serangga capung aneka spesies silih berganti hinggap di rerumputan diantara bebatuan besar dan licin, dan larvanyapun kami temukan. kau tau apa yang paling menyenangkn di alam? Yap! Eksplorasi! Alam mengajarkan kami banyak hal, tentang kesiagaan, kehati-hatian dan kerendahan hati!

Begitu menginjakkan kaki di bebatuan sekitar air terjun, dua bocah itu berlari-lari kecil menuju gua mungil yang hanya bisa di isi oleh sepuluh orang, mereka tampak bersenang-senang dengan berbagai kegiatan, mengangkut pasir yang ada di tepi sungai menuju gua, berteriak memanggil-mangil hanya sekedar mempelajari efek pantulan suara seperti echo, yang dipantulkan ruangan kecil berbatu, dan sesekali mereka berenang-renang di tepi sungai yang dangkal, ahh.. dua bocah kecil itu selalu menyenangkan ketika berpetualang, sementara mereka sibuk bermain, dari kejauhan saya mengabadikan kegiatan eksplorasi mereka, dan nge-take pict beberapa view yang menarik. Di beberapa foto tertangkap sebuah fenomena, fenomena aneh, saat kau di foto, hasilnya seperti sedang berkaca dengan lensa cembung!!

Puas bereksplorasi di air terjun Jambuara, kami menuju air terjun Turunan, Tonduhan, jalan relatif aman bagi anak-anak, berbeda dengan air terjun jambu ara, di kolam air terjun turunan, anak-anak bebas mandi, karna dangkal, di beberapa foto airnya tampak coklat, namun sebenarnya warna coklat itu berasal dari pantulan pasir yang berada di dasar kolam, beberapa area memang lebih dalam, namun air terjun ini relatif lebih ramah bagi kedua bocah itu.
Yang paling menyenangkan dalam setiap perjalanan adalah, bagaimana dua bocah itu memaknai sebuah tantangan, menjaga diri dan survive! Proud of you both!
(Rahmaida “bua” Simbolon)

Yuk Piknik!

Sebelumnya saya pernah menuliskan tulisan terkait piknik di notes facebook saya dengan judul “pemberdayaan masyarakat dan piknik”. Kurangnya piknik ternyata dapat mengakibatkan orang menjadi cepat puas diri, tidak mampu menemukan masalah dalam diri dan kurangnya pengetahuan akibat wawasan yang rendah. Di situ saya menceritakan kasus petani salah satu desa di Purworejo, yang selama ini tidak mau berubah, sulit diberi pemahaman, bahkan tidak tahu desanya termasuk desa termiskin, akibat mereka umumnya tidak pernah pergi keluar dari desanya.

Tulisan kali ini, saya ingin menceritakan tentang serba serbi piknik yang telah keluarga kami lewati.

Pernah beberapa kali ada yang bertanya atau berkomentar “Jalan-jalan terus? Boros amat” “Mending uangnya ditabung.” atau berbagai komentar yang lain. Jadi begini ya, bagi kami, piknik itu investasi. Pernah dengar istilah “kurang piknik”? Sudah tahu kan bahayanya kurang piknik? Piknik itu kebutuhan. Bukan sekedar penghilang stres, tapi sarana belajar yang asyik. Ditambah lagi di usia SD, anak-anak butuh mulai mencari minat dan bakatnya, inilah waktu yang tepat bagi kami untuk membuka wawasan dan menggali minat anak.

Tapi kan mahal?
Eits… Tunggu dulu, mahal itu relatif. Kita bisa kok tetap piknik hemat, penuh manfaat. Piknik ga harus mahal, bisa disesuaikan dengan kondisi kita sendiri. Piknik menjadi mahal kalau kita tidak bisa mengukur diri.

Berikut beberapa aktifitas piknik hemat yang telah kami lakukan diantaranya :

  1. Kebun binatang Ragunan. Satu orang tiketnya ga sampai 5 rb kok. Mau hemat lagi, bawa rantangan ke sana, bisa makan bareng anak-anak, perginya naik pick up rame-rame hehehe… Ga sampai 5rb, sudah bisa belajar tentang berbagai macam hewan lho.
  2. Toko buku bekas. Di dekat rumah kami, Bintaro Trade Center, ada lapak toko buku bekas. Biasanya, minimal, sebulan sekali kami main ke sana melihat buku-buku. Ada buku anak yang baru juga, dengan harga bersahabat.
  3. Ke museum. Banyak pilihan museum yang layak dikunjungi. Satu favorit saya adalah museum Bank Indonesia. Itu museum paling keren yang pernah saya temui. Kemudian ke museum Nasional, Museum Satria mandala, Museum Layang-Layang (berbayar, tapi masih terjangkau)
  4. Naik KRL. Ini anak-anak pasti suka.
  5. Ke tempat kerja Ayah. Ayah Hegel bekerja di bidang konstruksi, ikut ayah bisa belajar tentang bagaimana proses membangun bangunan. Mengenal apa saja alat-alat pertukangan.

Masih banyak lagi ide piknik hemat kok asal kita mau mencari. Selain itu, ada juga piknik-piknik yang memang harus kita persiapkan sebelumnya karena keterbatasan biaya, waktu, atau tenaga.

Semua piknik itu baik? Tergantung niatnya juga sih. Kalau diniatkan untuk menambah wawasan, tentunya ada hal-hal yang harus kita perhatikan. Agar tujuan tercapai, persiapan tentu dibutuhkan. Kalau perlu, kita list detil tujuan yang kita harapkan, agar cocok dengan kegiatan piknik yang akan kita pilih.

Ya sudah, jangan ragu lagi. Yuk piknik!

Chairina Bunda Hegel