Kulwap Pengantar Astronomi untuk Anak

Kulwap Grup Home Education

Tema : Pengantar Astronomi untuk Anak
Waktu : Senin, 28 Agustus 2017 Pukul 19.00 – 21.00
Narasumber : Muhammad Rayhan
Moderator : Rella
Notulis : Titiek Kurnia Rahman

Profil Narasumber:

Namaku Muhammad Rayhan, biasa dipanggil Kak Rayhan atau Kak Ray. Lahir di Bekasi, Jawa Barat tanggal 16 Juli 1988. Sejak kecil sudah suka Astronomi dan rajin membaca buku-buku astronomi dan artikel yang terkait di surat kabar dan majalah.

Tahun 2004 mulai bergabung dengan klub astronomi Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) dan menjadi pengurus inti HAAJ sejak 2006 hingga sekarang. Sejak tahun 2011 bekerja di Planetarium dan Observatorium Jakarta sebagai Narasumber Astronomi, hingga sekarang. Dan sejak setahun yang lalu menikah dengan seorang rekan sesama hobi di HAAJ.

Aktifitas sehari hari adalah menjadi narasumer astronomi di Planetarium Jakarta, dengan secara rutin memberikan ceramah astronomi melalui pertunjukan teater bintang, melayani masyarakat yang ingin melakukan observasi benda-benda langit melalui teleskop serta memberikan penyuluhan astronomi ke sekolah-sekolah. Di akhir pekan sering kali menghabiskan waktu dengan aktif di kegiatan kegiatan HAAJ berupa Diskusi Pertemuan Rutin dan Star Party di luar kota.

Selain Astronomi, hobi lainnya adalah fotografi, terutama yang mengkhususkan pada pemotretan benda-benda langit (Astrofotografi). Astronomi dan fotografi juga otomatis membuat Camping dan Hiking menjadi bagian dari Hobi di akhir pekan, selain menonton Film dan mendengar musik di waktu luang..

Cita-citaku adalah punya observatorium pribadi di tempat yang terpencil sehingga bisa bebas memotret alam semesta dan membagi-bagikan hasil fotonya untuk dinikmati oleh siapapun.

Pengantar Kulwap :

Apakah Astronomi Itu?

Astronomi, dari 2 kata bahasa Yunani, Astros yang artinya Bintang dan Nomos yang artinya Ilmu, adalah cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang khusus mempelajari benda-benda luar angkasa dan segala fenomena yang terjadi di luar Bumi.

Astronomi berbeda dengan Astrologi, yang merupakan sebuah sistem yang mempercayai adanya keterkaitan antara nasib manusia dengan pergerakan benda-benda luar angkasa. Astronomi adalah Ilmu Pengetahuan (Science), sementara Astrologi bukanlah Ilmu Pengetahuan (Pseudo Science).

Bagaimana mengenalkannya?
Astronomi merupakan salah satu ilmu pengetahuan tertua yang dipelajari oleh manusia. Hal ini dimungkinkan karena Astronomi sudah dapat dipelajari bahkan dengan tanpa alat bantu apapun (kasat mata). Kita sudah dapat memperkenalkan Astronomi hanya dengan mengamati pergerakan benda-benda langit. Contohnya Matahari. Dengan mengamati pergeserannya tiap hari, kita bisa mengetahui pergeseran waktu dan Jam, menentukan arah mata angin, menentukan pergeseran musim, arah kiblat bagi umat Muslim dll. Di malam hari, kita bisa mengamati bintang-bintang dan membedakannya dengan Planet-planet. Mempelajari posisi-posisi bintang terang untuk menentukan pergeseran waktu dan arah mata angin di malam hari. Memperhatikan konfigurasi bintang terang yang membentuk rasi-rasi bintang, dll.

Dengan alat bantu seperti Binokuler dan Teleskop, tentu kita bisa mengenalkan Astronomi lebih dekat lagi. Dengan binokuler atau Teleskop Sederhana, kita bisa mengamati kawah-kawah di permukaan Bulan, mengamati aktifitas permukaan Matahari (dengan Filter khusus) seperti bintik Matahari, melihat cincin Planet Saturnus, mengamati pergerakan satelit-satelit Planet Jupiter dll. Dengan Teleskop yang lebih besar, kita bisa mengamati benda-benda langit yang jauh dan redup, seperti Galaksi, Nebula, Klaster Bintang dll.

Dengan mengetahui jadwal hasil perhitungan Astronomis, kita juga dapat mengenalkan Astronomi melalui fenomena-fenomena Astronomis yang langka dan menakjubkan, seperti Gerhana Bulan, Gerhana Matahari, Hujan Meteor dll.

Apa manfaatnya?
Secara praktis, mempelajari Astronomi dapat membantu kita dalam memahami penggunaan waktu dalam aktifitas kita sehari-hari. Kita bisa mengetahui waktu tanpa perlu melihat jam atau kalender serta dapat mengetahui fenomena pergantian musim. Bagi umat Muslim khususnya dapat menentukan awal dan akhir waktu-waktu Ibadah, seperti waktu Sholat, Puasa dan menentukan hari raya Ied dalam kalender Islam. Dengan Astronomi kita juga dapat melakukan Navigasi tanpa alat bantu seperti Kompas atau GPS, selain juga dapat menentukan waktu-waktu terjadinya fenomena alam seperti pasang surut air laut, Gerhana Bulan, Gerhana Matahari dan lain sebagainya, sekaligus dapat menjelaskan penyebabnya secara ilmiah.

Astronomi secara langsung juga dapat menjadi alternatif hobi yang sangat bermanfaat, khususnya bagi anak-anak. Pengamatan Astronomi identik dengan langit yang bersih tanpa polusi udara dan polusi cahaya sehingga memadukannya dengan aktifitas seperti camping dan hiking akan sangat menarik. Jika didalami secara serius, Astronomi juga dapat digeluti sebagai Hobi yang dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan Ilmu Pengetahuan, seperti Penemuan Benda Langit Baru seperti Komet, Asteroid, Galaksi dll.

Astronomi sebagai Hobi juga dapat menjadi gerbang untuk dapat menumbuhkan ketertarikan terhadap bidang Ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, karena Astronomi juga melibatkan berbagai bidang seperti Matematika, Fisika (Astrofisika), Kimia (Astrokimia), Biologi (Astrobiologi), Arkeologi (Arkeoastronomi) dll.

Tanya Jawab:

  1. T: Bagaimana menjawab pertanyaan basic (anak 5th) : apa itu luar angkasa? Apakah berarti semua yang berada di luar planet bumi?J: Luar Angkasa adalah sebuah tempat yang berada di luar lapisan atmosfer bumi. Batas awalnya kira-kira 100 km dari permukaan air laut, secara ilmiahnya disebut dengan Garis Karman (Karman’s Line). Namanya diambil dari seorang ahli fisika dan engineer Hungaria-USA, Theodore von Kármán.
    Batas akhirnya Luar Angkasa? Pinggiran Alam semesta, atau hampir tanpa batas.. 😇
    Untuk mempermudah anak membayangkannya, bisa diilustrasikan 100km itu sejauh apa, misalnya berapa kali lebar lapangan sepakbola, dll. ✅
  2. T: Bagaimana para astronom membuktikan bahwa bumi itu bulat? Sejauh pengamatan astronom, apakah ditemukan benda angkasa lain yang bentuknya tidak bulat?J: Pembuktian paling utama tentunya dengan pergi ke luar angkasa dan melihatnya, atau memotretnya, dari luar Bumi. Hasilnya, Bumi itu Bulat. 😊

    Meski begitu, pembuktian bahwa bentuk Bumi itu bulat sudah dilakukan sejak waktu yang sangat lama, yaitu sejak zaman Yunani kuno. Filsuf dan ahli Matematika Pythagoras adalah orang yang pertama kali mengatakan bahwa Bumi itu Bulat, berdasarkan pada pengamatannya terhadap fase-fase Bulan. Jika diperhatikan dari hari ke hari, daerah gelap dan terang Bulan selalu berbentuk melengkung dan ini memberikan kesimpulan bahwa Bulan itu Bulat. Maka jika Bulan itu Bulat, maka Bumi pun juga Bulat.

    Lalu pada sekitar 70 tahun setelahnya, Anaxagoras memberikan jawaban bagi penyebab terjadinya Gerhana Bulan dan Matahari. Pada Gerhana Bulan, Bayangan yang menutupi Bulan adalah Bayangan Bumi dan bentuk dari bayangan itu pun berbentuk Bulat. Kesimpulannya, Bumi itu Bulat.

    Tak ketinggalan, 100 tahun setelahnya, filsuf terkenal Aristoteles juga membuktikan bahwa Bumi itu Bulat dengan membuat percobaan pengamatan bintang dan rasi-rasi bintang yang posisinya ternyata berubah jika kita berpindah mendekati atau menjauhi ke arah kutub. Kesimpulannya, Bumi itu melengkung/bulat.

    Hingga akhirnya 100 tahun setelahnya, Aristarchus dan Eratosthenes menemukan metode untuk mengukur diameter Bumi dengan ketepatan yang cukup tinggi. Dan hal itu dengan memperhatikan bahwa bayangan sebuah benda akan berbeda panjangnya pada lokasi yang terpaut cukup jauh pada waktu yang bersamaan. Kesimpulannya, Bumi itu Bulat.

    Dan setelah era ditemukannya teleskop, para ahli astronomi menemukan bahwa semua planet berbentuk Bulat. Matahari dan Bintang pun berbentuk Bulat. Hanya beberapa benda kecil seperti asteroid saja yang bentuknya tidak bulat, disebabkan karena massanya yang kecil membuat gaya gravitasinya juga kecil sehingga tidak dapat mempertahankan bentuknya yang Bulat.

  3. T: Apakah astrologi dan rasi bintang juga merupakan bagian dari ilmu astronomi? Apakah seorang astronot harus seorang astronom?J: Pada awalnya Astronomi dan Astrologi berasal dari disiplin ilmu kuno yang sama, namun berbeda penggunaannya. Jika astronomi digunakan untuk menyusun sistem waktu, memprediksi pergantian musim dan alat bantu Navigasi, sementara Astrologi digunakan untuk meramal nasib Manusia.

    Dalam perkembangannya, Astronomi berkembang menjadi disiplin ilmu sains yang didasari oleh fakta-fakta ilmiah dan dapat dibuktikan serta diuji kebenarannya. Sementara Astrologi tidak berkembang dan tidak dapat membuktikan kebenaran-kebenaran dan fakta-faktanya secara ilmiah.

    Pada akhirnya, Astronomi menjadi bagian dari Sains, sementara Astrologi tidak bisa disebut sebagai Sains karena tidak terbukti adanya keterkaitan antara pergerakan benda-benda langit dengan nasib Manusia. Astrologi hanya menjadi Pseudo Sains, mirip seperti sains (karena menggunakan beberapa term yang mirip Astronomi, seperti Rasi Bintang) namun bukan sebuah Sains.

    Astronom dan Astronot merupakan dua profesi yang sangat berbeda, meskipun kajiannya sama-sama ilmu Astronomi.
    Karir seorang Astronom diawali dengan mempelajari Ilmu Astronomi di perkuliahan/sekolah. Saat lulus, dia bekerja di Observatorium dan melakukan penelitian-penelitian yang dilakukan dari permukaan bumi.
    Sementara itu, karir Astronot biasanya berawal dari jurusan Engineer dan Pilot. Astronot harus bisa menguasai ilmu penerbangan dan bisa menerbangkan segala jenis pesawat, terutama Pesawat Luar Angkasa. Selain itu, Astronot juga harus menguasai Engineering untuk dapat bekerja dengan segala instrumentasi di Luar Angkasa, di permukaan Bulan atau Planet.

    Meski begitu, baik Astronot maupun Astronom memiliki peran yang saling melengkapi. Astronom membutuhkan Astronot untuk melakukan penelitian-penelitian di luar angkasa, atau untuk mengambil sampel di permukaan bulan/planet/asteroid/komet dll, atau untuk meletakkan teleskop di luar angkasa..

    Astronot juga membutuhkan Astronom untuk melakukan perhitungan yang dibutuhkan dalam penerbangan luar angkasa, atau untuk memprediksi gerak dari Bulan/planet atau benda langit lainnya demi mensukseskan penerbangan atau misi.

    Dengan perkembangan keantariksaan yang begitu pesat, sudah ada begitu banyak percobaan yang dilakukan di luar angkasa. Hal itu membuat begitu banyak disiplin ilmu dan para ahli ilmu lain yang akhirnya berangkat ke luar angkasa dan menjadi astronot. Seperti ahli botani, ahli biologi, ahli kimia, dokter dan lain sebagainya yang memiliki kepentingan untuk melakukan penelitian di luar angkasa.✅

Menumbuhkan Literasi Kritis Anak

Kulwap Grup Home Education

Tema : Menumbuhkan Literasi Kritis Pada Anak
Waktu : Senin, 20 Maret 2017 pukul 19.00 – 21.00
Narasumber : Ibu Lestia Primayanti, Kepala Sekolah Dasar Kembang (www.sekolahkembang.sch.id)
Moderator : Nareswawi Putri
Notulis : Majedah Ulfa

Profil Narasumber:

  • Bu Lestia memiliki pengalaman mengajar selama 10 tahun dan 3 tahun sebagai Kepala Sekolah
  • Beliau juga ikut mengembangkan sekolah untuk jadi sekolah yang ramah anak dan mengajak komunitas sekolah menjadi komunitas belajar.
  • Minat utama beliau pada pendidikan literasi, berpikir kritis dan anak berbakat/cerdas istimewa.

Prolog

Akhir-akhir ini, saya, mungkin juga Anda, merasa gelisah dengan begitu mudah dan cepatnya berita-berita hoax tersebar. Meski saya sadar bahwa banyak faktor yang mempengaruhi pembuatan dan penyebaran hoax, sebagai konsumen informasi, saya merasa bahwa kemampuan saya untuk menjadi jeli dan peka pada sebuah informasi yang saya baca menjadi salah satu hal yang penting.

Kemampuan ini tak serta merta muncul karena kita banyak membaca buku. Bisa jadi, kita termasuk orang yang rajin membaca, tapi orang yang rajin membaca belum tentu memiliki kemampuan literasi kritis.

Apa Itu Literasi kritis?
Literasi kritis adalah kemampuan untuk membaca sebuah teks secara aktif dan reflektif sehingga kita memiliki pemahaman yang mendapat tentang konsep-konsep yang dibentuk secara sosial seperti: kekuasaan, ketidaksetaraan, ketidakadilan dalam relasi antar manusia.

Literasi kritis mendorong seseorang untuk memahami dan mempertanyakan sikap, nilai, belief yang terkandung dalam sebuah teks. Teks yang saya maksud bisa beragam seperti : artikel, buku, iklan, pidato, wawancara, film, lagu, dan sebagainya. Bentuk “teks” di sini bisa berupa tulisan, visual, audio visual, maupun audio.

Orang yang sudah menguasai ketrampilan literasi kritis berarti sudah menguasai kemampuan membaca, menganalisa, mengkritisi dan mempertanyakan “pesan” di dalam teks yang ia baca.

Kepedulian, gerakan, yang terkait pada berbagai isu kemanusiaan, isu lingkungan, politik, ekonomi, dan sebagainya seringkali bermula dari kritis terhadap teks.

Adakah contoh yang terpikirkan oleh Anda?

Mengapa kini membicarakan literasi kritis menjadi penting?

Dunia kita berubah dalam kecepatan yang mencengangkan. Kini kita tinggal di dunia yang dengan cepat bergerak makin beragam, makin global, makin kompleks, dan “media saturated”. Kehadiran internet membuat siapa saja di seluruh dunia bisa berkomunikasi dan berbagi informasi.

Dunia yang terus berubah ini terutama adalah Dunia anak-anak kita di abad 21. Mereka harus bisa menjadi orang-orang yang literate. Media literate, environment literate, multiculture literate, financial literate, … masih banyak lagi.
Anak-anak kita akan menghadapi berbagai isu seperti pemanasan global, kelaparan, kemiskinan, masalah kesehatan, ledakan populasi, dan berbagai masalah lingkungan dan sosial lainnya. Semua permasalahan ini akan membutuhkan orang-orang yang cakap berkomunikasi, sehingga dapat menghadirkan perubahan baik perubahan pribadi, perubahan sosial, perubahan ekonomi atau perubahan politik di skala lokal sampai global.

Anak-anak kita perlu mampu berpikir kritis dan menggunakan pengetahuan serta informasi untuk mengambil keputusan. Perkembangan internet membuat literasi kritis menjadi amat penting di dalam komunitas yang semakin global.

Internet di abad 21 ini juga memungkinkan kolaborasi terjadi. Anak-anak bisa berkolaborasi dengan siapa saja di seluruh dunia untuk melakukan hal-hal yang bermakna dan menghasilkan perubahan. Mereka akan belajar bahwa kolaborasi, bukan kompetisi, yang bisa mengubah dunia. Mereka akan menggunakan beragam teknologi, juga akan mendiskusikan berbagai hal dengan kritis.

Empat ketrampilan di atas yaitu Komunikasi, Berpikir Kritis, Kolaborasi dan Kreativitas akrab kita pahami sebagai 21st century learning skills. Semuanya berkaitan erat dengan literasi kritis.

Literasi kritis berkembang melalui diskusi. Untuk dapat berdiskusi, semua pihak perlu setara dan terlibat. Keterlibatan adalah salah satu faktor kunci ketika belajar tentang literasi kritis. Anak perlu terlibat secara aktif dan memaknai pengalamannya.

Anak yang terlibat aktif akan tampak:

  • Ingin mengerti
  • Berinteraksi dengan teks karena dorongan dari dalam dirinya
  • Melihat membaca sebagai proses berpikir
  • Berbagi pengetahuan melalui diskusi dengan orangtua dan teman sebaya
  • Membaca untuk tujuan yang beragam (misalnya untuk mencari informasi, untuk bersenang-senang)
  • Menggunakan pengetahuan yang sudah dimilikinya untuk memaknai teks secara sosial.

Sebagai orang tua dan guru kita dapat mendorong keterlibatan anak dengan :

  • Mendorong anak untuk membaca karena perlu memenuhi kebutuhannya.
  • Memancing diskusi tentang hubungan teks dengan keseharian anak atau pribadi anak.
  • Fokus pada memahami bacaan.
  • Respond in meaningful ways.

Agar anak termotivasi, orang tua dan guru dapat :

  • Menjadi teladan dalam membaca
  • Menciptakan lingkungan yang kaya dengan buku
  • Memberi kesempatan untuk memilih
  • Mendorong anak terbiasa dengan buku dari berbagai genre

Anak-anak yang sangat termotivasi untuk membaca berbagai buku biasanya membaca untuk beragam alasan termasuk karena ingin tahu, ingin terlibat, kepuasan emosional, dll.

Ada banyak cara dan kondisi yang bisa kita lakukan/ciptakan untuk memotivasi anak membaca. Mungkin kita sudah menggunakannya, namun bisa jadi berikut ini adalah beberapa strategi baru, misalnya :

  • Membuat kegiatan berbahasa (bicara, mendengar, membaca, menulis, menonton) adalah kegiatan yang menyenangkan
  • Memberi waktu yang memadai untuk kegiatan-kegiatan tersebut.
  • Membuat perpustakaan di rumah, maupun bersama komunitas dengan buku dari beragam genre.
  • Menyediakan waktu sehingga anak bisa merespon teks dengan aktif dan kreatif baik melalui diskusi, maupun bentuk-bentuk lain seperti menulis, menggambar, dramatisasi, dan sebagainya.
  • Mendorong dan menghargai kemampuan anak berpikir mandiri selagi mereka membaca, menulsi, bicara, mendengar, dan menonton.
  • Daftar ini bisa panjang sekali, dan saya yakin teman-teman di group ini bisa brainstorming ide bersama-sama.

Bagaimana memilih teks untuk mendukung anak belajar literasi kritis?

  • Buku yang mengganggu kebiasaan dan menyediakan beragam sudut pandang. Buku-buku seperti ini akan membuat pembaca melihat situasi yang umum/biasa dari sudut pandang yang amat berbeda, membuat kita mempertanyakan kembali sterotype dan asumsi yang sering otomatis muncul. Contohnya : The Day The Crayon Quit by Drew Daywalt, Buku-buku “Plih Sendiri Petualanganmu”
  • Buku yang fokus pada aksi atau kepedulian tentang keadilan sosial. Banyak buku biografi bercerita tentang hal ini. Membaca buku-buku ini dapat memunculkan diskusi menarik yang kritis tentang bagaimana orang bisa menjadi amat berpengaruh.
  • Buku yang fokus pada isu sosial atau politik antara individu atau dalam masyarakat. Buku-buku seperti ini memberi konteks yang kaya untuk diskusi tentang literasi kritis. Misalnya buku tentang holocoust. Terakhir saya membaca Tru and Nelle bersama kelas 6.

Pengalaman dari Sekolah Kembang
Saya ingin berbagi sedikit cerita dari Sekolah Kembang. Meski kami tidak nyata-nyata menggunakan istilah literasi kritis, namun kami mencoba melakukan beberapa hal sepanjang tahun ini.

Salah satunya di TK dan SD kelas 1-2, tema pelajaran dibangun dari buku cerita anak.

Buku-buku yang banyak kami gunakan tahun ini adalah buku terbitan Litara, misalnya Aku Suka Caramu, Cap Go Meh, Rumah Untuk Ge, Jangan Sedih, Bujang!, Srinti, Rotan Pun Jadi, dan masih banyak lagi.

Buku lain yang juga kami gunakan adalah Twinkle and The Peculiar World.

Tak hanya membahas hal-hal sebatas kemampuan baca tulis anak usia mereka, buku-buku ini merupakan pancingan diskusi yang ternyata sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari anak.

Ketika membaca teks, guru akan memandu diskusi yang lebih jauh dari memahami unsur-unsur cerita seperti penokohan, alur, latar, dan pesan dalam cerita. Kami mencoba mengajak anak-anak berefleksi, menempatkan diri sebagai tokoh cerita, memahami latar cerita lebih jauh, membahas pro dan kontra yang mungkin terjadi dalam isu yang diangkat, dan sebagainya.

Kepedulian mulai muncul dalam karya-karya mereka setiap hari seperti jurnal, gambar, komentar, dan lebih jauh lagi muncul sebagai ide-ide memecahkan masalah. “Sepertinya kita butuh bahan baru untuk membuat kertas supaya tidak merusak pohon. “ atau “Seharusnya semua orang, bisa melihat atau tidak bisa melihat, gampang pergi ke mana-mana ya.”

Di kelas yang lebih besar, kami menggunakan berbagai novel anak. Tahun ini saya menggunakan buku Wonder (R.J Palacio) untuk membahas tentang bullying dan anak berkebutuhan khusus selain bahasa indonesia sesuai kurikulum, juga Tru & Nelle (G. Neri) untuk membahas tentang diskriminasi, toleransi, dan buku SYahrir; Peran Besar Bung Kecil untuk belajar sejarah.

Dari banyak kegiatan, saya mengambil benang merah bahwa critical literacy ini muncul ketika guru dan murid saling percaya bahwa semua bisa berpartisipasi dalam kegiatan belajar.

Kemudian kami berusaha tak hanya fokus di penguasaan materi, tetapi menghargai waktu-waktu diskusi dan bertukar pikiran diantara pembahasan buku. Guru sebagai fasilitator belajar juga perlu kritis dan peka terhadap berbagai permasalahan di sekitar kita, maupun yang ditampilkan dalam buku.

Buku-buku yang kami bawa sebagai konteks, membuat anak-anak berkenalan dengan dunia membaca dan dunia sesungguhnya, yang memang harus dipahami dengan kritis dan terbuka.

Sesi Tanya Jawab

1.T : Bagaimana membiasakan diri untuk tetap membaca, walau dihadapkan dengan media sosial.

J : Bagaimana untuk membiasakan diri tetap membaca, saya kira kita bisa membuat komitmen ya. Lebih baik lagi jika komitmen bersama seluruh anggota keluarga. Misalnya 30 menit setelah makan malam, semua akan membaca bersama-sama.

Di kelas, ada metode Drop Everything And Read, ini cukup efektif untuk memulai kebiasaan membaca. Bisa kita lakukan serupa itu di rumah. Ini bisa menjadi langkah pertama.

Selanjutnya agar komitmen tetap terjaga, bisa dengan membuat jurnal dari apa yang kita baca, atau membuat klub dengan beberapa teman untuk berbagi bacaan. Namun untuk membuat kebiasaan baru, mulai dengan langkah-langkah kecil saja dulu.

T : Jurnal yg dimaksud contohnya seperti apa ya?
J : Jurnal yang saya maksud seperti buku catatan saja Bu Sari Yahya. Contohnya kita buat refleksi dari hal-hal yang sudah kita baca.

2. T : Assalamu’alaikum.. bu Lestia saat ini anak saya HS usia prasekolah, saya di rumah sering kali tiap selesai membacakan buku untuk anak, saya memintanya untuk menceritakan kembali apa yg telah kami baca tadi dengan menggunakan bahasa yang ia pahami. Lalu apa langkah selanjutnya yang dapat saya berikan pada anak saya agar bisa mengembangkan kualitas literasinya menjadi lebih baik?  Terimakasih.

J : Saya rasa itu kebiasaan yang baik Bu Risza Agustina. Menceritakan kembali bisa dilakukan dengan banyak cara selain tanya jawab lisan atau menceritakan ulang secara lisan. Ibu bisa meminta anak menggambar bagian yang paling ia sukai, bisa bermain peran bersama anak untuk menuturkan kembali cerita dari buku kesukaannya, …. bisa amat banyak variasinya.

Sebagai panduan, ibu bisa mereka kegiatan berdasarkan 8 kecerdasan di kecerdasan majemuk, ibu juga bisa mencari berbagai kegiatan reading comprehension melalui mesin pencari yang kira-kira sesuai dengan usia pra sekolah.

Jika merujuk pada literasi kritis, ibu juga bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memancing anak berpikir lebih lanjut mengenai isu-isu yang ia temui dalam buku yang ia baca. “Isu-sunya bisa disesuaikan dengan pengalaman dan minat ananda.

3. T : Kalau membacakan buku untuk anak kita dengan menunjuk kata-katanya atau baca saja langsung tanpa menunjuk seperti kita sedang membaca sendiri?

J : Kalau anak ikut membaca di samping kita, ada baiknya kita menunjuk kata-kata yang sedang dibaca. Tujuannya supaya anak sadar bahwa kata yang diucapkan sesuai dengan kata yang dibaca. Dalam kemampuan pramembaca, memahami bahwa tulisan itu melambangkan kata yang dibaca adalah satu keterampilan juga.

Namun ada kalanya anak yang sedang dibacakan buku cerita lebih suka lari-lari, lompat-lompat, masuk kolong meja, dan seterusnya… itu tidak apa-apa juga. Barangkali ia menikmati bagaimana suara kita membaca. Anak tetap bisa menikmati ceritanya, orang tua juga bisa “mengajarkan” aspek lain dalam membaca, yaitu intonasi saat membaca.

4. T : Apakah yang harus disampaikan ke anak-anak yang bertanya mengenai berita yang mereka baca, namun sifat beritanya negatif, belum sesuai usianya, dll. Apakah harus disampaikan yang sebenarnya atau bagaimana?

J : Saya perlu sedikit klarifikasi, misalnya berita seperti apa dan untuk anak usia berapa?

Prinsip dasarnya bagi saya adalah berkata jujur. Kita apresiasi rasa ingin tahu dan kepedulian anak dengan jawaban yang jujur. Tentunya tetap disesuaikan dengan usia anak. Boleh saja kita menunda menjawab karena ingin mencari jawaban yang tepat, jujur saja kepada anak dengan kalimat. “Sebentar ya, ibu perlu waktu untuk mencari tahu bagaimana cara terbaik untuk menjelaskan padamu. Boleh kita bahas lagi besok malam?”

Pertanyaan anak adalah teachable moments, saat-saat yang dinanti dan bisa digunakan untuk belajar banyak hal. Kita manfaatkan saja dengan bijaksana. Semoga jawaban ini tidak terlalu “mengawang” ya Bu. Nanti bisa dikonfirmasi lagi.

T : Selamat malam Bu Tia, maaf baru sempat menyimak lagi. Maksud saya berita negatif adalah seperti yang terjadi akhir-akhir ini (pedofil, penculikan dll), apakah perlu kita jelaskan panjang lebar, atau secukupnya supaya mereka lebih berhati-hati saja.

J : adalah baik untuk membuat anak-anak tidak khawatir ya. Jadikan pertanyaan mereka sebuah kesempatan untuk belajar tahu hal-hal yang penting untuk keselamatan dan keamanan mereka, seperti aturan ber-sosial media, menggunakan internet, bertegur sapa dengan orang yang belum dikenal, menjaga daerah pribadi, dan seterusnya.

5. T : Apakah menarasikan sebuah buku termasuk dalam menganalisi atau mengkritisi suatu bacaan?

J : Menarasikan (menceritakan kembali) saja belum termasuk literasi kritis. Literasi kritis adalah membaca secara aktif dan reflektif. Bila setelah membaca kita memaknainya, misalnya menghubungkan dengan pengalaman kita sebelumnya, maka bisa dikatakan mulai dan menyentuh literasi kritis itu. Saya rasa literasi kritis itu lebih jauh dan lebih dalam dari sekedar makna tersurat (yang biasanya lebih banyak muncul saat menceritakan kembali).

Jadi literasi kritis bukan bisa menceritakan kembali, tapi lebih kepada memaknai apa yang dibaca. Sebagai contoh, kita membaca buku Jack and The Beanstalk. Setelah selesai membaca, kita bisa meminta anak menceritakan kembali kisahnya dari awal sampai akhir. Untuk masuk kepada literasi kritis, kita bisa bertanya padanya; apa pendapatmu masuk ke rumah orang tanpa izin? Bolehkah mengambil barang orang lain tanpa izin? Bagaimana kalau barang itu milik orang jahat? Apakah menurutmu semua raksasa pasti jahat? Apakah kamu akan merasa bahagia kalau kamu memiliki barang yang bukan milikmu seperti harpa dan ayam raksasa yang dimiliki Jack?

Dalam diskusi ini kita bisa bicara soal sterotyping, benarkah raksasa pasti jahat? Bagaimana dengan BFG? Bisa juga kita bicara tentang apa itu adil. Siapa yang berhak diperlakukan adil? Adakah syaratnya?

Nah saya rasa diskusi semacam ini lebih bisa disebut sebagai literasi kritis.

6. T : Diskusi seperti apa yang dilakukan guru dengan anak TK dan SD kelas 1 dan 2 terkait buku bacaan yang mereka baca?

J : Karena referensi saya apa yang terjadi di Sekolah Kembang, saya sharing saja ya apa yang kami lakukan.

Biasanya, setelah membacakan buku, guru akan mulai dengan bertanya hal-hal faktual seputar buku, agar tahu anak-anak benar-benar paham atau tidak isi ceritanya.

Kemudian, guru juga akan mendengarkan pertanyaan anak-anak dan mengajak anak-anak turut menjawab pertanyaan teman-temannya.

Sesuai dengan keadaan kelas, guru juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendalam seperti yang saya contohkan tadi dengan cerita Jack and The Beanstalk.

Kami berusaha sekali tidak meremehkan anak-anak, jadi cenderung ingin tahu dan berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan bermakna. Kami juga sering kaget lho, kok anak-anak tahu jawabannya. Kami ikuti saja minat mereka.

Selain itu, tema di TK, dan SD kelas 1 dan 2 memang dibangun berdasarkan satu buku. Literature based, begitu. Jadi setelah diskusi buku pasti banyak kegiatan lainnya. Sebagai contoh, di TKA kemarin kami membahas lingkungan hidup dengan buku Twinkle and The Peculiar World.

Sebenarnya ini buku untuk anak usia 9+, jadi guru agak akrobat menceritakan kembali isi buku dengan bahasa anak-anak TK.

Ceritanya Twinkle adalah anak yang sangat ingin tahu tentang sekitarnya, terutama lingkungan hidup. Setelah membaca buku, anak-anak keluar kelas dan berpura-pura menjadi Twinkle yang mengamati apa yang aneh di sekitarnya, lalu menggambarnya.

Jadi mereka menghayati sekali cerita si Twinkle itu… Begitu contohnya
Nggak habis-habis nanti kalau saya cerita bagian ini.

7. T : Bagaimana cara melatih Respond in Meaningful way untuk para orangtua?

J : Biasakan mendengarkan anak, mencoba melihat dari sudut pandang mereka, menjelaskan dengan kata-kata, contoh yang relevan dengan dunia anak-anak.

Kita harus paham juga tahap perkembangan mereka sampai mana, baik secara umum (milestones sesuai usia, misalnya), juga yang unik dari anak kita.

8. T : Selamat malam Bu Lestia, akhirnya saya paham literasi kritis. Apa boleh saya tanya apa itu BFG?

J : BFG = Big Friendly Giant, buku karya Roald Dahl yang baru saja difilmkan. Menambahkan sedikit ya, ini juga bisa jadi salah satu cara untuk memahami buku. Cari buku-buku dengan tema/tokoh serupa untuk dibandingkan kesamaan dan perbedaannya. Pasti menarik sekali.

9. T : Boleh minta daftar judul buku yg dibaca dibacakan di TK usia 5 – 7 tahun?

J : Daftarnya panjang juga ya bu Dianda. Tapi yang sedang jadi favorit adalah buku-buku terbitan Litara. Seperti Aku Suka Caramu, Cap Go Meh, Rumah untuk Ge, Jangan Sedih, Bujang, dst.

Boleh dicari. Buku lain,… macam-macam. Benar-benar tergantung ketemu buku apa. Buku-buku Clara Ng juga dipakai, buku-buku seri Franklin juga favorit.

10. T : Bu Tia, menarik sekali kegiatan literasi di Sekolah Kembang. Apa yang menjadi acuan dalam memilih sebuah buku bacaan untuk anak-anak? Seperti contoh anak TKA membaca buku Twinkle & The Peculiar World.

J : Kebetulan Twinkle adalah ujicoba kami untuk menyusun buku penunjang berupa Buku Referensi Guru untuk menyusun kegiatan pendamping buku. Yang lain, kami lihat kesesuaian dengan coverage kurikulum, minat anak, keterbacaan untuk anak, dan kemungkinan buku itu dikembangkan ke dalam banyak kegiatan.

Kami juga usahakan hanya menggunakan buku berbahasa Indonesia, atau berbahasa Inggris, tapi tidak yang bilingual.

T: Kenapa tidak memilih bilingual bu? Alasannya apa? Soalnya sekarang banyak buku berembel-embel bilingual.
J : Jarang menemukan buku bilingual yang sama-sama bagus bahasanya, Bu. Jadi kami pilih tidak. Kalau ada yang bagus, sebenarnya silakan saja dipakai. Ini hanya preferensi sepertinya, ya?

11. T : Barusan saya ngintip kegiatan di Fanspage sekolah kembang, keren. Maaf oot kalau boleh tahu kurikulum sekolah kembang mengikuti diknas atau memiliki kurikulum tersendiri.

J: Kurikulum diknas bu… memang metode belajarnya yang kami rancang agar lebih ramah anak dan lebih melibatkan anak-anak.

Tahun ini kami mencoba mengembangkan tema pembelajaran berdasarkan buku untuk anak-anak Kelompok Bermain, TK dan SD Kelas 1-2. SD Kelas 3-6 sudah membaca novel sebagai dasar pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap Semester kami baca 2 novel.

12. T : Bu lestia, kebanyakan buku bilingual terjemahannya kacau. Kira-kira kenapa ya bu?

J : Saya kurang paham juga kenapa, Bu. Tapi menurut saya bahasa bukan hanya soal kosakata yang diterjemahkan mentah-mentah. Setiap bahasa punya cara bertutur dan struktur sendiri-sendiri, kadang-kadang memang tak bisa diterjemahkan begitu saja. Mungkin seperti itu ya. Apakah teman-teman punya pengalaman serupa/berbeda?

13.T : Wow, anak kelas 3 SD sudah membaca novel.

J : Sudah, meski banyak yang terkaget-kaget. Tapi biasanya mereka jadi lebih suka membaca setelah berkenalan dengan chapter book alias novel.

14. T : Novelnya seperti apa untuk anak 3SD? Bayangan saya novel kan lumayan tebal.

J : Novel-novel Roald Dahl seperti Charlie and The Chocolate Factory, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, Taman Rahasia.

15. T : Kalo novel filsafat jostein gaarder yang Perpustakaan Bibbi bokken, Gadis Jeruk, cocoknya mulai usia brp ya bu?

J : dilihat saja anaknya kira-kira sudah siap atau belum. Saya pernah baca tuh, tapi lupa lupa ingat.

16. T : Mungkinkah novel seperti Heidi, Tom Sawyer dimasukkan?

J : Murid saya ada yang baca Dunia Sophie di kelas 2 SD, ada juga yang sudah mau lulus.
Bisa Bu… Pertimbangan kami dalam memilih novel adalah kemampuan membaca dan minat kelasnya. Kadang ada kelas yang advance, kami berani pakai buku yang agak sulit

17. T : Bagaimana menentukan kelas tersebut advance atau belum? Bagaimana menilai kemampuan mencerna bacaan tiap anak?

J: Berdasarkan penilaian guru tahun sebelumnya dan pendapat guru yang sedang mengajar bu Nareswari. Kadang-kadang salah juga, tapi tak apa, buku berikutnya disesuaikan lagi.

Tahun ini saya mengajar kelas 6, memulai dengan buku Wonder, karena temanya tentang bullying.
Saya kira akan mudah, ternyata buku dengan sudut pandang berbeda-beda begitu agak susah. Buku kedua, kami pakai Tru and Nelle, lebih baik… anak-anak senang karena kebetulan mereka suka sejarah.

18. T : Bu Tia, bagaimana jika anaknya tidak suka novel? Apakah tetap harus diarahkan agar suka novel? Anak saya usia 6 tahun dari kecil ini tidak suka buku-buku seperti dongeng, novel. Jadi dia lebih suka buku-buku non fiksi mungkin ya istilahnya. Seperti buku sejarah. Buku geografi, buku-buku teknis. Apakah ada pengaruhnya Bu Tia terhadap perkembangan literasi anaknya kedepan. Terima kasih.

J : Sebenarnya, saya cenderung mengikuti minat anak-anak membaca. keuntungan membaca novel atau non fiksi adalah kemampuan mereka membaca makna tersirat akan lebih terlatih. Tapi ikuti saja dulu, karena anak masih umur 6 tahun. Tawari saja buku-buku fiksi dengan latar belakang tema yang ia sukai.

19. T : Untuk membuat anak gemar membaca & memiliki kemampuan literasi kritis, pasti diperlukan kolaborasi antara pihak sekolah dan orangtua di rumah. Kalau bentuk kolaborasi di Kembang seperti apa bu Tia?

J : Kolaborasi ortu dan sekolah memang susah-susah gampang. Kadang guru memberi jurnal membaca untuk diisi bersama, atau di TK anak-anak pinjam buku perpus tapi yang diminta membacakan ortu-nya.

Ada sesi-sesi ngobrol sama ortu untuk berbagi tentang literasi.

Untuk ortu yang kita utamakan adalah edukasi bahwa bisa baca usia dini itu belum tentu hebat. Anak-anak perlu disiapkan dulu untuk bisa baca tulis sebelum akhirnya belajar baca tulis.

20. T : Adakah anak di Sekolah Kembang yang tidak suka baca buku? Bagaimana meresponnya?

J : Laaah… anak saya contohnya. Hehehe. Masih belum berminat membaca meski sudah kelas 1 SD. Kalau dipaksa makin nggak suka, kadang-kadang saya bacakan saja buku untuk adiknya, lama-lama dia nimbrung.

Selalu ada saja, Bu. Anak-anak ini kita tetap saja paparkan pada buku-buku melalui perpustakaan, program DEAR (drop everything and read), jurnal membaca, … dst. Pokoknya kita coba-coba saja semua cara. Barangkali ada yang nyangkut. Ini namanya stimulasi. Anak saya ekstrem kemampuan auditorinya, jadi dia memang lebih suka mendengarkan.

21. T: Kalo baca komik, nalar anak-anak mulai berkembang urutan bacanya itu mulai kapankah?

J : Saya rasa dicoba saja. Kalau belum siap, simpan lagi. Begitu kenal cara membacanya, mereka akan menikmati.

T: Kita beri tahu dulukah urutanya baca dari mana ke mana?

J :Boleh saja, memberi petunjuk cara bacanya.

22. T : Audio book bisa jadi solusi ya? Walaupun saya gak bisa membayangkan aplikasinya di ruang kelas.

J: Audio book bisa jadi pilihan, kalau kelasnya memungkinkan. Saling membacakan buku bergantian dengan teman juga bisa jadi pilihan sederhana

Closing

Terima kasih, senang sekali bisa ngobrol dengan teman-teman Home Education malam ini. Membaca adalah salah satu cara kita mendapatkan informasi dan untuk bisa membaca dengan baik, kita perlu melatih ketrampilan-ketrampilan dasar membaca. Lebih dari itu, kita punya tantangan lain. Saat ini membaca tak hanya terbatas pada membaca teks tertulis. Ada teks dalam berbagai bentuk yang kita baca. Tantangan lain adalah kebiasaan patuh pada teks yang tersaji sehingga kita mengira semua informasi yang kita dapatkan adalah benar, padahal belum tentu. Literasi Kritis mengajak kita menjadi kritis dan menanggapi teks dengan aktif; mempertanyakan, membandingkan, menelusuri sumber, mengenal tujuan, dan sebagainya. Sebagai orang tua, saya harap kita tak hanya mengejar anak agar senang membaca, tapi memanfaatkan kemampuan membaca itu untuk ikut mengubah dunia jadi lebih baik.

Kulwap : Melek Literasi di Era Digital

Kulwap Grup Home Education

Tema : Melek Literasi di Era Digital
Waktu : 5 Desember 2016, pukul 19.30 – 21.00 WIB
Narasumber : Muhammad Jawy
Moderator : Wanda Soepandji
Notulis : Hapsari Dania


Profil Muhammad Jawy

Muhammad Jawy adalah salah satu penggiat Masyarakat Indonesia Anti Hoax. Gerakan ini terbentuk sebagai bentuk keprihatinan atas maraknya hoax yang tersebar terutama di era digital.

Mengenal internet pertama kali ketika kuliah dimana harga untuk mengakses internet masih mahal dan tidak banyak yang bisa mengaksesnya. Sebagai aktivis baru ghirah (ABG), salah satu pemanfaatan internet adalah bagaimana untuk belajar Islam, sekaligus menyebarkan materi Islam. Dua hal tersebut, tentu saja merupakan kegiatan positif.

Ketika blog dan media sosial media belum seramai sekarang, Jawy muda menyalurkan ghirah-nya via mailing-list yang kala itu sedang booming. Bertemu dengan berbagai keyakinan, penyebaran hoax pun dilakukan oleh banyak pengguna milist untuk menyerang keyakinan lain dan Jawy muda termasuk penyebar hoax tersebut. Ketika yang lain menyebarkan hoax Jawy muda membelasnya dengan hoax.

Menurut pengakuannya “kalau saya disebut penista agama, iya. Saya pernah menista ajaran dan umat Kristen. Bahkan dengan hoax, atau informasi yang saya sendiri tidak tahu benar atau tidak.”

Semua itu berubah ketika ada yang menasehatinya dengan dua ayat:

_“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik”_ (QS. Al ‘Ankabut: 46)

_“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”_ (QS. Al An’am: 108)

Nasehat kawan ini sangat mengena batinnya, dan ada peristiwa yang mengubah pandangannya tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan non muslim.

Bahwa ya, sebagai muslim saya yakin bahwa ajaran Islam itu paling benar, tapi bukan berarti saya boleh menghalalkan segala cara untuk berdebat dengan ummat agama lain, karena justru bertentangan dengan spirit akhlaq Islam itu sendiri.

Kini Muhammad Jawy menjadi salah satu penggiat anti-Hoax terutama di media sosial

Sekilas Tentang Dinamika Hoax dan Penanggulangannya

Dinamika penggunaan gadget yang semakin “nyaman” namun tidak “aman”.

Kemajuan teknologi digital dengan tersedianya ragam chat mobile application seperti Telegram, Line, What Apps dan media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path, You Tube, membuat pengguna gadget nyaman berselancar di dunia maya. Namun bak dua sisi pada sekeping mata uang, rasa nyaman ber-gadget juga diikuti dengan rasa ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh membanjirnya informasi melalui internet. Pengguna internet di Indonesia menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencapai 132 juta dan 100 juta lebih menggunakan ponsel pintar.

Serba Serbi Hoax Dan Rasa Tidak Aman

Hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Dengan kata lain hoax juga bisa diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Hoax juga bisa diartikan sebagai tindakan mengaburkan informasi yang sebenarnya, dengan cara membanjiri suatu media dengan pesan yang salah agar bisa menutupi pesan yang benar.

Tujuan dari hoax yang disengaja adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan. Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah langkah.

Perkembangan hoax di media sosial semula dilakukan untuk sarana pembulian. Namun, perkembangan selanjutnya, para spin doctor politik melihat efektivitas hoax sebagai alat black campaign di pesta demokrasi yang mempengaruhi persepsi pemilih.

Penyebaran hoax di media sosial Indonesia, mulai marak sejak media sosial populer digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ini disebabkan sifat dari media sosial yang memungkinkan akun anonim untuk berkontribusi, juga setiap orang, tidak peduli latar belakangnya, punya kesempatan yang sama untuk menulis. Beberapa orang yang tidak bertanggung jawab, menggunakan celah ini untuk menggunakan media sosial dalam konteks negatif, yaitu menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.
Hal ini semakin parah ketika musim pemilu. Media sosial, di satu sisi digunakan untuk ajang kampanye positif, namun banyak yang menggunakannya untuk kampanye negatif.
Selain dunia politik, kekuatan hoax juga merambah ke masyarakat luas dengan menggunakan kedok agama. Mereka bisa merekrut sebanyak mungkin orang yang se”iman”, dengan jalan menyebarkan hoax sebagai bagian dari perjuangan “iman”nya.

Bagaimana Menanggulangi Hoax di Media Sosial?

“Bagi pengguna gadget yang kebanjiran berita hoax, fitnah, dan provokasi, yang merasa tidak nyaman bahkan tidak aman silakan bergabung. Mari bersama kita menjadi DUTA ANTI HOAX di tengah keluarga, keluarga besar, komunitas dan berbagi cara menanggulangi informasi hoax”.
Itu adalah ajakan kepada masyarakat Indonesia pengguna media sosial. Diawali dengan kepedulian akan maraknya berita fitnah, hasut, hoax, kepada para tokoh, institusi negara, aparat, organisasi, beberapa aktivis media sosial mendirikan group dan Fanpage di Facebook sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan dan ketidakjujuran di media sosial.
Akivitas ini adalah aktivitas non partisan, murni panggilan hati anggota masyarakat karena tidak rela melihat kawannya, saudaranya, termakan issue hoax yang mengakibatkan saling berdebat atau bahkan saling bertengkar, tidak hanya di dunia maya, namun ada yang menyebabkan hubungan mereka terputus di dunia nyata.

Siapa saja yang menjadi korban hoax?

Level pendidikan seseorang tidak membuatnya kebal terhadap hoax. Ada yang pendidikan dosen alumni perguruan tinggi luar negeri ternama, meski dia sangat ahli dalam bidangnya, namun dia bisa termakan hoax dalam bidang lain. Ada yang merupakan tokoh agama, sangat alim, disegani oleh jama’ahnya, namun ada kalanya ia terjebak menyebarkan berita hoax. Apalagi masyarakat umum yang kadang belum paham kaidah untuk mengonfirmasi kebenaran sebuah berita.

Siapa saja yang telah melakukan perlawanan terhadap Hoax?

Tidak ingin penyebaran hoax menjadi sarana mudah untuk kerusakan bangsa, mulailah netizen secara sporadis melakukan perlawanan terhadap penyebaran hoax. Banyak netizen yang dengan panggilan hati, mulai menyerang balik setiap hoax yang berseliweran. Dan perlawanan itu berkembang menjadi pembentukan group atau Fanpage.
Saat ini beberapa group atau Fanpage mendedikasikan untuk perlawanan terhadap fitnah, hasut dan hoax.

Diantaranya adalah:

1. Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax. (FAFHH).
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/fafhh/. Group ini sifatnya crowdsourcing, member bisa membuat topik klarifikasi/bantahan terhadap hoax/fitnah/hasut yang beredar, atau member bisa mencari klarifikasi tentang sebuah berita yang diragukan, dan member lain yang akan mencarikan jawabannya. Admin hanya bertugas untuk mengatur supaya diskusi berjalan lancar, tidak ada yang saling serang ad hominem, dan ada kalanya admin turut berkontribusi mencarikan jawaban. Group ini berdiri sejak September 2015, dan saat ini ada sekitar 12.000 member.

2. *Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster.
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndoHoaxBuster. Fanpage ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 2700 orang yang menjadi follower FP ini. Sedangkan group ada di https://www.facebook.com/groups/IndoHoaxBuster/

3. Fanpage Indonesian Hoaxes
Fanpage ini beralamat di https://www.facebook.com/IndonesianHoaxes/?fref=ts. Fanpage ini juga dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang berkala membuat postingan yang berisi artikel yang membantah fitnah dan hoax yang beredar di masyarakat. Saat ini ada sekitar 80.000 orang yang menjadi followernya. Dan ada grup untuk diskusi di https://www.facebook.com/groups/IndonesianHoaxesCommunity/

4. Group Sekoci
Group ini beralamat di https://www.facebook.com/groups/icokes/ dengan Fanpage di https://www.facebook.com/sekoci.indo/?fref=ts. Group ini dikelola oleh beberapa relawan media sosial yang rutin berdiskusi membahas hoax dan membuat publikasi berkala di Fanpage-nya. Saat ini ada sekitar 2.200 orang follower di FP-nya dan 2.800 member di grup diskusinya.

Selain aktivitas di media sosial, beberapa relawan membuat perkumpulan, dengan tujuan khusus memberantas hoax di media sosial, sekaligus mengajak netizen Indonesia cerdas bermedia sosial dan turut berkontribusi terhadap pembangunan yang sedang marak dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Perkumpulan ini merupakan lembaga non-profit yang diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah, ormas, tokoh masyarakat, sekolah, dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya cerdas bermedia sosial.
Perlawanan terhadap hoax ini membutuhkan keseriusan, karena penyebaran hoax tidak bisa dianggap sepele. Beberapa negara mengalami kerusakan dan kehancuran, karena diperparah penyebaran hoax yang tidak terkendali seperti di Suriah dan negara konflik lainnya. Dengan melibatkan partisipasi publik yang luas, dan adanya payung hukum UU ITE yang telah direvisi, maka perlawanan terhadap hoax diharapkan akan lebih efektif.

Bagaimana Mendeteksi Berita Fitnah, Hasut dan Hoax

Supaya masyarakat yang bermedsos tidak termakan oleh berita fitnah, hasut dan hoax, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan sebagai berikut:

1. Cross Check Judul Berita Provokatif
Tak sedikit berita yang muncul di internet menggunakan judul provokatif. Netizen harus melakukan cross check berita itu dengan menggunakan mesin pencari Google untuk memastikan apakah berita yang dibaca, juga ditulis dan diterbitkan oleh situs berita lain. Kemudian membandingkan judul dan isi dari masing-masing berita, sehingga bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang dari beberapa sudut pandang.

2. Perhatikan Alamat Situs Web
Perhatikan media yang membuat berita itu. Jika yang memuatnya adalah situs abal-abal, yang tidak terdaftar dalam Dewan Pers, maka harus lebih berhati-hati untuk mempercayainya. Situs yang masuk dalam dewan pers pun belum tentu beritanya semua benar, atau kadang berita itu dibuat dengan sudut pandang tertentu, namun secara umum media resmi lebih kredibel karena memiliki standar jurnalistik, mengikuti Pedoman Pemberitaan Media Siber dan dapat dilaporkan ke Dewan Pers jika ada pelanggaran. Ini berbeda dengan situs abal-abal yang kadang tidak punya redaksi, bahkan tidak disebutkan nama dan alamat penanggungjawab.

3. Cek Fakta
Jika sumber informasi berasal dari sumber yang otoritatif, misalnya dari KPK, Polri, maka itu adalah pernyataan resmi. Namun jika sumber informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, ataupun pengamat, jangan langsung dipercaya.
Perhatikan keberimbangan dalam berita, apakah ketika berita tersebut memuat satu sumber, kemudian ia juga memuat sumber yang lain yang berseberangan? Jika hanya dari satu sumber saja, kita tidak bisa mendapatkan gambaran utuh, yang kadang bisa membuat kesimpulan yang keliru.

Bedakan antara fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti. Opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita. Semakin banyak fakta yang dimuat, semakin kredibel berita tersebut. Sebaliknya, beberapa situs memang bertujuan menggiring pemikiran pembaca dengan memperbanyak opini.

4. Cek Foto
Cek foto di dalam artikel berita. Terkadang pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. Caranya, download atau screenshot foto di artikel itu. Buka Google Images di browser dan seret (drag) foto itu ke kolom pencarian Google Images. Periksa hasilnya untuk mengetahui sumber dan caption asli dari foto tersebut. Sekarang juga sudah bisa menggunakan aplikasi Android untuk mengecek foto.

5. Langganan Fanpage Anti-Hoax dan Ikuti Group Diskusi Anti Hoax
Sudah ada beberapa fanpage dan group diskusi Anti Hoax di Facebook, dimana disana sering dibahas klarifikasi terhadap hoax yang beredar. Netizen pun bisa ikut bertanya, apakah berita yang ia baca itu hoax atau bukan. Dengan model crowdsourcing yang populer, orang bisa mendapatkan jawaban secara efektif dengan ikut serta dalam group Anti Hoax.

Melaporkan Konten Negatif

Jika Netizen menjumpai konten negatif di media sosial, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan :

1. Menggunakan fitur Report Status di Facebook, dan melaporkannya sebagai kategori hate speech/harrasment/rude/threatening atau kategori lain yang sesuai. Jika ada banyak aduan dari netizen, umumnya Facebook akan menghapus status tersebut.

Untuk Google, bisa menggunakan fitur Feedback untuk melaporkan situs yang keluar dari hasil pencarian sebagai situs palsu yang tidak benar.

Twitter pun memiliki fitur untuk melaporkan twit yang negatif, dengan Report Tweet.

Instagram memiliki fitur Report untuk melaporkan konten negatif.

2. Mengadukan konten negatif ke Kominfo. Yaitu dengan mengirimkan email ke aduankonten@mail.kominfo.go.id

PIAGAM MASYARAKAT ANTI HOAX

Kami menyadari bahwa sesuai pasal 28E ayat 3 UUD 1945 setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Namun kebebasan tersebut dibatasi dengan pertimbangan moral, keamanan, ketertiban hukum dan nilai agama.
Bahwa setiap orang dapat menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mencari dan menyebarkan informasi, mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, mendekatkan pemerintah dan masyarakat, untuk kepentingan pendidikan serta penyebaran ajaran agama, dan untuk kegiatan politik.
Media sosial hendaknya digunakan untuk kegiatan warga bangsa yang positif, tidak menyebabkan perpecahan bangsa, dan bukan tempat untuk menyebarkan fitnah, hasut dan hoax.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan dunia media sosial Indonesia yang positif dan bersih dari fitnah, hasut dan hoax, kami segenap masyarakat Indonesia dengan ini mendeklarasikan PIAGAM MASYARAKAT ANTI HOAX.

Dengan kesadaran, keikhlasan, dan keinginan luhur untuk berbuat yang terbaik bagi Indonesia, Piagam ini kami jadikan pegangan dan landasan perilaku kami dalam bermedia sosial sebagai berikut:

1. Mendorong pemanfaatan media sosial secara positif, sehingga antara kelompok masyarakat dari berbagai daerah bisa saling menginspirasi, menggugah, berbagi, membangun dan berempati,

2. Siap berperan aktif dalam mencegah upaya pecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia termasuk penyebaran isu SARA (Suku Agama Ras dan Antar golongan),

3. Memahami bahwa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, bahasa, adat dan agama, sehingga selalu berempati dalam bermedia sosial untuk tidak menyinggung warga lain,

4. Berhati-hati dalam menerima informasi atau berita, terlebih dari sumber yang tidak memiliki identitas atau kedudukan yang jelas,

5. Tidak mudah untuk menyebar ulang berita di media sosial, sebelum memastikan bahwa informasi tersebut benar, sesuai dengan data dan fakta,

6. Meningkatkan literasi media sehingga tidak mudah termakan oleh berita hoax,

7. Mendukung sosialiasi dan kampanye kepada keluarga, tetangga, masyarakat tentang bahaya penyebaran fitnah, hasut dan hoax, dari sisi moral, hukum dan nilai agama,

8. Memahami dampak kerusakan dari penyebaran fitnah, hasut dan hoax terhadap pribadi, keluarga, institusi dan masyarakat,

9. Turut aktif dalam memerangi penyebaran berita hoax yang tersebar di media sosial,

10. Ikut membantu upaya penegakan hukum pada penyebar fitnah, hasut dan hoax.

Berpijak di bumi Indonesia tanah tumpah darah kami, Piagam ini kami buat dengan hati, kami ucapkan dengan sadar, didengar oleh Tuhan Yang Maha Mendengar, dan disaksikan oleh alam semesta, agar menjadi pengingat dan perhatian bagi segenap masyarakat Indonesia.

Dan sejak ditandatanginya PIAGAM MASYARAKAT ANTI HOAX semua pihak harus bersatu padu, bergandeng tangan, saling menghormati dan saling menguatkan.

Semoga Tuhan Sang Penguasa Alam memberikan petunjuk agar Piagam ini bisa terwujud, dalam karya yang nyata, menuju media sosial Indonesia yang positif dan saling menginspirasi.

Jakarta, 1 Desember 2016

Pengantar Kulwap
Masyarakat Indonesia Anti Hoax

Fenomena media sosial adalah keniscayaan teknologi dan budaya, yang merupakan bagian dari evolusi penggunaan teknologi informasi. Secara prinsip, teknologi itu bebas nilai, sehingga teknologi bisa dipakai baik untuk hal yang positif maupun negatif, dilihat dari kacamata moral, etika, agama.

Media sosial baru marak mulai menjelang tahun 2010, dan meledak pemakaiannya hingga sekarang. Banyak yang bisa memanfaatkan media sosial untuk penyebaran konten positif, misalnya pendidikan, hubungan pemerintah dan masyarakat, penyebaran ajaran agama, peningkatan ekonomi UKM dengan model marketing yang lebih mudah, dsb.

Namun harus diakui, media sosial tanpa menggunakan moral, etika, ajaran agama yang baik, justru bisa menjadi tempat yang subur bagi munculnya informasi fitnah, hasut, hoax, asusila.

Dan saya mengamati, sejak Pilgub 2012, Pilpres 2014, hingga sekarang, media sosial juga menjadi ajang polarisasi antara kubu politik yang berseberangan.Polarisasi itu kadang ekstrem, karena melibatkan fitnah, hasut dan hoax yang sebenarnya jauh dari perintah agama, dan normal kesusilaan bangsa kita

Dari sisi norma kesusilaan dan kesopanan, perilaku menyebar hoax bertentangan dengan; bertindak dan berperilaku jujur, berbicara hal-hal yang baik, menghormati orang lain.

Dari sisi hukum perbuatan tersebut melanggar:

Fitnah:
“Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan tuduhannya itu, jika ia tidak dapat membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukum penjara selama-lamanya empat tahun.”
(Pasal 311 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana)
Hasut:
_“Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menghasut supaya melakukan perbuatan pidana, melakukan kekerasan terhadap penguasa umum atau tidak menuruti baik ketentuan undang-undang maupun perintah jabatan yang diberikan berdasar ketentuan undang-undang, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”_
Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”)
Hoax:
Pasal 28 ayat (1) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”) menyatakan,
“Setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.”_

Dari sisi agama (maaf saya hanya bisa menjelaskan dari agama saya, Islam). Penyebaran berita fitnah, hasut dan hoax bertentangan dengan:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].

Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga.Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”. [An Nur : 11].

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR. Muslim).

Tahukah kalian siapa orang yang pailit (bangkrut)? Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.” Nabi berkata: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat; akan tetapi dia datang (dengan membawa dosa) telah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si itu; maka si ini (orang yang terzhalimi) akan diberikan (pahala) kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman), dan si ini (orang yang terzhalimi lainnya) akan diberikan kebaikannya si ini (pelaku kezhaliman). Jika kebaikannya telah habis sebelum dituntaskan dosanya, maka (dosa) kesalahan mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Melihat perkembangan penyebaran fitnah, hasut, hoax, kebencian yang demikian parah, maka sebagian netizen sporadis melakukan perlawanan.

Ada pula yang membentuk group, forum, sehingga dampaknya semakin besar. Nah kami mencoba meningkatkan level perlawanan ini denga mendeklarasikan Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax, dengan harapan media sosial kelak tidak dipakai untuk penyebaran konten negatif.
Namun bsia berubah menjadi media sosial yang positif, sinergis, saling empati, saling inspirasi, saling menggugah.

Tanya Jawab

1. Tanya : Adakah aplikasi sebagai cara tergampang untuk mengkroscek suatu informasi, untuk mengetahui valid atau tidaknya?

Jawab : Saat ini kami dibantu secara volunter oleh beberapa pakar IT untuk mencari solusi yang mudah bagi netizen untuk mengetahui informasi itu valid atau tidak. Ada sahabat kami di Singapura yang tengah membuat add-on di Chrome untuk melaporkan berita itu hoax atau tidak, sehingga nantinya informasi itu bisa dimanfaatkan oleh netizen lainnya. Tapi masih eksperimental, baru juga ditest hari ini. Kami mohon doanya supaya tools ini bisa segera kami luncurkan. Sedangkan secara umum, masih membutuhkan kejelian dari masing-masing pengguna medsos untuk berhati-hati dalam menerima informasi dan menyebarluaskannya.

‌Tips bagaimana mendeteksi berita itu hoax atau tidak, sudah kami sampaikan di materi di awal tadi.

2. Tanya : a. Apa yg orangtua bisa ajarkan kepada anak-anak agar mereka memiliki kemampuan melek literasi di era digital? Bisa membedakan berita real dan hoax?
b. Bagaimana membedakan antara berita real dan hoax di medsos?

Jawab : a. Menurut saya, anak perlu diberi tahu, mana sumber informasi yang sifatnya adalah ilmu, dimana ia bisa langsung belajar. Misalnya tentang ilmu matematika, ilmu agama, ilmu fisika. Dan diberi tahu, mana sumber informasi yang sifatnya adalah berita, dimana berita itu seringkali memuat sudut pandang pembuatnya (framing). Ajarkan anak untuk skeptis menerima berita.
Ajari anak untuk membaca sumber informasi dari beberapa sumber, sehingga anak tidak terbiasa menerima informasi dari satu sumber saja.

b. Membedakan berita faktual dan hoax, kadang sulit kadang mudah. Kalau ada judul yang provokatif, sebaiknya jangan langsung terima berita itu. Kekurangan netizen Indonesia, adalah kalau pertama nyebar berita di suatu grup, seolah paling kekinian, paling up-to-date.

Padahal bisa jadi berita tersebut belum dikonfirmasi. Atau masih half truth, yaitu baru sebagian yang dimunculkan oleh si pembuat berita. Kemudian, kalau judulnya provokatif, jangan segan menggunakan quota untuk melakukan Googling. Membandingkan suatu peristiwa dari berbagai macam sumber berita. Ini adalah bagian dari memperkuat literasi media.

Yang kedua, perhatikan alamat situs web. Jika yang membuat adalah situs abal-abal, yaitu yang tidak jelas nama redaksinya, tidak jelas penanggungjawabnya, tidak masuk ke Dewan Pers, maka harus hati-hati sekali menerima berita. Karena bahkan media mainstream pun sering melakukan kekeliruan faktual. Bedanya media mainstream, ada mekanisme untuk melakukan somasi atau gugatan, melalui Dewan Pers.

Ketiga. Cek fakta. Ini yang seringkali sulit, bahkan bagi aktivis anti hoax. Karena tidak semua fakta itu memang muncul di medsos. Sebagian hanya bisa kita temui di dunia nyata, dengan bertemu atau bersilaturahmi. Umumnya berita yang provokatif, itu tidak memuat keberimbangan. Bisa jadi karena memang niatnya untuk menggiring opini, bukan untuk menyampaikan fakta yang utuh.

Keempat, salah satu yang sering muncul di medsos, adalah gambar atau foto hoax. Hal ini bisa dicari kebenarannya kalau kita mau berlatih menggunakan tool seperti Google Images, untuk mengetahui foto tersebut aslinya tentang apa, asalnya dari mana.

Kelima, bergaul dengan komunitas anti hoax. Mengikuti grup mereka. Mengikuti beberapa FP anti hoax. Karena komunitas tersebut biasanya aktif menerima hoax terbaru, dan mencarikan obatnya.

3. Tanya : Pa Jawi, bagaimana caranya kita menelusuri bahwa berita share-an orang atau yg akan kita share itu hoax atau tdk, setelah secara nalar kita tahu bahwa … ah ini mah boong.

Bagaimana agar kita tdk terjebak pada sumber berita, yg ternyata hoax juga?

Jawab : Poin pertama, sudah saya jawab sebelumnya ya.

Supaya tidak terjebak pada sumber berita yang ternyata hoax, sementara ini memang kita masih berbasis pengalaman dan ingatan.
Idealnya adalah ada mekanisme dari netizen supaya bisa tahu rating dari sumber berita. Analoginya dengan situs rottentomatoes yang memberi rating kepada film. Kita lagi ingin menuju ke arah sana, semoga kedepan impian ini bisa tercapai, sehingga netizen bisa punya panduan, mana sumber berita yang bisa dipakai referensi, mana yang tidak.

Sebelum itu ada, ya gabungan, antara pengalaman, pembelajaran dari netizen lain, dan preferensi, baik itu politik ataupun agama.
4. Tanya : a. Bagaimana cara yang baik mengingatkan kolega yang kita ketahui sedang menyebarkan hoax?

b. Bagaimana proses pembuatan dan penyebaran hoax tersebut? Apakah memang ada organisasinya?

Jawab : a. Mengingatkan kolega, secara umum, bisa menasehatinya dari sisi moral, hukum, dan ajaran agama. Karena saya yakin ajaran agama manapun juga tidak membolehkan penyebaran hoax. Kecuali kalau memang orang yang tidak punya pegangan apapun, baik itu moral ataupun agama. Meskipun kalau orang Indonesia seharusnya lebih mudah dinasehati, karena basis agama, moral dan etika, seharusnya masih menjadi panduan utama.
Cara mengingatkan juga dengan cara yang baik, tidak mempermalukan ia. Kirim pesan saja lewat PM, sambil menyertakan bukti bahwa itu hoax. Bukti itu bisa ditanyakan di forum anti hoax.

b. Motivasi pembuat hoax itu bermacam-macam, ada yang motifnya ekonomi, karena memang beberapa situs hoax bisa menghasilkan puluhan juta perbulan dari iklan. Terutama yang memang sering menjadi referensi di media sosial. Ada juga yang motifnya politik, agama, kelompok, suku. Atau campuran darinya. Misalnya motif ekonomi sekaligus politik.

Buat mereka yang memang mengandalkan iklan untuk mendapatkan uang sebesar-besarnya, mereka tidak segan untuk membuat postingan hoax, yang penting asal banyak orang yang klik berita tersebut.

Jadi ada yang terorganisir, khususnya di level pembuat hoax.

Sedangkan penyebar hoax, seringnya tidak terorganisir, mereka spontan saja. Karena asal ada berita yang menjatuhkan orang yang tidak disenanginya, mereka asal sebar saja

5. Tanya : a. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan untuk menghindari hoax, terutama untuk anak-anak apa ya?

b. Hoax sering kali dianggap suatu usaha perang siber, cyber war, seperti juga pengalaman dan masa lalu pak Jawy, hal apakah yang memotivasi/menyadarkan pak Jawy hal itu bukan hal baik malah sekarang jadi penggagas komunitas anti hoax?

Jawab : a. Sudah ada jawaban diatas ya. Intinya ajak anak-anak untuk berwawasan luas dari kecil.

b. Saya pun dulu pernah menjadi CyberArmy. Ikut berperang melawan mereka yang saya anggap sebagai musuh Islam. Disitu saya dulu menganggap bahwa melawan mereka, bisa menggunakan segala cara, termasuk jika ada informasi yang merugikan mereka, tidak peduli benar atau tidak, dipakai untuk menghajar mereka.

Akhirnya saya sadar, bahwa itu bukan ajaran agama saya yang sesungguhnya. Karena seharusnya kalau mau menang, harus terhormat. Kalaupun harus kalah, tetap menggunakan cara terhormat. Aktivitas saya sebagai aktivis anti hoax, barangkali ikhtiar saya untuk menebus kesalahan saya di masa lalu.

6. Tanya : a. Bagaimana cara2 supaya selalu hati2 dalam menerima informasi?
b. Bagaimana cara menambah literasi media?
c. Bagaimana menyadari suatu berita itu hoax atau benar?

Jawab : a. Menurut saya, ketika ada informasi masuk, yang sekiranya bisa merugikan orang lain. Maka kita harus tabayyun, cross check. Kalau kita tidak punya kemampuan crosscheck, maka informasi itu kita simpan dengan skeptis, jangan langsung diterima di hati. Biarkan informasi itu berkembang, sehingga ada keseimbangan informasi atau berita. Apalagi berita yang berisi tuduhan, kalau bagi orang Islam, konsekuensinya ikut menyebarkan tuduhan yang salah, bisa berdampak serius dunia akhirat.

b. Literasi media itu sebenarnya sudah kita pelajari dari sejak SMP, SMA. Yaitu pelajaran membaca. Bedanya, karena di dunia sekarang, ada banyak sumber informasi, maka kita harus belajar membuat kesimpulan dari berbagai sumber. Jadi misalnya kalau ada berita A mengucapkan sesuatu B. Maka kita harus check di sumber berita lain, apa betul A mengucapkan B? Ataukah itu hanyalah penafsiran atau framing dari sumber berita yang kita dapat.

Ingat, semua media punya framing masing-masing. Baik itu media mainstream, apalagi situs abal2

c. sudah terjawab sebelumnya

7. Tanya : Ada tidak cara mudah untuk menskrining hoax? Terutama untuk medsos seperti youtube. Krn youtube sangat mudah diliat anak anak jaman sekarang. Terutama anak usia dini.

Jawab : Well ya, saya pegiat IT, bahkan saya punya usaha IT. Tapi saya justru sangat membatasi anak (usia 11th dan 5th) menggunakan gadget. Laptop, smartphone pun tidak saya kasih. Mereka hanya bisa pakai, kalau ada orangtuanya.

Juga ada beberapa usaha untuk mengamankan gadget dari anak, misalnya dengan memasang beberapa aplikasi pengaman untuk anak. Misalnya applock, atau ad remover, sehingga mereka tidak terjebak ke dunia yang tidak seharusnya mereka lihat.

Namun untuk masalah berita, tidak ada cara lain, kecuali orang tua harus bertanggungjawab penuh ketika anak mengambil berita dari gadget. Kalau memang pas tidak ada waktu, lebih utama mematikan akses sementara bagi anak, ketimbang resikonya lebih besar, mereka bisa rusak pemikiran dari kecil, karena menerima konten negatif dari media sosial atau pun internet pada umumnya

8. Tanya : a. Selain cek dan ricek saat mendapat berita tertentu, ada gak cara lain untuk lebih mengenali bahwa berita itu hoax atau tidak? Soalnya terkadang kita susah sekali membedakan mana yang asli dan mana yang hoax, sedangkan untuk cek dan ricek yang sering membutuhkan waktu yang tidak sedikit…

b. Tadi dikatakan bahwa kita harus hati-hati saat menerima berita dari media apapun, apalagi media abal2 atau media yg tak tertulis di Dewan Pers. Nah adakah syarat2 tertentu buat si calon media ini untuk menjadi anggota Dewan Pers..

Jawab : a. Dengan adanya komunitas anti hoax, kita banyak terbantu karena banyak orang lain yang telah berkorban waktu tenaga pikiran untuk mengklarifikasi hoax. Kami sendiri sedang membuat situs TurnBackHoax.ID sebagai tempat repository untuk hoax. Selain itu bisa mengunjungi FP Indonesian Hoaxes. Atau di group2 kami yang tersebut di awal pembahasan. Carilah disana dulu, karena kebanyakan hoax populer pasti dibahas.

b. Syarat menjadi anggota Dewan Pers ada di link berikut ini: http://dewanpers.or.id/siaran_pers/detail/292/siaran-pers-pendaftaran-anggota-dewan-pers-periode-2016-2019

Syarat Umum:

  1. Memahami kehidupan pers nasional dan mendukung kemerdekaan pers berdasarkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik
  2. Memiliki integritas pribadi
  3. Memiliki sense of objectivity dan sense of fairness; dan
  4. Memiliki pengalaman yang luas tentang demokrasi, kemerdekaan pers, mekanisme kerja jurnalistik, ahli di bidang pers dan atau hukum di bidang pers.
  5. Calon dari unsur wartawan masih menjadi wartawan.
  6. Calon dari unsur pimpinan perusahaan pers masih bekerja sebagai pimpinan perusahaan pers.
  7. Calon dari unsur tokoh masyarakat ahli di bidang pers dan atau komunikasi, dan bidang lainnya.

Syarat Administrasi:

  1. Surat pencalonan oleh organisasi pers, masyarakat atau diri sendiri.
  2. Surat pernyataan kesediaan menjadi calon anggota Dewan Pers.
  3. Menyertakan kartu tanda penduduk yang masih berlaku.
  4. Menyertakan riwayat hidup.
  5. Menyertakan pas foto terbaru ukuran 4×6 dua lembar.
  6. Surat pernyataan tidak sedang menjadi pengurus partai politik.
  7. Calon dari unsur wartawan:
    • Foto copy sertifikat atau surat keterangan kompetensi Wartawan Utama.
    • Surat keterangan dari penanggung jawab perusahaan pers bahwa yang bersangkutan masih menjalankan kerja jurnalistik di perusahaan pers yang sesuai dengan UU No.40 tahun 1999 tentang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan oleh Dewan Pers. (contoh formulir dapat diunduh di sini www.dewanpers.or.id)
  8. Calon dari unsur pimpinan perusahaan pers:
    – Surat keputusan pengangkatan dari perusahaan pers bahwa yang bersangkutan masih bekerja sebagai pimpinan perusahaan pers yang sesuai dengan UU No.40 tahun 1999 tentang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan oleh Dewan Pers.
  9. Calon dari unsur tokoh masyarakat:
    – Surat pernyataan tidak sedang bekerja sebagai wartawan atau menjadi pimpinan perusahaan pers.

9. Tanya : Sering kali orang sudah memiliki referensi berita, sehingga kecenderungan memilih sumber berita yang itu-itu saja, mereka hanya mau membaca atau mendengar apa yang ingin didengar, tanpa mau melihat berita pembanding, maka ketika ada pihak lain yang mengcounter hoax itu, sering kali penyebar hoax malah menuduh yang mencounter dengan hoaxer, gimana caranya agar hoax bisa dicounter secara efektif?

Jawab : Well ya, ini memang sulit. Karena kadang membedakan antara fakta dan opini saja orang kesulitan. Karena hoax itu tidak menyangkut opini. Hoax itu menyangkut fakta, jika fakta yang disampaikan keliru, maka ia hoax.

Memang tidak mudah untuk mengajak orang keluar dari bubble-nya masing-masing. Yaitu terbiasa meneirma berita yang hanya disukainya.
Maka hanya ajakan untuk kembali kepada moral, etika, dan agama, yang mungkin bisa berhasil.

Salah satu hal yang butuh diajarkan kepada netizen adalah Mutsaqqaful Fikr, yaitu luasnya wawasan. Tidak mudah mengambil kesimpulan dari sudut yang sempit. Mungkin itu jawaban yang mungkin belum menjawab secara tuntas pertanyaan sulit ini.

10. Tanya : Saat ini hoax bahkan sudah dijadikan mesin pendulang uang. Ketika ada pemblokiran situs, mereka dengan mudah pengganti domain sehingga bisa diakses kembali. Adakah upaya2 yang lebih efektif baik dari sisi teknologi maupun hukum agar situs2 penyebar hoax dapat “dimatikan” dengan cepat dan permanen?

Jawab : Ada beberapa langkah sebenarnya yang bisa dilakukan. Tapi memang belum dilakukan dengan baik oleh pemerintah.

  1. Proses hukum situs yang memang nyata menebar fitnah, hasut dan hoax. Karena sudah ada pasalnya masing-masing
  2. Matikan sumber pendapatan mereka, dengan mematikan akses Google Adsense, yang selama ini mereka pakai untuk mendulang uang. Google sendiri sudah berniat untuk mempermudah bagi pemerintah untuk mematikan Adsense bagi situs hoax.
  3. Tutup situs penyebar hoax/fitnah/hasut

Namun secara jangka panjang, yang lebih penting justru mendidik netizen supaya cerdas bermedsos. Yaitu mengutamakan konten positif, menggunakan medsos untuk menebar inspirasi dan menggugah.

11. Tanya : a. Apakah aksi oleh jutaan massa pada bulan November dan Desember 2016 termasuk tergerak karena hoax pak?
b. Apakah bahayanya hoax? Apakah bapak dapat memberikan contoh nyatanya pada kami, agar kami lebih memahami dunia per-hoax-an ini?
c. Apakah hoax dapat menjadi ancaman besar keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Jawab : a. Saya tidak melihatnya demikian. Meskipun banyak hoax yang tertuju baik pemerintah, Polri maupun kepada peserta aksi tersebut.

b. Bahaya hoax ada banyak ya. Bagi yang terfitnah oleh hoax, bisa jadi nama baiknya rusak, karirnya hilang, atau dibenci oleh banyak orang.
Kita kembali ke Pilpres 2014, ada banyak hoax yang menyerang baik Pak Jokowi ataupun Prabowo. Jokowi difitnah sebagai keturunan PKI, ibu kandungnya disembuyikan, dan puluhan hoax lain. Demikian Prabowo difitnah (maaf) kemaluannya dipotong, punya dua kewarganegaraan, anaknya homo.

Hoax-hoax semacam ini membuat polarisasi di masyarakat, sehingga rentan terhadap konflik horizontal.

Bahkan ya, bisa mengancam keutuhan bangsa. Kehancuran Suriah, juga diakselerasi oleh penyebaran hoax.
Kita tentu tidak ingin Indonesia hancur seperti Suriah.

Penutup

Masing-masing dari kita bertanggungjawab atas apa yang kita perbuat. Jangan sampai jari kita mendzalimi orang lain. Kedzaliman kepada orang lain akibat jari kita di media sosial, bisa tersebar oleh banyak orang lain, dimana kita juga akan menanggung akibat dari perbuatan orang lain tersebut. Dan sangat sulit untuk bisa memperbaiki kesalahan, jika jari kita yang menyebabkan berita tidak benar itu tersebar luar. Ibarat mengumpulkan kapas yang sudah terhambur di udara. Mustahil.

Jadi jarimu adalah harimaumu. Hati-hatilah sebelum menekan keyboard, apalagi menekan tombol share. Ia bisa jadi menjadi penyelamat atau penghancur kehidupan kita di dunia maupun di akhirat.

Terimakasih, mohon maaf atas segala kekurangan penyampaian saya. Karena ini adalah kulwap saya yang pertama kali.
Akhirnya segala kebenaran hanya milik Allah SWT, dan semua kesalahan adalah dari saya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Kulwap : Tanya Jawab Homeschooling bersama Moi Kusman

homeschooling-di-indonesia
picture image from homeschooling Indonesia

 

Kamis, 8 September 2016
Pukul 19.30-21.00 WIB

Tema: Tanya Jawab Homeschooling bersama Ibu Moi Kusman

Narasumber  : Ibu Moi Kusman
Moderator      : Hapsari Dania
Notulis             : Wanda Soepandji

moi-kusman
picture image from moi kusman blogspot

 

**
PROFIL Ibu Moi Kusman

Nama lengkap Bu Moi Kusman adalah Wimurti Kusman. Beliau adalah pengajar bahasa Inggris, English for Adults. Beliau senang menulis, membaca, berenang, fitnes, masak, beres-beres, mengajar, mengambil gambar, mendengar lagu, menonton, travelling, memasak, makan enak dan belajar.

Tertarik pada pendidikan, kesehatan, alam, filsafat, sejarah, lingkungan hidup, komunikasi, arsitektur, sosial budaya, politik, teknologi, dan fesyen.

Berdomisili di Cilegon. Ibu dari 2 anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Anak sulung laki-laki bernama Fari, kedua perempuan bernama Amira, dan yang bungsu laki-laki bernama Fattah.

2 Anak tertua lulus paket C & diterima -lalu lulus- di UI, dan kini keduanya sudah bekerja. Anak ke 2 mendapat beasiswa dari LPDP untuk lanjut S2 di UCL (University College London) di Inggris & berangkat tgl 20 September ini.

Bu Moi tidak sengaja terjun ke dunia homeschooling, saat anak ke 2 (sekarang 22 tahun) minta berhenti sekolah di saat lulus SD, diikuti oleh anak pertama (sekarang 23 tahun) yang juga meminta homeschooling di saat duduk di kelas 1 SMA, dan akhirnya anak ke 3 (12 tahun) juga tidak pernah bersekolah sampai sekarang.

Bu Moi cukup aktif dalam mencatat perjalanan homeschooling putra-putrinya dalam blog, bisa ditengok di moi-kusman.blogspot.co.id. Beliau juga aktif dalam menjadi pembicara berbagai seminar homeschooling bersama Klub Oase, sebagai praktisi homeschooling.

***

*RUANG TANYA-JAWAB*

PERTANYAAN 1

1)Bagaimana proses deschooling anak pertama dan keduanya?

2) Waktu pendaftaran ke UI (Universitas Indonesia), apakah dipersulit oleh universitasnya? Atau ada syarat khusus?

3) Untuk anak ke 3, pakai metode tertentu utk HS(Homeschooling)-nya kah?(charlotte mason, unschooling, atau lainnya?)

JAWABAN 1
1) Karena masih meraba-raba, jadinya menurut saya tidak mudah. Akhirnya kami seperti membiarkan mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan. Anak-anak lebih banyak nonton film di televisi kabel selain kegiatan lain yang sudah ada sebelum mereka HS, seperti kegiatan olahraga, musik, kursus bahasa Inggris. Tapi ternyata dari kegiatan itulah mereka jadi tahu apa yang mereka tahu tanpa direcoki oleh orang luar seperti guru bahkan orang tua itu sendiri.

2)  Tidak ada kesulitan. Ijazah paket C diterima seperti ijazah lainnya.

3) Tidak ada metode khusus. Saya tidak mau menyebutkan unschooling juga, karena tidak tahu memang unschooling itu apa.

PERTANYAAN 2
Selama kurang lebih 10 tahun menyelami dunia homeschooling di Indonesia, menurut ibu apakah ada sisi negatif dari homeschooling? Apakah itu? Dan bagaimana menghadapinya?

JAWABAN 2
Sisi negatifnya adalah:
1. Sering berubahnya peraturan tentang pendidikan di Indonesia sehingga tidak   ada pijakan yang jelas bagi keluarga.

2. Keluarga homeschooling belum dianggap ada oleh pemerintah.

3. Buat kami sendiri, keberadaan PKBM belum cukup terang benderang peraturannya.

Bagaimana menghadapinya?
1. Berjejaring agar selalu dapat informasi.

2. Pede aja lagi. Percaya pada keputusan pribadi.

3. Hampir sama dengan no. 1

PERTANYAAN 3
Mungkinkah HS bila ibu dan ayahnya bekerja?

JAWABAN 3
Bekerja di sini apakah ke dua ayah ibu bekerja penuh waktu? Saya juga bekerja walau pun tidak penuh waktu. Keadaan di Cilegon yang tidak semacet Jakarta mungkin akan berbeda dengan kalau kami tinggal di Jakarta. Walau pun menurut kami tidak ada yang tidak mungkin, barangkali bisa diurutkan prioritas pekerjaan ayah dan ibu itu seperti apa, lalu bekerja sama dengan pengasuh tentang bagaimana pengaturannya. Kalau boleh menambahkan, saat Fattah tidak ada yang menemani & saya harus bekerja, maka Fattah saya bawa. Demikian.

PERTANYAAN 4
Bagaimana proses administratif pengurusan ijazah paket untuk memasuki Universitas Indonesia? Apakah ada kendala atau diskriminasi ketika proses screening administratif?

JAWABAN 4
Sama sekali tidak. Amira masuk UI tahun 2010 memakai ijazah paket C. Fari di tahun yang sama diterima di IKJ juga dengan ijazah paket C. Tahun 2011 Fari diterima di UI, juga tidak ada kendala atau diskriminasi administratif.

Kalau di UI tidak ada kendala, maka kendala yang ada yang kami rasakan adalah lamanya ijazah asli paket C itu didapat. Itu yang jadi kendala. UI sendiri menerima ijazah sementara, sampai saat akhirnya mereka lulus & UI minta ijazah aslinya saat anak-anak akan tamat. Entah mengapa, perlu lebih dari 6 bulan buat kami untuk menerima ijazah asli. Itu salah satu tantangan homeschooling yang mungkin bisa disuarakan pada pemerintah. Ijazah kejar paket itu keluarnya selalu lama.

PERTANYAAN 5
1) Fattah mulai kursus/kegiatan rutinnya sejak usia berapa? Apa tanda-tanda kesiapan anak sudah bisa diberi aktifitas rutin?

2) Hal apakah yg tidak memungkinkan keluarga/anak untuk tidak bisa ber-HS?

JAWABAN 5
1) Sejak umur 5-6 tahun ikut klub renang di mana ke dua kakak-kakaknya ikut. Lalu musik sejak 10 tahun. Kursus bahasa Inggris sejak umur 8 tahun. Ikut Klub Oase sejak 2011. Tanda-tandanya apakah sudah siap atau belum? Ketika diajak dan dia mau. Agak OOT, baru pada Fattah ini kami tidak mau memaksakan kehendak kami, tapi kami tanya. Contohnya: Amira belajar musik di usia 4-5 tahun, tanpa saya tanya, saya daftarkan saja ke kursus musik. Untungnya anaknya mau. Di usia yang sama, saya tanya apakah Fattah mau belajar musik. Fattah saat itu jawab tidak mau. Kami turuti. Jadi saat akhirnya Fattah kami masukkan ke kursus musik, Fattah memang sudah setuju.

2) Menurut saya sih tidak ada. Bahkan orang tua tunggal sekali pun kalau ada kemauan pasti ada jalan.

PERTANYAAN 6
Bagaimana urutan kurikulum HS, misal, usia ini materinya ini.  Dan bagaimana pemasangan target dan goalnya?

JAWABAN 6
Pertanyaan yang sulit. Mungkin bisa ke acuan yang pernah saya baca di rumahinspirasi.com.

Buat kami sih panduannya mulai dari kegiatan rumah. Hal-hal kecil seperti membereskan mainan setelah dimainkan, mandi yang bersih, membantu ayah-ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, mengerjakan tugas yang diberikan ayah-ibu (ke warung, memberikan sesuatu pada orang lain/tetangga, dll). Targetnya selalu diperbaiki setiap kali karena selalu dievaluasi ayah itu. Misalnya: apakah piring sudah dicuci dengan bersih, apakah barang-barang sudah diletakkan kembali ke tempatnya, apakah saat memberikan sesuatu pada tetangga dengan terlebih dahulu menyapa, berkata sopan, & kurang lebih begitu. Buat kami kalau yang kecil-kecil sudah dilaksanakan dengan baik, yang lain akan tidak ada masalah.

Matematika, IPA, IPS menurut kami sih gak sepenting tata krama, sopan santun, peduli pada sesama. Hal-hal lainnya akan dengan mudah menyusul. Maaf kalau kurang ilmiah ya.

PERTANYAAN 7
Apakah pada homeschooling itu anak setiap hari harus dikasih aktivitas? Kemudian harus mengacu pada kurikulum atau tidak?

JAWABAN 7
Menurut kami sebaiknya ada, dan ada target walau pun dibuat tidak usah rigid. Mengacu ke kurikulum atau tidak? Terus terang, di keluarga kami yang betul-betul mulai dari nol itu Fattah. Kakak-kakak bisa menentukan sendiri mau belajar apa karena kurang lebih sudah tahu apa yang mereka mau. Fattah tidak mengacu pada kurikulum apa pun, apa lagi kami, sementara ini tidak berniat ikut kejar paket A, B, C. Jadi saat ini Fattah belajar matematika, sains ringan lewat khanacademy.org, belajar bahasa Jerman di duolingo.com. Fattah masih latihan renang & fisik, belajar piano, kegiatan Klub Oase, kursus bahasa Inggris di LIA.

PERTANYAAN 8
Kalau kegiatan sehari-hari adalah nonton film dan pendidikan moral, lalu bagaimana bisa lulus paket C?

JAWABAN 8
Hahaha, gak kebayang ya? Maksud saya, gara-gara nonton itu anak-anak jadi tahu apa yang mereka mau. Suatu hari Amira bilang pada kami:”Bu, aku mau ujian paket B deh.” Lalu kami cari tahu bagaimana bisa ikut ujian.

Begitu pula saat menjelang paket C, tiba-tiba anak-anak datang pada saya & bilang: “Bu, aku mau kuliah, jadi mau ujian paket C. Biar latihan soal, masuk bimbel ya, Bu.”

PERTANYAAN 9
Bu Moi, Seberapa banyak waktu yang diluangkan untuk mengajar? Kira-kira berapa jam/minggu? Kemudian, apakah selain mengajar ibu juga melakukan pekerjaan lain di luar rumah? Misalnya seperti mendapatkan jabatan tertentu dari instansi ibu bekerja?

Maksud saya pekerjaan selain mengajar. Seperti jabatan tertentu di tempat ibu mengajar yg mengharuskan ibu datang bekerja setiap hari. Saya ingin mendapat gambaran bagaimana ibu mengatur waktu.

JAWABAN 9
Tidak banyak. Sehari paling lama 4 jam. Tapi mengajar itu yang lama persiapannya walau pun saya sudah lama mengajar. Apakah ada pekerjaan lain? Mengerjakan pekerjaan rumah seperti membereskan rumah, memasak dll maksudnya?  Itu menurut saya pekerjaan juga & buat saya cukup menyita waktu & tenaga.

Saya terus terang sejak punya anak tidak mau berkarir apa-apa. Saya bahagia jadi ibu & jadi ibu rumah tangga. Saya juga suka mengajar. Saya tidak mau mengikat diri pada sesuatu yang mengharuskan saya ke luar rumah setiap hari. Saya mulai mengajar di siang/sore hari di mana saat itu saya biasanya bisa mendrop anak-anak di kegiatan renang/musik/kursus mereka. Kalau saya tidak dapat menjemput, maka saya koordinasi dengan suami.

Saya mengajar terus terang tergantung mood dan/atau kebutuhan saya. Saat ini saya selesai mengajar saat maghrib, tapi ada kalanya sampai jam 21 (walau pun jarang sekali). Suami rutin pulang jam 16 dari kantor, sehingga bisa aplusan dengan saya dalam urusan anak-anak.

PERTANYAAN 10
Di jawaban kedua, ibu menyebutkan PKBM. PKBM itu apa bu?

JAWABAN 10
https://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Kegiatan_Belajar_Masyarakat
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Biasanya daftar ujian paket A, B, atau C di sana.

PERTANYAAN 11
1) Waktu Fattah, pada usia berapa Fattah mulai belajar baca, hitung, tulis?
Bagaimana cara belajarnya?

2). Kalau boleh tahu, channel apa saja yang boleh ditonton di TV kabel rumah?

JAWABAN 11
1) Fattah bisa membaca & berhitung di usia sekitar 6 tahun. Caranya dengan berinteraksi membantu saya dan ayahnya seperti cerita di atas. Jadi kalau masak/buat kue, ada perhitungan, ada membaca resep. Saat isi bensin, saat belanja ke pasar, & banyak lainnya. Oh ya interaksi dengan ortu itu sangat penting sekali dan itu sarana pembelajaran yang super efektif. Amira bisa baca di usia 4 tahun. Fari 5 tahun. Sejak dulu memang saya suka jadi ibu rumah tangga & homeschooling itu cocok buat saya. *maaf OOT.

It doesn’t matter how old you are able to read, yang penting anak punya kebiasaan membaca. Itu lebih penting.

2. Buat kami sih semua boleh asal tidak berlebihan.

PERTANYAAN 12
Apa suka duka bu Moi dalam menjalani HS? Lalu jika ibu mendapat pertanyaan tentang sosialisasi anak homeschooling, apa jawaban ibu? Terima kasih.

JAWABAN 12
– Sukanya banyak karena selalu dekat & berinteraksi dengan anak. Umur orang tua bersama anak itu singkat. Saat anak sudah kuliah, saat itulah nyaris selesai tugas ortu. Jadi terus-terusan bersama anak itu priceless.
– Dukanya: ketidakpastian di Indonesia. Walau pun dengan adanya internet, perlahan dan pasti, kita menuju ke arah kebaikan.
– Pertanyaan tentang sosialisasi: Manusia itu ternyata memang mahluk sosial. Dengan HS anak justru tidak dikotak-kotakan dalam batas-batas kelas. Silakan main ke Klub Oase, di mana anak-anak sangat mudah bergaul & cair sekali. Yang menjadi kendala justru peer pressure di sekolah/pergaulan. Saat itu hilang, maka manusia akan menjadi dirinya yang fitrahnya memang baik.

PERTANYAAN 13
Ada seorang anak HS ingin menjadi pilot pesawat tempur tetapi menurut seorang TNI AU, seorang anak harus masuk SMA kelas IPA baru bisa ikut ujian masuk Angkatan Udara, jadi tidak bisa hanya dengan ijazah paket C.Selama ini apakah Bu Moi pernah dengar ada anak kesulitan masuk pendidikan lebih tinggi dalam bidang militer, kedokteran, teknik dll karena latar belakang HS?

JAWABAN 13
Kalau kedokteran, teknik, IPS, apa lagi seni, saya sangat yakin tidak ada kesulitan berarti. Hanya saja beberapa hari lalu pernah baca di rubrik Surat Pembaca, masuk Kepolisian tidak boleh ijazah paket C. Apakah mungkin di kemiliteran juga tidak boleh? Saya tidak tahu.Saya kecewa saat ijazah paket C dianak-tirikan, padahal ijazah itu resmi dari pemerintah. Tentang pilot, kalau sekolah pilot swasta saya yakin tidak ada kendala. Kalau Curug saya tidak tahu.Agak OOT (Out of Topic), saat menjadi pramugari di Cathay Pacific Hong Kong, pilot-pilot asal Australia yang bekerja di sana itu dilatih oleh pilot-pilot Angkatan Udara kita di Madiun. Jadi human resources kita sebetulnya sangat mumpuni. Sistem yang harus banyak diperbaiki.

PENUTUP

Pesan Ibu Moi Kusman :
Tetap yakin pada pilihan sambil selalu berjejaring agar ter-update dengan info terbaru. Selalu percaya diri dan berprasangka baik pada Sang Pencipta yang telah menitipkan anak-anak pada kita. Anak-anak itu semua baik, semua pintar, semua “sempurna” karena mereka hadiah-Nya pada kita.

Demikian. Terima kasih.

Review Film : The Beginning of Life

The Beginning of Life (2016)


Review Film The Beginning of Life
Oleh : Nurbaiti Pohan

*
Kelahiran bayi selalu merupakan keajaiban. Dimulainya satu kehidupan baru. Walaupun tidak menafikan ada saja kehadiran bayi-bayi yang tidak diharapkan, namun sesungguhnya kehadiran mereka membawa kebahagiaan.

Banyak yang beranggapan bahwa bayi bahkan sampai anak-anak tidak bisa memperhatikan, padahal sebenarnya adalah mereka tidak bisa tidak memperhatikan sesuatu. Mereka merupakan pembelajar hebat. Dengan kondisi fisik yang masih sangat perlu untuk berkembang, mereka melihat, mendengar, menggapai-gapai, menendang-nendang, berceloteh sebisanya sebagai upaya mereka menyerap informasi dari lingkungan untuk diproses di otak dan menterjemahkan kepada mereka bagaimana lingkungan itu.

Sebagai contoh, bayi yang menjatuhkan sendok berulang kali padahal ibunya melarangnya, hal ini bukan karena mereka tidak memperhatikan atau mereka hanya sekedar pembuat onar, tapi kejadian itu mereka tangkap sebagai “informasi mengenai ibu”, dan mereka mengulang-ulang hal tersebut untuk menguatkan informasi tadi.

Kehadiran orangtua/pengasuh utama sangat penting dalam hidup bayi hingga anak-anak sebagai pendukung utama dalam proses belajar mereka. Ibu memberikan kenyamanan dan keamanan, mengenalkan mereka akan diri mereka sendiri. Sementara ayah membuat mereka berani menjelajah dunia luar, berani mengambil resiko. Pengasuhan anak pun harus dipahami sebagai tanggung jawab kedua orang tua, bukan hanya oleh ibu dengan dukungan ayah. Ayah bukanlah orang kedua dalam pengasuhan.

Quotes yang sangat berkesan yang disampaikan oleh salah satu ibu di film itu adalah “Saya tidak dipersiapkan menghadapi perasaan sedalam ini. Saya bahkan lebih menyayanginya ketimbang kedua orang tua saya”, ucapnya sambil menangis.

Anak-anak itu juga selalu menjaga image positif mengenai orang tua mereka. Seorang anak mengatakan bahwa monster menelan ibunya dan mengambil suaranya ibunya pada saat marah, ia dimarahi monster yang berwujud ibunya.
Sementara cerita seorang ayah adalah:
Ayah : Aku ayah yang buruk
Anak : Tidak
Ayah : Ya, aku ayah yang buruk karena aku meneriakimu.
Anak : Kau hanya meneriakiku saat aku nakal.
Ayah : Ya memang, tapi seharusnya itu tidak menjadi alasan untuk meneriakimu.
Anak : Kau tidak menjadi ayah yang buruk hanya karena meneriakiku
Dari cerita tersebut bisa diambil kesan bahwa anak-anak tetap mempercayai kedua orangtuanya walaupun saat-saat buruk kerap datang.

Terkadang, seiring dengan semakin paham ia tentang dirinya, anak-anak membangun otonomi dengan pemberontakan-pemberontakan pada lingkungannya, baik orang tua maupun saudara kandung. Pemberontakan-pemberontakan ini sekaligus melatih pola hubungan kompetitif, disamping hubungan kolaboratif yang juga dikembangkan. Kehadiran kakek dan nenek atau lingkungan (dekat) yang lebih luas lagi merupakan sebuah keuntungan untuk anak-anak, mereka bisa jadi sumber kasih sayang tak berbatas lainnya yang dapat mendukung pertumbuhan anak-anak.

Tak peduli dari latar belakang mana anak itu berasal -baik dari orang tua tunggal, hasil hubungan di luar nikah, anak dari pasangan homoseks, anak adopsi, anak dengan orangtua yang mengalami ketergantungan obat, anak-anak dari lingkungan yang sangat miskin, anak yang orangtua nya bercerai sehingga harus tinggal dengan orang dewasa lain yang merupakan pasangan baru orang tua mereka- kebutuhan mereka adalah sama.

Untuk mendukung anak-anak, maka yang harus dibantu adalah orang-orang dewasa yang mengasuh mereka. Maka diperlukan suatu komunitas yang dapat saling membangun dan mendukung orang dewasa agar dapat memberikan pengasuhan optimal kepada anak-anak mereka.

*

Pelatihan Menjadi Orangtua Cerdas (1) – Memahami Profesi Orang Tua – Komunitas Rumah Pencerah

Komunitas Rumah Pencerah adalah organisasi nirlaba yg terdiri dari individu-individu dengan berbagai latar belakang yg mempunyai kepedulian terhadap kebutuhan akan pelatihan orangtua dan peningkatan kualitas guru.

Visi : Terwujudnya guru, orangtua dan masyarakat yg berperan aktif meningkatkan kualitas pengasuhan dan pendidikan anak.

Salah satu kegiatannya adalah menyelenggarakan materi pelatihan & pengayaan bagi orangtua & guru PAUD.

Komunitas Rumah Pencerah mempersembahkan pelatihan dengan tema : Menjadi Orang Tua Cerdas

Materi 1 : Memahami Profesi Orang Tua
Pembicara :

  1. Ibu Fery Farhati, S.Psi, MS (Penanggung Jawab Komunitas Rumah Pencerah)
  2. Ibu Dra. Nurbaeti Rachman

Tanggal : 18 Agustus 2016
Tempat : Rumah Joglo, Jakarta Selatan.

  1. Bagi anak, orang tua adalah sekolah pertama. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam kehidupan anak. Tetapi di sisi lain orang tua pendidik yang paling tidak tersiapkan Menjadi orang tua adalah profesi sepanjang masa, dibandingkan dengan peran-peran lain dalam masyarakat. Tidak ada sekolah formal yang mengajarkan cara menjadi orang tua yang baik atau cara mengasuh dan mendidik anak yang benar.
  2. Kegagalan pengasuhan anak terjadi karena orang tua belum tahu bagaimana mendidik dan mengasuh dengan baik dan benar. Bukan karena kurangnya kasih sayang orang tua pada anak.
  3. Betapa pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini juga menyangkut kepada masa depan sebuah negara. Pada anak-anak kita titipkan masa depan negara ini. Orang tua harus memiliki ilmu mendidik anak agar mampu mencetak generasi yang kuat. Yang akan menentukan bagaimana Indonesia 20 atau 30 tahun yang akan datang.
  4. Orang tua harus mau belajar menjadi orang tua yang baik, agar anak-anak terhindar dari dahsyatnya era digital yang telah banyak memakan korban.
  5. Kunci pengasuhan yang benar adalah pengasuhan dengan cinta dan kasih sayang sejak usia dini hingga usia 8 tahun. Dimana pada masa ini anak patuh tanpa syarat kepada orang tuanya. Orang tua wajib hadir dalam fase kehidupan anak. Hadir dalam arti benar-benar ada untuk anak saat anak membutuhkan orang tua. Bukan hadir dalam arti fisik dekat tapi hati dan pikiran melayang-layang. Contoh ketika raga hadir dekat anak tapi sibuk dengan gadget. Hadir untuk mendengarkan, hadir untuk melihat sorot mata anak, hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, hadir untuk memberikan pelukan dan ciuman hangat untuk anak.
  6. Memahami peran sebagai orang tua dan mengenal perkembangan anak dengan menyadari keunikan anak kita, yaitu : dilahirkan dalam keadaan fitrah kebaikan, dilahirkan cerdas, berbeda dan spesial (tidak ada anak yang sama bahkan anak kembar sekalipun. Jadi berhenti untuk selalu membanding-bandingkan), setiap anak membutuhkan orang tuanya.
  7. Mengenali potensi diri sebagai orang tua merupakan hal yang sangat penting. Selalu tanamkan pada diri bahwa kita adalah orang tua yang ahli mengenal anaknya, memiliki kelebihan, menginginkan yang terbaik untuk anaknya, memiliki perasaan yang naik turun, tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan tenang.
  8. Ketahui fakta tentang otak anak :
    • Saat dilahirkan bayi dianugerahi 1.000.000.000.000 sel otak masing-masing dengan 10.000 cabang.
    • Saat lahir hanya 17 persen dari otak bayi yang sudah saling terhubung. Sisanya terhubungkan melalui stimulasi yang diperoleh sang bayi.
    • Lebih dari 90 % perkembangan otak terjadi pada 4 tahun pertama kehidupan anak.
    • Kerja otak yang baik sangat tergantung pada hubungan yang sehat antara anak dan orang disekitarnya. Terutama orang tua dan keluarga dekat.
    • Otak harus digunakan dan dirangsang agar senantiasa tumbuh dan terhubungkan antar sel
    • Kurangnya rangsangan dan pemenuhan kebutuhan anak oleh orang tua dapat menyebabkan ketidakteraturan pada balita yang dapat menghambat perkembangan otak.
    • Dalam masa ini anak membutuhkan kasih sayang, gizi, dan stimulasi.
    • Otak bekerja dengan baik bila : cukup rangsangan, cukup nutrisi, cukup oksigen, cukup kasih sayang dengan penerimaan dan penghargaan.
  9. Stigma anak nakal atau banyak akal merupakan perbedaan kebutuhan antara kebutuhan anak dan kebutuhan orang tua. Kebutuhan anak adalah ingin tahu segala sesuatu, ingin mencoba, ingin menyentuh, ingin merasakan, ingin bergerak bebas. Ini adalah ciri khas anak sehat dan cerdas. Sementara disisi lain kebutuhan orang tua adalah ingin segalanya serba rapi, bersih, beres, teratur, berjalan baik, dan tepat waktu sesuai jadwal.
  10. Maka dari itu orang tua harus menyikapi perbedaan kebutuhan ini dengan bijak. Bila ada situasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan kita STOP dan tanyakan pada diri kita : apa yang ingin kita ajarkan pada anak kita? Pelajaran apa yang ingin diingat anak kita dari situasi saat ini? INGAT : dahulukan kepentingan anak, demi masa depan mereka. Bukan mendahulukan kepentingan keteraturan sesaat orang tua.
  11. Tanpa penanganan yang tepat, berbagai permasalahan anak akan berkembang menjadi perilaku buruk yang serius seperti : berbohong, bolos sekolah, narkoba, pergaulan bebas, tawuran, mencuri.
  12. Tantangan orang tua juga semakin berat di era informasi dan digital. Semua aspek kehidupan berubah. Termasuk perubahan dalam pola pendidikan dan pengasuhan anak.
  13. Membentuk tim kompak dalam pengasuhan anak. Pengasuhan dalam keluarga melibatkan keluarga besar, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, yang juga berada di dekat anak. Anak membutuhkan PANUTAN. Semua kejadian akan menjadi proses belajar bagi anak. Sehingga harus dipastikan bahwa orang dewasa di sekitar anak harus bisa menjadi model, contoh dan panutan.
  14. Peran AYAH dalam pengasuhan anak SANGAT PENTING. Ayah yang ikut berperan dalam pengasuhan anak sejak usia dini memiliki pengaruh yang baik dalam pembentukan pribadi berkarakter. Karenanya dibangun kelekatan emosional yang baik antara anak dengan ayah. Selalu hadirkan sosok Ayah dalam kehidupan anak- anak.
  15. Perbedaan karakter anak dengan kehadiran dan ketidakhadiran ayah.
    Dengan kehadiran figur ayah :

    • lebih cerdas dengan prestasi akademik diatas rata-rata.
    • percaya diri.
    • pandai bergaul.
    • kemampuan sosial yang baik

    Tanpa kehadiran figur ayah :

    • lebih beresiko terlibat pornografi, narkoba, dan tindak kriminal.
    • pergaulan sosial yang beresiko seperti gank.
    • kemampuan sosial yg kurang baik.
  16. Bagaimana membahagiakan anak :
    • membuat diri sendiri bahagia
    • menjadi orang tua bukan hakim yang tugasnya menghukum anak. Kesalahan bukan untuk dihukum tapi untuk dijadikan pelajaran berharga. Kesabaran orangtua dalam mendapingi anak akan menjadi pendorong sukses anak di masa depan.
    • menggunakan seluruh indera untuk mengungkapkan kasih sayang.

Dirangkum oleh : Anita Permata

Menumbuhkan Kebiasaan Positif Tanpa Reward dan Punishment

12 Agustus 2016 sore hingga malam terjadi perbincangan yang cukup seru di dalam grup Home Education mengenai

Bagaimana caranya menumbuhkan kebiasaan membuang sampah tanpa hadiah, tanpa hukuman dan tanpa perintah/nasihat?
Berbagai macam pendapat dan juga argumentasi dari anggota grup akan saya coba resumekan dalam notulensi ini, berikut adalah kurang lebih isi perbincangan seru yang mungkin dapat menjadi bahan pembelajaran buat kita bersama, dan perbincangan ini dimoderatori oleh Pak Bukik Setiawan.

Konsep mendidik anak itu harus datang dari kedua orangtuanya, tidak bisa sebelah doang ibarat burung terbang kalo sayapnya satu ga jalan ya ga bisa terbang, Konsep yang bener itu datang dari mindset orangtua yang benar…

Jadi anak malah jadi agen perubahan ya?
Dengan adanya keteladanan dan pembiasaan dari orang tua , baru kemudian dilanjutkan dengan proses belajar saintifik. Agar, anak faham kenapa ga boleh nyampah.
Sekedar sharing saja, kebetulan anak saya sekolah di sekolah berwawasan lingkungan. Jadi memang penekanannya ke lingkungan. Reuse reduce recycle banget lah. Juga gmn menjaga alam. Jadi soal sampah itu topik sehari2. Ga cuma buang sampah, tapi gimana mengolah limbah jadi berkah. Jujur bagi saya, saya juga teredukasi dr sekolah dan anak saya. Ketika saya mau bakar sampah, anak saya yg memberi tahu itu dilarang. Di sisi lain dia juga mengajarkan konsep pemilahan sampah dan mempromosikan pengolahan sampah menjadi barang lain yg bisa digunakan. Jadi menurut saya ga masalah apakah dampak baik itu dari rumah atau sekolah. Karena prinsipnya sekolah itu mitra pendidikan, ga cuma mendidik anak tapi kami semua menjadi lebih baik

Bagaimana cara membiasakan? Dengan perintah atau?

Soal gimana menumbuhkan, saya setuju dengan teman di atas, yaitu keteladanan dan pembiasaan. Tapi ga berhenti disitu, terhadap setiap tindakan dirasionalkan, karena anak-anaknya kritis jadi musti dikasih alasannya sehingga anak ga cuma tahu, tapi juga paham dan mau melakukannya bahkan menganjurkan kepada orang lain.
Membiasakan dimulai dengan keteladanan perintah dimulai setelah anak mengenal tanggungjawab baik tanggung jawab pribadi apalagi tanggung jawab sosial masyarakat…

Bagaimana memberikan pengertian pada anak tentang arti tanggungjawab ?

Seperti Pak Bukik katakan,  menanamkan dan menumbuhkan nilai nilai dalam diri anak butuh proses yg panjang. Anak meneladani dng melakukan hal yang sama berulang-ulang seperti yang menjadi teladan.  Perintah setelah anak mengenal tanggung jawab tersebut dengan baik dan sangat perlu dilakukan penguatan dan pengulangan secara terus menerus.
Cara lain untuk menumbuhkan kebiasaan membuang sampah ini, salah satu partisipan berpendapat bahwa dengan cara pembiasaan yang dilakukan di rumah selalu dalam keadaan bersih (tanpa sampah berserakan). Menyediakan tempat sampah di beberapa sudut rumah. Sehingga meminimalisir dulu yg namanya malas buang sampah krn ga ada tempat sampah.

Keteladanan dari orang yg lebih dewasa itu syarat mutlak.

Itu mungkin dr segi teknis.
Lalu saya dan suami dalam sela2 keseharian memberikan dongeng2 atau cerita bertemakan sampah,  kebersihan lingkungan.

Sampai detik ini pun ya masih belum sempurna feed back dr anak. Kadang eh dia  lupa menaruh bekas bungkus makanan masih diatas meja makan. Kalo sudah begitu waktunya  review timeeee…
proses inilah yang dimaksud dengan belajar saintifik.

Iyaa bener semua dimulai dari kita nya sebagai orang tua, dengan tahapan :
1. Mengkondisikan proses belajar
2. Kemudian mengaplikasikan
3. Tanya jawab/diskusi, studi kasus, bercerita/berkisah,
4. Memotivasi, menguatkan dan selalu mengulang, fokus…
5. Baru ada perintah ada hukuman tapi juga ada reward nya…

Pada beberapa keluarga belum ada hukuman ataupun reward, dengan alas an karena ketika reward n punishment mulai muncul saya kuatir malah esensi yg sebenarnya dari pentingnya buang sampah jadi terabaikan lalu tergantikan dengan reward dan punishmentnya ini. Jadi metode lain yang dapat dilakuakn dengan membiasakan  mereview saja dengan cara memberi liat konsekuensi nyata.. ketika anak buang sampah dibiarkan… lalu misalnya semut, kecoa datang. Atau ketika anak buang sampah lalu kepleset krn efek dr tidak buang sampah tersebut.
Saya melakukan hal yg sama. Berlaku juga pd makanan yg dibiarkan tergeletak di lantai, atau saat makan awur-awuran… ketika dia digigit semut, dapet esensinya, knp semut datang, krn banyak makanan berserakan, ade makannya tdk dirapikan, dst…

Bisa ya tanpa reward dan punishment? Tanpa hukuman dan kekerasan kan?

Dalam kenyataannya si memang tidak semulus yang dibayangkan teman-teman,

Tetapi berusahalah dengan sekuat tenaga ya

Walaupun sepertinya ini membutuhkan waktu yang lebih lama ya tampaknya. Ketimbang dengan reward n punishment atau hukuman. Akan tetapi biarpun Lebih lama efeknya lebih kuat menjadi karakter dan budaya anak ya teman-teman.
Contoh pengalaman pribadi lainnya yang dialami seorang ibu, sejak masa kecil diajak oleh orang tuanya setiap pagi nyapu keliling rumah bantuin bapak. Kalau ada sampah plastik dikebun,  dipungut sama2 trus dibakar. Zaman itu blum tau reduce,  reuce n recycle. Ada sampah ditangan selalu disuruh pegang/simpan sampe nemu tempat sampah. Sampe sekarang kebawa.  Rasanya ga enak hati kalo nyampah,  bgitu nyampah atau kotor merasa bersalah. Kadang-kadang tas atau kantong celana/baju penuh dengan sampah

Ada yang bisa menjelaskan, kenapa tanpa reward dan punishment justru membuat kebiasaan membuang sampah bisa terbentuk?

Hukuman yang saya maksud di sini adalah solusi terakhir apabila mengganghu proses pembelajaran anak… Dan maksud di hukum di sini bukan hukuman fisik dan non fisik…
Tapi seperti contoh nya yang diutarakan diatas dengan kepleset karena sampah yang tidak di buang pada tempatnya…
Sedangkan reward adalah bentuk apresiasi aja dan tidak selalu berbentuk materi…

Krn fokusnya bukan ke pada reward  dan  punishment Si anak melakukan buang sampah ya karena tau pentingnya buang sampah pada tempatnya. Bukan pada saya buang sampah krn ingin mendapatkan sesuatu atau takut dihukum
Karna buat saya sebagai manusia mustahil kan tidak melakukan kesalahan…

Dan contoh pengalaman pribadi yang diutarakan diatas itu bentuk hukuman pribadi loh…

Tanpa reward dan punishment utk menumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak
Feelguilty ketika membuang sampah sembarangan karena dengan munculnya rasa Feelquilty, artinya kesadaran sudah terbentuk
Itu bentuk hukuman terhadap diri sendiri…
Dan kita bahagia pada saat rumah bersih dan nyaman… Itu rewad atas jerih payah kita menjaga kebersihan

Kalau ada reward dan punishment, apakah tidak akan tumbuh?

Karena reward dan punishment merupakan motivasi eksternal, yang lebih dibutuhkan anak adalah motivasi internal dari dalam dirinya, kesadaran.

Bisa jadi tetap tumbuh meski ada hukuman dan reward…

Hanya saja hukuman ini sebagai bentuk mengoreksi dan memperbaiki kesalahan2 yg dilakukan… dan anak menyadari bukan hukuman yang menyakitkan fisik dan hati dan anak menyadari kesalahan sehingga ketika timbul ada hukuman anak sadar bukan hukuman yang menyakitkan fisik dan hati

Dan rewardnya penghargaan tidak selalu diberi materi…

Oh ya? Kalau ada reward dan punishment, bagaimana cara kita mengetahui perilaku anak disebabkan karena kesadaran atau karena ingin reward/takut dapat punishment?

Salah satunya bisa dilihat dari kebiasaannya dan tanggung jawabnya terhadap yang dikerjakannya ketika anak paham akan tanggungjawabnya ukurannya pun bukan reward lagi tapi kesadaran seperti merasa nyaman kalo kamar atau rumahnya bersih… jadi anak tidak peduli terhadap reward nya… Mau diberikan atau tidak baginya tidak penting…
Pun ketika ada hukuman ia akan cepat memperbaiki kesalahannya sekali lagi memperbaiki kesalahan dengan sukarela dan bukan karna takut dihukumnya…

Anak ringan mengerjakannya, Anak senang mengerjakannya dilakukan dengan gembira dan bahagia… Dan setiap orangtua pasti ngerasain bahagia atau ga, tulus atau ga ngerjainnya… Hihihi… Kan bisa kelihatan dari ekspresi… Bahasa tubuh… Intonasi… Dll

Anak ringan mengerjakannya itu ketika ada atau ketika tidak ada hukuman/reward? 🙂

Ketika tidak ada hukuman ataupun reward

Anak ringan mengerjakannya ketika tidak ada rewad sekalipun dan anak ringan mengerjakannya ketika sedang berada dalam hukuman karna menyadari kesalahannya

“….anak ringan mengerjakannya ketika sedang berada dalam hukuman karna menyadari kesalahannya” à Ketika anak menyadari kesalahan (saja) atau ketika anak dihukum? Atau harus kedua-duanya digabung?

Menurut Pak Bukik kondisi yang timbul dalam bincang seru diatas di bukunya disebut Pendidikan Menumbuhkan (vs Menanamkan) atau kalau di sekolah/kampus kami disebut sebagai Disiplin Positif, yang telah dipraktikkan lebih dari 15 tahun. Bisa? Bisa. Sulit? Banget. Tapi hasilnya lebih membahagiakan.

Di psikologi, reward & punishment berasal dari tradisi behaviorisme yang dibangun berdasarkan eksperimen terhadap anjing, tikus dan merpati. Psikologi purba. Meski purba, tapi jadi paling popular (bahkan di kampus psikologi hingga saat ini……sesuatu yang memalukan bagi saya, orang psikologi) karena teknik yang paling mudah. Lebih mudah lagi, kekerasan atau hukuman fisik. Mereka yang tidak belajar pedagogi (atau Tarbiyah) pun bisa melakukannya.
Karna tanggungjawab dan konsekuensi

Sharing dari teman-teman tadi semakin menguatkan, bahwa sebenarnya cara-cara manusiawi (bukan dari eksperimen anjing, tikus dan merpati) bisa efektif dijalankan. Pertanyaannya, apakah kita mau belajar metode yang lebih menantang? Mau belajar? Silahkan belajar dari yang sudah sharing tadi ya
Selamat malam! Selamat istirahat.

Tips Memilih Sekolah Untuk Anak 

  1. Kalau memang mau disekolahkan, usahakan yg mengaplikasikan MI jadi bisa menyelaraskan
  2. Dan dapat pula dengan menyesuaikan dengan minat dan bakat anak,  misalnya anak kita kelihatan suka minat dan berbakat bisnis… Maka kita sebagai orangtua memfasilitasi hal tersebut dengan menyekolahkan anak ke tempat yang sesuai dengan jiwa hati dan pikirannya…
    Begitupun anak minat bakat dan punya keinginan yg kuat jadi hafiz/hafizoh… Maka sebagai fasilitator kan mencarikan guru atau tempat atau sekolah atau lingkungan yang berbasis sesuai minat bakat dan keinginan anak…

Dirangkum oleh : Margareta Amalia

Diskusi Buku Bakat Bukan Takdir

Catatan : Diskusi ini dilaksanakan di grup WhatsApp “Home Education” pada 11 Agustus 2016 pukul 19.30 – 21.30 WIB

Narasumber  : Bukik Setiawan, penulis  Anak bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir

Referensi artikel :

  1. http://buku.enggar.net/non-fiksi/bakat-bukan-takdir/
  2. https://ridhoadhie.wordpress.com/2016/03/27/review-buku-bakat-bukan-takdir/

Bukik Setiawan.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2 Psikologi, ia memutuskan menjadi dosen fakultas psikologi Universitas Airlangga. Setelah menjadi Ketua Lembaga Pengkajian & Pengembangan Psikologi Tetapan & Ketua Program Magister Perubahan & Pengembangan Organisasi, ia mengundurkan diri sebagai dosen PNS. Setelah mundur, ia menjadi fasilitator lepas, pengembang aplikasi bakat anak Takita, pengelola portal bakat anak TemanTakita.com & manajer pengembangan kampus Guru Cikal.

Kegelisahan terhadap dunia pendidikan mendorongnya menulis buku Anak Bukan Kertas Kosong yg memperkenalkan konsep pendidikan menumbuhkan & siklus pengembangan bakat anak. Keinginan membantu orangtua dalam mengembangkan bakat anak berdasar pendidikan menumbuhkan mendorongnya berkolaborasi dgn Andrie Firdaus untuk menulis buku Bakat Bukan Takdir.

“Anak dapat benang merah dari sekolah, benang biru dari tempat les, benang kuning dari teman, benang hijau dari buku, media & internet. Peran orangtua adalah membantu anak merajut semua benang pengetahuan itu menjadi kain kearifan yang indah.” -Bukik Setiawan-

Kata Pengantar

Tantangan Zaman Kreatif

  1. Bukan lagi Seberapa Banyak pengetahuan, tapi seberapa BESAR KEMAMPUAN untuk belajar.
  2. Proses Belajar bukan lagi mengunduh Pengetahuan, tapi MENGUNGGAH KARYA.
  3. Bukan saatnya lagi MEMILIH SATU PROFESI, tapi juga FOKUS MENGEMBANGKAN KEKUATAN DIRI.
  4. Tak lagi hanya kemampuan berproduksi, tapi juga KEMAMPUAN BERKREASI.
  5. Zaman kreatif, bukan lagi memaksakan keseragaman, tapi HIDUP DI TENGAH KERAGAMAN.
  6. Bukan lagi kemampuan berkompetisi yang utama, tapi yang utama adalah KEMAMPUAN BERKOLABORASI.

Pentingnya Orangtua sebagai Pendidik

Anak belajar dari banyak sumber, mulai dari orangtua, buku, sekolah, tempat les, teman, orang dewasa lain, media, internet, dan banyak lain. Belajar dari banyak sumber secara terpisah cenderung membuat anak bertanya-tanya & sering merasa bingung.

Apa hubungan antara matematika dengan bermain piano? Apa hubungan antara membaca Mallory Towers & Lima Sekawan di rumah dgn pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahku? Bagaimana hubungannya aku les fotografi dengan temanku di sekolah yg suka fotografi? Apa sih gunanya aku belajar banyak?

Pada titik itu, peran orangtua menjadi sangat penting. Meski anak bersekolah di sekolah keren, les di tempat seru, punya gawai canggih untuk mengakses internet, punya koleksi buku yg banyak & bagus, punya banyak teman yg unik & pintar, semua itu tdk dapat menggantikan peran orangtua. Mengapa?

Karena orangtualah yg dapat membantu anak merajut semua pengetahuan itu menjadi kearifan yg mengarah pada tujuan hidup anak. Karena orangtualah yg dapat memfasilitasi anak untuk menerapkan pengetahuan menjadi keterampilan & kebiasaan hidup. Karena orangtualah yg mendampingi tumbuh kembang anal dari setiap tahap perkembangannya, dari setiap jenjang pendidikannya. Sederhananya, guru TK berganti guru SD, SMP, SMA, bahkan berganti dosen, tapi orangtua tetaplah setia di sisi anaknya.

Orangtua adalah fasilitator pengembangan bakat anak. Orangtua memfasilitasi proses belajar anak yg mengubah kecerdasan majemuk & minat anak menjadi bakat sebagai modal menuju karier yg cemerlang di masa mendatang.

Tanya Jawab

  1. Bagaimana cara mengetahui minat n bakat seorang anak dan dukungan seperti apa yg dpt dilakukan untuk mendapatkan lingkungan yang baik untuk perkembangan anak?

Dalam psikologi, cara terbaik dalam mengenali seseorang adalah observasi dan wawancara. Cara-cara yang lain adalah pendukung dari observasi dan wawancara. Tapi observasi dan wawancara butuh dipelajari secara khusus. Obrolan buat orang awam mungkin hanya bersifat sosial, tapi buat yang terlatih, obrolan sangat powerfull.Langkah awal untuk mengenali bakat anak adalah mengenali kecerdasan majemuk yaitu pada anak usia 0-7 tahun.

Siklus pengenalan kecerdasan majemuk: stimulasi – kenali – refleksi. Mengapa stimulasi dulu? Karena kecerdasan majemuk sifatnya potensi, hanya bila ada kesempatan maka kecerdasan akan muncul dan digunakan anak. Penting bagi anak mendapat stimulasi yang beragam, setidaknya bisa menggunakan kerangka 8 kecerdasan majemuk dari Gardner. Anak akan memberikan respon terhadap stimulasi tersebut. Respon tersebut yang diingat untuk mengenali kecerdasan majemuk anak. Prosesnya mungkin lebih lama dibandingkan tes kecerdasan tertulis atau finger print, tapi orang tua akan jauh lebih paham dinamika kecerdasan anaknya. Tidak hanya terpaku pada 1 – 2 kecerdasan majemuk semata.

Respon tertentu bermakna, respon yang lain tidak ada artinya. Respon bermakna itu kami sebut sebagai perilaku seru yang ditandai oleh: cepat belajar, asyik mengalami, puas terhadap hasilnya dan ingin mengulang.Semakin banyak perilaku seru berarti semakin kuat suatu kecerdasan majemuk anak. Perilaku seru ini yang kemudian dikomunikasikan dan direfleksikan kepada anak, sehingga yang menyadari kecerdasan majemuk bukan hanya ortu tapi juga anak.

  1. Gimana caranya untuk mengubah mindset orang tua dan keluarga besar mengenai kesuksesan tiap anak berbeda? Sedangkan si anak ini juga tidak mau melawan orang tuanya. Si anak yg diharuskan masuk ke jurusan kuliah tertentu dan anak ini merasa bukan dia, bukan passionnya, merasa tertekan dan hampir bunuh diri. Anak ini sdh punya visi besar yg akan dicapai 2036 tapi orang tuanya adalah tembok besar untuk mencapai mimpi ini.

Ini sangat spesifik ya, apalagi hampir bunuh diri. Perlu sesi khusus. Intinya: yakinkan anak bahwa ada banyak jalan untuk mencapai impian. Berikan contoh kisah nyata berbagai cara tersebut. Apabila anak sudah stabil, baru berpikir tentang cara meyakinkan keluarga/orangtua.

  1. Di jaman yang semakin berkembang seperti sekarang, dimana teknologi canggih bisa diakses dimanapun dan kapanpun…tantangan juga semakin banyak…Hal apa yang paling penting bapak tekankan untuk ananda (agar bisa survive mengikuti jamannya namun tidak terbawa arus)? Di sisi lain mampu menumbuhkan dan mengembangkan bakat minatnya..terima kasih pak..
  1. Kemampuan belajar, dalam artian umum, bukan akademis. Kemampuan mengenali tantangan, merespon secara efektif, merefleksikan dan memperbaiki responnya tersebut.Tips: sering2 tawarkan pilihan pada anak, minta anak memilih, tanyakan alasannya, lakukan dan konsekuen dengan konsekuensinya.
  2. Kemampuan mengelola diri. Zaman berkembang semakin banyak dan beragam stimulasi dari lingkungan. Meski ada yang positif, tapi banyak yang negatif atau gak cocok. Banyak godaan yang menggoda anak kita dari tujuannya. Kemampuan mengelola diri sebenarnya mirip kemampuan belajar tapi sifatnya lebih internal, belajar diri sendiri.Tips: kurangi melarang anak agar anak menghadapi stimulasi dari lingkungan. Perbanyak ajak ngobrol dan mendengarkan bagaimana anak menghadapi tantangan yang dihadapi sehari-hari.
  1. Pada buku BBT, pihak yg paling penting untuk tahu bakat anak adalah anak itu sendiri. Nah, kapan saat yang tepat kita memberitahukannya? Kemudian, bagaimana langkah kita selanjutnya agar ‘pencarian bakat’  tidak selesai sehingga anak terus belajar dan bisa menemukan potensi yg lain, jika ada

Bakat bukan takdir berarti bakat bukan bawaan dari lahir. Bakat bukan apa yang ada dalam diri anak, tapi apa karya yang dihasilkan anak.

kecerdasan majemuk + minat proses belajar bakat.

Bukan anak diberitahu bakatnya, tapi diajak merefleksikan perilaku serunya (seperti saya jelaskan di no 1) agar orangtua dan anak sama-sama menyadari potensi / profil kecerdasan majemuk anak. Mengapa penting anak tahu? Karena anak yang menggunakan kecerdasan majemuk itu.

Bagaimana jadinya bila pemilik kecerdasan tidak menyadari kecerdasannya?

Proses itu dilakukan pada anak pada saat usia 6 – 8 tahun. Setelah itu, masuk ke fase belajar mendalam (7 – 13 tahun). Tugas orangtua memandu anak menemukan fokus belajar (bidang bakat yang akan ditekuni) serta kesepatan mengenai sasaran belajar yang akan dicapai. Setelah menemukan fokus belajar, tugas orangtua memfasilitasi kegemaran belajar, ketekunan belajar, hingga belajar mendalam. Prosesnya tidak linier, tapi dinamis dan kompleks.

Contoh: presentan suara anak ketujuh. Awalnya suka menggambar, kemudian menulis, tapi pada akhirnya berkarya membuat prakarya yang memadukan kecerdasan imaji, bahasa dan tubuh. Pengembangan bakat anak adalah proses sepanjang hayat. Tidak ada kata selesai.

  1. Apakah potensi itu otomatis akan memunculkan minat? Jika punya potensi, maka pasti muncul minat? Artinya, minat anak terhadap sesuatu belum tentu potensi anak itu, dan tidak adanya minat terhadap sesuatu itu bukan berarti tidak punya potensi ya? Apakah potensi dapat diubah?

Ibaratnya ya. Potensi/kecerdasan majemuk adalah mesin pengelola informasi. Minat adalah kesukaan anak terhadap obyek/aktivitas tertentu. Kecerdasan majemuk tidak menentukan, tapi mempengaruhi minat anak. Misal: kecerdasan tubuh akan membatasi minat pada obyek/aktivitas yang melibatkan pergerakan/pengelolaan tubuh

Potensi manusia itu tidak terbatas atau menjadi misteri sepanjang manusia itu hidup. Pengenalan potensi manusia bisa terus menerus dilakukan sepanjang manusia itu hidup. Contoh yang sering saya pakai adalah pendiri KFC, yang kariernya cemerlang ketika usianya suda menjelang senja. Potensi tidak berubah, pemahaman terhadap potensi diri kita yang terus berkembang, atau berubah.

  1. Bagaimana jika stimulus yang anak terima itu dapat dikatakan terlambat. Di atas usia 7 tahun, apakah stimulasi ini bisa optimal dan bagaimana caranya?

Saya menyusun siklus perkembangan bakat yang terdiri dari 4 fase. Setiap fase memang ada batasan usia yang disarankan. Tapi penyebutan siklus berarti proses itu bisa dilakukan berulang kali sepanjang hayat. Jadi sebenarnya tidak ada kata terlambat. Kapanpun, anak tetap bisa berkembang optimal.

  1. 7.Mungkinkah “ada minat tapi tidak berbakat” atau “bakat tapi tidak berminat”? Jika ada, bagaimana jika anak berbakat sesuatu tapi tidak berminat?

Saya ubah kata-katanya ya. Ada minat tapi tidak ada kecerdasan atau ada kecerdasan tapi tidak berminat.

Saya jawab, tidak ada. Pada dasarnya anak (dan manusia) mudah teralihkan fokusnya (mudah tergoda) oleh stimulus dari lingkungan. Jadi ada kesan, minat pada sesuatu tapi tidak ada kecerdasan atau sebaliknya. Ini prosesnya memang berat, karena itu saya membuat satu tugas perkembangan bakat yaitu ketekunan belajar (fase belajar mendalam). Tantangannya bagaimana anak tetap mempertahankan konsentrasinya pada fokus belajar yang telah ditetapkannya (kesepakatan anak dan ortu).

        1. Saya ingin bertanya… Orangtua sebagai coaching sekaligus sebagai fasilitator berarti ada kegiatan menstimulus… Adakah batasan2 orangtua menstimulus anak2nya dalam menggunakan metode2 tertentu,, yang dalam banyak penelitian di anggap kurang tepat tetapi berhasil bagi kita… Bagaimana saran pak Bukik dalam hal ini…

Dalam buku BBT saya menuliskan 6 prinsip stimulasi yaitu :

  1. Kesesuaian.
    Stimulasi harus sesuai dengan kemampuan dan tahap perkembangan anak.
  2. Beragam.
    Semakin beragam stimulasi, semakin anak mendapatkan banyak pilihan dan kaya pengalaman.
  3. Butuh waktu.
    Stimulasi tidak langsung mendapat respons anak, apalagi membuahkan hasil.
  4. Berkelanjutan.
    Stimulasi harus dilakukan berkelanjutan untuk mendapatkan manfaat yang optimal.
  5. Berjenjang.
    Stimulasi diberikan berjenjang kesulitannya sehingga kemampuan anak terus berkembang.
  6. Pilihan pada anak.
    Stimulasi tetap memberikan pilihan pada anak untuk merespons atau tidak merespons stimulasi itu.

Saya bahas khusus ini ya “menstimulus anak2nya dalam menggunakan metode2 tertentu,, yang dalam banyak penelitian di anggap kurang tepat tetapi berhasil bagi kita”. Tidak ada faktor tunggal yang menentukan suatu keberhasilan, sekecil apapun keberhasilan itu. Keberhasilan mensyaratkan kombinasi sejumlah faktor. Seringkali kita sebagai individu mendapatkan kesimpulan secara subyektif.

Contohnya: penggunaan kekerasan. Kita bisa dengan mudah terjatuh pada kesimpulan: kekerasan membuat kita jadi lebih baik sambil melupakan berbagai faktor lain yang mendukung pada saat kita berubah jadi lebih baik. Jadi, saran saya, hati-hati dengan kesimpulan pribadi.

  1. Jika sudah ketemu beberapa kecerdasan majemuknya, kemudian anak setelah beberapa tahun menunjukkan kebosanannya atas kecerdasan tsb, bagaimana saya tahu bahwa itu anak tersebut hanya bosan atau kesalahan kami menyimpulkan kecerdasan majemuk anak tsb?

Setiap kesempatan adalah kesempatan belajar, begitu juga kekeliruan. Jadi jangan khawatir keliru, tapi khawatirlah kita (ortu dan anak) tidak belajar.Karena itu kalau di BBT, saya mendorong orangtua untuk menjadikan anak sebagai mitra belajar, bukan sebagai kertas kosong yang diisi. Pengenalan kecerdasan majemuk semisal, bukan hanya dilakukan orangtua, tapi ortu bersama anak. Bila prosesnya dilakukan dengan benar, maka ortu dan anak akan belajar dari kekeliruan2 yang terjadi. Toh lebih baik segera keliru, karena bisa segera diperbaiki.

  1. Mohon kami diberi contoh stimulasi 8 kecerdasan untuk usia 0-7thn dan adakah tips khusus untuk mencatat semua perkembangan anak?

Ada di buku BBT lengkapnya. Contoh: mengajak anak membaca buku itu bentuk stimulasi kecerdasan aksara dan logika. Mengajak anak bermain balok/lego adalah bentuk stimulasi kecerdasan tubuh, logika dan imaji. Bermain rumah-rumahan menggunakan sprei adalah bentuk stimulasi kecerdasan imaji dan tubuh. Seringkali hal-hal sederhana itu diremehkan orang dewasa, padahal sangat penting buat anak usia dini. Penjelasan asyiknya ada di film The Begining of Life. Sudah nonton? 🙂

  1. Membaca jawaban no 7 , saya memahaminya bahwa kita bisa mengesampingkan bakat/kecerdasan bawaan lahir untuk menekuni minat secara kuat? (reaksi seru dari sebuah stimulus/lingkungan) Jadi kecerdasan (yg bukan bawaan lahir) bisa  muncul dan bisa maestro pd suatu bidang, penekanannya ada pada ketekunan terhadap minat tersebut, Pak?

Satu kecerdasan majemuk itu bisa menghasilkan berbagai bakat. Jadi kecerdasan majemuk semacam rentang yang luas. Misal, kecerdasan aksara bisa menghasilkan bakat penulis buku, editor, pembaca pertama, sastrawan, ahli mengaji, orator, wartawan, dll

Sebaliknya, sebuah bakat tidak cukup dengan 1 kecerdasan. Misal: wartawan adalah kombinasi kecerdasan aksara, kecerdasan logika, dan kecerdasan sosial.Kecerdasan majemuk adalah bawaan lahir. Bakat yang bukan bawaan lahir. Untuk pengembangan bakat, butuh kombinasi kecerdasan majemuk, minat, dan proses belajar (kegemaran belajar, ketekunan belajar dan belajar mendalam).

  1. 12.Bagaimana membedakan mana yang benar2 bakat anak, dan mana yang cuma sekedar ikut2an atau karena pengaruh lingkungan? Atau di biarkan saja, sampai anaknya menyadari bahwa ternyata dia tidak suka?

Dibiarkan memang bisa saja tapi tentu lebih optimal bisa dipandu. Bagaimana membedakan bakat dan sekedar ikut2an? Saya percaya pada usaha dan bukti nyata. Seberapa besar usaha anak dalam menekuni suatu bidang?

Besar kecilnya usaha anak bisa dipandu orangtua selama fase belajar mendalam. Bagaimana orangtua bersama anak membuat tantangan belajar, melakukan, dan merefleksikannya. Jadi misal ya anak saya les piano, meski kami tidak bisa piano tapi kami bisa merawat kegemaran dan ketekunan belajar anak.

Caranya?

  1. Menanyakan dan bila perlu memberi tantangan (bukan perintah, tapi lebih bersifat stimulasi) pada anak.
  2. Meminta dan mendengarkan anak tentang tantangan dan proses belajar yang dialaminya.
  3. Memberi umpan balik terhadap proses belajarnya. Itulah mengapa sebodoh apapun dalam suatu bidang, peran orangtua tidak tergantikan. Karena untuk menjalankan 3 hal itu tidak butuh menjadi maestro piano.
  1. Pak bukik, kalau ternyata minat anak banyak bagaimana cara mengarahkannya untuk bisa fokus, atau malah biarkan dikembangkan semua?

Hehe ini memang tantangan. Jebakannya: fokus pada satu hal atau melakukan semua hal. Saya tidak menyarankan kedua2nya. Jadi setelah ngobrol untuk menemukan fokus belajar (dan sasarannya), anak harus konsekuen dengan kesepakatan itu. Tapi bukan berarti anak tidak boleh melakukan hal yang lain. Anak boleh melakukan hal yang lain selama kesepakatan fokus belajarnya dilakukan.

Saya hanyalah seorang anak yang mempunyai aktivitas dan hobi sama seperti anak-anak pada umumnya. Saya suka mainan seperti Action figures super heroes dan juga suka nonton film. Seperti baru-baru ini saya nonton film Kungfu Panda di mana alur ceritanya menarik dan juga banyak actionnya.” Joey Alexander. (VOAIndonesia.com). Sumber: http://temantakita.com/joey-alexander/

Penutup

Saya hanya ingin menegaskan dan meneguhkan bahwa peran orangtua tidak tergantikan dalam perkembangan bakat anak. Kalau pun kita sebagai orangtua tidak menjalankan peran, anak akan menemukan “orangtua” lain yang akan membantunya mengembangkan bakat. Ambil dan jalankan peran kita. Pahami dan bantu anak untuk berkembang optimal potensinya. Antarkan anak ke pintu gerbang keberhasilan bakatnya, bukan keberhasilan kita.

Peran Orang Tua Dalam Menemukan Passion Anak

Suatu hari, si kecil kami Radho, duduk jongkok berlama-lama di depan pohon jeruk kecil yang ada di halaman rumah kami. Rupanya ia tengah memperhatikan kehidupan laba-laba yang tak lebih besar dari jempol kakinya tengah membangun sarang di pohon jeruk itu. Dari pengamatanya, ia mendapati bahwa seekor laba-laba membangun sarang dengan mengeluarkan benang dari pantatnya.  Selanjutnya ia menangkap kejadian seekor nyamuk yang tiba-tiba terperangkap di jaring laba-laba dan sang laba-laba yang tadinya berada di ujung jaring, bergerak cepat mendekati nyamuk dan menggulungnya dengan benang lalu laba-laba itu akan kembali ke pinggir. Melihat kejadian tersebut, Radho berinisiatif mencarikan makanan untuk si laba-laba, ia mencari sapu lidi untuk menepas lalat, setelah kena tepas dan mati, kemudian Radho melemparkan lalat  ke dalam jaring laba-laba. Dengan cepat laba-laba itu mendekat dan kemudian menggulung lalat itu, beberapa saat kemudian, laba-laba mengisap cairan lalat, kemudian berpindah ke nyamuk dan mengisap cairan nyamuk. Dengan antusias, Radho menceritakan pengalamannya itu melalui gambar, ia menggambar jaring laba-laba, laba-laba, mangsa dan pohon. Mendengar pengalamannya itu, Saya mengajukan tantangan pada Radho untuk mendokumentasikan peristiwa tersebut dengan kamera video dan dijawabnya apabila bisa mendokumentasikan persitiwa semacam itu apakah akan laku untuk dijual atau masuk ke TV?

Sebagai orang tua, tentunya menjadi pertanyaan menarik bagaimana seorang anak belajar dan mencari tahu dari pengalaman yang diperolehnya. Cara dan minat Radho dalam memperhatikan kehidupan serangga barangkali bukan menjadi fokus yang menarik bagi anak yang lain. Dan minat semacam itu juga barangkali tidak teraktualisasi di sekolah yang menganut sistem pendidikan berbasis kurikulum (yang padat dengan bermacam mata pelajaran). Artinya, berbicara tentang pengasuhan dan pendidikan, maka kita tidak bisa hanya menyerahkan sepenuhnya pada institusi sekolah, justru peran keluarga sebagai lingkungan yang pertama lebih diutamakan. Tentunya orang tua selalu berupaya untuk mencari informasi dan belajar sebanyak mungkin untuk bisa memberikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik bagi anak.

Salah satu sumber yang saya anggap cukup menarik dalam membantu saya memahami pola pengasuhan anak adalah kecerdasan majemuk yang ditulis oleh Howard Gardner. Selain itu, memahami gaya belajar anak yang ditulis oleh Deporter dan Hernaki dan pola kepribadian anak yang dicetuskan oleh Florence Littauer dalam bukunya Personality Plus, Saya percaya ketika orang tua paham tentang semua itu, maka pola pengasuhan dan pendidikan akan lebih mudah dijalankan, ibarat ketika kita mengerjakan sesuatu, ketika sudah paham teorinya, maka aplikasinya akan lebih mudah.

Kecerdasan majemuk

Ada  8 tipe kecerdasan menurut Howard Gardner, yaitu        :

  1. Kecerdasan Bahasa
    Ciri utama dari kecerdasan bahasa adalah kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif dalam membaca, menulis, dan berbicara, kemampuan dalam bersyair, atau gaya menulis yang kaya ekspresi adalah bentuk kecerdasan bahasa.
  2. Kecerdasan Musik
    Kecerdasan musikal meliputi kepekaan terhadap tangga nada, irama, dan warna bunyi, serta aspek emosional akan bunyi yang berhubungan dengan bagian fungsional dari apresiasi musik, bernyanyi, dan memainkan alat musik
  3. Kecerdasan Logika-Matematika
    Kecerdasan logika-matematika meliputi keterampilan berhitung juga berpikir logis dan keterampilan pemecahan masalah”. Siapapun yang dapat menunjukkan kemampuan berhitung dengan cepat, menaksir, melengkapi permasalahan aritmetika, memahami atau membuat alasan tentang hubungan-hubungan antar angka merupakan ciri dari kecerdasan logika-matematika.
  4. Kecerdasan Visual-Spasial.
    Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan untuk merepresentasikan dunia melalui gambaran-gambaran mental dan ungkapan artistik. Pusat bagi kecerdasan ruang adalah kapasitas untuk merasakan dunia visual secara akurat, untuk melakukan transformasi dan modifikasi terhadap persepsi awal atas pengelihatan, dan mampu menciptakan kembali aspek dari pengalaman visual.
  5. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh.
    Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan untuk menggunakan seluruh badan atau bagian dari badan dalam membedakan berbagai cara sebagai ekspresi gerak.
  6. Kecerdasan Intrapersonal
    Fungsi penting dari kecerdasan intrapersonal ialah meliputi penilaian-diri yang akurat, penentuan tujuan, memahami-diri atau instropeksi, dan mengatur emosi diri sendiri.
  7. Kecerdasan Interpesonal.
    sangat berhubungan dengan kemampuan untuk memahami orang lain dan mampu mengatur hubungan antar individu.
  8. Kecerdasan Naturalis.
    Orang yang menonjol dalam kecerdasan naturalis adalah orang yang menunjukkan rasa empati, pengenalan, dan pemahaman tentang kehidupan dan alam meliputi tanaman, hewan, geologi.

Pemikiran Howard Gardner membuat kita menyadari bahwa setiap anak pastilah cerdas, namun kecerdasannya sangat bervariasi. Pemberian stimulasi di usia dini dapat mencakup semua kecerdasan, tidak hanya salah satunya saja, sebab semua kecerdasan yang mereka miliki harus dibiarkan tumbuh dan berkembang optimal. Seiring bertambahnya usia biasanya jenis kecerdasan menonjol sudah mulai terlihat. Pada kasus Radho, ia memiliki kecerdasan naturalis yang menonjol, hal itu bisa dilihat bagaimana ia melakukan kegiatan belajar secara antusias dengan melibatkan unsur alam, yang pada contoh di atas, meliputi hewan dan tanaman. Ia betah berlama-lama memperhatikan apa yang dilakukan laba-laba saat memangsa hewan buruannya.
Bukan hal yang mudah untuk mengetahui potensi kecerdasan anak. Ada beberapa metode yang banyak ditawarkan, misalnya dengan tes sidik jari. Atau kita dapat melakukan observasi sendiri dengan menstimulasi beberapa kecerdasan dan melihat mana yang lebih menonjol. Setelah memahami potensi kecerdasan anak, barulah orang tua dapat menentukan potensi yang akan diberikan stimulasi lebih banyak. Namun tidak cukup hanya dengan memahami potensi kecerdasan anak, penting juga bagi orang tua untuk mengetahui gaya belajar anak.

Gaya belajar

Menurut Deporter dan Hernacki, gaya belajar adalah merupakan kombinasi bagaimana seseorang menyerap informasi kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar adalah variasi cara yang dimiliki seseorang untuk mengakumulasi informasi, dimana gaya belajar bisa menjadi methode terbaik dalam mengumpulkanberbagai sumber informasi agar memperoleh pengetahuan yang spesifik        

Deporter dan Hernacki membagi ke dalam tiga tipe gaya belajar anak, yaitu:

  1. Visual, adalah gaya belajar yang menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar mereka paham.
  2. Auditori, adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
  3. Kinestetik, adalah gaya belajar yang mengharuskan individu bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Gaya belajar ini menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya.

Manfaat dari memahami gaya belajar pada anak adalah agar kita sebagai orang tua lebih mudah dalam menentukan strategi belajar yang sesuai dengan kemampuan anak. Gaya belajar yang sesuai akan mendorong proses pengolahan  informasi yang lebih efisien, utamanya membantu anak dalam menikmati proses pembelajaran. Pada kenyataannya banyak anak yang tidak cocok dengan gaya belajar di kelas. Hal ini banyak dialami oleh anak dengan tipe visual atau kinestetik yang tersesat di dalam kelas yang diajar dengan metode auditori. Salah satunya terjadi pada Radho.

Dari pengalamannya dalam memperhatikan laba-laba, ia memiliki kecenderungan gaya belajar kinestetik. Tidak cukup dengan memperhatikan secara pasif, Radho juga coba melakukan eksperimen dengan mematahkan sarang laba-laba menggunakan lidi untuk mengetahui ketahanan jaring laba-laba, serta menjatuhkan lalat di sarang untuk mengetahui apa yang akan dilakukan laba-laba pada  lalat. Tipe anak seperti Radho akan mudah memahami sesuatu dengan cara menyentuh. Oleh karenanya, saya memberikan kebebasan kepadanya untuk bereksperimen dengan laba-laba, dengan begitu syaraf-syaraf otaknya akan aktif. Ia akan lebih bisa berpikir ketika kita tidak membatasi geraknya.

 

Kepribadian

Selain potensi kecerdasan dan gaya belajar, yang tidak kalah pentingnya juga untuk dipahami adalah kepribadian, karena inilah dasar dari pembentukan karakter seorang anak. Mengapa kita perlu membahas tentang kepribadian, kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu. Dengan memahami kepribadian anak berarti kita telah menyingkat waktu kita untuk menebak-nebak, berusaha mengerti dan memahami anak kita, kita bisa jauh lebih mudah untuk memahami seseorang anak dengan memperhatikan tipologi kepribadiannya.

Menurut Florence Littauer, kepribadian ini membagi manusia menjadi empat golongan besar yaitu korelis, sanguin, plegmatis dan melankolis.

  1. Sanguin, dijuluki si populer karena tipe sanguin pandai berbicara, persuasif dan riang.
  2. Koleris, dijuluki juga sebagai si kuat karena tipe ini adalah tipe dominan dan kompetitif, berkemauan kuat, dan berorientasi hasil.
  3. Melankolis, dijuluki juga si sempurna karena tipe ini sangat perfeksionis dan mencintai keteraturan.
  4. Plegmatis, dijuluki juga si cinta damai, karena kesetiaannya dan menghindari konflik.

Radho memiliki kecenderungan berkepribadian koleris, sebab ketika diberi tantangan untuk mendokumentasikan dengan kamera video, ia akan menanyakan “aku dapat apa” anak-anak tipe koleris selalu berorientasi pada hasil dan lebih suka dengan reward.

Setiap anak bisa jadi memiliki tipe koleris-melankolis, koleris sanguin, atau melankolis-plegmatis. Dengan mengenali perangai anak, kita akan mudah membaca karakternya, orang-orang dengan kepribadian koleris misalnya, koleris yang berorientasi hasil, akan mudah dibentuk dengan reward dan funishmen, orang-orang melankolis akan merasa dihargai ketika tidak di desak untuk menyelesaikan, sebab baginya yang terpenting adalah hasil yang sempurna. Kepribadian ini juga akan mempengaruhi pilihan profesi, seorang koleris misalnya akan lebih cocok sebagai leader, seorang melankolis akan lebih cocok sebagai ilmuwan dan seniman, dan seorang sanguin akan lebih cocok sebagai artis atau penghibur, seorang plegmatis akan lebih cocok sebagai pemuka agama.

Satu hal yang perlu kita ketahui adalah tidak ada satupun tipologi kepribadian ini yang lebih baik daripada lainnya. Artinya semua anak mempunyai kadar dari keempat tipologi kepribadian ini. Di dalam diri kita ada unsur melankolis, ada unsur plegmatis, ada unsur koleris dan ada unsur sanguin-nya. Hanya saja di bagian mana kita dominan dan itu yang membentuk kita, itu yang membedakan kita dari yang lainnya. Dan satu hal yang paling penting, adalah seperti yang tadi saya katakan bahwa tidak ada yang baik, tidak ada yang buruk disini. Yang ada adalah pada saat kita tidak menyadari berhadapan dengan anak kita dan kemudian kita tidak bisa menjalin suatu komunikasi dengannya, itu karena kita tidak bisa memahami persepsinya.

Penutup

Dari berbagai tipe yang Saya uraikan di atas, maka penting bagi orang tua agar mampu mengenali atau mengidentifikasi kecerdasan majemuk anak sebab setiap anak adalah unik, tak pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Tugas orang tua adalah melihat potensi itu, mengasahnya hingga kemudian mampu melihat kecerdasan yang paling dominan pada anak, diharapkan orang tua dapat menyesuaikan kecerdasaan anak dengan gaya belajar dan kepribadian anak. Sebagai contoh ketika anak memiliki kecerdasan logis matematis dengan gaya belajar visual, maka orang tua harus mampu memberikan stimulasi konkrit seperti menyediakan batu sebagai alat dalam menghitug. Nah kemudian bisa disesuaikan dengan karakter anak, misal dengan karakter anak yang koleris, maka pelajaran menghitung bisa diaplikasikan lewat tantangan, seperti pada hitungan ke sepuluh harus selesai mengerjakannya.

Gabungan berbagai pemahaman dan metode di atas akan mampu membuat anak selalu bergairah belajar dan mencintai prosesnya, sebab cara belajar yang demikian sangat menyenangkan. Bagi saya, ketika anak berbahagia maka belajar menjadi lebih mudah. Ketika orang tua mampu memformulasikan semua pemahaman di atas, maka akan semakin mudah dalam menemukan passion anak. Sebagai seorang praktisi homeschooling, saya telah menguji coba pemahaman-pemahan di atas dan mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar kami. (Rahmaida “bua” Simbolon)

Papilio Jelajah Tangkahan (3): Tracking dan Tubing

Tangkahan adalah kawasan hutan bak surga yang tersembunyi di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Kami, dari keluarga Papilio, sebuah komunitas sekolah rumah atau homeschooling  (HS) di Medan, mengadakan fieldtrip ke sana.

Setelah puas bersenang senang dengan gajah kemarin, hari ini kami akan menjelajah tangkahan dengan kegiatan tracking dan tubing. Tracking adalah kegiatan jelajah alam lewat jalan darat, berjalan kaki menyusuri pinging-pinggir sungai, merasakan kesejukan udara, menyatukan tiap langkah kaki dengan bumi yang kita pijak, dan merasakan betapa kecilnya kita di alam luas. Sedangkan tubing adalah kegiatan jelajah alam lewat jalur sungai menggunakan ban dalam truk yang dipompa. Peserta tubing merasakan betapa aliran air menyatukan mereka dengan alam, melihat hutan dengan sudut pandang yang berbeda, dan juga merasakan Maha BesarNyaTuhan.

Tidak semua keluarga Papilio mengikuti dua kegiatan, tracking dan tubing sekaligus, karena jalurnya berbeda. Kami masing-masing hanya mengikuti satu dari dua kegiatan itu. Kami dibagi menjadi dua rombongan, yaitu rombongan tracking dan tubing. Saya berada dalam rombongan tracking.

papilio-jelajah-tangkahan-jalur-tracking-indonesia-mendidik
Jalur Tracking dan Tubing

Saya dan keluarga Papilio di rombongan tracking, memulai perjalanan bersama seorang guide (pemandu perjalanan). Kami harus naik mobil ke lokasi awal tracking sekitar 5 menit. Jalur tracking mengambil arah ke area parkiran di dekat Visitor Centre. Dari situ kami berjalan menuju sebuah jembatan gantung yang terbuat dari kayu. Namanya Balu’s Bridge (jembatan Balu). Untuk melewati jambatan ini dikenakan biaya Rp5.000,00/orang.

papilio-jelajah-tangkahan-balus-bridge-indonesia-mendidik
Balu’s Bridge

Balu’s Bridge adalah jembatan sepanjang kurang lebih 50 meter. Lebarnya kurang dari 1 meter. Jembatan hanya boleh dilalui oleh maksimal 6 orang. Jika dari arah berlawanan ada yang menyebrang, kita harus menunggu sampai mereka mendekat ke tempat kita berada, baru kita bisa maju untuk menyeberang.

Bagi saya, jembatan ini sepertinya aman. Tapi, saat berada di tengah jembatan, kaki saya seperti berat untuk melangkah. Phobia (ketakutan) ketinggian saya mulai muncul. Tidak mudah melawan rasa itu, rasa gamang dan tidak yakin. Padahal sebelumnya saya yakin bisa melewati jembatan.

Saya mencoba berkonsentrasi dan berpegangan pada besi di samping kanan kiri jembatan. Saya berusaha tidak melihat ke bawah. Wow, saat saya melakukan itu, pemandangan eksotis terpampang dari atas jembatan. Saya memberanikan diri untuk mengabadikan keindahan sungai dari atas jembatan, walau dengan kaki gemetar. Sempat terasa jembatan seperti oleng. Orang-orang yang lewat menyebabkan jembatan bergoyang. Secepatnya saya melangkah, dan akhirnya sampai juga di ujung jembatan. Saya lega. Sensasi melalui Balu’s Bridge benar-benar memacu adrenalin.

Perjalanan kami lanjutkan melewati kebun-kebun milik penduduk, ada pohon jeruk nipis, nanas, dan durian. Suasana asri mengiringi perjalanan kami. Selain kebun, banyak penginapan dengan suasana hutan di sekitar kami. Tak lama berjalan, kami tiba di sumber air panas (hot spring), di tepi Sungai Buluh. Disini kami berjumpa dengan rombongan tubing. Kami beristirahat sejenak.

Sumber air panas yang kami temui berupa sebuah goa yang di dalamnya mengalir air panas. Goanya cukup besar, sehingga kami bisa berbaring dan merendam tubuh di aliran air panas alami ini.

papilio-jelajah-tangkahan-tracking-indonesia-mendidik
Perjalanan Tracking

Tujuan kami selanjutnya adalah Air Terjun Pijat. Kami menyusuri pinggiran sungai dan tiba di tujuan. Air Terjun Pijat masih berada di aliran Sungai Buluh. Air terjun ini tidak terlalu tinggi, namun air jatuhannya cukup keras. Jika kita berada di bawahnya, tubuh kita terasa dipijat-pijat oleh air yang jatuh. Itulah sebabnya tempat ini diberi nama Air Terjun Pijat.

Rombongan tubing rupanya sudah lebih dahulu sampai di Air Terjun Pijat dan sudah melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Glugur. Kami tidak melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Glugur. Tracking berakhir di Air Terjun Pijat.

Di sini, kami dan anak-anak bermain air dan berenang di Sungai Buluh. Setelah puas main air kami memutuskan untuk pulang. Ternyata jalur pulang, saya harus melewati Balu’s Bridge lagi. Alamak, saya bakal sport jantung lagi. Hahaha 😀 Mau tidak mau saya harus berani melaluinya.

Bagaimana ya dengan kelompok tubing? Mereka juga bersenang-senang.

Tubing hampir sama dengan rafting. Bedanya, kalau rafting menggunakan perahu karet, tubing menggunakan ban dalam truk yang dipompa.

papilio-jelajah-tangkahan-rombongan-tubing-indonesia-mendidik
Rombongan Tubing

Wah, rombongan tubing sangat bersemangat, apalagi anak-anak. Mereka sangat antusias dengan jaket pelampung di badan. Benar-benar anak-anak pemberani.

Perjalanan tubing ditemani juga oleh guide. Arus sungai yang akan mereka arungi tidak terlalu deras. Meskipun demikian, setiap peserta tubing wajib menggunakan pelampung demi keselamatan. Safety always comes first, keselamatan adalah hal yang utama. Tak lupa, mereka juga membawa bekal makanan.

Jalur perjalanan rombongan tubing adalah sumber air panas-Air Terjun Pijat-Air Terjun Glugur-menuju finish lewat jalan darat (naik truk pengangkut sawit). Jadi, rombongan tubing melewati dua tempat yang sama dengan rombongan tracking, yaitu sumber air panas dan Air Terjun Pijat.

Dari air terjun Pijat, rombongan tubing bertemu dengan simpang Sungai Buluh. Tiba di simpang Sungai Buluh, tubing ditambatkan. Mereka berjalan ke hot spring lalu turun ke air terjun Pijat, kembali ke simpang, naik tubing lagi, kemudian melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Glugur.

papilio-jelajah-tangkahan-tubing-indonesia-mendidik
Kegiatan Tubing

Air Terjun Glugur lebih tinggi dan lebih besar dibanding dengan air terjun Pijat. Rombongan tubing beristirahat sejenak sambil menyantap perbekalan. Setelah puas 3 jam bermain di Glugur, mereka kembali ke penginapan naik truk sawit dalam keadaan basah kuyup, lelah, dan senang luar biasa.

Pengalaman menjelajah alam di Tangkahan sangat berkesan di hati kami semua. Selain melatih mental dan spiritual, anak-anak juga melatih fisik agar kelak menjadi anak-anak yang tangguh.[]

Kontributor : Wilda Syafrianty